Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 57 : Jadilah kekasih ku



Sudah lebih dari dua minggu, Violeta dan Clodio menetap di rumah Roberth. Rencana satu minggu berlarut hingga memakan waktu lebih dari yang di tetapkan. Violeta telah merencanakan segalanya. Dia ingin Clodio melihat keseriusan Roberth dalam menjalankan tugas sebagai direktur yang bertanggung jawab. 


Rencana Violeta mungkin sukses, melihat bagaimana Clodio selalu senang bercakap-cakap dengan putra keduanya mengenai masalah perusahan, akan tetapi, rencana Kimberly untuk lebih dekat dan membawa Roberth yang dulu, kembali, gagal total. Selama berhari-hari, Roberth selalu memberi alasan sehingga tidak pernah pulang di malam hari, sekalinya pulang, pasti larut malam di saat Kimberly bahkan seisi rumah tertidur. Roberth pun akan memilih berbaring di sofa, hingga pagi menjelang, barulah dia masuk ke kamar dan pura-pura terpejam. 


"Halo, honey? Kau pulang malam ini, kan? Ingat, kau sudah berjanji pada daddy Clo!" Kimberly berbicara lewat telfon. Saat ini, dia sedang melakukan perawatan di salon kecantikan, karena berkat Clodio, Roberth akan pulang dan bermalam dengan nya. 


[Ya, akan ku usahakan,] jawab Roberth dari seberang sana. 


Walau tidak puas dengan jawaban Roberth, Kimberly tetap menaruh yakin bahwa pria itu akan pulang, apalagi Daddy Clodio sendiri yang memintanya, Roberth pasti tidak akan bisa menolak. 


Selesai dengan semua perlengkapan nya, Kimberly memilih berjalan-jalan di sebuah mall. Dia berencana mau membeli beberapa setelan lingerie, mengingat model lingerie lamanya yang sudah mulai terlihat membosan kan. Tapi, langakah nya terhenti, mengingat seorang teman pernah memberi alamat bagus untuk sebuah toko yang menjual semua perlengkapan dan hal-hal yang berkaitan dengan wanita. Dari yang di dengar, toko tersebut sangat terpencil, dan menjadi tempat favorit untuk wanita-wanita kaya menghabiskan uang nya di sana.


"Ya, aku akan ke sana. Mungkin akan ada beberapa model yang lebih unik di sana," pikir Kimberly.


Tidak butuh waktu lama untuk ia tiba di toko tersebut. Persis seperti yang temannya katakan, toko ini benar-benar berada di tempat yang lumayan tertutup.


"Mbak, saya mau lihat yang warna hitam di sana." Tunjuk Kimberly pada sebuah lingerie hitam super seksi yang terpajang indah di dalam etalase. 


Wanita yang di panggil berbalik, "Yang hitam dengan garis pink?" ulang nya, namun betapa terkejutnya kedua wanita itu saat mereka saling bertatap muka. 


"Hiyola?"


"Kimberly?" 


Pekik mereka bersamaan. Ternyata Hiyola bekerja paruh waktu di toko tersebut. Walau gajinya tidak besar, Hiyola masih bersyukur karena bisa punya satu pekerjaan tetap untuk malam hari yang sering senggang karena dulunya sering di luangkan untuk janji temu. 


Wajah Kimberly yang awalnya terkejut, berubah mengejek, senyumnya begitu merendahkan melihat nasib Hiyola sekarang.


 "Wah, kau memang gadis pekerja keras," sinis Kimberly, satu alisnya menukik tajam. Hiyola tidak menghiraukan, dia malah bersikap tidak acuh, dan berjalan menuju etalase, mengeluarkan baju yang di tunjuk Kimberly, sehingga mengundang dongkol hati wanita bertubuh seksi tersebut. 


"Silahkan di lihat dulu, mbak," ucap Hiyola menyodorkan baju yang ia ambil.


Kimberly berdecak, "Apa uang jual diri mu, tidak cukup?" lagi-lagi ia berusaha memancing amarah Hiyola. Baginya kesenangan tersendiri bisa merendahkan Hiyola. 


Tidak menghiraukan, Hiyola malah bertanya di luar konsep yang di suguhkan Kimberly. "Bagaimana, mbak? Mau di ambil atau lihat yang lain dulu?" 


"Ambil saja!" ketus Kimberly, "Kau tahu, Roberth yang meminta ku untuk membeli model terbaru, katanya dia sudah bosan dengan yang lama," pancing Kimberly lagi. 


Walau hatinya berdenyut sakit, Hiyola tetap mencoba profesional. Sudah dua minggu berlalu, dan ia yakin dua orang yang saling jatuh cinta tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas mereka. 


"Hei! Kau dengan tidak?" sewot Kimberly karena Hiyola masih tetap diam di tempatnya. 


