
Untung saja saat ini ia berada di Jerman, jika di Indonesia, Hiyola pasti sudah menghilang, menjauh dari tempatnya berada terutama dari keadaan tidak terduga yang ssedang ia alami.
"Roberth Kohler dan Jeremy Kohler? Oh, yang benar saja!!!" gerutu Hiyola frustasi.
Sudah hampir lima jam sejak kejadian di ruang makan dan Hiyola memutuskan untuk mengurung dirinya di kamar. Jika saat ini Indonesia tempat berpijaknya, Hiyola tidak akan membuang waktu di dalam ruangan besar yang malah membuatnya merasa sesak.
Berkali-kali pintu kamarnya di ketuk dari luar, tapi ia sama sekali tidak punya niat untuk membuka nya.
Saat ini Hiyola merasa seluruh keluarga Kohler ini telah mempermainkan hidupnya. Di mulai dari Roberth cs, dan sekarang Jeremy. Ia tidak akan percaya kalau Jeremy tidak mengetahui hubungan nya dengan Roberth.
"Hiyola!!! Buka pintunya, aku akan menjelaskan segalanya." Tidak tahu sudah berapa jam Jeremy berdiri di luar kamar nya. Untung Esmeralda sedang menikmati teh sorenya di bawah, dan tiga sekawan yang lain tidak berada di kamar jadi Jeremy bebas melakukan aksi minta maaf nya.
"Semua yang kamu pikirkan memang benar. Aku tahu hubungan mu dengan Roberth!"
Mata Hoyola membelalak saat mendengar pengakuan Jeremy. Dengan geram ia membuka pintu kamar nya. Wajahnya yang kesal tidak memuat Jeremy gentar, malah tersenyum lebar tanpa dosa saat pintu terbuka.
"Aku bisa menjelaskan segala nya," ulang Jeremy lagi.
Hiyola bukan tipe manusia yang mirip Roberth. Dia terlalu realistis jadi bersedia untuk mendengarkan semua penjelasan pria itu. Lagi pula, hampir 2 jam sejak pria itu berdiri di luar kamarnya.
"Jelaskan!" ucap Hoyola. Wajahnya tampak judes namun tetap bersedia mendengarkan semua penjelasan Jeremy.
Melihat Hiyola yang hanya berdiri di ambang pintu, Jeremi berkomentar, "Kau tidak mengundang ku masuk?" ucapnya tanpa dosa.
Hiyola memutar mata jengah. "Aku akan masuk jika kau tidak bicara sekarang!" ancam nya bersiap-siap kembali masuk ke dalam kamar, namun Jeremy segera mencegah dengan menahan daun pintu.
"Baiklah, maaf," ucapnya lesu.
Jeremy bersandar pada dinding, tepat di samping pintu kamar Hiyola. Dia membuang nafas kasar, lalu kembali menghirupnya dalam. Hiyola yang menunggu dengan penasaran, tampak tidak berkomentar.
"Seperti yang ku katakan, aku menyukai mu sejak awal kita bertemu. Pernikahan mu dengan Roberth, semuanya hanya kebetulan,"
"Kebetulan kau menyembunyikan nama belakang mu?" komentar Hiyola, sinis.
Hal inilah yang sejak awal terasa aneh. Jika pertama kali mereka bertemu dan Jeremy menggunakan namanya, Hiyola pastikan tidak akan mau menjalin kedekatan, mengingat hubungan nya dengan Kohler yang lain lumayan buruk.
"Aku tidak menyembunyikan. Sudah menjadi kebiasaan ku untuk tidak menggunakan nama keluarga saat bekerja." jawab Jeremy.
"Lalu kenapa kau membawa ku kemari, jika kau sendiri tahu bahwa bertemu Roberth adalah hal yang salah?"
Kali ini Jeremy berpindah posisi. Ia berdiri tepat di depan Hiyola, matanya menelisik wajah cantik yang tengah memasang wajah cemberut sehingga membuat sang empu jadi salah tingkah.
"Aku ingin menunjukkan pada Roberth, bahwa ia sudah membuang sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya."
Ah, Jeremy memang selalu berhasil membuat hati Hiyola terasa melting.
"Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar ocehan mu lagi! Pergilah, aku sudah memaafkan mu," ucap Hiyola buru-buru.
Dia langsung menutup pintu membuat pria bermata hazel di luar ikut bersemu merah.
"Dia manis sekali," ujar Jeremy pada daun pintu, dan segera bergegas pergi.
***
Setengah jam lagi makan malam. Jujur saja, Hiyola tidak lagi memiliki nyali untuk kembali bertatap muka dengan pria berwajah kaku itu.
"Argh! Bisa gila jika aku berlama-lama di sini. Niatnya refreshing malah stres, huh!" gerutunya.
