
“Awww…”
Hiyola mengatupkan kedua tangan, menutup mulut. Matanya membuka lebar, mencoba menerawang di kegelapan sana, mencari tahu siapa yang baru saja menjerit.
Seberkas bayangan mulai mendekat dari kegelapan, Hiyola mengambil ancang-ancang untuk lari.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban. Orang itu terus mendekat, walau tidak jelas di tangan kanan nya ada sebuah benda.
Pikiran Hiyola mulai tidak karuan. Dia berpikir mungkin itu adalah sebilah pisau, ingin lari tapi penasaran juga.
Apa mungkin ini yang di rasakan para pemeran film triller saat mereka di kejar pembunuh, yang sering kali membuat kita para penonton jadi sebal tidak jelas? Astaga pikir apa sih aku ini?
Hiyola sudah mengambil ancang-ancang lari, namun betapa terkejutnya dia saat yang muncul adalah Robrth. Pria itu berjalan mendekat sambil mengusap dahinya dengan raut wajah kesakitan.
“Tuan Roberth?” Hiyola menghembuskan nafas lega. Untung saja ia tidak lari seperti orang tolol tadi.
“Oh ya Tuhan! Kau hampir membunuh ku!” pekik Roberth menunjukkan Heels berwarna cream yang Hiyola sangka pisau tadi.
Lagi-lagi Hiyola mengatup mulutnya.
“Oh, maaf tuan.” Balasnya nya kikkuk, kemudian meraih Heels tadi dan memakai nya kembali.
“Apa yang kau lakukan di sini? Kau sudah tak waras?” tanya Roberth melihat ke sekeliling jalan.
Hiyola mengernyit, “Memang apa masalah nya, tuan?” Tanya Hiyola masih belum paham.
“Ini jalan ke hutan.”
Hiyola terlonjak kaget, dia sungguh tak tahu kalau ini jalan ke hutan. “Ke hutan?” ulang nya dengan mata terbuka dan alis terangkat shock.
“Pantas dari tadi tidak ketemu jalan keluar nya.”
Walau malu karena salah arah, Hiyola sengaja mengacuh kan Roberth. Dia masih enggan melihat wajah Roberth, apalagi kejadian tadi seakan kembali memutar di kepalanya.
“Maaf tentang keluarga saya.” Roberth menatap tepat wajah Hiyola yang tengah menghindari nya.
Hiyola merasa heran, Roberth ini sebenarnya pria yang bagaimana. Terkadang baik, terkadang menjengkelkan, terkadang cuek, terkadang peduli.
“Bagaimana Tuan menemukan saya di sisni?” Hiyola sengaja tidak mengacuhkan permintaan maaf Roberth. Kalau dipikir normalnya Roberth harus berada di arah yang benar menuju kota, bukan nya di sini bersama nya. Apalagi pria itu tidak menggunakan mobil.
“saya jauh dibelakang, dan mengikutimu dari rumah.” Jawab Roberth, menekan dua kata terakhir.
“Kenapa tuan mengikuti saya? Kan sudah saya suruh untuk jangan mengikuti saya?”
“Saya tuan mu di sini, jadi kau tidak punya hak memerintah.”
Hiyola menganga dungu, percuma saja berbicara dengan Roberth. Pria itu selalu berhasil memuat Hiyola senang dan jengkel di waktu bersamaan.
Eh, tunggu! Jadi, dia mendengar semua ocehan ku dari tadi?
“Jadi tuan…”
Roberth mengangguk dengan mata terpejam. “Ya, saya mendengar semua nya.” Jawab nya langsung seolah bisa membaca isi pikiran Hiyola.
Hiyola mengerutkan dahi bertanya lagi bagaimana Roberth bisa membaca pikiran nya. Dan lagi-lagi Roberth menjawab.
“Tergambar jelas di wajah mu.” Ujar Roberth dengan jari telunjuk yang ia gerakan melingkar seputar garis wajah nya sendiri.
“Saya tidak akan meminta maaf, untuk hal itu.”
Roberth mengangguk dengan wajah datar andalan nya, “ Saya paham.”
Hiyola kemudian beranjak pergi, ia melewati Roberth, kembali berjalan kea rah yang benar, namun secepat mungkin Roberth meraih pergelangan tangan Hiyola.
“Kaki mu tak sakit? Tadi kau mengoceh soal sepatu jahat dan gaun jahat. Oh ya, jangan lupa soal, tuan ja-“
“Maaf!" Menyesal Hiyola atas sikap lancang nya. "Tuan tidak perlu khawatir, kaki saya baik-baik saja.” lanjut nya namun masih berdiri di tempat.
“Siapa bilang saya khawatir? Saya hanya tidak mau kamu melarikan diri dari tanggung jawab mu.”
Hiyola mendengus, wajah nya tampak sangat kesal. Harusnya ia lebih tahu dari siapa pun kalau pria ini adalah orang yang paling tidak mungkin peduli pada nya.
“Dasar pria jahat!” cibir Hiyola pelan, sangat pelan namun masih terdengar jelas di telinga Roberth.
“Jangan banyak berkomentar!”
