
Hiyola menarik nafas dalam saat menatap pantulan dirinya di cermin. Kesan nya tidak terlalu resmi, dan tidak terlalu santai.
Baju kuning bunga-bunga yang pernah ia pakai ke kampus sebelum nya menjadi satu-satunya pilihan. Walau tidak nyaman, ia tidak punya pilihan lain. Klien dari aplikasi memmintanya untuk berdandan layaknya gadis yang akan di kenalkan ke teman kantor. Begitu kira-kira isi pesan yang Hiyola terima setelah bertukar kontak.
"Nyonya Hiyo cantik sekali!" puji Ami, ia tersenyum semringah.
Rambut sebahu Hiyola di ikat rendah, menyisakan beberapa anak rambut tergerai indah, wajahnya menggunakan sedikit make up yang ia peroleh dari Mbok Ami. Astaga, wanita tua itu memang sesuatu.
"Wah, Mbok memang keren. Aku yang muda saja tidak punya benda-benda sakral ini." Hiyola membubuhkan sedikit perona pipi. Meski jarang menggunakan benda-benda itu, Hiyola cukup sering melihat beberapa teman kampus nya mengaplikasikan alat-alat tersebut, jadi ia tidak terlalu kesulitan.
"Ah...! Nyonya ini, Saya menggunakan nya sesekali jika keluar ke pasar." Ami tersenyum gugup, "Tapi, saya tidak pernah pakai perona pipi." lanjutnya.
Melihat sikap Ami yang kadang-kadang random Hiyola bersyukur lantaran di pertemukan dengan seseorang sebaik Ami.
"Selesai!"
Sekali lagi Hiyola memastikan penampilan nya lewat cermin.
"Bagaimana, Mbok? Sudah bisa di katakan dewasa, belum?"
Ami yang duduk di ranjang, berjalan ke depan Hiyola. Dia menelisik penampilan Hiyola dari kepala hingga kaki. Tangan nya dilipat di depan dada, untuk beberapa saat kemudian ia mendesah kasar.
"Wajah Nyonya Hiyo memang terlalu awet muda. Padahal sudah berpakaian seperti ini, masih saja terlihat seperti anak sekolah mau mengerjakan tugas ke rumah teman!"
Hiyola memanyunkan bibir khawatir. Pasalnya pria yang menjadi klien nya ini seorang pria dewasa berusia 30 tahun. Dan Hiyola akan berperan sebagai pacar pura-pura nya, di depan teman kantor pria tersebut. Pasti suasana nya akan menjadi canggung jika dirinya terlihat muda. Bisa-bisa klien nya di sangka pedofil.
"Apa sebaiknya aku turunkan seperti ini?" Hiyola menarik turun leher baju depan nya, menampakkan sedikit garis dada yang tidak terlalu besar, Ami sontak menggeleng cepat dan menaikkan kembali.
"Nyonya akan kelihatan sangat kekurangan bahan." komentar Ami. Sesaat mereka berdua saling pandang, lau larut dalam gelak tawa. Kekurangan bahan? Sepertinya mereka punya pikiran yang sama.
Lima menit kemudian, Ami dan Hiyola sudah berdiri di depan Hope. Mereka saling menyemangati sebagi bentuk kepedulian.
"Mbok tunggu ya. Kita akan makan besar setelah saya kembali." celetuk Hiyola antusias.
Ami mengangguk. "Tapi, apa nyonya akan baik-baik saja?" Alisnya berkerut, menunjukkan keraguan. Dia tidak tahu bagaimana sistem keamanan dari pekerjaan Hiyola.
"Tenang saja, Mbok. Aplikasi memiliki tombol darurat juga, jadi kalau kami dalam bahaya, tombol akan terhubung langsung ke perusahaan, bahkan ke kantor polisi terdekat," tutur Hiyola seraya memakai helm nya. Dia melirik arloji coklat nya.
07.12
"Oh, baguslah. Sekali-kali saya juga mau daftar, deh. Siapa tahu di terima." kekeh Ami, sambil mengerling aneh.
Hiyola tergelak, hampir terpingkal-pingkal. "Mbok bisa saja."
"Ya sudah, nyonya berangkat saja. Nanti terlambat, kotak pandoranya marah."
Masih belum bisa menghentikan tawa nya, Hiyola menyalakan motor. "Saya pamit, ya, Mbok...," ucapnya, kemudian melaju setelah mendapat anggukan dari Ami.
Hari ini dirinya ingin bersenang-senang agar ia bisa melupakan semua perhatian Roberth padanya. Bahkan jika harus menggaet om-om, ia tidak masalah.
Hedeuh... Tidak masalah tapi menggeleng ngeri!
***
Jarak yang di tempuh untuk mencapai lokasi pertemuan agak sedikit jauh. Hiyola tiba di depan restoran bintang lima setelah berkendara 30 menit suntuk.
Sepatu kets yang ia kenakan berdiri di atas lahan berbahan beton. Dia baru saja memarkirkan motor, dan beranjak ke restoran bergaya klasik dengan lampu lentera sebagai daya tariknya.
