
Pagi yang cerah. Matahari menyembul malu-malu dari balik tirai abu-abu, yang membentang luas di sepanjang pintu kaca menuju balkon kamar Roberth. Dua insan yang sempat bertengkar lagi semalam, nampak masih terlelap. Keduanya sibuk dalam mimpi masing-masing, sehingga semburat senyum nampak di raut keduanya.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Seorang wanita cantik, menggebrak pintu. Dia begitu kesal saat dengan lancangnya masuk ke rumah orang, lalu mengecek kamar sebelah yang tidak berpenghuni.
Braaakk!!!
Darah mendidih menyebur hingga ke ubun-ubun, di kala matanya menangkap sosok Hiyola yang tidur di kamar sang kekasih. Padahal mereka pun tidak tidur seranjang.
Perlahan Hiyola mengerjap. Dia terkejut ketika mendapati Kimberly berjalan ke arah nya. Sorot mata wanita itu penuh akan kebencian.
"Turun kau, ******!"
Brak!
Karena posturnya yang lebih tinggi, dan lebih besar, Kimberly dengan mudah menarik Hiyola sampai tubuhnya membentur lantai.
Hiyola yang baru saja sadar dari kantuknya ingin menangis. Dirinya di banting saat kesadaran nya bahkan belum terkumpul sepenuh nya.
"Apa yang kau lakukan?" Hiyola berdiri, tangan nya mengusap bokong yang terasa panas. Siku yang terbentur lantai bahkan sampai terluka.
Roberth yang sedang dalam mimpi indah, mulai mengerjakan matanya. Sayup-sayup ia mendengar suara orang yang ia kenal.
"Apa yang ku lakukan?" Suara sisnis Kimberly, di ikuti tatapan merendahkan. "Apa kau tidak punya rasa malu? Kenapa kau tidur di kamar kekasih ku? Apakah semalam Roberth meniduri mu?"
Plak...!
Satu tamparan mendarat di pipi Kimberly. Wanita itu menganga tidak percaya, saat tangannya hendak terangkat membalas tamparan Hiyola.
"HIYOLA!" suara Roberth menghentikan nya.
Hiyola berbalik mendapati wajah Roberth yang merah padam ke arah nya. Pria itu berjalan cepat memutari tempat tidur Hiyola.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Roberth. Hiyola ingin menjelaskan, namun Kimberly memotong.
"Aku hanya bertanya 'kenapa dia tidur di kamar mu,' dan dia menampar ku!"
Kimberly harus diberi penghargaan karena sandiwara nya.
"Benar begitu?" Roberth bertanya kepada Hiyola, namun lagi-lagi Kimberly memotong.
"Kau tidak percaya pada ku, Rob? Kau pikir aku berbohong?"
Tidak mengacuhkan Kimberly, Roberth kembali bertanya. "Saya bertanya pada mu, Hiyola!"
"Saya tidak bermaksud, Tuan. Itu karena--"
"Saya tidak menyangka, kau bisa menamparnya hanya karena hal sepele!" sinis Roberth, memotong kalimat Hiyola tadi. Suara yang ketus, membuat Hiyola yakin bahwa Roberth pembelaan tidak akan berguna.
"Hal sepele? Huh!" Hiyola tertawa getir, dengan senyum mengejek.
Dia sangat benci dengan orang-orang yang bersandiwara. Dia benci pada Kimberly yang berbohong, dan benci pada Roberth yang selalu bersandiwara seolah peduli padanya.
Bahkan tatapan Roberth saat ini, menunjukkan bahwa dia tidak akan percaya terhadap apa yang Hiyola katakan. "Saya memang menampar nya! Apakah Tuan juga mau menampar saya?" Menyodorkan pipinya, Hiyola yang kesal, berusaha menantang Roberth.
Tangan Roberth mengepal, dia menjadi geram melihat sikap Hiyola. Dia tidak tahu jika Hiyola bisa menjadi wanita yang sangat kasar.
"Jangan pernah menyentuh nya, atau kau akan menerima akibat nya!" tegas Roberth. Kimberly tersenyum penuh kemenangan.
