Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 39 : Tuan boleh pergi



Matahari pagi bagikan lampu Tumbler, bermain di mata Roberth, akibat deru angin pagi menggoyang gorden kamar Hiyola.


Roberth mengerjap ketika cahaya kerlap kerlip mempermainkan penerangan. pupil hitam nya mengecil saat kepala mendongak, mendapati langit sudah mulai terang. Ia tercengang saat melihat tangan nya memegang tangan putih berjari jenjang milik Hiyola.


Semalam Roberth sampai tertidur di samping ranjang Hiyola. Kedua bahunya bahkan terasa pegal, mungkin karena posisi tidurnya yang meringkuk di tepian ranjang.


Irish keabuan nya menatap wajah tenang Hiyola. Awalnya Roberth takut jika saat malam karena trauma nya, Roberth mungkin akan menyakiti Hiyola. Namun, melihat kondisi kamar yang rapi dan Hiyola terlelap nyaman, Roberth menghembuskan nafas lega. Apakah mungkin trauma nya sudah hilang? Ia bahkan sudah hampir seminggu tidak lagi mengkonsumsi obatnya.


"Selamat pagi Tuan." Roberth menoleh, tidak lupa melepaskan tangan yang menggenggam Hiyola.


Ami masuk membawa bubur dan segelas susu, di sampingnya terdapat obat-obatan dan sederet air putih.


"Tuan semalaman di kamar nyonya?" Ami berusaha menyembunyikan raut antusias nya. Dia akan sangat bersyukur jika memang Roberth menemani Hiyola sepanjang malam, sebab itu berarti tuannya memang peduli pada Hiyola.


Mata Roberth bergerak ke kiri dan kanan, menunjukkan kegugupan. "Saya berjaga, takutnya dia melakukan hal aneh. Kau tahu dia kan?" Menaikkan kedua alisnya, ia sengaja beralasan menyembunyikan rasa peduli di balik kemanusiaan.


Ami tersenyum simpul, lalu mengangkat gelas kosong dan piring kecil tempat ia meletakkan obat untuk Hiyola semalam. Roberth yang terus memperhatikan pergerakan Ami, mengernyit. Ia tidak mengingat pukul berapa dirinya membantu Hiyola meminum obat nya.


Menoleh melihat Hiyola, satu alis Roberth terangkat, berpikir keras. "Apa dia memang bangun tadi malam?"


***


Sesaat setelah Roberth dan Ami keluar, satu mata pasien terbuka, setelah memastik Roberth maupun Ami tidak lagi berada di dalam kamarnya, Hiyola langsung bangun.


Tanpa aba-aba, dia terbirit-birit turun dari ranjang, memegang tiang infus, mendorongnya ke arah pintu, kemudian duduk di depan meja rias dan langsung melahap bubur panas yang ada di sana tanpa peringatan.


"Aww! Panas...!" pekiknya terkejut. Hiyola sontak mengibaskan tangan berusaha menghilangkan rasa panas di bibirnya.


Ami menyediakan bubur dalam keadaan masih sangat panas, seperti nya karena berpikir Hiyola mungkin baru akan bangun beberapa menit lagi.


Setelah meniup bahkan mengibas-ngibas bubur, baru Hiyola berani melahap kembali hidangan khas orang sakit tersebut.


"Ah! Aku baru bisa merasa hidup sekarang." celotehnya saat bubur di dalam mangkok tandas. Ia mulai menyesap susu putih buatan Ami.


Saat matanya menangkap tiga butir obat di dalam piring kecil, Hiyola kembali teringat akan diagnosa dokter semalam. Dirinya bahkan hampir tidak bisa tidur karena kepikiran. Untung semalam Roberth bersama nya, jika tidak Hiyola mungkin akan menari bulan di balkon karena kepikiran penyakit lambungnya.


Oh ya, bagaimana Hiyola bisa sadar akan keberadaan Roberth?


