Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 26 : Mulai tergoda



Roberth berjalan ke kamar dengan lilitan handuk yang mengcover bagian tubuh ke bawah. Handuk yang di gunakan juga lebih panjang dari sebelum nya. Mungkin karena ada Hiyola di kamar.


"Jangan pura-pura. Saya tau kamu belum tidur."


Roberth sudah berdiri tepat di kaki ranjang yang Hiyola tempati. Gadis itu bergerak lambat, berbalik, Matanya langsung tepaku pada wajah tampan Roberth. Rambutnya basah dan sedikit acak-acakan, mata keabuan nya sangat indah, hidung mancung, di tambah bibir sek si nya patut di beri gelar pria tertampan abad ini. Dan,


Oh, astaga! Mata Hiyola berhenti pada tubuh Roberth yang masih di lelehi bekas air, membuat nya menegak ludah, ia bahkan tidak berkedip.


Roberth bersedekap, alisnya terangkat. "Apakah saya setampan itu?"


Hiyola mengangguk, dan langsung menggeleng. "Tidak, tuan."


Tentu saja Hiyola tidak akan mengakui, karen nanti bisa-bisa Roberth jadi besar kepala.


"Kenapa belum tidur?" Roberth mengganti pertanyaan nya. Dia sudah cukup senang saat Hiyola mengangguk tadi.


"Belum mengantuk." jawab Hiyola. Roberth kemudian berjalan menuju salah satu pintu yang berada hampir di samping pintu kamar mandi. ia membuka pintu yang terbuat dari kaca buram tersebut, kemudian melenggang masuk.


"Jangan harap saya mau berpakaian di depan mu." ejeknya sebelum menutup pintu.


Hiyola sontak terduduk, lalu mengepalkan tangan nya, seolah menabok kepala Roberth. Pria itu selalu berhasil membuat nya kesal.


Lima menit kemudian, Roberth keluar dari ruang ganti. Matanya langsung tertuju pada keberadaan Hiyola. Perlahan, sang kaki membawanya mendekati ranjang gadis yang tengah terbaring dengan mata terpejam.


Roberth duduk tepat di samping ranjang, matanya fokus mengukur setiap jengkal wajah Hiyola. Pandangan nya berhenti pada bibir merah alami yang kali ini tertutup rapat. Tubuhnya seketika memanas, ada keinginan yang sangat ingin di penuhi.


Akhir-akhir ini, setiap kali menatap bibir berisi Hiyoal, perasaan Roberth terus terdorong untuk menyentuh bibir polos itu. Persis seperti saat ini.


Cepat-cepat Roberth langsung menarik diri. Jantungnya berdegup kencang kala Hiyola bergerak mengganti posisi tidur.


.


Roberth mengusap kasar rambutnya. Berada di dekat Hiyola mulai membuat nya kehilangan akal. Dia harus bisa menjaga jarak dari Hiyola, jika tidak, dirinya mungkin akan mulai melewati batas.


***


Seperti hal nya kemarin, Hiyola kembali mengerjap saat mendengar igauan Roberth.


Dengan bantal nya, Hiyola berusaha menekan telinga, mencoba tidak mengacuhkan kondis Roberth.


Geram, Hiyola memutuskan untuk bangkit dari ranjang. Netra nya menatap penuh sendu, pria itu nampak kesakitan. Wajahnya penuh peluh dan kesakitan.


Perlahan Hiyola mengumpulkan keberanianya, mendekat ke ranjang Roberth.


"Apa sebenarnya yang kau alami?" gumam Hiyola.


Tangan nya perlahan menyentuh wajah tampan Roberth yang memerah, menyeka keringat yang terus bercucuran keluar. Tangan nya yang lain, mengulur, mencoba melepaskan cengkraman Roberth pada seprai ranjang.


Saat berhasil terlepas, Roberth langsung menggenggam tangan Hiyola kuat. Pegangan nya bergetar seolah ketakuta. Hiyola lalu mulai menepuk lengan Roberth, berharap bisa menenangkan nya. Benar saja, apa yang ia lakukan berhasil.


Tubuh Roberth yang tadinya menegang, mulai rileks. Mata yang terpejam kuat, nafas yang tadinya memburu, sudah kembali normal. Dia kembali menjadi Roberth yang kaku, bahkan dalam tidurnya. Entah apa yang terjadi, Hiyola berharap, Roberth bisa berhenti memikirkan traumanya.


Setelah dirasa sudah, Hiyola langsung melepaskan genggama Roberth pada tangan nya. Dia kembali ke ranjang, saat hendak memejamkan mata, Hiyola sempat memikirkan bagaima Roberth melewati malam-malam nya.