Hiyola mengangguk getir, matanya mulai memanas. Perkataan Roberth barusan membuat perasaan nya terluka. Jujur saja hatinya lebih sakit mendengar hal tersebut dari pada penghinaan Kimberly pada nya, tadi.
"Baiklah! Saya tidak akan mengganggu nya!" Hiyola langsung melenggang pergi. "Aku tidak akan tidur di sini, jika tahu akan di rendahkan seperti ini!" ucap Hiyola di sela langkah yang masih bisa di dengar Roberth.
Roberth memijat pelipisnya frustasi. Kimberly bergeser menatapnya.
"Apa kau meminta gadis itu untuk tidur di kamar mu?" tanya Kimberly. Dia sendiri yakin bahwa Hiyola tidak mungkin punya keberanian untuk merayap ke kamar ini tanpa seijin Roberth.
"Sudahlah! Aku mau mandi! Ada masalah di kantor, dan aku harus menyelesaikan nya."
Wajah Kimberly cemberut. Bibirnya mengerucut, "Bukankah, kau harus menemani ku berbelanja, Rob?"
"Aku sibuk, Kim! Nanti saja," putus Roberth. Dia langsung bejalan ke arah kamar mandi. Kimberly yang kesal, mengekori.
"Mau apa?" tanya Roberth melihat Kimberly yang juga hendak masuk ke dalam.
Kimberly mengerling nakal. Tangan nya menyentuh tubuh sixpack Roberth dari balik baju tidur tipis nya dengan gerakan sensual, mengarah naik ke dada bidang pria itu.
"Aku merindukan mu, Rob! Sudah lama kita tidak melakukan nya." bisik Kimberly dengan suara menggoda.
"Aku sudah terlambat Kim! Tidak ada waktu untuk itu," cegah Roberth, menepis pelan tangan Kimberly, lalu menutup pintu, tepat di depan wajah wanita itu, sehingga terdengar dengusan geramnya.
"Lihat saja, Rob! Aku akan membuat mu mengemis belaian ku lagi!" gerutu Kimberli. Tangan nya mengepal, sarat akan kemarahan. Walau dengan cara yang lembut, penolakan Roberth melukai harga dirinya.
***
Hiyola melenggang keluar dari kamar, saat dirinya sudah siap. Hari ini dia punya jadwal kuliah siang. Karena kejadian beberapa saat lalu, dirinya jadi tidak ingin berlama-lama di rumah.
Wajah nya yang di tekuk membuat Ami bertanya-tanya.
"Loh, nyonya mau kemana? Bukankah Tuan Roberth sudah melarang?"
Mendengar nama Roberth, membuat mood Hiyola kembali turun hingga ke 0%. Memang semalam Roberth melarang nya untuk keluar rumah sebab kesehatan yang belum cukup baik. Pria itu bahkan sengaja menelepon perusahan agar menolak semua permintaan klien yang masuk ke akun Hiyola agar gadis itu beristirahat.
"Kalau nyonya pergi, saya yang akan di salahkan Tuan. Yang kemarin saja, saya hampir di makan hidup-hidup." sungut Ami. Wajah nya yang memelas tidak mengurungkan niat Hiyola untuk pergi.
"Tidak apa-apa, Mbok. Toh, dia pun tidak akan peduli." sahutnya kemudian melenggang pergi setelah berpamitan pada Ami.
Tidak berselang lama, Roberth pun ikut turun Langkahnya tergesa-gesa saat melihat motor Hiyola yang melaju pergi dari balkon kamar tidurnya.
"Ami! Kemana gadis itu pergi?" tanya Roberth begitu mendapati Ami.
Ami hanya bisa menggeleng, sambil bersungut, "Saya pun tidak tahu, Tuan."
"Lantas, kenapa tidak di cegah?"
"Sudah saya cegah, Tuan. Tapi, kata nyonya, tuan tidak akan mempermasalahkan." balas Ami sedikit memperhalus kata-kata nya.
"Dasar keras kepala!" gerutu Roberth.
***
Lima belas menit kemudian, Hiyola sampai di kampus. Matanya memicing saat melihat seseorang berjalan cepat ke arah nya.