Semalam Hiyola yang sudah sadar, langsung bersandiwara seolah masih pingsan saat dokter William keluar tadi malam. Hiyola memang sengaja menjalankan misi pura-pura karena tau Roberth tidak akan tinggal diam, dan mengomelinya sepanjang malam, sampai takutnya, di pagi hari nanti, dokter akan kembali lalu mendiagnosa dirinya mengalami gangguan telinga.


Dan, yup! Tebakan Roberth mengenai Hiyola yang mungkin banget tidak salah. Semalam ia terbangun tentu karena Roberth yang berada di sisinya, kembali mengigau.


Kata siapa dia tidak lagi bermimpi buruk? Roberth masih tetap dalam kondisi trauma nya, namun, tidak separah saat pertama kali Hiyola mendapati kondisi tersebut. Akhir-akhir ini, sesekali Roberth hanya mengigau tidak jelas kemudian kembali tenang saat Hiyola beranjak memegang tangan nya. Dan tadi malam, karena tertidur sambil menggenggam tangan Hiyola, Roberth pun hanya mengigau sebentar kemudian kembali tertidur lagi. Tepat saat itulah Hiyola turun dari ranjang kemudian meminum obat nya


"Nyonya sudah sadar?"


Hiyola terlonjak kaget saat Ami yang tiba-tiba langsung membuka pintu. Ia bahkan nyaris mendaratkan bokong nya ke lantai jika Ami tidak memegang.


"Nyonya baik-baik saja?" cemas Ami.


Hiyola hanya bisa mengangguk lambat. Dia menunduk. Jujur saja untuk kembali berhadapan dengan Ami, Hiyola sudah merasa malu. Wanita itu sudah tahu status Hiyola yang sebenarnya namun tetap memanggil Hiyola dengan sebutan 'Nyonya'.


"Panggil saya Hiyola saja, Mbok. Saya rasa kita berdua berada dalam situasi yang sama, dimana kita sama-sama hanya bawahan dari Tuan Roberth."


Ami menarik segaris senyum di bibir nya. Dia maklum jika Hiyola merasa seperti itu. "Saya akan tetap memanggil kamu dengan sebutan Nyonya, karena pada dasar nya, kamu memang menikahi Tuan Roberth. Dan tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu, nyonya."


Hiyola mendongak. Matanya berkaca karena mendapat begitu banyak perhatian, bahkan di saat semua orang terdekatnya berada jauh.


"Terimakasih, Mbok..." Hiyola memeluk Ami.


"Ekhemm...!"


Sebuah deheman menghentikan suasana haru antara Hiyola dan Ami. Mereka menoleh, mendapati Kimberly di depan pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Aku rasa kondisi mu baik-baik saja! Tolong jangan menghalangi kebahagian kami!" cerca Kimberly begitu mendapati tatapan Hiyola yang sedikit masam.


Suaranya memang terdengar lembut, namun penuh akan nyinyiran dan sindiran, yang mulai membuat Hiyola emosi.


Masih cukup pagi untuk seseorang datang bertamu. Ami balas berdehem tidak suka, karena di pagi hari yang indah ini, ia harus melihat wanita berbaju kurang bahan ini.


"Eh, nona Kimberly. Masih pagi, sudah mampir saja," sambut Ami dengan wajah sinis . Di kepalanya, Ami sangat ingin menarik baju hijau berleher rendah yang Kimberly kenakan, bahkan lebih baik wanita itu hanya menggunakan BH saja.


"Kenapa kalau pagi-pagi aku sudah kemari? Kamu tidak suka? Sebagai pembantu, kamu sudah kelewat lancang!" Kimberly merasa tersinggung dengan kalimat Ami barusan. Wajahnya terangkat angkuh.


Ternyata memiliki paras yang cantik, tidak menjadikan seseorang memiliki budi dan akhlak yang cantik pula.


"Maaf Nona Kimberly, Mbok Ami hanya mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya saja. Toh, yang Mbok Ami katakan tidak salah."


