Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 33 : Seperti bapac-bapac



Dua hari setelah ibu Daniel di semayamkan, Hubungan Hiyola dan priaitu kembali menjadi baik-baik saja. Hiyola bahkan merasa sedikit aneh, karena tidak biasanya Daniel mendiaminya hanya beberapa jam.


Mengingat dahulu saat Hiyola yang kesusahan uang dan tidak menceritakan hal sepele tersebut, Daniel mendiaminya hampir selama empat hari. Mereka hanya duduk bersama berjalan bersama dan belajar bersama seperti dua orang asing.


"Sangat aneh!" gumam Hiyola.


"Apa yang aneh?"


Hiyola mendongak, Roberth baru saja turun tangga. Pria itu mengenakan setelan jas, kostum sehari-hari nya ketika keluar dari rumah. Sangat monoton.


Bahkan di hari minggu pun, dia ke kantor.


Hiyola kembali menggigit sarapan yang di sediakan Ami. Roti isi daging, ditambah sayur selada.


"Bukan apa-apa, tuan." balasnya.


Roberth berjalan, lalu mendudukkan bokong nya di kursi meja makan. Mereka sudah tidak terlalu canggung lagi.


Dalam diam, Hiyola dan Roberth sama-sama menghabiskan makanan mereka. Hiyola menyeruput segelas susu putih hingga tandas, lalu membawa nya ke dapur, membasuh benda kaca tersebut dan meletakkannya di tempat semula.


Baru akan kembali, Roberth menghadang Hiyola seraya menyerahkan gelasnya -yang juga sudah kosong- kepada Hiyola.


Hiyola mengernyit, tidak bergerak kemana pun.


"Kamu istri saya!" ujar Roberth semakin menyodorkan gelas nya.


Hiyola mengambil gelas tersebut tanpa banyak berkomentar, lalu kembali ke wastafel, membersihkan nya.


Dari meja makan, Roberth kembali duduk, sibuk memperhatikan seluruh gerak gerik Hiyola. Satu tangan ia gunakan untuk menopang dagu.


"Loh! Nyonya, biarkan saja gelasnya." Dari pintu depan, Ami dengan barang belanjaan nya berjalan cepat memasuki dapur. Dia terkejut kedua majikan sudah bangun, bahkan menghabiskan roti sandwich buatan nya, padahal dirinya juga belum sempat membuatkan minuman mereka.


"Dari mana, Ami?" tanya Roberth begitu Ami mendekat.


Ami terdiam sebentar, sangat jarang tuannya bersikap santai begini.


"Dari depan tuan, tadi ada tukang sayur yang kebetulan lewat, jadi saya sengaja belanja di depan biar siang nanti tidak perlu ke pasar lagi. "


Roberth manggut-manggut. Dia kembali pada pemandangan di wastafel sana. Melihat hal tersebut, Ami jadi senyum sendiri. Kedua majikan nya akhir-akhir ini tampak baik-baik saja. Yah, walupun tempat tidur di kamar masih dua saja, setidaknya mereka tidak lagi saling menatap seperti benerapa hari lau saat nyonya Violeta datang dan mengamuk.


Ami mengahmpiri Hiyola, mengambil gelas dan meletakkan nya kembali ke rak.


"Maaf ya, nyonya Hiyo. Saya tidak sempat membuatkan teh tadi." sesal Ami.


Hiyola mengangguk, "Tidak apa, Mbok. Lagi pula membuat minuman tidak sesulit itu." balasnya lembut.


Roberth yang mendengar hal tersebut, menarik bibirnya tipis. Ternyata Hiyola yang membuatkan susu, pantas saja rasanya sedikit berbeda.


Setelah itu, Hiyola langsung berjalan melewati Roberth untuk kembali ke kamar. Namun, belum juga melewati nya, Roberth sudah bersuara, dan hal tersebut membuat Hiyola panik seketika.


"Ini hari minggu. Kau tidak ingin jalan-jalan, Honey?"


Hiyola melemparkan senyum canggung, dia melihat Ami yang sudah tersenyum malu-malu di pojok sana.


Mendengar kata jalan-jalan, pikiran Hiyola melesat jauh ke dua hari lalau, tentang mewujudkan keinginan Roberth atas permintaan maaf nya.


"Aku harus ke gereja, Honey. Kita akan melakukan nya lain kali." sahut Hiyola tidak lupa memberikan senyum terbaiknya, yang nampak gusar.


Roberth tersenyum senang, di depan Ami ia tidak perlu khawatir akan penolakan Hiyola yang selalu aneh-aneh. Ternyata Ami ada guna nya, selain memasak dan membersihkan rumah.


