Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 53 : Masuk Rumah sakit



Di dalam mobil Jeep hitam, mata Jeremy tidak bisa lepas dari gadis cantik yang tidak sadarkan diri di depan nya. Tangan nya terkepal menahan kemarahan yang entah mengapa. 


Masih fokus berkendara, Jeremy merogoh ponsel dari saku jas nya.


"Pastikan seorang dokter di rumah sakit pelita, sudah siap sebelum aku tiba!" perintah nya pada seseorang di sebrang telfon. 


Setelah mendengar jawaban nya, Jeremy langsung mematikan ponsel, dan segera melaju dengan batas kecepatan. 


Belum ada lima menit, mobil Jeep hitam telah memasuki sebuah rumah sakit dengan tulisan 'Pelita' di bumbungan gedung. Jeremy memilih rumah sakit ini, karena lokasinya yang paling dekat dengan perusahan. 


Berhenti di depan gedung, empat dokter sudah berjejer menunggu bersama delapan perawat. Mereka menunduk hormat saat Jeremy turun dari mobil. Mendengar aba-aba dari Jeremy, para perawat dan dokter mulai melakukan penanganan. 


Lima menit kemudian, keempat dokter keluar dari ruangan. Wajah cemas mereka membuat Jeremy mulai merasa frustasi. 


"Jelaskan segalanya tanpa ada apapun yang di sembunyikan," titahnya. 


Para dokter mempersilahkan Jeremy untuk mengikuti mereka.


"Mari Tuan, kami akan menjelaskan nya di ruangan. Silahkan lewat sini." 


****


Malam semakin larut tapi, Jeremy masih setia duduk di samping ranjang rumah sakit. Netranya fokus melihat sosok wanita cantik yang masih terbaring lemah di atas bed pasien. 


Tampang khawatir jelas tergambar di wajah tampan nya. Iba memenuhi relung hatinya. Dia merutuki takdir yang mempertemukan mereka setelah Hiyola bersama Roberth. Seandainya mereka bertemu lebih dulu, Hiyola akan di jadikan gadis paling bahagia. 


"Cepatlah sadar..." lirihnya sambil mengusap lembut puncak kepala Hiyola. 


Tiba-tiba mata dengan nefus di ujungnya, mulai mengerjap. Jeremy menunggu dengan tidak sabar saat kedua netra hitam itu mulai terbuka lebar. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke sana. 


"Aku di mana?" Hiyola bertanya pada dirinya sendiri. Ia belum menyadari kehadiran Jeremy. 


"Kau di rumah sakit." 


Hiyola terkejut bukan main, saat mendengar suara yang ia kenal. "Apa yang kau lakukan disini?" 


"Sudah jangan banyak bertanya. Istirahat dan pulihkan tenaga mu dulu," balas Jeremy. 


Hiyola yang kebingungan, melihat penampilan nya yang tidak lain sudah berubah mengunakan pakaian pasien. Setelah meng'ingat-ingat ia baru sadar keberadaan terakhirnya di depan perusahan Meet me. Dia mengingat, bahwa saat itu hujan deras, dan tubuhnya ambruk di atas genangan penuh campuran tanah. Matanya sontak beralih, menerawang penampilan Jeremy. Jas basah, dengan sedikit bercak coklat di ujung baju dan celana nya.


"Apa aku penyebab semua itu?" Hiyola merujuk pada bercak-bercak coklat tersebut. Jeremy menggeleng.


"Sudah ku katakan untuk jangan banyak bicara!" sahut Jeremy, membuat Hiyola termenung sambil terus menatap kekacauan yang di buat nya. 


Paham akan apa yang terjadi, Jeremy segera mengusap lembut puncak kepala Hiyola. 


"Sudah, jangan di pikirkan. Aku punya sepuluh setelan yang sama," ucap nya. 


Hiyola segera mengangguk, kemudian mendorong pelan, tangan Jeremy untuk tidak menyentuh kepalanya. 


"Maaf, aku tidak nyaman." 


Jeremy paham, dan segera menjauhkan tangan nya. 


"Istirahatlah sebentar, aku akan menebus obat mu dulu." 


"Tapi, bagaimana caraku mengganti uang mu?" tanya Hiyola. 


Jeremy menggeleng. "Aku melakukan nya, tulus. Kau tidak perlu merasa sungkan." 


