Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 62 : Masih menjadi rahasia



Brak....!


PLAK! 


Satu dorongan dan tamparan telak mendarat di pipi Roberth. Kecupan singkat yang ia daratkan tanpa sadar membuatnya terdiam di tempat, mematung, bergeming. Di depan, Hiyola menatapnya dengan sorot tajam, mengisyaratkan kebencian yang amat dalam.


"Beraninya kau!" pekik Hiyola membuat seseorang di luar pintu, menggedor tanpa jeda.


"Ada apa Hiyola? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi di dalam sana?" 


Tidak satupun pertanyaan Jeremy mendapat sahutan memuaskan. Hiyola lebih memilih bungkam lalu membersihkan bekas ciuman Roberth dengan punggung tangan nya. Ia amat merasa bodoh, membiarkan pria itu lagi-lagi melakukan sesukanya, berbuat semaunya.


"Tuan akan keluar setelah saya!" geram Hiyola pelan. Di beringsut mundur, kemudian berlari menuju pintu. Menarik nafas dalam lalu membuangnya. Sangat sulit untuk bersikap tenang sekarang. 


"Apa yang terjadi, Sayang?" tanya Jeremy penasaran begitu pintu terbuka. Dia melongok ke dalam hendak masuk namun, Hiyola segera mencegat. Dia tidak ingin ada ke salah pahaman walau semuanya memang sudah salah sejak awal.


"Itu hanya serangga," elak Hiyola. 


Kimberly berjalan melewati mereka menuju lift. "Hanya serangga dan kau bersikap seolah akan di cecik! Oh, di mana Roberth,?" komentarnya tanpa menoleh membuat Hiyola membuang nafas lega. 


"Kita harus ke bawah sekarang. Jangan membuat Nyonya Esmeralda menunggu." 


Jeremy menghentikan langkah nya saat mereka tiba di depan lift. Pandangan nya sayu, sarat akan rasa putus asa. Dia tahu yang terjadi di dalam sana bukan sekedar serangga. 


"Panggil dia Grandma, Hiyo. Di sini kau kekasih ku," protes Jeremy. Mendengar Hiyola memanggil Esmeralda dengan sebutan nyonya, seolah jarak mereka terlalu jauh.


Senyum terukir, Hiyola mengangguk menatap jemari Jeremy lalu meraihnya. "Aku tidak ingin menjadi wanita lemah, Jer, jika bersama mu menjadikan ku kuat, maka aku akan mencobanya,"


Walau belum yakin dengan perasaan nya saat ini, Hiyola ingin mencoba. Dia ingin mencoba menjadi seseorang yang bisa mengontrol perasaan nya sendiri. Dia tidak mau menyerahkan hati kepada pria yang bahkan tidak bisa memutuskan.


Jeremy tersenyum lebar, dia mengatup tangan Hiyola. "Apa ini kode untuk ku agar segera maju?" tanya nya antusias.


Hiyola hanya bisa mengecilkan bahu, berusaha mengatur perasaan nya sendiri. "Ku harap begitu," ujarnya menciptakan kerutan di dahi Jeremy. "Sudah, jangan di pikirkan. Cepatlah, Grandma pasti sudah menunggu." 


Tanpa aba-aba, Jeremy lalu meraih tangan Hiyola dan dikaitkan pada lengan nya. Ia melempar senyum penuh arti kemudian masuk ke dalam lift yang akan mengantar mereka ke lantai satu. 


Sementara itu, Roberth yang sedari tadi berdiri di balik pintu, mendengar dan menyaksikan segalanya. Tangan nya terkepal keras, buku jarinya memutih begitu mendengar Hiyola menyatakan keinginan nya untuk bersama Jeremy. Walau dalam artian yang samar, Roberth paham kalimat Hiyola tadi. 


"Tidak akan ku biarkan!!!" Melonggarkan dasi pada kemejanya, ia kembali bergumam. "Beraninya kau menyatakan keinginan untuk bersama pria lain, sementara masih terikat hubungan dengan ku!" 


Masih menguatkan keegoisannya dengan klaim kepemilikan, Roberth kembali menyentuh bibirnya.Tamparan Hiyola tadi? Oh, jujur saja itu sama sekali tidak terasa sakit, keterkejutan yang timbul hanya karena ia tidak tahu kapan untuk berhenti. Entah kenapa dia merasa sentuhan tadi bukanlah yang pertama. Rasanya candu seolah ia ingin dan ingin mengulang lagi. 


Terlalu lama melamun, tanpa sadar Roberth menarik sebuah lengkungan aneh di bibirnya. Senyum smirk dengan mata kelabu sayu membuatnya tampak egois. 


"Yang menjadi milik ku tidak akan di miliki orang lain!" pungkasnya serius. 


***


Di bawah, semua orang sedang menunggu. Meja makan sudah tertata rapi, makanan nyaris menghangat namun Roberth belum turun. 


Berulang kali Esmeralda menatap arloji gantung di lehernya. Dia sangat benci keterlambatan, sekalipun itu adalah cucu kesayangan nya. 


"Alberto! Cepat seret Roberth kemari! Bocah itu sudah lama keluar dari rumah, sopan santunnya sudah hilang!" 


Semua orang di meja mulai merasa cemas. Bahkan Kimberly dan Violeta saling menatap cemas. Esmeralda, wanita itu sangat berpendirian, dia tidak akan main-main mau sebesar dan sedewasa siapa pun, peraturan adalah peraturan. Hanya Clodio yang bisa mengontrol ibu nya ini.


