Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 13 : Hari Kerja



Sejak pulang dari pertemuan malam itu, pagi nya Hiyola memilih diam di kamar. 


Meskipun sempat terobati karena tingkah random Roberth, Hiyola tidak menyangkal masih sakit hati dengan semua kalimat dari Violeta, maupun keluarga wanita yang bernama Kimberly. 


Berkali-kali Hiyola membenamkan kepala nya di bantal untuk meredam suara teriakan nya. Saking kesal nya. hiyola bahkan mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Semua ini Karena wanita itu. Kimberly!" 


Hiyola memukul bantal tanpa bisa membayangkan objek kemarahan nya. 


"Ah, benar! Aku bahkan tidak mengenal si Kimberly ini." 


Hiyola berdecak, "Lagi pula aku tak mungkin bertanya pada Roberth, pria bucin itu akan mengomel sepanjang hari." 


Berbicara sendiri, Hiyola mendengar Roberth membuka pintu kamar nya. Buru-buru Hiyola berlari ke pintu berencana melihat kepergian Roberth. 


Perlahan, Hiyola memegang ganggang pintu. Sepelan mungkin dia memutar agar Roberth tidak menyadari. Sialnya saat pintu baru terbuka sedikit, Hiyola kembali membanting pintu menutup. 


Brrakkk...!!!


Bagaimana tidak, tepat di celah pintu yang terbuka, wajah Roberth muncul dari sana. Entah kapan pria itu beranjak ke depan pintu kamar Hiyola. 


"Usahakan kau lepas daun pintu nya." teriak Roberth yang ikut terkejut. Padahal dia memang sengaja berdiri di sana agar bisa mengatakan pada Hiyola mengenai Maid yang akan datang nanti sore.


"Maaf tuan," merasa bersalah, mau tak mau, Hiyola akhir nya kembali membuka pintu.


Sambil menunduk, Hiyola menjulurkan kepala nya. "Ada apa tuan?" setengah badan nya masih berada di dalam kamar. 


Roberth berdecak. Lama-lama berada di dekat Hiyola, dia akan kehilangan jati dirinya. Mengingat kejadian semalam di mana ia terus mengikuti kemauan Hiyola, rasanya tidak baik jika terus  berlama lama di dekat nya.


"Tuan?" tegur Hiyola karena Roberth berdiri bengong. 


Tersadar dari lamunan nya, Roberth segera melihat ponsel, Petra baru saja mengirim pesan. "Tidak jadi! Saya harus berangkat ke kantor." tanpa menunggu a, i, u, e, o, dari Hiyola, Roberth langsung berbalik beranjak pergi. 


"Oh, iya, saya harap rumah masih utuh saat saya pulang nanti." ucap Roberth, sedikit berteriak dari tangga. 


Hiyola memanyunkan bibir. Roberth memang selalu andal membuat mood nya berantakan. 


Memang nya dia kira aku ini mesin penghancur rumah? Ck!


Hiyola kembali masuk ke kamar, mengambil ponsel, melihat jadwal kuliah hari ini. 


"Wah, kosong ternyata." senyum nya merekah saat melihat jadwal kuliah yang kosong. 


"Baiklah, mari kita lihat jadwal kerja nya." 


Hiyola menyentuh gambar aplikasi hijau alias Whatsapp. Mata nya berbinar, ada pesan dari ibu Ayu yang harus mengantar makan ke kantor suaminya, jadi Hiyola di minta untuk mengantar putra nya ke TK jam 9 nanti.


Selain dari ibu Ayu, ada juga pesan dari Kak Rita. Kak Rita meminta Hiyola untuk mengganti nya di perpustakaan pukul 2 nanti, karena kak Rita punya kencan dengan pacar nya. 


Hiyola tersenyum melihat pesan-pesan bernilai uang, mencium ponselnya berulang-ulang.


"Uang adalah yang terbaik." pekik nya kegirangan. 


Keluar dari aplikasi Hijau, Hiyola masuk ke aplikasi berwarna pink dengan tulisan meet me. Di sana ada permintaan jumpa temu, harga nya sudah di setujui oleh perusahan dan pelanggan, tinggal menunggu persetujuan Hiyola saja. 


Hiyola ngescroll, ingin melihat perincian waktu dan tanggal nya. Dalam perincian, tertulis harga yang di tawarkan 100 ribu, untuk besok hari,  selama dua jam. Dari pukul empat sore sampai pukul enam. 


Hiyola berdecih, "100 ribu saja, minta nya dua jam." 


Menarik turun kan alis nya, Hiyola berpikir sejenak apakah akan setuju atau tidak. 


"Eh, setuju sajalah, siapa tahu nanti bisa jadi langganan, lagi pula keterangan nya juga hanya teman minum kopi, boleh lah." 


Hiyola segera memencet tombol centang berwarna Hijau yang berada di samping tombol silang berwarna merah. 


"Oke, semua jadwal nya siap, aku akan merapikan rumah dulu. Kemudian bersiap-siap mengantar putra gemoy ibu Ayu." 


***


Hope berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis yang cukup meawah. Dari dalam seorang anak kecil lelaki berusia 6 tahun berlari keluar. Pipi nya yang berisi naik turun mengikuti irama gerak nya.


"Kak, Hiyo...!" pekik sang anak seraya memeluk Hiyola.


Dulu Hiyola yang selalu mengantar Adam ke sekolah paud, Namun, sejak kuliah, Hiyola berhenti karena jadwal kuliah  yang kebanyakan jatunya  pagi. 


