Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 36 : Kenyataan yang harus di terima



Tangan Hiyola bergetar. Bukan hanya dirinya, Ami yang berada tepat di depan Roberth juga ikut menganga, bahkan sampai menutup mulut dengan tangan saat Roberth menyebut nama wanita tersebut, lalu balas memeluknya.


"Kimberly! Dari mana saja kau? Aku sangat merindukan mu." Lirih Roberth, membalas erat, pelukan wanita berambut sepinggang dengan tubuh langsing dan menonjol di beberapa bagian.


"Kimberly? Dia Kimberly, wanita yang Roberth cintai itu?" gumam Hoyoa, lirih.


Perlahan, Hiyola mulai melangkah mundur. Dia tidak ingin melihat pemandangan di depan sana, tapi matanya terus terpaku di tempat kedua insan yang sedang berpelukkan, melepas rindu.


"Maafkan aku! Aku merindukan mu, Rob!"


"Jangan meminta maaf! Dengan kau kembali, sudah lebih dari cukup."


Sayup-sayup Hiyola mendengar bagaimana Roberth menjawab Kimberly, wanita yang telah meninggalkan nya di hari pernikahan mereka, dengan halus.


Pria itu berbicara dengan nada yang sangat lembut, membuat hati Hiyola terasa di remas.


Tidak bisa di pungkiri, Hiyola tahu bahwa dia mulai menaruh perasaan pada pria yang berstatus sebagi suaminya. Hatinya begitu sakit saat melihat Roberth membalas setiap perlakuan Kimberly terhadapnya. Bahkan pria itu menunjukkan bagaimana ia sangat merindukan wanita cantik, yang membuat Hiyola mulai memandang diri sendiri rendah.


Dengan seribu langkah mundur, Hiyola langsung menyalakan motor, membuat semua orang menatap ke arah nya. Roberth baru sadar apa yang dia lakukan. Jujur saja dia masih sangat mencintai Kimberly, dia merindukan wanita itu, namun saat melihat Hiyola hendak pergi, hati nya tidak bisa menerima.


Namun, saat Roberth hendak berjalan menghampiri Hiyola Kimberly menahan lengan nya. Wanita itu mulai meneteskan air mata. Sambil menangis, ia berucap.


"Jangan pergi, Rob. Kau harus tahu berapa besar pengorbanan ku hanya untuk kembali padamu."


Roberth menghentikan pergerakan nya. Dia tidak bisa melihat wanita itu menangis. Dengan lembut Roberth menghapus air mata wanita berambut Shaggy, membuat Ami yang berada di sana, menatap majikan nya dengan tidak suka. Dia melihat iba di kejauhan, nyonya cantiknya sedang berusaha menghidupkan gas motor. Dalam hati Ami mengiba, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana bisa ada dua Kimberly, tapi baginya, wanita yang sedang berjuang dengan motornya adalah satu-satunya nyonya rumah. Ami sempat teringat pada saat Kimberly datang ke rumah.


Flashback


Ami yang mendapat kabar bahwa hari ini adalah ulang tahun nyonya Hiyo, segera beberes. Wanita tua itu juga sudah membuat nasi kuning spesial untuk para majikan.


Tok...Tok...Tok...


Ketukan di pintu membuat Ami menghentikan kegiatan nya. Sambil mengeringkan tangan di celemek, Ami berjalan menuju pintu depan.


Melewati ruang tamu, wanita itu melirik jam di dinding.


"Baru pukul tujuh. Kata Mas Petra, nyonya dan Tuan masih menonton film, apa mungkin filmnya hanya setengah jam?" Ami bergumam sendiri.


Sangat jarang ada tamu yang datang kerumah. Biasanya hanya nyonya Violeta, namun wanita menyeramkan itu pasti sudah akan berteriak jika Ami tidak segera membuka pintu.


"Iya sebentar," sahut Ami mempercepat langkah.


Ami mengernyit, dia menatap wanita yang berdiri di depan pintu dengan pandangan penuh tanya.


"Maaf, cari siapa?"


Kimberly, wanita yang ditanya tidak menjawab, dia malah celingak celinguk melihat ke dalam rumah, membuat Ami pasang badan untuk menghalangi arah pandang nya. Sekali lagi Ami bertanya, kali ini suaranya terdengar mengancam.


"Maaf! Anda mencari siapa?"


Kimberly tersenyum. "Saya mencari Roberth Mesac Kohler." Suara lembut Kimberly, membuat Ami yang berencana marah-marah mengurungkan niat nya.


Dengan mata memicing, Ami menelisik. "Untuk apa wanita dengan pakaian kurang bahan ini mencari Tuan Roberth?" Lihat saja pakaian nya. Tank top coklat yang begitu ketat mengekspos jelas tubuh atasnya, di tambah rok mini setengah paha membuat seluruh tubuhnya hampir terekspos. "Telanjang saja sekalian." sinis Ami dalam hati.


"Anda siapa, ya?"


Kimberly mengulurkan tangan. Senyum manis yang menurut Ami terlihat memuakkan itu terus saja disuguhkan. "Saya Kimberly, Kimberly Robeca."


Ami hampir terjatuh di depan pintu. Untung tangan nya dengan cepat memegang daun pintu.


Bagaimana mungkin ada dua wanita dengan nama yang sama di dekat Tuan Roberth?


