
"Makasih ya, Hiyo..."
Pukul empat tepat kak Rita kembali ke perpustakaan. Wanita berambut panjang lurus shining hasil creambath itu tersenyum riang pada Hiyola. Seperti nya dinner mereka berjalan lancar.
"Sama-sama, kak." Hiyola buru-buru melepaskan rompi kerja dan juga tanda pengenal.
Kak Rita mengerutkan dahi melihat tingkah Hiyola yang tampak buru-buru. "Semua baik-baik saja?"
Gadis yang sebelum nya membantu Hiyola, menyahut. "Sepertinya pacar kak Hiyo datang tadi." ujarnya mengedip kan maya.
Hiyola menggeleng kecut. Pacar dari mana nya? sungutnya dalam hati.
"Pacar?" ulang Kak Rita melebarkan mata nya, menatap Hiyola. "Wah, aku kira kau tidak mungkin berpacaran."
Hiyola mengambil tas nya, "Bukan pacar. Itu bos ku kak," Hiyola kemudian pamit pergi.
Sebelum benar-benar keluar dari perpustakaan, Hiyola memastikan keberadaan Roberth, takutnya pria itu masih berada di luar.
Celingak-celinguk sebentar, setelah di rasa aman, barulah Hiyola benar-benar keluar.
"Ah..." Hiyola meregangkan kedua tangan nya.
Menghirup udara sore, Hiyola berencana langsung pulang. Mendapati Hope, Hiyola langsung memakai helm nya.
Baru mau menyalakan motor biru tersebut, sebuah tangan mencengkram lengan Hiyola, refleks membuatnya berbalik dan hendak memukul, namun Hiyola lebih shock lagi saat melihat sosok manusia yang berdiri di hadapan nya.
"Petra?" pekik turun dari motor.
Yup, jika kalian menebak itu Roberth, berarti kalian salah besar.
Petra melepaskan tangan nya. Menunduk hormat seraya mengambil ponsel.
Hiyola menatap petra yang tangan nya tengah asik berselancar di atas layar ponsel.
"Apa yang kau lakukan disini, Petra?"
Petra menghentikan kegiatan nya. Kemudian menatap Hiyola.
"Saya mengikuti perintah tuan Roberth. Katanya dia melihat nyonya di sini dan minta saya memastikan."
Hiyola membelalak dengan mulut yang setengah menganga. "Jadi maksudmu kau baru saja memberitahu Roberth?"
Petra mengangguk datar tak berdosa. Hampir saja Hiyola mengatai nya, tapi dering ponsel petra menghentikan nya.
Hiyola sedikit berjinjit penasaran dengan pesan atas nama Tuan Roberth.
"Kata tuan, saya di minta untuk memastikan keberadaan nyonya sehingga tidak merugikan nya. Kata tuan juga, jangan sampai ada orang yang tahu bahwa tuan Roberth adalah suami nyonya."
Hiyola menelan Saliva nya sulit. Hati nya meradang mendengar perintah Roberth yang seakan-akan takut di buat malu oleh nya. Padahal kemarin malam pria itu sepeti akan menelan Hiyola karena mengakui nya sebagai kakak.
"Katakan padanya, tidak perlu khawatir, aku juga tidak sudi mengakuinya sebagai suami!"
Petra sedikit bergeser karena reaksi Hiyola yang sangat beringas.
"Anda mau ke mana setelah ini, Nyonya?"
Hiyola tidak menjawab, dia sibuk menaiki dan menghidupkan motor nya.
"Nyonya, tuan bertanya setelah ini nyonya akan ke mana?" ulang Petra.
Hiyola menutup kaca helm nya, kemudian menoleh pada Petra, ekspresi kesalnya tidak terlihat.
"Katakan pada nya, aku pergi mencari seseorang yang bisa di panggil suami!" ketus nya kemudian melaju pergi meninggalkan Petra yang menatap masih dengan raut penuh tanya.
***
Sepanjang jalan Hiyola terus mengomel. Roberth memang pria yang sangat aneh, baru kemarin mereka seperti pasangan serasi, hari ini seperti musuh bebuyutan. Entah akan seperti apa lagi besok.
"Huh! Pria labil!"
Mood Hiyola sudah sangat buruk jadi ia memutuskan untuk pulang saja.
Di tengah perjalanan, tidak sengaja Hiyola mendengar seseorang memanggil nama nya.
