
Hari ini jadwal kuliah hanya pukul sepuluh, setelah itu kosong yang ada hanya janji temu yang Hiyola sepakati kemarin.
Selesai mandi dan berpakaian, Hiyola berdiri lama di depan cermin. Ia terus menatap benjol biru besar yang berada tepat di tengah dahi yang membuat wajahnya tampak jelek.
Akhirnya, tidak tahu dari mana kegilaan itu datang, Hiyola memutuskan untuk menggunting rambut nya, membentuk poni depan yang panjang nya menutupi alis.
Berkali-kali Hiyola tertawa melihat perubahan nya di cermin. Wajahnya persis seperti anak SMP, sangat imut dan menggemaskan, di tambah tinggi badan yang hanya 155 cm semakin membuatnya nampak seperti anak usia 16 tahun dan bukan seorang wanita yang sudah menikah.
Hiyola menaikkan satu alisnya sinis pada diri sendiri.
"Ck, ini sebabnya aku tak pernah suka memotong poni seperti ini." cicitnya berkomentar seraya mengacak tidak puas.
"Astaga! Pelanggan ku akan semakin curiga jika melihat penampilan ku ini." ujarnya lesu dengan wajah yang di tekuk.
Namun, mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa mengembalikan rambut yang sudah di potong.
Pasrah, yang bisa Hiyola lakukan hanyalah memastikan poni baru nya menutupi memar kebiruan di dahi. Sesudah itu Hiyola baru melanjutkan dandanan nya.
Walau hanya menggunakan liptint seadanya dan polesan bedak baby, Hiyola sudah nampak cantik.
Sekali lagi ia memastikan penampilan nya lewat cermin besar yang berada tepat di samping ranjang.
"Aish... Apa aku harus menggunakan salah satu dress di dalam lemari?" pikirnya mungkin dengan mengenakan dress ia akan tampak lebih sedikit dewasa.
Hiyola meliukkan tubuh nya, merasa menyesal dengan keputusan menggunting poni. Lihat saja diri nya yang lebih seperti anak sekolah hendak pergi ke rumah teman di bandingkan seorang anak kuliahan mau berangkat ke kampus.
Hiyola menimbang-nimbang, dan disinilah dia berakhir. Duduk di atas Hope, bersiap untuk berangkat, keputusan untuk menggunakan dress memang tidak tepat.
Untung saja di rumah sudah tidak ada orang, jadi Hiyola tidak perlu terlalu merasa cemas lagi. Roberth sudah ke kantor pukul 8 tadi, sementara Ami baru saja pergi ke pasar belum lama sebelum Hiyola turun.
Tidak butuh waktu lama untuk Hiyola sampai di kampus. Turun dari Hope, semua mata yang ia lewati tertuju padanya.
Tiba-tiba tidak jauh dari posisi Hiyola berad, sebuah tawa yang amat sangat keras meledak. Suara yang sangat Hiyola kenal tersebut semakin mendekat, Hiyola sangat tahu siapa pemilik tawa garing menjengkelkan ini.
"Kau apakan rambut mu, *** ***..." ujar Daniel seraya menoyor dahi Hiyola, membuat nya meringis kesakitan.
Plakkk....
Satu pukulan mendarat di atas tangan Daniel, membuatnya mengusap tangan, mengeluh.
"Kenapa dengan dahi mu?" tanya Daniel melihat Hiyola menggosok pelan dahinya sambil merapikan poni, yang sempat berantakan karena ulah Daniel tadi.
"Kau sinting!" maki Hiyola merasakan sakit yang teramat. "Sakit!" imbunya mengeluh.
Daniel yang awal nya ingin mengejek Hiyola, jadi bersimpati. Wajah pria tidak tulen itu nampak panik melihat ekspresi kesal sahabat nya.
"Kau kenapa?"
Hiyola mengerucutkan bibir. "Sudah! Nanti ku ceritakan, kita terlambat."
Hiyola langsung menarik lengan Daniel, membawanya berlari memasuki gedung fakultas ekonomi.
Waktu berlalu begitu cepat. Kuliah hari ini sangat membosankan bagi semua mahasiswa karena dosen terus menjelaskan hal yang sama, padahal sudah di beri tahu bahwa itu adalah materi di minggu sebelum nya.
"Ck! Jika tahu akan mengajarkan hal yang sama, aku tak akan masuk tadi." omel Hiyola.
Saat ini mereka tengah berbincang di dalam perpustakaan tempat kak Rita bekerja, tepatnya diantara deretan rak sambil melihat-lihat buku yang mereka perlukan. Rencana nya mereka akan mengerjakan tugas dua minggu lalu yang akan di kumpulkan besok, sebelum Hiyola pergi bertemu Klien dari aplikasi.
"Ya, aku sependapat." Daniel menghentikan langkah nya, kemudian menghalangi jalan Hiyola. "Aku tahu kau sedang mengalihkan pembicaraan, Hiyo! Jangan lupa, kau punya hutang cerita pada ku." peringat Daniel, wajah nya sangat menuntut.
Hiyola tertegun, benar yang Daniel katakan. Saat ini ia sedang mengalihkan pembicaraan, karena diri nya belum berani menceritakan apa yang sebenar nya terjadi. Kehidupan seperti apa yang saat ini ia jalani, dan status baru yang ia sandang. Semuanya sangat sulit dan teramat melelahkan jika harus diceritakan.
Daniel tahu Hidup Hiyola memang tidak pernah muda, namun tidak sekalipun ia melihat Hiyola yanv seperti ini. Hiyola yang beberapa hari terakhir nampak murung di kelas, senyum dan tawanya bahkan terlihat sangat memaksakan. Tawa yang biasanya sampai membuat mata nya mencipit, kini terlihat garing dan tidak menyenangkan.