"Baiklah, akan saya bungkus. Mbak bisa langsung ke kasir," balas Hiyola, melenceng dari pertanyaan. 


Dengan langkah cepat, ia segera berjalan menjauh, membungkus lingerie tersebut buru-buru, lalu menyerahkan nya kepada kasir. Sedangkan Kimberly, dia malah memanyunkam bibirnya kesal, karena tidak berhasil menyinggung Hiyola. Kemudian dengan langkah yang di hentak-hentak, Kimberly pun menuju kasir. 


"Ini kartu anda," wanita kasir mengembalikan kartu kredit Kimberly setelah selesai melakukan proses pembayaran. "Terimakasih sudah berkunjung di toko kami." ucap nya sopan saat Kimberly mengambil belanjaan nya. 


Tidak menunggu sahutan, Kimberly langsung pergi begitu saja. Dia bisa pastikan, setelah ini Hiyola akan di marahai. Padahal, yang sebenarnya terjadi, malah sebaliknya. 


"Kau tidak perlu khawatir, pelanggan sejenis itu, sudah sering di jumpai," ucap wanita kasir kepada Hiyola dengan nada berbisik. Satu tangan nya di letakkan sebagai penghalang agar tuturnya tidak di baca pelanggan lain. "Wanita kaya seperti mereka, kadang tidak suka melihat pelayan toko yang lebih cantik dan modis," tambah nya dan Hiyola mengangguk paham. 


Utungnya, dimana pun ia berada, Hiyola selalu di kelilingi orang-orang baik dan peduli padanya. 


***


Pukul 12 tengah malam, Hiyola baru berjalan keluar dari toko. Wajah sayu dan letih di wajah cantiknya, menampakkan letih yang tidak terucap. Dari pagi sampai siang, bekerja serabutan di samping kuliah, lalu malamnya harus berdiri melayani para pelanggan. 


"Hah, hidup memang tak mudah, Hiyola... Semangat!!!" teriaknya, menyemangati diri sendiri. 


Tiba-tiba, dari samping jalanan yang gelap, 


Tuttttt....! 


Bunyi klakson mobil mengagetkan Hiyola yang hendak menyeberang. Matanya memicing kesal, melihat dengan penasaran, tentang siapa manusia aneh yang membunyikan klakson di saat jalanan sudah amat sunyi. 


Mendekati cahaya, sebuah jeep hitam mendekat. Hiyola langsung membuang napas kasar karena tahu siapa pemilik mobil tersebut. 


Dengan sedikit berlari, Jeremy turun dari mobilnya. Mata yang memerah, menandakan bahwa pria itu baru selesai menangis, sehingga Hiyola yang melihatnya jadi mengerutkan dahi.


Kemudian, tanpa banyak bicara, Jeremy secara tiba-tiba, langsung memeluk Hiyola yang masih duduk di atas motor, membuat Hiyola hampir melompat turun dari motor nya.


"Apa yang kau lakukan, Jeremy?" cicit Hiyola yang merasa canggung dengan posisi mereka. 


Jeremy tidak menjawab, isakan di ceruk leher Hiyola, membuat gadis itu merasa sangat khawatir dan sedikit risih. Satu tangan nya yang bebas, terangkat mengentuh lengan Jeremy.


"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Hiyola, lagi.


Kali ini Jeremy melepaskan pelukan nya. Mata Zamrudnya terlihat keruh oleh air mata. Wajah kemerahan dan sendu nya, memandang Hiyola dengan intens membuat siapa saja yang melihat pasti akan merasa iba, tidak terkecuali Hiyola. Sungguh, tatapan Jeremy ini tidak seperti dirinya.


"Katakan sesuatu, Jeremy. Apa yang terjadi?"


Hiyola memilih mematikan motor. Dia turun dan mendekat ke arah Jeremy. Walau masih terkejut, Hiyola tetap memberanikan diri. Selama dua minggu lebih, hanya Jeremy yang selalu ada untuk nya. Daniel? dia kini tengah di sibuk kan dengan urusan kantor dan Hiyola sama sekali tidak ingin merepotkan nya. Walaupun masih tetap kuliah, kini Daniel lebih memfokuskan dirinya dengan pekerjaan kantor. Lalu Roberth? Tolong, jangan lagi bertanya tentang keberadaan nya, karena Hiyola sudah mulai merasa muak. Terutama karena pertemuan dengan Kimberly tadi, Hiyola akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menaruh perasaan pada pria kaku tidak berhati itu.


"Apakah ibumu sakit lagi?"


Ya, kedekatan Hiyola dan Jeremy bahkan sudah meningkat hingga cerita kehidupan pribadi masing-masing.


Jeremy menggeleng. Matanya menatap Hiyola dengan amat intens. Lalu kalimat yang keluar di detik berikut nya, benar-benar di luar dugaan.


"Jadilah kekasih ku, Hiyola Anastasya!" ucap Jeremy lantang. 


***