Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 43 : Bersama Jeremy



Tuttt....!


Tuttt...!


Tuttt...!


Baik Jeremy dan Hiyola sama-sama melihat lewat kaca spion. Jalur yang mereka ambil sudah benar, tidak ada yang salah jadi kenapa mobil hitam di belakangnya terus berkicau.


Dengan jengkel, Hiyola melihat mobil yang berada hampir sejajar dengan mereka. Mata nya langsung membelalak saat mengenal mobil yang terpantul dari kaca spion.


"Astaga! Apa yang pria gila itu lakukan?" Hiyola mendengus kesal. Jeremy menatapnya.


"Kau mengenal nya?"


Hiyola mengangguk. Tentu saja dia mengenalnya. Pria dengan segudang sifat menyebalkan itu, siapa yang tidak mengenalnya?


"Lebih cepat lagi, ku rasa dia sudah kehilangan akal!" cibir Hiyola.


Sementara itu, di mobil lain, Roberth yang tidak menyadari bahwa dirinya tengah cemburu terus melajukan mobil nya. Tangan nya mengepal, seluruh buku jarinya memutih.


"Jadi, kau keluar untuk berkencan, huh?" geram Roberth. Mobilnya akan bersejajar dengan mobil yang Hiyola tumpangi, namun satu panggilan dari Petra mangacaukan segalanya.


"****!" maki Roberth, merogoh ponselnya, sambil menatap kesal mobil Jeep yang sudah melaju menjauh.


"Sebaiknya panggilan mu ini penting!" ancam Roberth.


Di sebrang sana Petra menarik nafas gentar, sebenarnya, ia sendiri ragu panggilan ini penting ataukah tidak.


[Nyonya Violeta baru saja menghubungi saya, tuan. Katanya, beliau dan Tuan besar akan terbang ke Indonesia seminggu lagi. Dan nyonya Violeta meminta agar Nyonya Hiyola di gantikan posisi nya sementara oleh nona Kim.]


Deg...


Itu artinya Hiyola harus keluar dari rumah, dan Kimberly akan menetap bersamanya. Bukankah Seharusnya ia senang? Lalu kenapa hatinya merasa tidak rela?


Tanpa menjawab panggilan tersebut, Roberth langsung memutuskan panggilan, membanting setir kembali, karena pertigaan lokasi perusahaan sudah terlewat jauh.


***


"Ah....!" Hiyola menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan nya pelan. Matanya terpejam, menikmati setiap kali semilir angin yang menyapa. Dari samping, mata hazel terus menatap nya, intens.


Hatinya berdesir saat tujuan utamanya mulai tergeser karena perasaan nyaman saat berada di samping gadis cantik berambut sebahu ini.


Dengan lancang, Jeremy menyelipkan rambut Hiyola yang menghalangi pandangan nya. Hiyola sedikit beringsut saat tangan Jeremy menyentuhnya.


"Maaf..." lirih Jeremy.


"Tidak masalah. Aku hanya tidak nyaman di perlakukan seperti itu." sahut Hiyola tidak bersandiwara. Dirinya bukan tipe orang yang hanya diam saja jika memang tidak suka.


"Aku suka pribadi mu." ucap Jeremy tulus.


Hiyola tersenyum canggung.


Beberapa jam itu, mereka habiskan dengan bermain di pantai. Berbincang, makan, dan kembali berbincang, hingga waktu menunjukkan pukul 12 siang.


Jeremy memesan makanan. Seafood untuk nya, dan nasi ayam untuk Hiyola, gadis itu alergi udang.


Masing-masing menikmati makanan nya, dalam diam. Setelah itu mereka pergi karena pekerjaan sampingan Hiyola.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah gang sempit. Akses menuju tempat itu tidak bisa di lalui mobil, oleh sebab itu Jeremy dan Hiyola harus melalui nya dengan berjalan kaki.


Mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah makan kecil. Dinding rumah makan terbuat dari papan. Terdapat beberapa bolongan di sana sini, namun tidak mengurangi keindahan nya karena di kelilingi berbagai macam bunga, dengan warna berbeda.


Pemilik rumah makan, seorang wanita tua. Dia tinggal bersama suami dan seorang cucu yang kini duduk di kelas 3 SMP. Anak-anak nya sudah sukses, pergi meninggalkan dua orang renta itu mengurus rumah makan untuk kelangsungan hidup mereka sendiri. Putri bungsu mereka hamil di luar nikah, anaknya ditinggalkan untuk di rawat dua orang renta ini.


"Wah, makanan nya laris ya, buk?" ucap Hiyola menghampiri wanita tua itu. Jalan nya yang agak lambat membuat Hiyola turut mengikuti langkah kakinya.


Di dalam pria tua menyambut mereka. "Maaf, ya, Hiyola. Lagi-lagi kami merepotkan mu." pak Aiman tersenyum malu.


"Aku akan pergi kalau pak Aiman berbicara seperti itu lagi." ucap Hiyola, membuat pak Aiman dan ibu Lumi tersenyum.


Hiyola bekerja di sana sebagai tukang cuci piring. Pak Aiman dan Ibu Lumi hanya membayar nya 20 ribu.