Roberth menarik tangan Hiyola untuk duduk di samping nya. Mereka duduk di atas pembatas jalan. Dengan lembut Roberth melepaskan sepatu Hiyola. Karena tidak terlalu jelas, dia mengeluarkan ponsel Hiyola dari dalam saku nya, kemudian menyerahkan ponsel kepada sang pemilik. Ponsel yang Hiyola tinggalkan saat keluar dari mobil.
“Dasar bodoh! Setidak nya ambil ponsel mu baru pergi.” Ketus Roberth.
Hiyola mengambil ponselnya sedikit terkesiap. Menurut nya Roberth tidak terlalu buruk. Tapi, bagaimana mungkin ada wanita yang meninggalkan nya? Memang wanita yang bodoh.
“Apa yang kau pikirkan? Nyalakan senternya!” ketus Roberth lagi. Padahal Hiyola baru saja memuji nya.
Aku ralat....! Kau wanita yang cerdas Kimberly! benar meninggalkan pria jahat ini.
Hiyola lalu menyalakan senter ponsel dengan sedikit mencibir, mengarahkan cahayanya ke kaki nya.
Roberth mulai menggerakkan kaki Hiyola untuk melihat kondisinya. Pria itu terkejut bukan main karena melihat kulit pergelangan kaki Hiyola yang sudah terkelupas.
“Kau baru melepaskan sepatu mu setelah berjalan dua jam? Apa indra perasa mu sudah mati?” omel Roberth sambil mengusap pelan bagian lain yang memerah dan bengkak.
Melihat perlakukan Roberth, Hiyola teringat akan sang ayah.
Roberth persis seperti ayahnya. Kala itu, bukan karena High Heels. Waktu itu Hiyola kira-kira berusia 9 tahun. Dia di marahi persis seperti yang Roberth lakukan. Saat itu Ayah nya marah karena Hiyola terus melukai diri dengan jatuh berkali-kali dari sepeda, padahal sudah di suruh untuk berhenti dulu namun, karena keras kepala, Hiyola terus melanjutkan kegiatan nya, dan terjatuh sehingga menghasilkan luka bertubi-tubi di tempat yang sama.
Oh, mengingat sang ayah, perasaan yang tadinya sudah lumayan baik kembali membururk. Sungguh demi apa pun dia merindukan ayah nya.
Dia rindu kehadiran sang ayah untuk memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meskipun sebenarnya tak pernah ada yang baik-baik saja, Hiyola tetap rindu kalimat penenang ayah nya.
Roberth yang tengah mengecek kondisi Hiyola segera meniup memar di kaki Hiyola. Pria itu bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya lalu meniup lembut memar di kaki Hiyola. Sayang nya sedikit perlakukan manis itu membuat sebagian dari diri Hiyola menghangat.
Matanya kembali berkaca, dia sangat merindukan Miona dan Bibi Alya juga.
“Apa sakit?” Tanya Roberth menengadah menatap Hiyola seraya tangan nya menyentuh pelan pergelangan kaki Hiyola yang memar.
Hiyola mengangguk kemudian menunduk dalam. “Sakit sekali!” keluh nya mengerjap beberapa kali, berharap buliran bening yang sudah membumbung di pelupuk mata tak tumpah.
“Sakit…” sahut nya lagi
“Sangat sakit…” ulang nya berkali-kali berharap seluruh sakit yang ia rasakan bisa hilang. Bukan sakit di kaki nya, tapi sesak di relung hati. Beban yang ia pikul akhir-akhir ini rasa nya semakin berat. Hidup sangat kejam sehingga mengambil semua orang yang ia sayang, dan memberikannya pada orang asing.
Pada akhirnya, tanpa bisa di cegah lagi, air mata Hiyola mengalir begitu saja. Pundak nya bergetar dengan nafas yang tidak beraturan, tangan nya terus memukul dada sendiri karena tidak mampu menahan sesak yang menyiksa.
“Kaki ku sakit sekali…” lirih Hiyola, berdusta.
“Sakit sekali, tuan…”
“Kenapa bisa sesakit ini?” Sambil sesegukan, dengan wajah sayu dan letih Hiyola menatap wajah Roberth yang hampir hilang di telan kegelapan.
“Kenapa mereka memperlakukan ku seperti itu, tuan? Apa salah ku? Aku bahkan tidak punya hak untuk hidup ku sendiri, jadi apa hak mereka?” Racau Hiyola masih sesegukan.
"Seumur hidup ku, orang selalu mengatakan bahwa aku bukan apa-apa, memangnya tahu apa kalian tentang hidup ku?" dengan kedua tangan, Hiyola menutup wajah sendiri dan mencoba meredam suara nya.
Roberth tidak bisa menyangkal bahwa keluarga nya dan Kimberly bersalah dalam hal ini. Jika dia tahu akan seperti ini, ia tidak akan membawa Hiyola ke pertemuan, karena itu yang bisa Roberth lakukan hanya mengelus lembut punggung Hiyola yang terus bergetar berharap gadis itu bisa sedikit tenang.
Rupa nya ini akan menjadi malam yang panjang…
***