Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 10 : Kimberly Tiruan?



“Jadi ini, Kimberly tiruan itu?”


Degghh….!


Hiyola mematung di tempat. Kaki yang mulai terasa sakit karena ukuran sepatu Kekecilan jadi lebih sakit lagi. 


Apa kata mereka? Kimberly tiruan? Jadi maksudnya ada Kimberly asli?


Hiyola masih termangu. Ia tidak mengenal wanita yang saat ini menggandeng tangan Violeta, maupun lima orang empat orang lain yang berada di dalam ruangan.


Violeta yang tengah menggandeng tangan wanita di sampingnya tersenyum bangga.


“Bagaimana pilihan ku? Tidak terlalu buruk bukan?” Violeta tersenyum manis kearah wanita di sampingnya.


Wanita yang tampak lebih tua dari Violeta mengangguk setuju. “Lumayan lah, untuk harga 200 juta.” Komentar nya menilai. “Pantas saja kau bisa mengait Clodio.” imbuh nya menatap Hiyola dari kaki hingga kepala.


Tubuh Hiyola bergetar, udara di sekitar seakan berkurang membuat paru-parunya harus bekerja dua kali lebih keras. Dadanya sesak, seolah sebilah pisau baru saja menusuk tepat di jantung. Wanita itu menyebut dua ratus juta seakan menyebut harga diri Hiyola. Mata wanita itu bahkan menunjukkan bagaimana penilaian nya terhadap Hiyola. Menjijikan, murahan, itulah yang dapat Hiyola baca dari wajah wanita berambut sebahu. 


Bukankah kata Roberth ini keluarga Violeta? Lalu apakah wanita itu menceritakan semua hal memalukan mengenai 200 juta yang Hiyola pinjam? 


Jika ya, lalu mengapa mereka harus mengundangnya?


Perlahan tangan yang Hiyola kaitkan di lengan Roberth melonggar. Gadis itu menatap nyalang orang-orang yang berada di dalam rumah megah, yang saat ini menatap nya dengan tawa mengejek.


“Mom, aunty Luna,  apa yang kalian lakukan?” sela Roberth menghentikan percakapan antara sang ibu dan wanita yang ia panggil Aunty Luna. 


Roberth sendiri pun tidak tahu bahwa yang akan datang dalam acara penyambutan ini adalah keluarga dari ibu Kimberly Robeca. Kakak pertama dari ibu Kimberly bersama istri nya, Lalu kakak perempuan ibu Kimberly; Aunty luna bersama putra nya. Yang mana tentu saja mereka tahu bahwa Hiyola adalah pengganti putri mereka. 


Violeta tersenyum simpul, kemudian meraih lengan Hiyola dan membawa nya masuk tanpa menghiraukan Roberth yang masih berdiri di ambang pintu. Hiyola yang masih shock dan kebingungan pun hanya mengikuti kemana Violeta membawa nya.


“Hai semuanya, tolong tenang. Perkenalkan, ini Hiyola, dia yang mengganti Kimberly saat di pelaminan.”


Semua orang mulai menatap Hiyola, mereka tersenyum bahkan mencibir. Ternyata orang-orang ini bukanlah mereka yang hadir saat pernikahan kala itu. 


“Wah, berapa harga nya tante Vio? 200 juta?” Tanya seorang pria yang adalah putra dari Aunty Luna. Violeta mengangguk dan tersenyum sebagai respon.


“Berarti boleh untuk ku dong, kalau kontraknya dan Roberth berakhir?” Violeta kembali mengangguk.


Rupanya pertemuan ini hanyalah untuk memenuhi rasa penasaran keluarga Keluarga Kimberly. Mereka ingin tahu siapa wanita yang rela menikah dengan pria asing, hanya untuk di bayar 200 juta. 


“Untuk ku saja, Vio.” Sahut seorang pria yang duduk di sofa pojok. Istrinya yang duduk di samping pria itu segera menyengnggol bahu suami nya.


 “Dasar! Lalu aku ini mau kau buang ke mana?”


Pria berusia setengah abad itu mencolek dagu istrinya. “Hanya untuk camilan, sayang.” Ujarnya menggoda.


Bagaikan di sambar petir, air wajah Hiyola berubah sendu, dadanya sesak, matanya bahkan mulai berkaca. Perasaan nya terluka. 


 Hiyola mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan. Semua orang menatapnya seperti barang lelangan bahkan lebih buruk, mereka memperlakukan nya seperti seorang pela cur.


“Apa yang kalian lakukan?” suara bariton dari balik punggung Hiyola mengejutkan mereka semua. Roberth sendiri sangat menghormati keluarga Kimberly, karena mereka yang merawat gadis yang ia cintai itu, saat ibu Kimberly meninggl dunia. Namun, tindakan mereka ini pun tidaklah benar. 