"Anda mau kemana? Tuan Roberth tidak ada! Apa anda tidak punya rasa malu? Tidak sepantasnya anda masuk ke rumah orang, apalagi sampai masuk ke kamar. "


Ami terus menghalangi, namun Kimberly tidak mendengarkan. Dia terus berjalan, mengacuhkan Ami yang masih menghalanginya.


"Kamu akan menerima ganjaran, jika hal ini saya laporkan ke majikan mu."


Walaupun suaranya terdengar lembut, Ami tahu wanita ini tengah mengancamnya. Tapi Ami tidak menyerah dia terus menghalangi sampai akhirnya berhenti saat Kimberly menunjukkan foto-foto kebersamaan dengan Roberth, di ponselnya.


"Bagaimana? Kamu percaya sekarang?"


Ami tidak lagi bisa berkutik, dia hanya bisa diam di tempat, membiarkan wanita cantik itu berjalan memasuki kamar Roberth begitu saja. Dia bingung dan juga takut akan kemarahan Roberth. Apalagi dirinya teringat postur wanita ini sangat mirip dengan wanita yang ia lihat sebelumnya di luar pagar.


Flashback off


Hiyola tidak bisa menahan gejolak di dada nya. Dia tahu, dirinya tidak berhak merasa cemburu, bahkan marah terhadap apa yang terjadi namun, ia juga tidak bisa menyangkal rasa cemburu yang tengah menggerogoti perasaan nya saat ini.


Akhirnya dengan satu kali hentakan kaki pada pedal gas, Hope pun siap untuk di kendarai. Tidak menunggu lama, Hiyola langsung melaju meninggalkan rumah. Dia tidak tahu akan kemana, tapi, satu hal yang pasti, dirinya tidak ingin berada di tempat ini.


***


Akhirnya, disini lah Hiyola berada. Rumah mewah berwarna putih berada tepat di depan mata nya.


Dengan dada yang terasa sesak, Hiyola menekan bel rumah Daniel secara beruntun. Dia tidak peduli apakah setelah ini harus mengganti bel rumah atau tidak, satu-satunya yang penting adalah dia harus bertemu dengan sahabat nya.


Namun, setelah lima menit, pintu masih saja tertutup. Seorang pelayan dari rumah yang terpisah menghampiri Hiyola.


"Maaf nona, Tuan Bram dan Tuan muda Daniel sedang keluar kota. Mereka berangkat kemarin. Apa Tuan muda tidak memberitahu nona?" tanya pelayan wanita yang sudah mengenal Hiyola.


Mendengar hal tersebut, Hiyola merutuki kebodohan nya. Dia merogoh ponsel, sudah seharian penuh Hiyola tidak membuka Wa.


Saat aplikasi berwarna hijau terbuka, tubuh Hiyola langsung melemah. Daniel memang mengirim pesan perihal keberangkatan nya, bahkan permintaan maaf karena tidak bisa merayakan ulang tahun gadis itu.


Akhirnya, air mata yang coba Hiyola tahan sejak tadi, perlahan mengalir. Dia menangis sesegukan, membuat pelayan wanita yang ada di sana menjadi khawatir.


"Nona kenapa? Nona baik-baik saja? Apa sebaiknya saya menghubungi Tuan Muda?" tanya pelayan itu cemas.


Hiyola langsung menggeleng, dia tidak ingin mengganggu Daniel. Pria gila itu pasti akan langsung kembali, jika tahu dirinya datang sambil menangis. Walaupun masih terisak, Hiyola memutuskan pamit pergi. Pelayan wanita tadi menawarkan Hiyola untuk duduk sebentar, namun Hiyola menolak dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Setelah meninggalkan lokasi rumah Daniel, Hiyola melajukan motornya. Dia berhenti tepat di atas jembatan besar, penghubung antar kota tersebut. Dia turun dari motor, kemudian berdiri, menyandarkan tubuh nya di pembatas jalan, menatap jauh ke arah lautan bebas.


Hiyola menyentuh dadanya, terpaan angin di sepanjang Jembatan Merah Putih tersebut membuat nya semakin terisak.


"Dasar, bego! Kenapa kau menangis Hiyola? Sudah jelas perasaan mu itu hanya sebuah hayalan semu!" Teriakan Hiyola memarahi dirinya sendiri, mengundang perhatian orang yang berlalu lalang melewati jembatan. Karena merasa malu, Ia mencoba mengusap air mata nya, namun, buliran bening itu masih saja mengalir dan tidak mau berhenti.


Hiyola tersenyum getir. "Bodoh!" Dia memukul dadanya beberapa kali, berusaha menghentikan sesak yang terasa. "Sudah jelas kau itu hanya pengganti sementara, Hiyola...!" teriaknya menggerutu.


Tiba-tiba dari samping, sebuah tangan terulur. Seseorang menyerahkan sapu tangan berwarna putih.


"Terimakasih."


Tanpa banyak berpikir, Hiyola meraih Sapu tangan tersebut, kemudian mulai mengusap air mata. Dirinya bahkan tidak peduli siapa orang yang memberikan sapu tangan tersebut, dia mengambilnya tanpa berpikir panjang.


Pria yang mengenakan naket kulit berwarna hitam, pemberi sapu tangan itu tersenyum.


"Manis sekali." Mata hazelnya terus menatap Hiyola intens.


***