Merogoh ponsel, Hiyola memastikan bahwa alamat yang ia tuju tidaklah salah.
Setelah yakin, ia mulai melangkahkan kakinya. Restoran mewah ini cukup resmi juga. Hiyola tidak menyangka, di dalam nya terdapat banyak pelanggan.
Matanya menyapu ke seluruh ruangan, mencari pria yang menjadi klien nya. Kata nya ia menggunakan celana jins hitam dengan kemeja putih, tapi sepertinya tidak ada ciri seperti itu.
Netra Hiyola terus menerawang, hingga dirinya berhenti di sudut ruangan, saat seorang pria melambai ke arah nya.
Mata Hiyola langsung membelalk sempurna. Dia kaget bukan main, lalu secepat kilat berbalik ke arah pintu sambil menutup wajah nya dengan tas bahu kecil yang ia kenakan. Wajah nya tampak pucat pasi begitu melihat teman-teman kantor di dekat pria berkemeja putih tersebut.
"Mampus aku!" gerutunya mulai gemetaran.
Namun, saat akan menaiki Hope, tangan Hiyola di cekal seseorang. Karena pengaruh adrenalin yang masih terpacu, Hiyola menghempas keras tangan pria tersebut.
"Maaf, saya tidak bisa!" ucapnya tanpa sedikitpun melirik pria berkemeja putih, yang tak lain ialah klien nya.
Argh! Persetan dengan uang 500 ribu itu! Desis Hiyola dalam hati. Tubuhnya seketika meremang saat mengingat bagaimana ia sangat mengenal para manusia yang duduk di meja no 10 tadi.
Kebetulan macam apa ini? Bagaimana bisa teman kantor klien ku, adalah para dosen ku sendiri?
Yup! Kalian tidak salah baca. Teman kantor yang pria itu katakan ialah para dosen Hiyola? Bahkan dosen killer yang memberi nya nilai E semester lalukarena absen sekali di jam mengakarnya, turut hadir di sana.
Astaga! Membayangkan duduk bersama mereka berhasil membuat seluruh bulu kuduk ku berdiri. Bisa-bisa kalau pergi kesana, mereka akan memberiku ujian harian mendadak!
Memikirkan nya membuat nya merinding. Namun, belum ada ia berkomentar terhadap pria yang berdiri di samping nya, sebuah tangan yang tadi meraihnya, menarik Hiyola ke dalam pelukan nya.
"Jangan bergerak!" ucap pria itu, saat merasa Hiyola yang mencoba berontak.
"Apa yang kau lakukan?Lepaskan saya!" bentak Hiyola mendapati pria itu masih memeluknya. Namun, sejurus kemudian, Hiyola membeku di tempat nya. Si dosen killer bersuara tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Jantung Hiyola hampir copot begitu mendengar hantukan sepatu mendekat.
"Aduh! Mereka tidak boleh melihat ku..." desis Hiyola pelan. Secepat kilat pria berkemeja putih tersebut membawa Hiyola menuju mobilnya. Dan membiarkan nya duduk di sana.
Hiyola melihat bagaimana mereka semua bercengkrama. Terlihat sangat akrab dan hangat. Segera ia menggosok kedua lengan yang menggigil ngeri.
"Tidak terbayangkan jika aku sungguh bertemu dengan mereka. Oh, astaga! Lima ratus ribu ku melayang..." lirihnya. Padahal belum ada lima menit sejak dirinya mengatakan persetan tadi.
***
Kira-kira lima menit setelah dirinya duduk anteng di dalam mobil, pria berkemeja putih tersebut ikut masuk.
Hiyola duduk menunduk, sambil meremas jari-jari nya. Dia merasa canggung, gugup, dan menyesal. Ini adalah jumpa temu terburuk nya selama ia berkarir di PT. Meet Me.
"Maafkan saya--" kalimat Hiyola terhenti saat matanya bertemu pandang dengan sang Klien.
Sejak tadi, ternyata, klien nya sibuk menatap Hiyola. Karena kondisi parkiran yang cukup gelap sebelum nya, berkat cahaya lampu mobil, Hiyola baru sadar bahwa pria yang mungkin adalah dosennya memiliki senyum yang menawan. Wajah sangat menunjukkan pria barat, dagu terbelah, dengan mata hazel yang begitu indah. Pria itu tersenyum ke arah nya membuat jantung Hiyola serasa berhenti. Bahkan ia mulai meragukan jika pria didepan nya ini berusia 30 tahun. Senyum nya tidak tanggung-tanggung! Totalitas tanpa batas!
Uhuk!
Hiyola sampai terbatuk karena saat di pandang balik, pria tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa canggung, membuat Hiyola yang seharusnya menang dalam lomba tatap ini, malah salah tingkah.
"Maaf kan saya, pak, karena telah bersikap bodoh, tadi." ucap Hiyola akhirnya. Penyesalan amat sangat kentara di rautnya.
Pria berkemeja putih itu terkekeh pelan. "Aku tidak menyangka, pacar sewaan ku, ternyata mahasiswa ku sendiri." sahut pria itu, seraya membenarkan posisi duduknya. Senyum menawan tidak pernah terjeda. Hiyola merasa seperti de javu saat mendengar bahasa Indonesia sang pak disen yang tidak begitu bagus.
