
Langit mulai menggelap, bukan karena waktu yang semakin cepat menuju malam, melainkan cuaca yang tidak bersahabat. Semilir angin berhembus menusuk hingga ke relung nadi. Rasanya sebentar lagi air Tuhan akan segera turun membasahi bumi.
Hiyola memperlambat laju kendaraan, berhenti di samping jalan tol, setelah memastikan keadaan, ia berdiri di samping pohon besar yang amat rimbun. Jarum jam di tangan nya sudah menunjukkan pukul lima sore.
Memutar kunci, membuka jok motor nya. Di dalam U boks ia mengambil mantel hujan berwarna senada dengan Hope. Saat akan menggunakan benda hijau berbahan plastik tersebut, tangan Hiyola di cengkram.
Terkejut, Hiyola sontak memukul tangan orang yang dengan lancang telah menyentuhnya, namun dia malah terperanjat saat melihat dua orang di depan.
Roberth dan Petra saat ini berdiri di hadapan nya, dengan wajah datar mereka. Kedua pria bersetelan jas tersebut menatap Hiyola dengan ekspresi yang berbeda.
"Lepas!" Hiyola menepiskan tangan Roberth. Melihat wajah nya, Hiyola kembali teringat kejadian pagi tadi. Hatinya masih sakit mengingat bagaimana Roberth memperlakukan nya. "Saya harus pergi!" ketus Hiyola saat Roberth meraih kembali tangan nya.
"Sebentar lagi hujan! Kau bisa ikut bersama saya, biar Petra yang membawa Hope mu."
Hiyola tersenyum sinis. Memangnya kenapa jika hujan? Toh, itu bukan urusan Roberth. "Saya bisa pulang sendiri!!!" sahut Hiyola, berusaha menghempaskan tangan Roberth, namun tidak berhasil.
"Jangan keras kepala! Kau belum sembuh sepenuh nya!" Roberth mendengus, berusaha melembutkan suaranya, saat ingatan akan Hiyola yang tersenyum dengan pria lain kembali menghantui nya.
Hiyola berdesis, suaranya sedikit bergetar. "Jangan bersikap seolah Tuan peduli!" ucapnya penuh penekanan.
"Aku memang tidak peduli! Tapi kesehatan mu akan berpengaruh pada kontrak kita!" balas Roberth.
"Tenang saja, Tuan. Tidak akan ada masalah dengan kontrak!" Hiyola masih berusaha melepaskan cengkraman Roberth di tangan nya.
Roberth tersenyum sinis, "Seolah kau tidak tahu saja," ucapnya. Mendapati Tapan penuh tanya Hiyola, Roberth kembali berkata. "Kau tersenyum dengan pria lain, tanpa sadar status mu sebagi istri, bukankah hal tersebut sudah mengacu pada kacaunya kontrak?"
Hiyola baru tahu kemana arah permasalahan yang hendak pria itu bahas. Pasti karena kejadian saat bersama Jeremy tadi. Petra yang menyaksikan adu mulut tersebut juga hanya bisa mendesah pelan. Rupanya bos nya ini cemburu. Semoga tangan Hiyola tidak segera patah, karena sepertinya Roberth tidak berniat melepaskan gadis itu.
"Dia hanya klien dari aplikasi, yang kebetulan saya temui, jadi Tuan tidak perlu cemas." jelas Hiyola. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Jeremy juga dosen nya.
Roberth memicing penuh selidik, senyum nya memaksa masuk. Ada rasa bahagia di sana. "Benarkah? Jadi tidak lebih dari itu?"
Kalimatnya membuat Petra menggeleng pelan. Tapi, Hiyola malah tersenyum getir. "Oh, tentu saja Tuan tidak akan percaya apa pun yang saya katakan."
Kalimat Hiyola menusuk tepat di hati Roberth. Apalagi tatapan mata yang tersirat luka, melenyapkan perlahan perasaan bahagia yang Roberth rasakan beberapa saat lalu.
Karena rasa curiga dan cemburu, Roberth lupa bahwa dialah yang memulai semua ini, dan mungkin Hiyola hanya ingin membalasnya.
