
"Terimakasih untuk sapu tang--" Hiyola berbalik mendapati pria yang memberikan nya sapu tangan , tidak berada di sana.
Dia menoleh dengan mata yang masih sedikit kemerahan, melihat ke samping kanan, kiri, maupun belakang, tapi sosok pemberi sapu tangan tersebut tidak ada.
"Bahkan orang asing pun enggan bersama ku," ucap nya getir. Senyuman dipaksakan membuatnya nampak menyedihkan.
Selanjutnya Hiyola memegang perut,
"Ah, aku lapar," gumamnya seraya menunduk dan membuang nafas kasar. Setelah kebahagiaan hilang, rasa lapar mulai menggerogoti. Perutnya bahkan sampai terasa sakit.
Hiyola berjalan menghampiri Hope. Dia mengambil sekotak ayam, membukanya lalu mengambil sepotong. Saat menelan, dia berlari ke tepi jembatan, memuntahkan sepotong ayam yang baru ia telan tadi. Rasanya semakin sakit saat makanan itu berusaha dia cerna.
"Bahkan ayam pun tidak sudi masuk ke dalam perut ku!" Hiyola kembali menutupi wajah dengan kedua tangan, kemudian terisak meratapi nasibnya.
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di kediaman Roberth Kohler. Pria itu duduk bersama Kimberly di ruang Tv.
Dengan penerangan layar TV, Kimberly tengah bergelayut dalam pelukan Roberth. Wanita itu sama sekali tidak melepaskan pelukan nya, membuat Ami yang menyaksikan mereka dari ruang makan jadi kesal sendiri.
Sesekali wanita itu melirik ekspresi Tuan nya yang tampak santai, dan tidak risih terhadap sikap wanita di sampingnya.
"Situasi macam apa ini?" Ami bergumam sendiri. Matanya tajam menatap wanita berpakaian kurang bahan.
"Ami, apa ada kabar dari Hiyola?" tanya Roberth tiba-tiba. Ingin rasanya Ami memutar mata jengah jika sang majikan tidak melihat ke arah nya.
"Tidak ada, Tuan." Nada jawaban wanita tua itu terdengar gusar.
Roberth memijit pangkal hidung. Dia fokus melihat arloji pada tangan kirinya, sehingga Kimberly yang berada di sisi kanan nya merasa risih.
"Apa kau bahkan mengkhawatirkan ku di hari batalnya pernikahan kita?"
Roberth memejamkan matanya sejenak, pertanyaan Kimberly barusan pasti nya membuat Ami jadi bisa menebak apa yang sebenar nya terjadi. Jadi ia rasa dirinya tidak perlu bersandiwara lagi di depan sang Maid.
Melihat Roberth yang tidak menjawab pertanyaan nya, Kimberly mulai gelisah. "Jadi kau memang tidak khawatir?"
Kimberly melepaskan diri dari dekapan Roberth. Dia menatap tepat wajah Roberth yang sangat tertekan.
"Tentu saja aku mengkhawatirkan mu, Kim," balas Roberth saat melihat bagaimana Kimberly bereaksi. Dia tidak ingin menyakiti perasaan wanita itu, terlebih lagi karena Kimberly telah menghentikan karir modelingnya hanya untuk kembali bersama nya.
Tersenyum senang, Kimberly menautkan jemarinya pada tangan Roberth. "Aku menyesal telah meninggalkan mu, Rob. Nyatanya aku terlalu mencintai mu." ucapnya serius.
Ami memasang wajah sedih. Jadi, nyonya Hiyo hanyalah pengantin pengganti?
Kritt....!
Pintu terbuka. Roberth spontan berdiri. Sebisa mungkin dia menunjukkan wajah datar nya ketika melihat siapa yang datang. Tapi, dirinya malah membeku saat melihat mata Hiyola yang merah dan sedikit membengkak.
Dia menangis?
Mata keabuan Roberth dengan cepat menilik seluruh bagian tubuh Hiyola. Kedua kaki, bahkan tangannya, tidak luput dari perhatian. Di detik berikut Roberth menghembuskan nafas lega, saat tidak terdapat luka apa pun pada tubuh gadis itu.
"Dari mana?" Hanya dua kata tersebut yang keluar dari bibir mulut Roberth.
Bahkan mendengar hal itu saja, berhasil membuat perasaan Hiuola yang lumayan lega tadi, jadi kembali galau. Di tambah bagaimana Kimberly yang ternyata masih berada di sana, berdiri di samping Roberth, dengan tangan yang tidak lepas, dan masih bergelayut manja di lengan pria itu, membuat Hiyola semakin merasa sedih.
