
Ceklek...!
Kimberly dengan gaun merah nya, keluar di dampingi Violeta. Violeta sontak terkejut. Dia gelagapan, lalu buru-buru masuk lagi ke dalam. Dia takut keterlibatannya dalam menutupi kebohongan Hiyola akan berdampak buruk.
"Sorry, Kim. Mommy harus masuk."
"Eh, tapi, Mom..."
Terlambat, Violeta sudah kembali mendorong pintu. Baik Roberth maupun Hiyola sama-sama mengerutkan alis. Kimberly tidak lagi menggubris. Dia segera menghampiri Roberth.
"Honey, ayo kita masuk, kenapa kau malah meladeni pembohong ini?"
"Aku hanya ingin menyadarkan nya, bahwa perusahan terlalu berarti untuk orang sepertinya." Roberth mengusap tangan Kimberly.
"Saya punya alasan untuk itu, Tuan. Mau berapa kali saya jelaskan?" Hiyola mulai naik pitam, apalagi melihat kehadiran Kimberly, darah nya semakin mendidih.
Wanita ular ini, ingin mencari masalah dengan ku!
Roberth berdecak. "Sekali pembohong, tetaplah pembohong!"
"Ya! Aku tidak menyangka, kau seperti itu. Kau wanita yang amat buruk, Hiyola." timpal Kimberly.
Memangnya kau tidak?
Hiyola hanya bisa mendengus kesal. Sungguh, stok kesabaran nya sudah habis.
"Oh, ya? Saya wanita buruk, dan kau itu apa? Wanita baik? Wanita baik yang meninggalkan calon suami di hari pernikahannya?"
Prrrraanggg....!
Kimberly sampai melongo mendengar kelancangan Hiyola. Dia bahkan malu saat melihat tatapan dua bodyguard yang menatapnya penuh tanya.
"Tega sekali kau, Hiy--"
"Pergi dari sini!!!" suara bariton Roberth mengejutkan semu orang yang ada di sana. Wajahnya begitu berang. Hiyola pun ikut menyentuh dadanya, turut terkejut.
"Apakah tidur dengan lelaki lain, di saat memiliki suami, tidak lebih buruk?"
Settt!!!
Sungguh, hati Hiyola terasa di sayat. Dia ingin menangis tapi sebisa mungkin air mata itu ia tahan. Tidak ada gunanya menangis di depan pria berhati batu ini. Padahal ia sudah berusaha menjelaskan, tapi rupanya, Roberth sudah memilih untuk tidak lagi percaya.
"Baiklah, jika Tuan memang sudah memutuskan untuk menganggap saya demikian. Saya tidak apa-apa.Sudah biasa juga, saya di katai seperti ini." Suaranya bergetar. Hiyola mengerlipkan matanya beberapa kali. "Saya hanya berharap, tuan tidak akan menyesali hari ini."
Roberth tidak lagi bisa berkata-kata. Matanya bisa menjelaskan bahwa kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah bentuk kemarahan, dan rasa kecewa.
"Saya sangat bersyukur karena bisa menyadari hal ini lebih cepat." ucap Roberth setelah cukup lama terdiam.
Hiyola menunduk. Sudah tidak ada lagi yang perlu di jelaskan. Semuanya sudah jelas, bahwa Roberth hanyalah pria jahat yang sama sekali tidak bisa melihat kebenaran di depan mata.
"Kau boleh pergi, jika kau sudah selesai dengan semua sandiwara mu!" Roberth menatap para bodyguard tidak becus di hadapan nya. "Kalian! Bawa gadis ini, keluar dari sini!"
"Baik Tuan!" jawab mereka serempak.
"Saya punya kaki!" sendu nya, kemudian beranjak. Sebelum benar-benar menghilang, Hiyola sempat menatap Roberth dengan sejuta kecewa di matanya.
"Ck! Kalau punya kaki, kenapa harus buat keributan!" Kimberly bergelayut manja di sisi Roberth.
