Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 54 : RSU Pelita



Roberth tidak pulang ke rumah. setelah menghubungi Petra, ia lebih memilih berdiam diri di dalam mobil, tepat di depan lorong kompleks perumahan tempat Hiyola tinggal. Matanya terus menatap lorong kecil yang sedari tadi di lalui orang, sambil tetap harap salah satu dari mereka adalah wanita yang dicarinya.


"Mentang-mentang sudah tidak tinggal dengan ku, dia berani pulang larut malam!"


Roberth mengamati arloji di tangan nya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.05 dan Hiyola belum juga pulang.


Dari tadi selain mengamati jalan, Roberth pun sibuk memeriksa ponselnya kalau-kalau Petra mengabari berita baik. Akan tetapi, bukan nya kabar baik yang datang, ia malah mendapat banyak teror dari sang Mommy maupun Kimberly.


Dreeeeetttt....!


Suara getar ponsel di atas dashboard mobil, mengejutkan nya. Roberth membukanya dengan malas. Entah ini akan menjadi kali ke berapa saat dia menolak panggilan Kimberly. Namun, di detik berikut, sebuah senyum semringah tersungging. Itu panggilan dari Petra.


"Cepa--"


[Saya sudah mencari keberadaan nona. Tapi, saya rasa Tuan tidak akan suka mendengarnya.]


Petra langsung menyela, karena jika masalah nya berkaitan dengan Hiyola, Roberth tidak akan menggubris kata sambutan yang bertele-tele.


"Katakan!" ketus Roberth. Saat ini, dia sudah tidak berdiam di tempat. Mobil sudah dinyalakan, dan ia mulai meninggalkan lokasi tongkrongan nya.


[Beberapa karyawan yang mengenal nona, mengatakan bahwa nona saat ini mungkin berada di rumah sakit.]


Roberth spontan menginjak pedal rem. Matanya mebulat seketika. Bahkan Petra yang berada di seberang pun bisa tahu bahwa pria itu terkejut.


"Rumah sakit mana?"


[Saya kira, jika di bawa ke rumah sakit..., mungkin rumah sakit terdekat dari perusahan,Tuan.]


Roberth berpikir keras, ada empat rumah sakit yang dekat dengan perusahan. Jika di perkirakan jarak dan kualitas maka pasti RSU Pelita.


[Saya rasa nona di bawa ke RSU Pelita, Tuan.]


Roberth tidak lagi menjawab, dia kembali melakukan mobilnya, sebelum benar-benar mematikan ponsel, dia mengatakan sesuatu yang membuat Petra pun ikut tersenyum jahil.


"Jangan panggil dia 'Nona'! Dia masih istri ku, dan dia masih Nyonya Hiyola!!!" ketus nya baru mematikan ponsel.


***


Di rumah sakit Pelita.


Hiyola sedang memainkan ponsel di atas ranjang. Sejak tadi Daniel meminta Hiyola untuk memotret tugas yang di berikan Jeremy, kamis lalu. Namun karena tidak berada di rumah, ia sibuk memberi alasan yang masuk akal, sayang nya, alasan yang di beri sama sekali tidak masuk dalam akal sehat Daniel, sehingga ia mulai mencurigai motif di balik kebohongan Hiyola.


[Kenapa tidak menjawab panggilan ku?]


Hiyola hanya bisa mendengus pasrah saat pesan tersebut masuk. Dia sendiri meminta Jeremy untuk mengantarnya pulang, tapi pria itu bersikeras membuatnya bermalam di rumah sakit. Mana sekarang Hiyola merasa sedikit ketakutan karena berada sendiri di ruangan asing tersebut.


Akhirnya karena ketakutan, di tambah rumah sakit terlalu tenang, Hiyola memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di luar sambil menunggu Jeremy yang sedang pergi membeli makan malam mereka.


Argh..! Jeremy terlalu lama. Bisa-bisa aku gila duluan jika tetap di sini.


Hiyola bergidik ngeri, seraya mendorong tiang tempat menggantung botol infus nya. Sambil mendorong melalui koridor-koridor rumah sakit, Hiyola membaca satu persatu nama ruang agar saat kembali nanti ia tidak tersesat.


Ketika sampai di halaman depan rumah sakit, dia begitu terpukau dengan keramaian di tempat tersebut. Padahal sudah pukul sebelas malam, tapi depan rumah sakit malah tampak ramai dengan para orang-orang lansia yang tidak bisa tidur.