Roberth berjalan menghampiri Hiyola, dia menarik tangan Hiyola yang terasa sangat dingin, hendak membawa nya untuk pergi dari sana. Namun, sekali Hentakkan, Hiyola melepaskan tangan dari genggaman Roberth.  Netranya yang berkaca menatap Roberth nyalang.


Ada sedikit rasa kecewa untuk pria itu. Dalam hati Hiyola menyalahkan Roberth karena membawanya ke tempat terkutuk ini. 


Tapi, Hiyola tidak bisa pergi begitu saja. Semua hal yang terjadi di sini harus di luruskan. Walau belum mengerti apa yang terjadi, semua orang harus tahu bahwa seorang Hiyola bukan gadis murahan, dia bukan seorang gadis lemah yang bisa mereka hina sesuka nya. Walaupun tidak bisa di pungkiri rasa nya memang sakit. 


Orang-orang tidak akan tahu bagaimana perasaan kita, karena mereka tidak pernah menjadi kita. 


Hiyola maju selangkah, mendapati Violeta yang masih berdiri tak jauh darinya. 


“Apa maksud semua ini, nyonya Violet?” tanya Hiyola dengan mata  melotot dan suara meninggi. 


Bukan hanya Violeta, Hiyola juga menatap masing-masing orang yang ada di sana, terutama pria tua yang baru saja menawarkan nya sebagai camilan.


 Hiyola tidak peduli lagi dengan siapa ia berbicara. Bahkan jika setelah ini Violeta mau menyingkirkan nya dari perusahan ia tak peduli.


Violeta terkejut mendengar suara Hiyola yang sangat nyaring di telinganya. Wanita itu maju lebih mendekat, dia mengelus di sepanjang garis wajah Hiyola, “Aku hanya ingin mengenalkan mu kepada keluarga calon mantu ku, apa salah nya?”


Hiyola memejamkan mata, meredam emosi yang membumbung di dada. 


“Apa yang salah? Kalian menawar ku seperti barang, kalian pikir itu lucu?” 


“Ckckc, aku tidak terlalu suka wanita yang banyak bicara.” Kembali pria di pojok bersuara.


Hiyola mengalihkan pandangan nya dari Violeta ke arah pria tua berwajah jelek dan berperut buncit. Rahang Hiyola mengeras, ingin rasanya ia berlari dan memberikan satu pukulan tepat di hidung lebar pria itu.


“Hei, dengar ya om!”


“Ya, anda! Memangnya anda kira saya suka dengan pria buncit seperti anda?”


 Pria itu menatap perut nya dengan ekspresi kesal. Semua orang yang berada di ruangan juga ikut tertawa bahkan istri pria buncit.


“Dengar ya, tuan dan nyonya! Saya akui, saya menikahi tuan Roberth karena uang. Tapi, bukan berarti kalian berhak menghina saya! Lagi pula, di sini kita sama-sama di untungkan, jadi jangan bersikap seolah saya pengemis di sini!” bentak Hiyola dengan gigi gemertak, tangannya bahkan mengepal. Emosi yang ia tahan sejak di rumah akhirnya meledak juga.


Semua orang di dalam ruangan terdiam. Melihat Hiyola yang mengamuk, presepsi mereka seketika berubah. Hiyola bukanlah gadis biasa yang bisa


 seenak jidat merka hina begitu saja.


“Dan anda, nyonya Violet. Saya mengharagai anda saat ini hanya karena anda adalah ibu dari tuan Roberth, jika tidak …” Hiyola menggantung sebentar kalimat nya.


Violet menatap Hiyola tidak suka. “Jika tidak apa? Kau akan apa?” bentak Violeta mengangkat wajah nya menantang. 


Memukul, menarik rambut bahkan merobek mulut Violeta merupakan apa yang ingin Hiyola lakukan saat ini. Meskipun begitu, Hiyola tetap menahan nya.


Dengan santai, Violeta kembali tersenyum manis dan bersikap anggun. “Dengar Hiyola sayang. Pertemuan ini, hmmm…” Violet tampak berpikir sebentar,


“Ah, pertemuan ini hanyalah pengingat  untuk mu. Hanya sebagai pengingat agar kau tidak melupakan dari mana asal mu, dan peran mu yang hanya sebagai Kimberly tiruan. Dan juga, peringatan agar kau tidak menyukai, apa lagi menaruh perasaan pada Roberth.”


“Mom! Kau ini kenapa?” Roberth kembali melangkah maju. Dia menarik Violet agar berhenti.