Sehari-hari, mereka menjual makanan sejumlah 40 porsi, untuk kebutuhan hidup. Karena sudah tua, Pak Aiman dan ibu Lumi sudah tidak bisa duduk berlama-lama untuk sekedar mencuci piring.


"Biar aku bantu." Jeremy menggulung kedua lengan kemeja nya ke atas, mengahampiri Hiyola yang tengah berkutat dengan piring nya. Dia menarik sebuah bangku kecil, menggesernya ke hadapan Hiyola.


"Apa yang kau lakukan? Jangan! Nanti bajumu kotor." Hiyola menolak, tapi Jeremy bersikeras.


"Kau tidak tahu, The power of man? Jangan meragukan ku, Hiyola." Jeremy mengambil piring, lalu mulai menyabuni.


Melihat pergerakan Jeremy yang ganjil, Hiyola tertawa. Jeremy memasang raut kesal.


"Tenanglah, aku tahu cara nya." ucapnya tidak mau menyerah.


***


"Bukan kah, mommy punya mansion? Kenapa harus rumah ku?"


Rahang Roberth mengerasa, seseorang di sebrang sana belum juga menyahut.


"Apa karena Kim?" tembak Roberth.


[Tidak, Honey. Daddy mu hanya ingin menghabis kan waktu dengan mu.] sahut Violeta dari sebrang telfon.


Roberth menggertak kan gigi nya. Dia bersumpah ini bukan karena pertukaran peran. Diri nya hanya tidak suka dengan kehadiran Clodio, ayah nya.


"Baiklah! Lakukan apa yang makan suka!" Mematikan ponselnya, Roberth menggusar rambut frustasi.


Petra yang berdiri di sisi kiri ruangan hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Akhir-akhir ini emosi tuan nya sedang tidak stabil.


"Petra! Apa kau tahu akhir-akhir ini Hiyola sedang dekat dengan siapa? Apa mungkin ia dan Daniel..."


"Tidak mungkin Tuan. Beberapa hari lalu, saya dengar Daniel sedang berada di luar kota. Dan setahu saya dia belum kembali." jawab Petra cepat. Dia tahu kemana jalan pikiran bos nya.


Roberth menopang tangan nya yang tengah memijat dahi, "Lalu siapa pria tadi?" gumam nya pelan.


"Apa nyonya sedang dekat dengan seseor--"


"Tentu saja tidak! Pria mana yang akan menyukai wanita seperti dia?" sergah Roberth cepat. Memikirkan kemungkinan tersebut, Roberth menjadi kesal sendiri.


"Kau! Cari tahu siapa yang dekat dengan nya!!!"


Petra hendak berkomentar, tapi gerakan tangan Roberth mengisyaratkan nya untuk keluar, membuat Petra mengurungkan niat nya.


"Saya permisi, Tuan." ujar Roberth lalu berjalan pergi.


Di luar, Petra mendengar bisik-bisik karyawan. Mereka menceritakan keanehan sikap Roberth hari ini.


"Kau lihat wajah nya tadi bukan? Tuan tampan kita tampak marah. Tidak biasanya dia berekspresi seperti itu." ujar seorang karyawan pria.


"Hmmm... Tapi, dibanding wajah kaku nya setiap hari, aku lebih suka melihat wajah garang nya itu. Terlihat seksi sekali...!" seru seorang karyawan wanita, antusias.


"Setuju. Wajah nya lebih berkharisma...!" timpal yang lain.


"Hei!" Semua orang terdiam di saat Petra bersuara. "Tutup mulut kalian dan bekerja saja!" ketus nya, kemudian melenggang pergi.


"Hm..., Tuan Petra itu sebenarnya tampan, tapi ekspresi sangar nya membuatnya tampak tidak sedap di pandang." ucap salah satu wanita, seraya yang lain menimpali.


***


Hiyola dan Jeremy pamit setelah selesai dengan pekerjaan mereka. Jalanan yang sunyi mereka lewati hingga ke depan gang. Menaiki mobil, Jeremy mulai meninggalkan kawasan komplek lalu berputar menuju kampus. Dia harus mengantar Hiyola ke sana karena Hope.


Jika bukan karena pesan mendadak, Jeremy tidak ingin mengakhiri kebersamaan mereka ini. Berada di dekat Hiyola, rasanya berbeda ketika bersama wanita-wanita malam nya. Jeremy merasa, di dekat Hiyola, sebuah kebencian yang ia pendam, menguap dengan sendirinya.


"Terimakasih untuk hari ini, Hiyola." ujar Jeremy.


Hiyola menggeleng, "Harusnya aku yang berterimakasih. Berkat kepatuhan mu, piring-piring tadi tidak jadi pecah." balas Hiyola dengan senyum sinis.


Jeremy tertawa renyah, "Ya, aku bersyukur sikap keras kepala ku tidak keluar saat itu."


"Baiklah, kau harus pergi sekarang." ujar Hiyola. Dia melambai, lalu segera berjalan masuk ke dalam, menuju parkiran. Masih sore, takutnya mahasiswa lain melihat, jadi Hiyola minta agar Jeremy menurunkan nya di depan gerbang kampus.


"Ku rasa, tujuan ku berubah. Kau harus menjadi milik ku, Hiyola!" ucap Jeremy, mulai melaju setelah memastikan motor Hiyola melaju pergi.


***