Beberapa dari mereka sibuk bercengkrama, bercerita, menemani, dan mendengar keluh kesah yang lain, lalu sebagian lagi sibuk bertarung catur mengisi kebosanan yang tengah menggerogoti. Sama hal dengan nya yang juga merasa bosan. Rupanya karena kamar VIP, Hiyola mendapat ruangan kedap suara sehingga dirinya tidak tahu jika suasana di taman depan rumah sakit tengah sermai ini.


"Hei, kenapa kau di luar?" Jeremy datang dengan dua kantong besar penuh makanan. Padahal Hiyola hanya mengatakan kejujuran soal dirinya yang tidak menyukai makanan rumah sakit yang tawar, tapi Jeremy malah benar-benar pergi dan membeli makanan untuknya.


"Aku tidak tahu apa yang kau suka, jadi aku membeli semuanya." balas Jeremy.


Hiyola meneguk Saliva nya susah. Kenapa akhir-akhir ini para pria selalu bertindak bodoh?


"Aku suka apa pun. Kau tidak perlu melakukan semua ini."


Jeremy memasang tampang tidak bersalah. Hiyola memastikan isi kedua kantong tersebut. Kantong kanan berisi berbagai makanan berat, sementara kantong kiri berisi berbagai jenis kue.


"Baiklah, karena semua orang tidak bisa tidur. Kita berbagi saja," pasrah Hiyola memutuskan.


Bahkan jika hanya mereka berdua yang makan pun tidak akan habis. Jeremy hanya bisa menyengir seraya mengangguk. Demi dan untuk menyenangkan Hiyola, ia akan melakukan apa pun.


Makanan mulai di edarkan. Semua orang tersenyum bahagia, sambil menikmati kegiatan mereka masing-masing. Hiyola bahkan tidak berhenti tertawa saat beberapa wanita lansia menggodanya.


"Nona, kau cantik sekali. Apa pria ini kekasih mu?" seru beberapa wanita tua yang tengah saling menyenggol, menggoda kedua muda mudi di hadapan mereka.


Hiyola segera menggoyang kedua tangan nya, namun Jeremy langsung menyela.


"Doakan ya, ibu-ibu..." ucap Jeremy, dan sontak mendapatkan satu pukulan kecil di lengan nya.


"Apa yang kau lakukan?"


Sementara itu, dari depan gerbang rumah sakit, Roberth berdiri mengepalkan tangan nya. Sekeranjang buah yang ia bawa, di buang begitu saja. Matanya merah padam melihat punggung gadis yang sangat dia kenal.


Ya, walaupun saat ini posisi Hiyola tengah membelakanginya, Roberth bisa mengenal gadis itu. Tawa sambil sesekali menoleh membuat nya geram, apalagi senyum itu bukan tertuju padanya, melainkan pada seorang pria yang entah mengapa Roberth rasa ia mengenalnya.


"Ck! Membuang waktu ku saja!" gerutu Roberth.


Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung berbalik, menuju mobilnya dan segera tancap gas menjauh dari RSU Pelita. Hatinya dongkol melihat Hiyola yang ia kira mungkin tengah menderita, malah memanfaatkan momen untuk berkencan dengan pria lain.


Sebuah pesan masuk di kontaknya membuat Roberth geram. Entah siapa yang ingin mencari ribut dengan nya kali ini.


Membaca nama pengiri 'Kimberly' Roberth mendesah pelan. Dia tidak ingin berurusan dengan siapa pun hari ini.


[Rob, Daddy Clodio meminta mu untuk segera kembali ke rumah. Ia harus membahas beberapa hal penting mengenai perusahan dengan mu.]


Isi pesan semakin membuat Roberth geram. Dia benci ayah nya, walaupun selalu bersikap manis di depan wajah nya.


Tanpa berlama-lama, Roberth segera mengirim pesan balasan yang membuat Kimberly menghancurkan ponselnya ke lantai kamar.


[Aku punya urusan penting. Katakan pada Daddy untuk jangan menungguku, aku mungkin tidak akan pulang malam ini!]


"Sia lan!" maki Kimberly sambil melepas lingerie yang ia kenakan. "Apa dia masih memikirkan wanita ****** itu?" pekiknya, sepelan mungkin karena Violeta dan Clodio sudah beristirahat di kamar mereka, tepatnya di kamar yang dulu di tempati Hiyola.


"Lihat saja Rob! Aku pastikan suatu saat nanti, kau akan kembali bertekuk lutut!" geram nya, tertahan.


***


The Epilog episod :


RSU Pelita.


Paginya saat tukang bersih rumah sakit masuk, ia terkejut mendapati satu keranjang buah utuh di depan gerbang.


"Orang tidak waras mana yang membuang buah-buahan mahal ini?"