Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 21: Manusia kaku! Mesum! plinplan! labil! songong!pemaksa!



Dua jam berlalu. Hari mulai menghitam selaras dengan pergantian tugas antara matahari dan bulan. Percakapan yang di awali dengan keluhan berakhir canda-tawa. Untuk ke sekian kalinya Hiyola berhasil memenangkan hati pelanggan nya. 


Tuan C yang awalnya nampak muram, jadi terkekeh terus-terusan karena tingkah Hiyola yang ceplas-ceplos.


Jumpa temu ini berhasil membawa pelanggan tambahan untuk Hiyola. Sebelum pergi, Tuan C sempat menyampaikan kepuasan nya dengan memberikan bintang lima untuk Hiyola di aplikasi.


Sementara itu dari kejauhan Roberth masih betah di dalam mobil, berjalan keluar. Menghampiri Hiyola yang tengah bersenandung ria sambil menyalakan motor. 


Membelalak, Hiyola terkejut saat tangan Roberth mencegahnya hendak pergi. 


"Tu-tuan?" Melihat kesana kemari, kembali melebarkan mata nya saat melihat Petra yang juga mengekori. 


Aish...! Mengapa akhir-akhir ini kami terus bertemu? Bisa kacau kalau begini terus. Cemas Hiyola dalam hati. Jujur saja ketakutan orang-orang terdekat akan mengetahui status nya membuat Hiyola selalu merasa tercekik saat berpapasan dengan Roberth. 


Tidak menghiraukan, Roberth meraih tangan Hiyola, menyuruh nya untuk turun. 


"E-eh...! Ada apa tuan?" gerutu Hiyola karena Roberth menariknya begitu saja. Entah apa mau nya pria kaku ini. Apakah mulutnya tidak bisa berbicara baik-baik? Apakah dia pikir aku bisa di tarik seenak nya?


"Ish... Tuan kenapa?" Hiyola terhuyung dan turun dari motornya. Kekesalan subuh tadi belum juga hilang, Roberth kembali menambah dengan bersikap seenak nya. 


Hiyola menghempas agar Roberth melepaskan lengan nya, namun Roberth menggenggam tangan nya selayak nya tiang dansa.


Petra memperhatikan dengan seksama tingkah laku tuan nya. Sepertinya akan ada perang dunia ke tiga. 


"Tuan Roberth lepaskan saya!!!" Hiyola melotot. Kali ini Robert menggiring Hiyola menuju mobil. Semua mata di parkiran melihat mereka, curiga. 


"Tuan! Orang akan mengira kau mau menculik ku!!!" Roberth menghentikan aksinya, saat mereka berada tepat di depan pintu mobil. Benar saja semua mata tertuju pada mereka. 


"Hei! Lepaskan gadis itu!" teriak seorang bapak-bapak, seraya berjalan mendekat. 


Roberth mengambil ponsel, mencari sesuatu di sana. Tepat saat bapak tersebut berhenti di hadapan nya, tanpa banyak bicara Roberth langsung menyodorkan ponsel ke arah sang pria. Tidak tahu apa yang dia tunjukkan, bapak berwajah beringas tersipu malu lalu bergegas pergi. 


Hiyola melongo penasaran apa yang Roberth tunjukkan hingga bapak tadi pergi, namun pria itu malah mematikan ponsel kemudian mengarahkan Hiyola untuk masuk ke dalam mobil. 


Meskipun kesal Hiyola mengikuti saja apa yang Roberth ingin kan. Dia masuk dengan mulut yang terus mencibir benci dengan sikap sewenang-wenang sang suami setahun. 


Petra membuka pintu bagian pengemudi, Roberth mencegah. "Kunci mobil?" Menadah tangan meminta barang yang di sebut. 


Petra menatap bos nya, kemudian menggeleng. "Saya tidak berani tuan." 


Roberth mengernyit. "Maksudnya?" 


"Saya tidak bisa duduk di belakan dan membiarkan tuan menjadi supir."  Petra yang mengira Roberth mungkin sudah salah makan karena sejak tadi sikapnya tidak wajar. 