Sebisa mungkin ia berusaha menunjukkan senyum terbaik nya. "Saya--" Kalimat nya tertahan sebentar, memikirkan jawaban yang masuk akal.
"Saya lupa mengambil ayam pesanan Tuan, saat di bioskop tadi." Menggigit bibir, Hiyola merutuki kebodohan nya karena memberikan alasan bodoh. Tentu saja mereka semua sadar bahwa dirinya berbohong.
Roberth memicing. Empat kantong plastik yang ada di tangan Hiyola, padahal ia melihat Hiyola membawa kantong tersebut saat mereka sampai di rumah sebelum nya.
"Duduklah," titah Roberth, tidak ambil pusing dengan alasan tidak masuk akal yang Hiyola lontar kan.
Bukan nya menurut, Hiyola malah menggeleng, dia beralasan, "Perut saya sakit. Saya akan beristirahat." berniat pergi dari sana. Langkahnya terhenti saat Roberth mencekal pergelangan tangan nya.
"Saya bilang duduk!" Kali ini suara Roberth sarat akan peringatan. Wajah nya tampak serius, membuat Hiyola mengangguk patuh.
Sebenarnya Hiyola tidak benar-benar berbohong, karena kenyataan nya, perutnya memang sakit. Walau alasan yang sebenarnya adalah dia tidak ingin berada di dalam ruangan yang sama dengan Roberth terutama saat ada Kimberly.
Dengan lemah, Hiyola mengikuti perintah Roberth. Dia duduk, di ikuti Ami dan Kimberly yang juga di perintahkan duduk bersama.
Keadaan canggung. Hiyola duduk berdampingan dengan Ami, di depan mereka Roberth dan Kimberly, yang tentu saja terus berada di dekat Roberth. Wanita itu seolah ingin menunjukkan bahwa Roberth merupakan milik satu-satunya.
"Saya tahu kamu pasti bingung mengenai apa yang terjadi saat ini, Ami," ucap Roberth.
Ami mengangguk lemah, sebenarnya dia sudah memiliki gambaran kasar tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia..." mata Roberth melirik menunjuk Kimberly. "Dia Kimberly Robbeca. Kimberly, calon istri saya yang sebenarnya."
Kalimat tadi sungguh mengiris hati Hiyola. Bahkan selama ini Roberth pun hanya menganggapnya sebagai Kimberly tiruan.
Memutuskan membuang pandangan ke lain arah, Hiyola tidak ingin Roberth melihat matanya yang mulai berkaca.
"Ya, karena beberapa alasan, Hiyola menggantikan Kimberly di pelaminan pada saat itu."
Dada Hiyola semakin terasa sesak. Seperti nya Roberth sangat ingin agar Hiyola sadar akan posisi, sampai harus menjelaskan hal tersebut di saat dirinya ada di sana?
Kimberly menarik senyum bahagia dikala mendengar penuturan sang pacar. Ia mengira Roberth mungkin telah melupakan nya, di tambah beberapa saudarinya yang kala itu bertemu Hiyola mengatakan bahwa wanita yang menjadi penggantinya cukup menarik. Tapi, setelah melihat bagaimana sikap Roberth, dia merasa bisa merasa tenang.
Kimberly bahkan sangat puas melihat wanita lain pria nya, kini tengah membuang muka dan tampak menderita. Dia sendiri bahkan penasaran, seperti apa kira-kira gadis berponi di hadapan nya.
"Tapi, itu artinya, Tuan dan nyonya Hiyo benar-benar menikah, bukan?"
Kimberly menatap Ami, sinis. Roberth, mengangguk. Sementara Hiyola masih saja membuang muka. Dia ingin situasi ini benar benar berakhir.
Roberth melihat Hiyola yang masih membuang muka, tidak mengacuhkan nya. Ada rasa bersalah, tapi dia harus menjelaskan segalanya agar suatu saat tidak akan terjadi Kesalah pahaman yang tidak di ingin kan.
"Jadi Ami, saya harap, orang lain tidak akan mengetahui hal ini, sampai kontrak kami berakhir." ucap Roberth, menyelesaikan semua hal penting yang harus dijelaskan.
Ami mengangguk. Dia telah paham segalanya. Bahkan sandiwara di depan nya pun di jelaskan oleh sang majikan, membuat Ami memandang Hiyola iba. Entah hidup seperti apa yang wanita malang itu lalui, sampai dia rela menikah dengan pria yang bahkan tidak ia kenal.