 Adam yang sudah terlanjur nyaman jika di antar oleh Hiyola berkali-kali meminta mama nya untuk menghubungi Hiyola, sayang nya baru kesampaian hari ini. 


"Adam kangen kak Hiyo..." keluh Adam dengan suara khas nya. 


Hiyola mengangguk, "Iya, kakak juga kangen Adam." 


"Kamu tidak tahu, Hiyo. Gimana susah nya ibu waktu kamu berhenti. Adam bahkan tidak mau ke TK, sampai harus ibu rayu-rayu." seorang wanita berbadan cukup gemuk berusia 30-an keluar dari rumah. Dia adalah pelanggan setia Hiyola dulu. 


"Selamat pagi, bu Ayu." sapa Hiyola. 


ibu Ayu tersenyum. Dia menyerahkan tas sekolah Adam kepada Hiyola. 


"Tolong ya, Hiyo. ibu harus ke kantor dulu, anterin makanan. Soalnya ada acara makan-makan di kantor paksu." 


Hiyola mengambil tas Adam, seraya tersenyum. "Tidak masalah, ibu. Lagi pula, jadwal hari ini kosong." 


"Sekali lagi makasih, ya, Hiyo..." ibu Ayu menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra. "Adam jangan nakal, ya. Dengarkan kata kak Hiyo." 


Adam mengangguk, "Iya, ma. Lebih baik mama pergi..." ucap Adam lucu sambil menggoyangkan tangan nya mengusir sang mama. 


ibu Ayu menggeleng. "Hmm... Kalo kak Hiyo pasti Adam langsung lupa sama mama." ujar ibu Ayu menggoda sang anak, namun Adam sudah berlari menuju Hope, tanpa menghiraukan mama nya. 


"Ya, sudah. ibu pergi ya, Hiyo...." pamit ibu Ayu, melakukan motor nya. 


Hiyola dan Adam langsung menuju ke TK Adam, sesuai dengan alamat yang di kirim ibu Ayu. 


Pukul 11 Hiyola kembali membawa Adam pulang. Setelah, di bayar, Hiyola langsung pamit pergi. 


Pukul 2 siang, setelah makan, Hiyola langsung bergegas ke perpus, dia akan mengganti kak Rita untuk shift nya. 


Hiyola berlari tergesa-gesa memasuki perpus. Kak Rita sudah menunggu nya dengan tidak sabar. 


"Cepat, Hiyo... Pacar kakak sudah marah-marah." ucap Kak Rita membuka rompi kerja dan tanda pengenal untuk di berikan kepada Hiyola.


"Maaf ya, kak. Baru selesai makan." cengir Hiyola sambil mengenakan perlengkapan kerja nya. Kak Rita mengangguk memaklumi, tidak berlama-lama ia menyerahkan uang seperti biasa, kemudian berlari keluar.


Hiyola memasukkan uang yang di terima, kemudian mulai melakukan tugas nya. 


Di mulai dari melihat tatanan buku, yang mana sering di letakkan sembarang oleh pelanggan. Kemudian mulai memberi tanda ijin pinjam, mencatat tanggal pinjam dan mengembalikan. 


Sebenar nya Hiyola bekerja di perpustakaan bukan cuma-cuma. Dia memang mengincar pekerjaan di sana sejak mulai berkuliah. Terkadang Hiyola memanfaat kan kesempatan untuk memfoto beberapa buku kuliah yang memang harus di beli dan harga nya mahal. 


Meskipun tahu itu ilegal, Hiyola tetap melakukan nya karena tidak punya pilihan lain. Untungnya karena sering menggantikan Kak Rita, Hiyola sudah tahu persis di mana titik buta CCTV, jadi ia tidak akan ketahuan.


"Eh, kakak cantik lagi." 


Hiyola mengangkat wajah nya. Seorang anak SMA tengah menggodanya, dengan modus membeli buku. 


Sudah sering Hiyola menjupai hal tersebut. Seringkali ia meladeni mereka, terkadang juga dia cuek saja sehingga membuat para anak SMA terutama yang pria jadi lebih penasaran, dan memilih berlama-lama di sana. 


Asik meladeni anak-anak SMA, Hiyola spontan membelalak. Tidak sengaja mata nya bertemu dengan Roberth yang baru saja masuk. 


Spontan saja, Hiyola segera menunduk, menyembunyikan kepalanya. Kebetulan karena meja yang persis dengan resepsionis hotel, Roberth jadi ragu bahwa yang dia lihat adalah Hiyola. Karena setahu Roberth, Hiyola hanya bekerja di perusahan. 


"Kak, Hiyo... Kenapa sembunyi?" 


Hiyola hampir saja merobek mulut anak SMA itu, jika saja salah satu pekerja tidak meladeni nya. 


"Makasih..." ucap Hiyola sedikit berbisik. 


Gadis yang sudah sering bekerja dengan Hiyola itu, mengangguk. Sebenarnya gadis itu membantu karena ia sempat melihat adegan saat Hiyola dan pria tampan yang tengah berbicara dengan klien, saling bertatap tadi. 


Sementara di meja, Roberth jadi tidak fokus dengan klien nya. Dia terus menebak apakah mungkin yang ia lihat Hiyola atau bukan.


"Sepertinya aku terjangkit Virus wanita itu." pikir Roberth kembali fokus dengan klien nya. 


***