Menunjuk dirinya, "Bapak mengenal saya?" Hiyola agak merasa aneh. Walau sudah tergambar jelas pria itu adalah dosen nya, Hiyola masih tidak pernah menyangka memiliki seorang dosen setampan ini.
"Tentu saja aku mengenal mu," balas pak dosen penuh arti.
"Jadi bapak dosen di fakultas Ekonomi? Kenapa rasanya saya tidak pernah melihat bapak?"
Pak dosen kembali menoleh, melihat lawan bicara nya. "Mungkin karena aku mulai mengajar nya, besok?" jawab nya mebjat Hiyola manggut-manggut.
"Oh, pantas..." gumam nya. "Apa jangan-jangan, bapak dosen bisnis yang di bicarakan seantero fakultas?" kedua alis Hiyola menukik, matanya membulat saat mengingat dirinya dan Daniel pernah membahas dosen tersebut.
Pak dosen mengangguk. "Aku, Jeremy Sander." Pak Dosen yang bernama Jeremy, mengulurkan tangan.
Ragu-ragu, Hiyola mengulurkan tangan nya. Perkenalan secara resmi ini membuat Hiyola tersenyum, dalam hati ia meng-angkuh, teman-teman nyinyirnya pasti akan sangat iri jika tahu dosen yang mereka tunggu-tunggu malah duduk semobil dan mengulurkan tangan untuknya. Oh, astaga! Jangan lupakan pelukan mendadak tadi.
"Maafkan saya, pak Jeremy. Saya tidak bisa menepati janji, sudah begitu malah terlambat juga," sesal Hiyola, suaranya hampir hilang di ujung kalimat.
"Padahal aku datang pun tepat waktu." sewot Hiyola pelanlebih seperti gerutu kesal membuat Jeremy tertawa renyah.
"Kau memang menggemaskan."
Hiyola bersumpah jika telinga nya bisa di lepas pasang, ia akan menyimpan telinga tersebut karena dirinya tahu seberapa merah organ pendengar nya saat ini.
"Tenang saja, aku memang berniat memperkenalkan mu di akhir acara makan, karena perbincangan kami tidak terlalu menyenangkan." senyumnya berubah masam. "Bersyukur kau datang dengan sikap tadi. Jika tidak, oh, Tuhan, siapa yang tahu pukul berapa perbincangan membosankan itu akan berakhir." keluh nya, membuang punggung pada sandaran mobil.
"Apa kita sedang bergibah, sekarang?" ucap Hiyola yang paling tahu cara mencairkan suasana.
Jeremy terkekeh, "Ya, ku rasa." balasnya tertawa. Tawa yang tertular sampai ke Hiyola.
***
Malam yang Hiyola sangka akan membosankan kan, ternyata tidak seburuk itu. Jeremy memiliki selera humor yang baik. Dirinya bahkan tidak tanggung-tanggung saat tertawa maupun tersenyum membuat Hiyola sesekali membandingkan nya dengan seorang pria kaku.
"Aku akan kembali." pamit Jeremy, setelah menggiring Hiyola sampai di depan gerbang rumah Kohler.
Dua jam mereka habiskan dengan berbincang satu sama lain, kemudian memutuskan untuk kembali. Sudah menjadi hal biasa untuk Hiyola menemani pelanggan ya dengan berbicara sepanjang waktu yang di tentukan.
Jeremy pun memberi Hiyola, empat lembar uang seratusan. Katanya yang seratus lagi karena perkenalan nya batal. Walau sempat menolak, karena baginya ia telah gagal, mau tidak mau, Hiyola menerimanya karena di paksa Jeremy. Katanya, berbincang dengan Hiyola sangat menyenangkan.
Hiyola menghentikan motor sebentar. "Senang berkenalan dengan bapak." balas Hiyola. Sontak saja tatapan tajam Jeremy, membuat Hiyola tertatawa.
Mereka sudah sepakat untuk menggunakan bahasa santai saat bersama, dan jika lain kali Jeremy menjadi pelanggan nya.
"Maaf," ucap Hiyola masih tergelak. Dirinya pun merasa aneh jika memanggil Jeremy bapak. Pasalnya pria tersebut terlihat sangat muda. Persis seperti Roberth yang juga memiliki fisik yang amat muda, terlampau jauh dari usia nya. "Senang berkenalan dengan mu, Jeremy," ralat Hiyola, membenarkan panggilan nya.
"Masuklah." ucap Jeremy.
Hiyola menggelang. "Aku akan masuk setelah kau pergi."
"Aku harus memastikan mu masuk dengan selamat," tolak Jeremy tidak mau kalah.
Akibat dirinya yang masih sedikit lemah. Hiyola memutuskan untuk tidak saling melempar kata lagi, dan memutuskan untntuk masuk.
"Kalau begitu, aku akan masuk lebih dulu. Sampai jumpa lagi." ucapnya di balas lambaian dan tidak lupa senyuman menawan Jeremy.
"Manis sekali..." gumam Jeremy, mulai berkendara pergi.
***