Jeremmy, pria yang menjadi klien sekaligus dosennya. Astaga! Ia bahkan masih sangat malu, mengingat bagaimana pertemuan mereka kala itu.
Pura-pura tidak melihat, Hiyola hendak pergi dari sana, namun,
"Hey, Hiyola! Maukah kau menemani ku?" Jeremy meraih tangan nya lebih dulu, sebelum ia sempat bergerak. Di perhatikan seisi kampus, Hiyola buru-buru melepaskan tangan nya. Netranya menatap wajahnya segar, dan sangat tampan milik sang dosen. Mata hazel dan senyuman nya, seketika bisa menghipnotis Hiyola yang tadinya sedang kesal.
"Jadwal kuliah saya, sebentar lagi!" tolak nya sopan. Hiyola sengaja menggunakan bahasa formal karena mereka berada di halaman kampus.
"Pak Andre, kan?" Jeremmy menebak. Hiyola yang masih linglung tidak mengerti apa maksud pria tampan yang menjelma menjadi dosen nya ini. "Beliau tidak masuk."
"Hah?" Hiyola masih bingung.
"Pak Andre, ekonomi perbankan, dosen mata kuliah mu hari ini tidak hadir! Hari ini persalinan istrinya." jelas Jeremmy lagi. Beberapa saat kemudian, baru lah Hiyola ngeh!
"Oh...! Eh..."
Tanpa menunggu lama komentar Hiyola, Jeremy langsung menarik tangan nya, menuju mobil jeep hitam nya.
"Kita mau kemana?" tanya Hiyola begitu dirinya sudah duduk di dalam mobil.
Jeremy hanya mengedikkan bahunya. "Entahlah, asalkan jangan disini. Tangan saya bisa pegal." ujar Jeremy, sedikit bersungut. Mata hazelnya bergerak ke depan, mengisyarakkan agar Hiyola mengikuti arah tunjuk nya.
Di depan sana, mahasiswi-mahasiswi berdiri putus asa, mata mereka semua menuju ke arah mereka.
"Mereka kenapa?" tanya Hiyola masih belum mengerti.
"Sudahlah, jagan di pikirkan. Pokoknya kita pergi dulu dari sini." sahut Jeremy, bergidik.
Mobil melaju begitu cepat. Karena baru selesai mandi dan panas-panasan, Hiyola meminta ijin untuk membuka jendela mobil di samping nya.
"Kita kemana?" tanya Hiyola. Tangan nya bergerak memencel tombol untuk menurunkan kaca mobil.
"Ke pantai, bagaimana?"
"Boleh." sahut Hiyola. Dirinya memang butuh tempat yang sejuk untuk menetralkan hatinya yang masih panas.
"Tapi kita harus kembali pukul tiga. Aku punya pekerjaan sampingan yang harus di selesaikan." imbuh nya yang baru saja menerima pesan singkat dari ibu pemilik restoran.
Jeremy mengangguk setuju, tidak lupa menyuguhkan senyum manis nya.
***
Dalam perjalanan ke pantai, Jeremy yang sangat humble membuat Hiyola tidak bisa berhenti tertawa. Semua lelucon bahkan cerita konyol nya mampu mengalihkan perhatian Hiyola dari kemelut masalah yang tengah ia alami.
Namun, di samping itu, berkat kaca mobil yang terbuka, seseorang dengan jelas melihat bagaimana gadis itu tersenyum ceria.
Tangan pria itu mengepal, saat matanya menatap sosok keras kepala, tengah berbincang ria dengan seorang pria yang wajahnya tidak terlalu jelas karena masker yang di gunakan.
"Berani sekali dia tertawa dengan pria lain!!!" geram pria di seberang. Sementara di mobil yang Hiyola tumpangi.
"Kenapa kau mengenakan masker?" tanya Hiyola saat tangan Jeremy meraih masker Hitam dan mengenakan nya.
"Pria kharismatik seperti ku harus menyembunyikan ketampanan kami, agar para wanita tidak menjerit." jawabnya, mendapat gelengan kepala dari Hiyola.
"Dasar narsis!"
***