Apa dia pernah tertidur nyenyak? Apakah itu sebabnya dia selalu mengkonsumsi obat sebelum tidur?


Hiyola kemudian menggeleng. Lagi pula bukan urusannya untuk memikirkan kondisi Roberth. Pria itu sudah punya Kimberly, sang calon istri masa depan nya.


***


"Ada apa?" tanya Roberth dengan sura serak khas nya. "Bagus, saya akan segera ke sana." sahut Roberth, tersenyum singkat.


Roberth baru sadar bahwa Hiyola sudah tidak ada di kamar. Mengernyit, mata Toberth langsung melebar saat melihat waktu yang tertera pada layar ponsel nya.


"11.30?" Roberth mengernyit. Ini adalah tidur terpanjang nya selama 20 tahun terakhir.


Roberth menerawang jauh ke depan. Memikirkan apa yang mungkin terjadi semalm, namun tidak ada apa pun di sana. Ia hanya mengingat bagaimana dirinya hampir mencium Hiyola saat gadis itu tidur.


***


"Tuan..."


Petra masuk setelah mengetuk pintu. Saat ini Roberth sudah duduk di kursi kebesaranya. Dia atas meja terdapat laptop dan beberapa barang pribadi, dengan papn nama bertulis, Direktur utama : Roberth Mesack Kohler.


"Sudah dua hari! Lambat sekali kau!" hardik Roberth, sesast setelah Petra berdiri di hadapn nya.


Petra menyerahkan tablet yang berisi semua hal tentang Daniel Finzen Atmajaya. Pria yang beberapa hari lalu membuat Roberth penasaran. Tentu saja tidak dengan kenyataan bahwa Daniel juga merupakan teman kuliah Hiyola. Bisa-bisa nyawa Petra melayang, karrna nyonya Violeta telah meminta nya untuk tidak membongkar latar belakang Hiyola, terutama kepada Roberth.


"Bagaiman bisa seorang wanita bersahabat dengan pria!" Nada ketus tersebut terdengar jengkel saat foto kebersamaan Hiyola dan Daniel muncul di layar.


Petra kini sadar, tuannya sudah mulai terusik dengan keberadaan Hiyola. Seperti nya seorang Hiyola telah berhasil menggoyahkan bos nya yang terkenal kaku dan dingin.


"Anda tidak perlu kahawatir soal itu, Tuan." ucap Petra, dia memberi kode agr Roberth menggeser layar ke samping.


Roberth langsung mendelik, wajahnya menunjukkan ekspresi geli.


"Dia, gay?" pekiknya, berusaha menahan gejolak bahagia di balik nya. Entah mengapa ia merasa lega.


"Ya, tapi tuan akan kaget dengan semua foto yang saya temukan saat membuntuti nyonya Hiyola." ujar Petra.


Hiyola memang mempunyai hidup bagaikan kotak pandora. Kau akan tercengang saat masuk dan semakin masuk ke dalam nya.


"Apa semua ini?" dan alis Roberth mengerut. Dalam foto-foto yang di ambil Petra. Ada seorang pria dengan pakaian yang sama terus membuntuti gadis itu. Bahkan saat jumpa dengan pelanggan dari aplikasi, pria bersetelan hitam dengan masker dan topi berwarna senada tersebut juga ada di sana.


"Saya tidak tahu persis, tuan. Yang pasti pria ini terus mengikuti kemana nyonya Hiyola berada."


Perasaan cemas mulai menyelimuti Roberth. Mengetahui ada yang mengikuti Hiyola, Roberth mulai merasa khawatir jika sesuatu menimpa wanita itu.


"Perintahkan beberapa anak buah mu untuk menjaga nya." perintah Roberth. Petra mengernyit, kekhawatiran terlalu jelas tergambar di wajah sang bos.


"Aku hanya khawatir dia kenapa-kenapa sebelum hutang nya lunas!" ucap Roberth berdalih. Namun, petra bukan nya pria yang amat bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi.


Setelah kepergian Petra, Roberth langsung menghibungi bagian administrasi, meminta nomor Hiyola.


Roberth langsung mengirim sebuah pesan singkat, yang membuat sang penerima menggeram kesal.


[Mulai sekarang, kamu harus melapor di mana pun keberadaan mu! Tidak ada bantahan! Tidak ada tawar menawar! Ini peraturan no 11 yang akan saya tambahkan di daftar kontrak!]


***


"Kemana Daniel? Mengambil ponsel saja lama!" gerutu Hiyola. Dia tadi melupakan ponselnya di kelas, dan meminta Daniel untuk mengambil nya.


***