Melambatkan laju kendaraan, Hiyola mulai celingak celinguk mencari asal suara sambil tetap fokus menyetir. Karena ramai nya kendaraan. Baru saat matanya menangkap sosok pria berbaju kue di depan sebuah toko bunga, tangan nya meremas rem.
Di depan toko yang berada tepat di samping jalan, Daniel tengah berjingkrak girang, sambil kedua tangan nya terus melambai dengan gerakkan ayu memanggil-manggil Hiyola.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Hiyola begitu berhasil menepi.
Daniel tersenyum sumringah. "Oh, astaga! Beruntung kau lewat. Mobil ku mogok." Tanpa menunggu, Daniel langsung duduk di boncengan.
Hiyola menengok ke belakang, "Heh, apa yang kau lakukan? Turun." titah nya.
Daniel memutar kedua bola matanya, lalu berekspresi sinis. "Aku akan mengisi penuh tangki mu." memukul pelan bahu Hiyola, agar gadis itu segera jalan. Daniel tahu betul seberapa kikir sahabat nya. Dia tahu tidak ada yang gratis bagi gadis mata duitan ini.
Hiyola menyengir lalu mulai menjalankan motor. "Awas kalau kau bohong." ancam nya mulai melaju.
Di tengah perjalanan, belum beberapa menit mereka beranjak dari toko, sebuah mobil Hitam berusaha mensejajarkan jarak nya dengan motor Hiyola. Berpikir mungkin telah melakukan kesalahan, Hiyola segera melambat dan memberi ruang untuk mobil hitam tersebut.
Saat mobil yang Hiyola rasa ia kenali sudah sejajar dengan mereka, kaca mobil sang pengendara menurun.
Daniel yang berada di belakang mulai menoel pinggang Hiyola, terpesona dengan pria yang tengah mengemudi yang sedari tadi mencuri pandang pada mereka. Pria tersebut pun nampak berbicara dengan orang lain yang berada di dalam mobil.
"Hiyo... Ku rasa pria di mobil ini menyukai ku. Dari tadi dia mencuri pandang pada kita." ujar Petra berseri-seri.
Karena padatnya kendaraan, Hiyola belum berkesempatan untuk menoleh. Namun, saat pria di dalam mobil bersuara, Hiyola hampir saja meremas rem.
"Nyonya Hiyola..."
Hiyola dan Daniel sama-sama membelalak. Raut wajah Daniel penuh tanya, sementara Hiyola yang tahu betul siapa orang yang meneriaki nya tampak cemas.
Menulikan telinga nya, Hiyola semakin melaju
"Nyonya, siapa pria di belakang mu?"
Hiyola melempar pandangan mengancam ke arah pria yang bukan lain adalah Petra.
"Nyonya?" ulang Daniel, melirik Hiyola lewat kaca spion. Yang mana, gadis itu tengah membuang muka.
Astaga Petra benar-benar membuat kesalahan dengan memanggil nya, 'Nyonya' Pasti, setelah ini Hiyola akan di ancam dengan berbagai pertanyaan dari Daniel.
"Dia pacar saya!" ketus Hiyola asal dan langsung berbelok melalui jalan pintas yang mana hanya bisa di lalui sepeda motor.
Di tengah perjalanan sesuai dengan dugaan, Hiyola di tatar dengan berbagai pertanyaan dari Daniel.
"Nanti akan ku ceritakan." gumam Hiyola terus melajukan motor nya seraya menulikan telinga dari pertanyaan-pertanyaan Daniel.
Sementara itu, di mobil. Roberth tampak duduk tenang, namun dari intonasi bicara dan pertanyaan yang di lontarakan, Petra tahu Roberth tengah penasaran.
"Apa kata nya? Pacar? Berani sekali dia berpacaran sementara masa kontrak belum berakhir!" cibir Roberth. Kedua tangan nya melipat di depan dada. Sangat jelas jika pria itu tengah berusaha bersikap tenang.
"Petra! Cari tahu siapa pria yang dia bonceng tadi! Cari tahu sejauh mana hubungan mereka." perintah Roberth.
"Peraturan nomor enam, tuan." Petra mencoba mengingat kan bos nya tentang peraturan yang sang bos buat sendiri. Namun, tatapan tajam Roberth yang terpantul dari kaca dashboard berhasil membuat Petra mengangguk patuh.
"Baik, tuan." ucap Petra.
"Ck, selera nya buruk sekali." komentar Roberth tanpa sadar.
***