Sementara itu, Hiyola yang duduk di samping Jeremy, pun nampak gelisah. Pikiran nya melayang, mengingat-ingat apakah ia menarik pintu atau malah menguncinya. Jeremy sadar akan hal itu, dia memegang jari Hiyola yang saling bertaut gemetar.


"Aku akan mengurusnya," ujar nya pelan. Hiyola menakutkan kedua alis, bingung dengan kalimat yang Jeremy lontarkan namun pria itu hanya mengangguk seraya memejamkan mata pelan. 


Semua orang menatap ke arah nya, bahkan Alberto yang sudah setengah jalan pun berhenti. 


"Ya, kau pergilah Jeremy. Ajarkan adik mu cara nya tepat waktu," sahut Esmeralda. "Alberto, kau kemari dan bawakan aku teh krisan." 


Alberto mengangguk sementara Jeremy beranjak dari tempatnya. Hiyola tidak bisa berhenti melempar pandangan cemas dan Esmeralda melihat itu.


"Tenanglah Hiyola, kekasihku tidak akan hilang," serunya membuat Hiyola tersenyum kikuk. 


Seandainya semudah itu, grandma.


"Oh, iya, Kimberly, kenapa tidak kau ajak suami mu turun bersama?" Esmeralda memang suka membuat orang lain sport jantung dengan pemindahan kalimat tiba-tiba nya. Kimberly tampak kelabakan menjawab, dia sendiri pun tidak tahu keberadaan Roberth.


"Selama berapa jam ini, ku lihat kalian saling menghindar. Apa kalian punya masalah? Alberto juga melapor soal kamar kalian yang terpisah. Apa kau masih mementingkan dunia model dari pada suami mu?" tuntut Esmeralda.


Violeta melempar tatapan tajam ke arah Alberto. Pria itu seharusnya segera melamar Esmeralda dan membawanya menghilang dari rumah ini, mengingat kesetiaan nya. 


"Apa yang terjadi dengan mata mu, Violeta?" Vioelata berbalik melihat Esmeralda, mata tajam nya berubah dengan kerutan di sekitar dan lengkung senyum di bibir.


"Tidak ada, ibu," jawab Violeta selembut mungkin, namun guratan urat di pelipisnya berkata lain. Ini pertama kalinya Hiyola melihat Violeta kikuk setengah mati. 


"Kau pun sama saja! Lebih mementingkan kesenangan dari pada keselamatan putra ku. Lihat yang kau lakukan padanya! Seandainya Helena ada, putra ku pasti akan sehat hingga detik ini," 


Baru kali ini Hiyola melihat Violeta amat murka, wajahnya yang terawat berubah merah padam. Tangan nya terkepal keras namun tidak bisa melakukan apa-apa.


"Ku harap ibu tidak membandingkan ku dengan wanita tidak waras itu!" sahut Violeta pelan, namun giginya terdengar gemertak. Kimberly pun tidak berkutik. 


Brakk...! 


"Beraninya kau menghina menantuku!" geram Esmeralda. Dia berdiri dari posisi semula, wajah nya yang keriput semakin mengerut. Terkejut, semua orang di meja pun ikut berdiri tidak terkecuali Hiyola. Yang ia tahu hanyalah Helena merupakan ibu Jeremy, yang kini sedang sakit, selebihnya masih misteri. 


Violeta mengepalkan kedua tangan, dadanya naik turun menahan emosi.


 "Aku pun menantu mu, Ibu!" teriak nya. 


Esmeralda menaikan satu alis tajam. "Kau tahu aku tidak pernah menganggap mu menantuku! Kau itu hanya benalu dalam kehidupan keluarga putra ku! Jika bukan karena mu, Helena tidak mungkin kehilangan kewarasan nya!" pekik Esmeralda meradang.


Mata Violeta tampak berkaca. Hiyola bisa melihat wanita itu tengah menahan air matanya, bahkan wanita setegas Violeta tampak rapuh dari dalam.


"Kenyataan nya, aku lah yang mendampinginya saat ini!" ketus Violeta mengangkat tinggi wajah nya kemudian beranjak pergi dari sana.


"Hah! Lihat wanita angkuh itu!" pekik Esmeralda geram, dia memang dada hampir terhuyung. Untungnya ada Alberto yang membantu. 


"Napsu makan ku hilang Alberto! Antarkan aku ke kamar putra ku!" 


"Tapi, dokter Steward melarang kita untuk--" 


Tatapan Esmeralda menghentikan kalimat Alberto. "Aku hanya akan melihat dari pintu," ucapnya sayu, kemudian berjalan pergi meninggalkan meja makan tanpa suara. 


Kini tinggalah Hiyola dan Kimberly. Mereka tampak bingung dengan situasi yang terjadi. 


"Wanita tua itu harusnya mati lebih cepat!!!" umpat Kimberly dengan suara pelan namun Hiyola mendengarnya. Dia menatap Kimberly tidak percaya, ia pun memastikan tidak ada orang lain yang mendengar kecuali dirinya.


"Apa yang kau lihat? Sejak kedatangan mu dalam rumah ini, semuanya menjadi kacau! Kau itu benalu kedatangan mu menyebabkan semua kekacauan ini! Bahkan hubungan ku dengan Roberth!" ketus Kimberly sinis. Dia pun ikut berdiri meninggalkan meja, menyusahkan Hiyola dengan pikiran yang berkecamuk. 


"Huh...!" 


***