"Sudahlah jika kau tak bisa menceritakan nya. Aku tidak masalah."
Daniel duduk bersandar pada rak buku mengajak Hiyola duduk bersama nya.
Mereka duduk diam, berdampingan, bersandar pada rak buku. Hari ini pengunjung yang datang hanya mereka berdua, jadi mereka bisa duduk berselonjor kaki tanpa merasa cemas akan mengganggu pengunjung lain.
Cukup lama mereka dalam posisi tersebut, lalu Daniel mulai membuka percakapan melupakan tugas yang akan di kumpul besok. Kini Daniel merasa dirinya lah yang tidak pernah berada di samping Hiyola.
"Kau tahu? Dulu sebelum mengenal mu, aku benci dengan yang nama nya wanita, dan hal-hal yang berhubungan dengan nya." tutur Daniel, Hiyola tersenyum.
"Kau tahu kan, ibu ku suka menyiksa ku dulu?"
Hiyola mengangguk. Saat pertama kali berkenalan Hiyola yang rasa kepo dan tidak peka nya melebihi manusia di seluruh jagat raya, tanpa malu menanyakan alasan Daniel bisa menyukai sesama jenis.
Namun, pertanyaan bodoh itulah yang membuat Daniel menyukai Hiyola dan membuat nya mulai memandang seorang wanita dengan cara berbeda.
Kala itu jawaban Daniel membuat Hiola shock. Pasalnya Daniel sejak kecil memang memiliki kelainan dimana ia cenderung suka menggunakan barang-barang milik ibu nya, namun hal itu tidak berpengaruh pada hormon seksualitas yang mana ia masih menyukai wanita.
Ketertarikan Daniel pada pria bermula karena sikap ibu nya. Saat sang ibu yang adalah seorang selebriti tahu kecendrungan putranya yang kala itu berusia 12 tahun, ia menyiksanya, mengatai bahkan memaksa nya untuk berhenti melakukan kegilaan nya. Namun, hal tersebut justru membuat Daniel lebih terpukul dan mulai membenci wanita.
Untung saja saat Daniel menginjak usia 18 tahun, ayah nya yang menerima semua kondisi sang putra, menceraikan istrinya setelah tahu apa yang selama ini di lakukan sang istri kepada Daniel sang putra, di belakang nya.
"Kau tahu, aku hidup dalam keterpurukan hampir enam tahun lamanya dan aku tahu bagaimana rasanya hidup sendiri tanpa bisa berteriak meminta pengertian dari dunia, bahwa kita pun tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan nasib seperti ini."
Hiyola mulai menyandarkan kepala nya di bahu Daniel. Entah mengapa, rasanya semakin lelah. Hidup memang tidak ada yang mudah. Semua orang punya kesulitan nya sendiri.
Daniel tersenyum kecut. "Selama ini aku selalu merasa bahwa Tuhan hanya tidak adil bagi ku. Aku selalu mengeluh, bahkan melukai diri sendiri." Daniel menyentuh pelan bekas-bekas irisan di pergelangan tangan nya. Hiyola pun ikut melihat bekas luka yang sudah pernah ia lihat sebelum nya.
"Tapi, setelah bertemu dengan mu, aku akhirnya tahu bahwa semua orang memang memiliki beban nya sendiri, yang bahkan melebihi diri ku."
Daniel menarik nafas berat kemudian menghembuskan nya pelan. Dia menatap Hiyola yang bersandar di pundaknya.
"Aku mengenal mu Hiyola. Aku tahu kau sedang baik-baik saja atau pun tidak. Jadi jawab pertanyaan ku, kau baik-baik saja?"
Hiyola mengangkat kepala, berpindah bersandar pada rak buku , memaksa tersenyum. "Tentu saja aku baik-baik saja. Jangan terlalu lebay." ejek Hiyola menoyor wajah Daniel. Namun, Daniel bisa tahu bahwa gadis itu tengah berbohong.
Daniel mengalihkan pandangan nya menerawang jauh ke depan.
"Kau tahu? Kadang aku berpikir kamu adalah gadis yang hebat. Kamu bekerja tanpa peduli dengan pandangan orang lain, kau juga merawat bibi Alya dan Miona layak nya seorang kepala keluarga yang baik. Kau nampak sangat hebat dan terlalu dewasa di usia mu ini."
Daniel memutar posisi nya menghadap Hiyola. "Terkadang aku iri melihat mu bisa hidup mandiri, bahkan nyaris tidak memerlukan bantuan orang lain."
"Tapi, jangan terlalu mandiri, Hiyo. Itu membuat mu terlihat kesepian." iba Daniel.
Hiyola mulai menunduk, meremas jari-jemari nya, matanya berkaca, bibirnya bahkan bergetar. Senyum yang tadi ia tunjukkan perlahan pudar, diganti dengan senyum kecut.
"Sebenarnya... aku tidak baik-baik saja..." akhirnya air mata mengalir menyibak tirai senyum yang selama ini menutupi kesedihan nya.
Wajah Hiyola terangkat, tidak ada lagi senyum palsu. "Keadaan ku sedang sulit." isak nya, berusaha menghapus air mata di wajah kemerahan nya.
Sambil sesegukan, Hiyola berusaha menahan tangisan nya, tapi tak bisa, terlalu berat, "Sebenarnya aku tengah kesulitan akhir-akhir ini."
Daniel meraih tubuh rapuh Hiyola, membawa kedalam pelukan nya, entah apa yang di lalui Hiyola, Daniel berjanji akan menunggu hingga gadis itu bisa menceritakan semua nya.
"Tenanglah, aku akan selalu di sisi mu..." lirih Daniel, mengusap pelan punggung Hiyola yang terus bergetar karena tangisan nya.
***