"Siapa yang mengajak mu? Kau akan pulan naik itu!" Roberth menunjuk Hope yang masih menyala di Parkiran. 


"Ya...?"


"Apa...!?"


Teriak Hiyola dan Petra bersamaan menoleh ke parkiran, kemudian kembali menatap Roberth seraya menggeleng kuat. 


"Jadi kau mau menolak perintah ku!" sergah Roberth. Petra spontan menggeleng, kemudian mengangguk. 


"Saya akan pulang dengan motor nyonya." balas Roberth mengiyakan. Tapi, bukankah mereka harus meminta ijin dari sang pemilik? Hiyola yang merasa di rugikan berniat memberontak, namun saat tangan nya menyentuh pintu, terkunci. 


"Loh, kenapa mobilnya di kunci? Tuan Roberth!!! Saya mau pulang! Ini nama nya penculikan!!!" teriak Hiyola kesal. Dia memukul bahkan menendang pintu mobil, tak acuh terhadap sikap Roberth yang terus menatap nya tajam. 


Entah apa yang kedua pria itu bicarakan, mereka tidak melibatkan Hiyola. Keduanya berbincang lalu Petra menunduk hormat dan melenggang pergi, sementara Roberth masuk ke dalam mobil. 


"Kesepakatan nya sudah selesai? Kalian tidak melibatkan saya? Bukankah harus meminta kesepakatan saya juga?!!!" cerocos Hiyola, berisik. 


Roberth mengorek telinganya dengan niat mengejek. Menyalakan mobil kemudian mulai melaju.


"Kemana Petra akan membawa Hope tuan?"


Roberth menoleh, melihat Hiyola dengan alis mengerut. "Siapa 'Hope'?" pandangan nya kembali ke depan. Mereka mulai keluar kawasan daerah C.


Hiyola bersedekap, mengerucutkan bibir. Roberth memang manusia super mengesalkan yang pernah ia temui. Lihat saja bagaimana cara nya mengalihkan pembicaraan.


"Hope itu nama motor saya." jawab Hiyola dengan nada mulai meninggi.


Roberth berdecak seraya tetap fokus pada jalan. "Ck, bodoh! Motor buntut saja di beri nama!"


"Apa? Motor buntut? Tuan tahu motor itu saya dapat hanya dari hasil kerja saya selama 2 tahun dan tuan tidak berhak berkata seperti tadi!" tekan Hiyola pada kalimat terakhir.


Roberth tercengang, dia menoleh menatap Hiyola. Gadis itu tengah mengerucutkan bibirnya dengan dua alis yang saling bertaut, kesal. Poni baru yang menutupi lebam akibat ulah nya membuat Hiyola tampak semakin lucu di mata Roberth.


"Apa yang kamu suka?" Pertanyaan ini di keluarkan dengan kesadaran Roberth yang di atas 1000%.


Hiyola menoleh, kali ini menunjukan ekspresi antara bingung dan kesal. Nafasnya yang tadi naik turun, perlahan tenang.


"Tuan sakit, ya?"


Roberth menggeleng, wajah nya tetap datar menatap jalan yang mulai ditutupi gelap.


Hiyola kali ini memicing, mencoba mencari maksud terselubung dari pria berwajah kaku tersebut.


ckckc! Dia memang pantas menjadi pembisnis. Ekspresi nya tidak bisa di terawang.


"Kenapa diam? Kamu suka apa?" ulang Roberth mulai melambatkan laju kendaraan.


"Uang!" Jawaban tanpa pikir panjang tersebut membuat Roberth menggerutu pelan.


"Yang lain?"


"Tidak ada yang lain Tuan! Hanya uang, dan uang!"


Mendengus, kali ini Roberth benar-benar menunjukkan kekesalan nya. Dia menoleh dengan satu alis terangkat.


"Kau bahkan tidak berpikir sebelum bicara!" Kembali memfokuskan pandangan ke jalan raya.


"Suatu saat saya tidak akan heran jika mendengar orang mengatai mu mata duitan."