Apakah mungkin aku telah melakukan kesalahan?
Mendorong pelan tangan Roberth, melepaskan diri dari cengkraman nya, Hiyola menatap tepat manik keabuan pria itu.
"Saya akan mengurus diri saya sendiri! Dan Tuan, silahkan lakukan kepentingan Tuan." imbuhnya, berjalan menghampiri Petra.
Satu tatapan dingin yang ia layangkan berhasil membuat Petra yang duduk anteng di atas motor, turun dengan gerakan empat lima.
Hiyola kembali menggunakan mantel yang tadi sempat tertunda. Ia sengaja mengalihkan pandangan nya ke arah pohon besar tersebut, untukenyembunyinkan matanya yang memanan dan mulai kemerahan. Selesai dengan mantel nya, buru-buru dirinya menyalakan motor dan melaju tanpa kata sama sekali terhadap dua pria yang menatap nya tanpa berkutik.
"Huh!"
Selalu seperti ini. Di saat dirinya sudah mengumpulkan semua kemarahan terhadap gadis yang telah melaju pergi, memandang wajahnya selalu berhasil menguapkan semua kemarahan nya.
Petra di sampingnya pun melirik Roberth, heran. Lima menit yang lalu, saat bersamanya Roberth berbicara seolah dirinya tengah PMS, namun saat bersama Hiyola tadi, pribadinya benar-benar berubah.
'Ku pikir dia punya dua kepribadian.' Batin Petra.
***
Dalam perjalanan, langit menghitam. Kilatan petir bersamaan dengan gempuran gemuruh membuat Hiyola semakin cepat melaju. Rintik-rintik hujan yang mulai membasahi kaca mobil, membuat pria yang duduk di bangku penumpang merasa cemas akan keadaan gadis bermantel hijau di depan mereka.
"Pastikan kita tidak kehilangan gadis keras kepala itu," titah Roberth. Bagaikan sisi TV, mata nya tidak lepas dari sosok mungil di depan sana.
"Baik, Tuan." Petra menyahut sambil tetap fokus ke jalan. Matanya memicing, mencurigai target. Sepertinya Hiyola sengaja menyalib beberapa mobil dan motor, untuk menghindari mereka.
"Saya kira, nyonya menghindari kita, Tuan." lapor nya.
Lewat cermin Petra melirik bos nya lalu bertanya, "Apakah mungkin nyonya sedang marah?"
Roberth memijat pangkal hidung, lalu semakin menunduk dalam. "Ya, ku rasa." ujar nya.
Ku rasa? Yang benar saja!
Beberapa menit kemudian, motor Hiyola memasuki pekarangan rumah. Dari belakang Roberth dan Petra mengekor.
Buru-buru melepaskan helm nya, mata Hiyola memicing saat melihat sosok wanita berambut panjang, membawa koper di tangan berdiri di depan pintu. Wanita tersebut tampak menatap hiyola sinis, kemudian tersenyum melambai pada seorang di belakang nya, yang Hiyola tahu, Roberth. Sejak tadi Hiyola memang sengaja menghindar dari jangkauan Roberth, sayang nya, Petra terlalu cekatan. Pria itu mampu mengimbangi pergerakan nya.
Setelah memarkirkan Hope, Hiyola lantas berjalan masuk sedikit berlari, dia ingin menghindari Kimberly, namun wanita berambut sanggul itu mengatakan sesuatu yang membuat langkah Hiyola terhenti.
"Bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah ini." ucap Kimberly, kebencian nya tersembunyi di balik senyum manis.
Hiyola menjeling, Kimberly mengenakan dres merah tanpa lengan, belahan dadanya terlihat karena potongan leher berbentuk huruf V, leher jenjang nya terlihat jelas karena rambut yang di sanggul tinggi. Padahal hari sedang hujan, dan suhu amat dingin, namun wanita ini rela mengesampingkan hal itu hanya untuk menarik lawan jenis nya.
"Sungguh ironis." ucap Hiyola. Kalimat tersebut mengena di hati Kimberly, padahal ia berencana memanaskan api, malah dirinya yang terbakar.