Kimberly menatap Hiyola tajam. Kedua alisnya menukik, menyirat ketidak sukaan nya karena dua orang yang ia pandang rendah berani menjawab nya.


"Kau ****** rendahan! Beraninya kau membantah ku!" pekik Kimberly. Kedua tangan yang awalnya bersedekap, berjejer di sisi tubuhnya.


Inilah wujud asli dari seorang Kimberly. Dia hanya bersikap manis di tempat dan situasi yang ia inginkan. Ami berpikir, Tuan Roberth akan menjadi pria malang jika dirinya benar-benar berakhir dengan wanita berambut maroon ini.


"Memang kenapa jika saya membantah? Toh, anda memang bersikap kasar! Maaf, tapi saya tipe orang yang tidak bisa tinggal diam, melihat sesuatu hal yang salah!" sahut Hiyola tidak kaah lantang. Kimberly tidak tahu dengan siapa ia berhadapan.


"Wah! Tidak salah lagi!" Kimberly berdecak, selanjutnya bertepuk tangan, sinis. "Kau pasti berpura-pura sakit, dan menghasut Roberth untuk membatalkan perjalanan kami! Bukan begitu?"


Hiyola mengernyit. Wanita ini memang sangat tidak jelas, dan aneh. Mengahasut Roberth? Bahkan sketsa nya saja tidak pernah muncul di kanfas pikiran Hiyola.


"Banyak hal jauh lebih penting, ketimbang menghasut Tuan Rob--"


"Kimberly?"


Kalimat Hiyola terhenti. Dari luar terdengar suara Roberth memanggil wanita itu karena posisi nya yang berada di ambang pintu. "Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah sudah ku katakan, rencana hari ini batal! Aku harus menemani Hiyola."


Kalimat Roberth terhenti saat masuk dan mendapati Hiyola serta Ami berdiri bersama. Dia tidak menyangka situasinya akan jadi secanggung ini.


"Saya sudah baik-baik saja, Tuan. Tuan bisa melanjutkan rencana jalan-jalan kalian." ucap Hiyola. Suaranya nyaris menghilang saat ia berjalan kembali ke tempat tidur. Dia tidak ingin Roberth menunjukkan sikap peduli yang berlebihan lagi.


Roberth ingin mengatakan sesuatu, namun terhalang oleh Kimberly yang sudah melingkarkan lengan nya. "Ayo Honey! Planingku sangat banyak, dan kita tidak punya waktu lagi." rengek Kimberly.


Mata Roberth sibuk melihat gerak gerik Hiyola yang kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia berpesan sebelum benar-benar pergi.


"Hubungi saya jika terjadi sesuatu, Ami." ucapnya.


Ami mengangguk, Kimberly mengerucutkan bibirnya.


"Baik Tuan! Ada masalah apapun, saya pastikan Tuan orag pertama yang saya hubungi." balas Ami. Ada nada sindiran di sana.


Sekali lagi Roberth melirik Hiyola, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.


***


Setelah Kepergian Roberth dan Kimberly, Hiyola mendapat sebuah pesan dari aplikasi Meet Me.


Di sana dirinya mendapat pelanggan baru. Nama di aplikasi nya, Money!


Hiyola membelalak saat melihat jumlah uang yang di tawarkan.


"Lima ratus ribu?" pekiknya kegirangan. Ami yang tengah merapikan peralatan makan Hiyola, terlonjak kaget. Dia buru-buru menghampiri Hiyola di ranjang nya.


"Nyonya mendapat Lotre?" tukas Ami, ikut melihat layar ponsel Hiyola.


"Bukan Mbok! Kotak pandora ini!" sahut Hiyola kegirangan. Ami tampak bingung melihat layar pink tersebut.


Di detik berikut, Hiyola mengernyit sesaat ketika melihat peran nya.


"Hmm...pacar sementara?" gumam Hiyola. Ami yang mendengar hanya manggut-manggut saja.