"Lepaskan tangan mu, Kim! Kaupun sama saja!" ketus Roberth kemudian melenggang masuk. Niatnya mau memanas-manasi, tapi malah dia yang terbakar.
Di dalam lift, Hiyola merengkuh sendiri tubuhnya yang kedinginan. Perjalanan menuju lantai satu terasa lebih lama di banding saat datang tadi. Ia berharap bisa pergi dari gedung ini sebelum seluruh tubuhnya remuk. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Kedua bodyguard yang berada satu lift dengan nya pun tampak diam. Mereka bagaikan patung hidup.
Astaga, membicarakan patung hidup, Hiyola kembali teringat akan sosok Roberth. Perlahan air mata yang coba ia tahan, kembali mengalir. Sebisa mungkin, dia berusaha agar kedua penghuni lain bersamanya tidak menyadari.
Dasar tidak berhati! Aku benci padamu mu, Roberth! Aku menyesal sempat menaruh harapan besar padamu!
Ting...!
Bunyi pintu lift berbunyi. Saat hendak berjalan keluar, pandangannya tiba-tiba memburam. Untung kedua bodyguard di samping segera menangkap tubuh nya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu pria. Hiyola meringis. Bahkan bodyguard pun lebih berperikemanusiaan.
"Saya baik-baik saja," ujar Hiyola, seraya menggeleng.
Sebenarnya sudah sejak tadi ia merasa sesak di dadanya.
Bukan sesak, sakit hati, Ya.
Sesak nya lebih ke, kesakitan fisik, tapi mungkin karena sakit hati oleh kata-kata Roberth, sakit tubuhnya baru terasa sekarang.
Akhirnya dengan langkah pelan, Hiyola berjalan keluar dari hotel sambil berusaha menopang tubuh sendiri yang mulai terasa lemas. Untung tenaganya masih bisa ia gunakan hingga tiba di parkiran.
Hujan masih begitu tega membasahi bumi. Rasa dingin semakin terasa. Hiyola segera mengenakan helmnya, kemudian menyalakan motor. Saat hendak menekan tombol star, rasa pusing dan sesak kembali menyerang nya. Hiyola mmenyentuh dadanya yang terasa sesak. Nafasnya tersengal. Di detik berikut,
Brakkk!
Dia jatuh terlentang di atas tanah basah, yang penuh akan genangan air hujan. Begitu dingin dan terlalu menyedihkan. Hanya ada wajah senyum sang ayah di detik-detik terakhir kesadaran nya.
Tiba-tiba seseorang dari gerbang depan berlari ke arah nya. Pria bermata hazel itu langsung membopong Hiyola di dalam dekapan nya. Wajahnya tampak begitu khawatir. Dengan cekatan, ia segera membawa Hiyola ke mobil Jeep nya.
Sementara itu, dari dalam lift, Roberth berlari cepat menuju lobi, di tangan nya dua payung dua payung hitam bertengger. Setelah tiba di depan pintu lobi, matanya sibuk mencari ke sana kemari, sayangnya sosok yang di cari sudah tidak ada di sana.
"Apa yang coba kau lakukan?" gumamnya, menertawakan diri sendiri.
"Kembalilah pada Kim, dia satu-satunya wanita yang bisa kau percaya." tambahnya kemudian memberikan payung tersebut pada resepsionis, kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke atas.
***
Di dalam mobil, pria bermata hazel tersebut tidak henti-hentinya mengkhawatirkan gadis bertubuh basah di sampingnya. Wajahnya yang memucat membuat sang pria mengusap kasar wajahnya yang sempat basah karena hujan tadi.
"Hidup seperti apa yang kau lalui ini, Hiyola?" ujar sang pria dengan wajah sendu.
"Aku akan pastikan, kau mendapatkan kebahagian dengan ku, setelah ini. Tidak akan ku biarkan siapa pun mengambil mu."
***