"Kau atheis, Honey. Hanya mengingatkan."


Yup, Hiyola tidak lagi bisa mengelak. Entah dari mana Roberth mengetahui hal tersebut. Selama ini Hiyola memang tidak pernah percaya pada Tuhan. Jika memang Tuhan ada, hidup nya tidak akan menderita,dan dia tidak akan ditinggalkan.


"Jadi? Kita pergi?"


Tidak ada pilihan lain. Hiyola juga tidak punya alasan lain. Roberth pasti akan mengekori kemana pun dirinya pergi. Pria itu sangat bahagia jika berkaitan dengan menyiksa nya.


***


30 menit berlalu. Hiyola turun dengan dirinya yang sudah siap. Jeans hitam dipadukan dengan kemeja denim yang soft dan kaos oblong hitam, di dalam nya, membuat Hiyola tampak sangat kasual, ootd nya sangat bertabrakan dengan yang Roberth kenakan.


Roberth sampai menganga tidak percaya, melihat pakaian yang Hiyola kenakan. Sangat kasual dan terlalu santai.


"Apa yang kau kenakan ini, Honey?" tanya Roberth.


Hiyola melihat dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dari penampilan nya, lagi pula mereka pergi jalan-jalan, bukannya ke resepsi pernikahan.


"Jangan bilang, kau akan pergi dengan penampilan seperti ini?"


Ami yang ada di sana juga manggut-manggut, menurutnya penampilan tuan nya terlalu monoton dan resmi.


Giliran Roberth yang melihat penampilan nya. Dirinya juga merasa tidak ada yang salah dari apa yang dirinya kenakan.


"Tidak ada yang--" belum sempat Roberth menyelesaikan kata-kata nya, Hiyola dan Ami sudah menggeleng.


"Tuan terlihat sangat..." Ami berpikir sebentar. "Ke bapac-bapac'an." lanjut nya sengaja mengganti huruf akhir, membuat Hiyola tertawa spontan, kemudian terdiam saat mendapati tatapan tajam Roberth.


"Setuju!" Namun, Hiyola tetap melontarkan kata persetujuan.


Roberth melemparkan tatapan tajam kepada kedua makhluk yang malah tertawa bersama, bahkan sampai saling menyenggol.


"Ck! Kalian berdua...!"


Hiyola dengan berani langsung memegang kedua pundak Roberth, membuat keduanya terjebak dalam tatapan yang cukup intens.


"Kau harus melepas jas ini, Honey..." tutur Hiyola.


"Tidak akan!" Buru-buru Roberth mundur, membuat jarak di antara mereka.


Dan disini lah Roberth berdiri dengan setelan tanpa jas dan dasi yang masih bertengger di dada.



Hiyola maju selangkah, melepaska dasi Roberth, melepaskan kancing di tangan kemeja, menggulungnya ke atas, lalu melepas dua kangcing atas kemeja pria itu. Dan selama rentan waktu beberapa detik tersebut, Roberth menahan nafas nya, kedekatan mereka seolah menjadi bumerang bagi Roberth, terutama saat ia menunduk dan mendapati wajah polos Hiyola yang tanpa make up. Hanya bibir mungil Hiyola saja yang mendapat sedikit sentuhan liptint.


Melihat Roberth yang sama sekali tidak berkutik, Ami tersenyum senang, dalam hati ia bergumam. "Akhirnya, ketemu juga sama pawang nya." batinya terkekeh.


"Selesai!" komentar Hiyola yang langsung menjauh sembari tersenyum.


Kini penampilan Roberth sudah lebih bisa dikatakan Ootd jalan-jalan, ketimbang pergi ke kantor.


"Wah, tuan jadi kelihatan sepuluh tahun lebih muda." komentar Ami, Hiyola mengangguk setuju.


"Saya memang masih muda!" sewot Roberth, langsung melenggang keluar, meninggalkan dua wanita yang malah tergelak.


Dia langsung masuk ke dalam mobil, seulas senyum singkat nya menandakan bahwa ia sama sekali tidak marah atas apa yang Hiyola lakukan. Dirinya langsung duduk anteng, menunggu dengan tidak sabar.


"Apa yang tuan lakukan di sana?" teriak Hiyola yang sudah duduk di atas motornya. Mbok Ami sudah masuk ke dalam rumah, jadi panggilan mereka kembali seperti semula.


Roberth menoleh, dia mengernyit saat melihat Hiyola yang duduk di atas motor.


"Jangan bilang..."


"Ayo tuan, kita akan jalan-jalan menggunakan motor saya." seru Hiyola, tersenyum jahil.


"Dasar sinting!" maki Roberth.


***


The bonus, wkwkwk