Tangan Hiyola sibuk merapikan rambutnya. Sudah hampir satu jam ia duduk di depan cermin, berusaha mengatur ekspresi yang baik untuk kembali bertatap muka dengan keluarga Kohler.
"Senyum begini, atau seperti ini? Oh, wajah kaku sekali. Apa lebih baik seperti ini?"
Saat tengah berkomentar dengan diri nya sendri, tiba-tiba Hiyola di kejutkan oleh pintu kamarnya yang di buka tanpa permisi. Dia kaget bukan kepalang, ketika sosok tampan Roberth berdiri tepat di ambang pintu kamar dengan kedua tangan yang dilipat bersedekap.
"Tuan!!!" pekik Hiyola terlonjak dari duduk nya.
"Kau harus mengubah kebiasaan membiarkan pintu tidak terkunci," komentar Roberth sama sekali tidak merasa bersalah karena memasuki kamar orang lain tanpa permisi.
"Bukankah Tuan yang harus menghilangkan kebiasaan memasuki kamar orang tanpa ijin?" sinis Hiyola. Dia membelalak saat Roberth beralih menutup pintu kamar dan langsung mengunci nya.
"Apa yang Tuan lakukan? Kenapa pintunya di kunci?"
Notif peringatan muncul begitu saja di benak Hiyola. Dia berjalan cepat menuju pintu, namun saat tangan nya hampir menyentuh ganggang, Roberth langsung mencegahnya dengan cepat, kemudian mengunci gerakan Hiyola membuat punggung gadis itu membentur dinding dengan kuat.
Berencana membebaskan diri, Hiyola kembali di kejutkan dengan tangan kiri Roberth yang merangkul pinggangnya. Tubuh mereka hampir tidak berjarak, Hiyola bahkan tidak bisa menarik nafasnya dengan benar.
"Lepaskan saya, Tuan! Tidak seharusnya Tuan berada di kamar saya!" ketus Hiyola. Dia tidak lagi bisa melakukan gerakan tambahan. Bergerak sedikit, jarak mereka akan terpangkas habis.
Dasar manusia labil ini selalu bersikap seenak nya!
Tidak berkomentar, Roberth malah terdiam dengan pikiran nya sendiri. Melihat Hiyola yang terus mencaci bahkan berkomentar pedas, rasanya seperti mendengar musik indah. Selama dua minggu ini Roberth bahkan seperti orang gila hanya karena mencoba menahan diri untuk tidak bertemu dengan Hiyola. Terkadang ia marah karena hal kecil, tertawa saat mengingat kekonyolan mereka sampai-sampai Petra dengan berani menawarkan dokter psikologi padanya. Sungguh, melihat Hiyola berada dalam jangkauan nya, semua hal terasa cukup sekarang.
Lama menatap Hiyola, sebuah senyum yang sudah lama tidak muncul, kini melebar ringan. Mata, hidung bahkan bibir yang terus mengoceh tidak luput dari perhatian Roberth. Pria itu bahkan lupa tujuan nya datang ke kamar Hiyola.
Mereka berdiri cukup lama dalam posisi tersebut, namun ketukan di pintu mengalihkan.
"Hiyola sayang, kau sudah siap? Ayo ke bawah. Makan malam sudah di hidangkan."
Teriakan dari luar membuat Hiyola tersenyum senang. Ia bersyukur Jeremy datang, sehingga dirinya bisa memberi alasan agar Roberth segera melepaskan nya dari posisi canggung ini. Sayang nya, perkiraan Hiyola salah besar. Panggilang dari Jeremy Justru memancing kemarahan Roberth. Bukannya melepas, Roberth malah memangkas habis jarak mereka. Wajah nya yang berubah memerah membuat Hiyola mulai cemas.
"Jika kamu menjawabnya, saya bersumpah kamu akan menyesali nya!" kecam Roberth sedikit berbisik melihat Hiyola yang hendak menyahut teriakan Jeremy. Rahang nya mengeras melihat wajah sinis Hiyola yang sangat ingin menantang nya. Tatapan nya begitu tajam, tertuju pada bibir Hiyola yang terus mengoceh tanpa peduli akan peringatan nya.
"Kita lihat saja, apa yang bisa Tuan lakukan jika saya berteriak dan memberitahu semua orang tentang kelancangan ini!!!" balas Hiyola tidak gentar.
Roberth tersenyum miring. "Cobalah Hiyola!" pancingnya. Mata keabuan itu tidak lepas dari bibir mungil Hiyola yang terus mencibir tidak jelas. Dan di saat ia tersenyum sinis, lalu membuka mulutnya untuk menyahut teriakan Jeremy tadi, acaman Roberth benar-benar terjadi.
"Aku siap say-hmmpp...!"
Hanya mata membelalak Hiyola dan suara teredam yang bisa menjelaskan segalanya.
***