"Apa kata mu?" bentak nya. Suara menggelegar Kimberly, memancing perhatian Roberth dan Petra.
Kedua pria itu memutuskan untuk berjalan cepat, sebelum sesuatu yang tidak di ingin kan terjadi.
'Pantas saja suasana sejak tadi terasa memanas, padahal sedang turun hujan.' batin Petra. Ia setia memegang payung hitam untuk sang bis.
"Oh, tidak! Aku hanya berbicara dengan diri ku sendiri." sahut Hiyola. Tanpa berlama-lama, dia membuka mantel, kemudian melenggang masuk. Meninggalkan Kimberly yang hanya bisa mengepalkan tangan nya.
Awalnya saat melihat sikap Hiyola yang manis dan tampak lugu, Kimberly dengan semua kepercayaan dirinya yakin bahwa gadis itu tidak akan menjadi penghalang untuk kembali nya dia ke pelukan Roberth. Namun, melihat bagaimana sikapnya yang sangat kasar dan tidak peduli, Kimberly semakin takut, jika suatu saat Roberth mungkin akan berpaling.
Di tambah, sikap Roberth padanya mulai berubah. Roberth yang dulu selalu mengikuti keinginan nya, mulai menolak. Dahulu apa pun yang ia suka, apa pun yang ia inginkan, Roberth pasti akan mewujudkan nya, namun sekarang, bahkan menemaninya berbelanja saja, Roberth menolak dengan berdalih.
"Apa yang kau lakukan, Kim?" tanya Roberth begitu berdiri di depan Kimberly. Petra menutup payung, masih berdiri di samping Bos nya.
"Aku membawa pakaian ku!" Kimberly bersender di dada Roberth. "Mommy Vio menyuruhku bersiap-siap untuk kedatangan Daddy Clodio." jelasnya manja.
Dengan gerak lambat, Roberth menghindar. Dia melepas Jas dan menutupi tubuh Kimberly. "Apa kau tidak kedinginan, berpakaian seperti ini?"
Kimberly sontak cemberut. Petra tersenyum hampir tergelak. Ternyata pikiran nya dan Roberth sama.
"Bukankah kau suka jika penampilan ku seperti ini?" Kimberly merajuk. Dia membuka jas Roberth yang sempat menutupi bagian dadanya.
"Cuaca sedang dingin begini, bagaiman bisa aku menyukai penampilan yang menyiksa diri mu, Kim?" sahut Roberth kembali merapatkan jas nya.
Dalam hati, Roberth menyalahkan Hiyola. Penampilan tertutup, pakaian tidak fashionable, dan amburadul nya sudah mendoktrin mata Roberth.
"Kembalilah! Masih satu minggu lagi. Petra, antar Kimberly pulang. Bawa juga koper nya." titah Roberth.
Dengan gerakan cepat, Petra meraih koper Kimberly, saat wanita itu berniat mencegah nya. Seperti nya Petra sudah beralih kubu.
Kimberly menekuk wajahnya melihat Petra yang sudah berlari menembus hujan, dengan koper miliknya. Di tatap nya Roberth cemberut, penuh menurut.
"Kau mengusir ku? Apakah ini karena wanita itu?" mata Kimberly mulai berkaca. Roberth yang melihatnya pun hanya bisa memijat pelipisnya.
"Aku lelah, Kim. Tolong jangan menambah beban ku." balas Roberth.
Air mata Kimberly sudah tidak bisa di bendung. Dia benci mengakui bahwa Roberth mungkin mulai menyukai Hiyola dan mengesampingkan perasaan untuk nya.
"Baiklah! Kita akhiri saja semua nya di sini!" sergah Kimberly. Suaranya bergetar, ia berencana menembus hujan di depan sana, namun tangan Roberth kembali meraihnya masuk ke dalam pelukan pria itu.
"Maafkan aku..." lirih Roberth. Matanya mengarah ke arah balkon kamar di atas yang terlihat jelas dari depan rumah. Netra keabuan nya bertemu dengan iris hitam Hiyola.
Masih tetap menatap nya, Roberth berucap pelan, namun jelas terbaca oleh seseorang di balkon sana. "Maafkan aku, karena mulai bimbang..."
***