Violet menyentuh wajah putranya, namun Roberth segera mengelak. “Kau tenang saja Rob, mommy hanya ingin memperingati Hiyola, agar saat Kimberly datang, Hiyola tidak lagi terkejut.” Jelas Violeta lembut.


“Kau keterlaluan, mom!”


Melihat bagaimana Violeta mengendalikan Roberth, Hiyola tahu dirinya tidak punya harapan. Kini ia paham, alasan Roberth harus menikahi nya saat itu juga, dan alasan kenapa mereka memilihnya. Semua bencana ini karena satu nama, Kimberly.


"Siapa Kimberly?" 


Semua yang mendengar nampak tenang saja, tapi Roberth sedikit risih. 


"Kau tak perlu tahu! Cukup tahu kewajiban mu saja." 


Hiyola terkejut bukan main. Roberth baru saja membentak nya. Pria itu bahkan tidak menatap Hiyola.


“Sudah ku katakan, pernikahan ini akan berakhir saat waktunya tiba, jadi kau tak perlu khawatir, mom. Aku juga tak mungkin jatuh cinta pada Hiyola.”


Hiyola memejamkan mata nya. Cukup sudah, ia tak sanggup lagi. Takutnya jika berdiri terlalu lama di ruangan ini, Hiyola akan berubah menjadi psikopat berdarah dingin dan menghabisi semua orang di ruangan termasuk Roberth.


“Cukup!” semua yang tadinya menyaksikan perdebatan Roberth dan Violeta, beralih menatap Hiyola.


“Kalian sudah puas kan? Saya akan pergi sekarang juga. Oh ya, sekedar info, saya sama sekali tidak berminat memiliki hubungan dengan kalian semua setelah kontrak ini berakhir. Juga, lain kali, sebelum mengundaang saya, tolong jelaskan sedikit konsepnya agar saya tidak terlalu terkjut! Terimakasih semua nya! Selamat malam!”


Hiyola bergegas keluar setelah menyelesaikan kata-kata nya. Berdiri lama-lama di ruangan itu membuat batinnya tersiksa.


Roberth melihat langkah kaki Hiyola yang tidak seimbang. Dia kemudian bergegas mnghampiri Hiyola. “Kau mau ke mana?” Mencengkram tangan Hiyola, menghentikan langkah gadis itu, namun, lagi-lagi Hiyola menghempaskan tangan nya.


“Pria jahat!” akhirnya kata itu berhasil keluar dari bibir mulut Hiyola. Mata nya menatap tajam wajah tampan Roberth yang bisa-bisanya tetap datar seperti itu.


“Jangan coba untuk mengejar saya, tuan! Biarkan saya sendiri dulu!” lucu memang, tapi saat ini Hiyola tahu bahwa pria tidak peka ini pasti akan mengejarnya, karena itu dia harus mengatakan secara jelas. Bisa tambah gila kalau Hiyola harus beradu mulut lagi dengan Roberth.


***


Hiyola berjalan menyusuri jalan gelap, karena rumah Violeta tadi cukup jauh dari keramaian kota. 


Di sepenjang jalan Hiyola hanya bisa melihat aspal dengan puluhan pohon besar di tepi nya.


Hiyola berjalan memikul beban hatinya yang sakit, ingin menangis tapi ia tidak punya tempat bersandar. Semua tempat sandaran nya berada cukup jauh dari jangkauan. Terutama sang ayah.


Ingin rasaya ia berteriak pada dunia, memaki kesialan hidup yang harus ia tanggung di usia yang masih begitu muda. Tidak ada sang ayah, tidak ada Miona, bahkan bibi Alya pun tak ada di sana. Sungguh malang nasib gadis seperti nya. 


Sejenak Hiyola berfikir, bagaimana jika gadis lain yang terjebak dalam situasi seperti dirinya? Bagaimana jika gadis itu tidak punya keberanian dan hanya bisa menangis saja?


“Dasar monster-monster itu!!!” omel Hiyola. Dia sudah berjalan hampir sejam tapi dari tadi tidak ada tanda-tanda ia akan sampai di jalan raya.


“Sepertinya aku tersesat.” Keluh Hiyola. Tapi ia tidak lagi peduli. Dirinya hanya berjalan dan terus maju ke depan. Kakinya bahkan sudah sangat kesakitan karena High Heels mahal yang ia kenakan.


“Dasar High Heels jahat, Kalian sama seperti tuan kalian! Pria jahat!” teriak Hiyola di tengah gelapnya jalan. Dengan kesal Hiyola melepaskan High Heels, kemudain berbalik. 


Tangan nya mengayun lalu berputar beberapa kali. Membayangkan Violet di kepala, Hiyola langsung melepaskan tangan nya. Sepatu melayang kemudian…


Bugh…!


“Awww!”


***