"Dan, Hiyola." Kini Roberth beralih pada Hiyola. Gadis itu sama sekali tidak menatapnya. Dia sibuk mengerjap, agar air matanya tidak menerobos keluar.
Ami mengusap pelan pundak Hiyola, agar gadis itu menoleh. Roberth merasa sesuatu di sudut hatinya terluka saat Hiyola berbalik menatapnya dengan senyum, namun matanya berkaca.
"Dia Kimberly--"
"Wanita yang Roberth cintai." Kimberly melanjutkan, sambil mengulurkan tangan nya.
Hiyola mengangguk, senyumnya tidak sampai menyentuh mata. "Salam kenal, nona. Kau sangat cantik," puji nya tulus.
Hiyola kini sadar bahwa di banding Kimberly dirinya bukan apa-apa, wanita itu sangat cantik dengan tubuh proporsional. Tentu saja selama ini semua kebaikan Roberth semata hanya karena hubungan timbal balik. Pria itu tidak mungkin menyukainya, sementara dia memiliki wanita secantik Kimberly.
Ami berdehem, "Nyonya Hiyo juga cantik."
Kimberly melirik Ami tidak suka. Namun, kembali tersenyum membalas Hiyola. "Terimakasih sudah menolong Roberth saat itu." menyenderkan kepala nya pada Roberth.
Sementara itu, Roberth malah sibuk menilik semua gerak gerik Hiyola. Bagaimana reaksinya, entah mengapa menjadi perhatian tersendiri baginya.
Tidak ada satupun dari Hiyola, yang luput dari tatapan Roberth, bahkan saat tiba-tiba gadis itu membuang nafas lembut, kemudian berdiri dan tersenyum ke arah nya. Wajah, Hiyola tampak pucat.
"Saya pamit ke kamar sebentar, Tuan."
Ami memejamkan matanya saa mendengar Hiyola memanggil Roberth 'Tuan'. Panggilan itu terdengar sangat salah, tapi apa yang bisa di lakukan wanita tua sepertinya, terlebih dirinya hanyalah seorang pembantu di rumah itu.
"Karena Ami sudah mengetahui segalanya, Aku rasa, kamu tidak perlu tidur lagi di kamar kekasihku." Ucapan Kimberly jujur saja sangat melukai perasaan Hiyola. Bahkan Roberth pun sampai menegur wanita itu.
"Bukankah selama ini kalian tidur sekamar hanya karena sandiwara?" tutur Kimberly membela diri, karena tatapan Roberth dan Ami padanya.
"Kau tidak perlu berkata seperti--"
"Baik, nona. Saya memang sudah memikirkan nya." potong Hiyola cepat.
Dia tidak ingin mendengar kalimat pembelaan atau sejenisnya dari bibir Roberth, karena hal itu akan membuatnya semakin salah paham.
Sambil tersenyum, Hiyola membungkuk sebentar, kemudian berjalan cepat nyaris berlari menaiki tangga. Ami yang melihat majikan wanita nya pergi, turut berpamitan untuk segera kembali ke kamar nya. Dia marah terhadap kedua majikan nya, karena selama ini telah bersandiwara dan membuatnya tampak bodoh, tapi lebih marah terhadap sang Tuan, karena bersikap begitu dingin terhadap wanita yang sudah jelas adalah istrinya.
Jika menjadi tuan Roberth, aku akan seribu kali memilih nyonya Hiyo dibanding wanita kurang bahan itu.
"Aku akan mengantar mu, pulang." ucap Roberth, mengambil kunci mobil.
"Aku ingin bermalam di sini, Rob." rengek Kimberly manja. Dia masih sangat merindukan sang kekasih.
"Ini sudah larut, Kim..." balas Roberth, lembut namun penuh penekanan.
Melihat wajah serius Roberth, Kimberly akhirnya menurut. "Baiklah!" Kimberly memanyunkan bibirnya. "Tapi berjanjilah, besok kau akan menghabiskan hari dengan ku." lanjutnya antusias.
Roberth mengangguk. Kimberly yang kegirangan, spontan mendaratkan ciuman tiba-tiba di bibir Roberth.
"Aaa...!"
Roberth segera mendorong Kimberly menjauh darinya. Ami yang ternyata kembali ke dapur karena lupa memasukkan nasi kuning ke dalam kulkas, memekik kaget.
Roberth langsung mengambil jaket nya dan bergegas keluar, sementara Kimberly malah mendengus sebal ke arah Ami.
Wanita tua itu hanya bisa menggeleng melihat kepergian dua manusia yang ia ciduk tadi.
"Aku harus memarut bibir wanita itu!" geram Ami, mengusap dadanya.
***