"Tapi," bantah Hiyola tapi Jeremy langsung menyela.


***


"Kenapa kau marah pada ku, Rob?" Kimberly menghampiri Roberth yang baru saja kembali. 


Roberth hanya bersikap acuh tak acuh. Kalimat terakhir Hiyola masih menghantuinya. 


"Roberth! Apa kau tidak dengar apa yang ku katakan?" Kimberly mulai naik darah. 


Hiyola sudah tersingkir, namun entah mengapa ia merasa bahwa dirinya pun ikut tersingkir. 


Kimberly berdecak, geram. "Apa kau sedang mencoba menghindari ku? Bukankah harusnya kau bahagia karena hanya ada aku disini?" 


Tap...


Kimberly langsung berhenti, saat tubuh Roberth berbalik menghadap nya. 


"Aku pulang sekarang. Kau bisa pulang bersama Petra dan kedua orang tua ku," ujar Roberth dan langsung melenggang pergi. Dia sama sekali tidak menghiraukan teriakan Kimberly padanya. 


"Arggghh..! Orang-orang akan menertawai ku jika kau pulang lebih dulu, Roberth !!!" pekik Kimberly melengking, namun Roberth sama sekali tidak menghiraukan nya. 


Setibanya Roberth di lobi, buru-buru dirinya berjalan menuju mobil hitam yang terpakir di depan sana. Dia mengira setelah memecat Hiyola, semua akan terasa lebih baik. Namun sebaliknya, Roberth kini merasa sesuatu dari dirinya telah hilang, bed sama dengan kepergian Hiyola. 


"Huh!" gerutu nya. Roberth hendak melaju, namun matanya terganggu oleh motor hijau yang amat ia kenal. Dia mengendarai pelan mobil nya, lalu berhenti tepat di samping motor hijau tersebut. 


"Tidak salah lagi. Ini memang si Hope," ucap Roberth pada diri sendiri. 


Dia memutuskan untuk turun dan memeriksa keadaan. Matanya jelalatan ke sana kemari, mencari sang pemilik. Namun, hingga beberapa saat kemudian, ia sadar bahwa Hiyola memang tidak berada di sana. 


Dengan semua kecemasan di kepalanya, Roberth segera melaju menuju satu-satunya kediaman Hiyola yang ia tahu. Sambil melaju kencang, membelah jalanan yang mulai terlihat sunyi, ia sama sekali tidak melonggarkan tekanan nya pada pedal gas, hingga saat memasuki kawasan perumahan, daerah tempat tinggal Hiyola. 


Segera, Roberth langsung turun. Kedua alisnya mengerut, melihat penampakan rumah yang terlihat amat suram karena tidak satupun lampu yang menyala. 


"Di mana gadis bodoh itu?" gumam Roberth, sambil masih berusaha mencari celah untuk bisa melihat ke dalam. 


"Sedang apa, kau anak muda?" 


Roberth terperajat kaget saat seseorang menegur sambil memukul pelan pundak nya. 


"Saya mencari penghuni rumah ini," ujar Roberth mencoba menjelaskan karena wajah si bapak yang menegur, Menunjukkan sorot curiga. 


"Mereka semua tidak ada!" jawab si bapak ketus. "Adik dan bibi nya keluar kota, sementara Hiyola belum pulang kerja." lanjut nya. 


Roberth mengangguk, kemudian pamit kepada bapak tersebut. Seluruh tubuhnya sudah menggigil mendapati pandangan sang bapak yang nampak amat sangat garang dan curiga.


Sepanjang jalan keluar kawasan perumahan, Roberth terus memutar otak nya.


Aku tidak khawatir. Aku haya takut ia lari dari tanggung jawabnya untuk melunasi hutang. 


Roberth berusaha meyakinkan dirinya, atas tindakan nya saat ini. Meskipun telah memecat Hiyola, Roberth masih akan tetap menuntut tanggung jawab gadis itu untuk melunasi hutang 200 juta nya. 


[Ya, halo Tuan] sapa Petra di ujung telfon. 


Tanpa basa basi, Roberth langsung mengutarakan maksudnya. 


"Cepat cari tahu di mana keberadaan Hiyola saat ini. Gadis pembohong itu harus tahu dengan siapa iya berurusan," titah Roberth, dan langsung matikan ponsel tanpa menunggu jawaban Petra. 


"Di mana kau Hiyola?" 


***