Hiyola memutar pandangan nya ke luara jendela mobil. Jika bukan karena uang 200 juta tersebut, tidak sudi ia berhubungan dengan manusia labil sejenis Roberth ini.


Baru lima detik yang lalu dia menanyakan kesukaan ku, sekarang malah menghina ku! Dasar manusia kaku! Mesum! plinplan! labil! songong!pemaksa!


"Argghhh....!" gerutu Hiyola.


"Kamu sedang mengatai saya, kan?"


Spontan berbalik menatap Roberth, Hiyola kembali berpikir mungkin Roberth ini Edward yang terdampar dari Twilight. Pendengaran tajam dan bisa membaca pikiran.


"Semua yang ada di otak mu selalu tergambar jelas di wajah jelek mu!" balasan Robert mendapat satu pukulan di lengan.


Hiyola langsung membekap mulut, terkejut dengan keberanian nya. Apalagi ekspresi Roberth tampak tidak suka begitu.


"M-maaf, tuan!"


Roberth tidak menjawab. Dia kembali fokus pada kegiatan nya. Tanpa melihat Hiyola, Roberth kembali bertanya.


"Saya ganti pertanyaan nya." Roberth bergumam sebentar. Rupanya dia tidak terlalu marah dengan sikap Hiyola tadi. "Apa keinginan mu yang belum terwujud? Kamu mau ke mana? Mau makan apa? Atau menginginkan apa?" Kali ini intonasi suaranya lebih manusia dari pada yang biasa nya.


Alis mengerut, tersenyum geli, menggeleng. Ah, tidak mungkin. Hiyola mulai menerka-nerka apa yang mungkin terjadi pada tuan kaku nya ini.


"Bersikap seperti biasa saja, tuan. Saya jadi merinding dengan sikap tuan yang seperti ini."


Roberth mendengus. Hiyola ini tidak pernah sekali di tanya langsung menyahut, pasti ada saja hal melenceng dari topik.


Roberth membuang nafas kasar, gerakan nya agak canggung, menurut Hiyola. "Baiklah! Saya akan mengatakan yang sebenar nya."


Mobil melambat, lampu sen kiri di nyalakan. Mereka berhenti di persimpangan sebentar. "Tidak baik mengemudi sambil bercakap." tutur nya dan Hiyola mengangguk.


"Saya mau minta maaf untuk kejadian saat di kamar."


Hiyola mengelak, suasana nya menjadi canggung.


"Lihat! Sikap mu yang seperti ini, membuat saya enggan untuk mengatakan yang sebenar nya." ucap Roberth, frustasi.


Hiyola menoleh, mencoba menatap mata keabuan yang sempat membuat nya takut setengah mati pagi tadi.


"Saya tidak masalah tuan. Saya tahu tuan tidak berniat melakukan nya." ucap Hiyola tulus.


Roberth menunduk sejenak. "Saya tidak mau berutang maaf pada siapa pun, termasuk kamu."


Deg...


Jantung Hiyola berdetak tidak karuan saat Roberth maju mendekat, memotong jarak antara mereka. Tangan kekar pria itu menyibak poni Hiyola, memperlihat kan benjolan yang mulai berubah ungu, mengusapnya lembut.


"Tu-tuan?" cicit Hiyola nyaris tidak terdengar. Atmosfer seakan memanas, mata mereka bertemu untuk sepersekian detik, tangan Roberth terus mengusap dahi Hiyola, semakin lembut dan lembut, hingga...


"Maaf, gara-gara saya, wajah jelek mu jadi semakin jelek."


Brakk...!!!


Satu dorongan telak berhasil menghempaskan tubuh Roberth hingga terkapar di pintu mobil.


"Dasar menyebalkan!!!" teriak Hiyola, berekspektasi tinggi.


Akhirnya senyum yang Roberth tahan beberapa saat lalu, mengembang berani di wajah nya.


Mengerjai Hiyola memang hal paling menyenangkan yang pernah Roberth lakukan dalam hidup nya.


***