
Udara berhembus menyapu halus telinga Hiyola. Dia tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Walau mereka sering menghabiskan waktu bersama, ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa menjadi kekasih Jeremy, dosennya, merupakan pilihan yang tepat.
"Apa yang kau bicarakan, Jeremy? Aku tidak mengerti!" Hiyola mundur selangkah. Mata nya menatap tajam, di tengah remang cahaya lampu toko.
Jeremy bergeming, bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu, namun hatinya bimbang. "Aku mungkin mengagetkan mu, Hiyola, tapi percayalah, butuh keberanian besar untuk mengungkapkan hal ini." Jeremy menarik napas sebentar, Hiyola menunggu dengan cemas.
"Aku menyukai mu sejak pertama kali aku melihat mu. Dan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan nya lebih cepat lagi."
Hiyola bukan gadis bodoh yang tidak mengerti dengan sikap setiap pria yang mendekati nya. Tapi, ia tidak pernah membayangkan jika Jeremy akan menyatakan perasaan nya secepat ini, apalagi dengan statusnya yang saat ini masih istri sah seorang Roberth Kohler, membuatnya tidak mungkin menerima perasaan tulus pria itu. Ia pernah sekali membuat kekacauan karena kedekatan nya dengan Daniel, dan tidak ingin melakukan kesalahan yang sama yang akan merugikan Roberth, meskipun pria itu tidak pernah menaruh kepercayaan padanya.
"Jadi, maukah kau menjadi kekasih ku, Hiyola?" Jeremy kembali mengulang pertanyaannya saat melihat Hiyola yang berdiri dengan dahi mengerut.
"Maaf, Jeremy. Aku tidak bisa!" ucap Hiyola. Ia mundur selangkah, mengambil jarak dengan pria baik, yang ia akui akhir-akhir ini telah memberikan rasa nyaman lebih dari yang pernah ia rasakan.
Jeremy meraih tangan Hiyola, di jari
gadis itu, sebuah cincin pernikahan terlingkar walau bukan di jari manis.
"Apakah karena ini? Apa karena pria yang bahkan tidak pernah melihat mu?"
Hiyola hampir tidak bisa bernafas saat Jeremy mengatakan hal tersebut. Dia menghentak tangan nya kuat, untuk melepas diri dari Jeremy. Matanya menatap pria itu penuh selidik dan curiga.
"Kau menyelidiki latar belakang ku, Jeremy?"
Jeremy tidak bergeming, yang artinya,
Ya!
Hiyola memejamkan matanya sebentar. "Jadi kau tahu bahwa aku sudah menikah?"
Lagi-lagi Jeremy tidak menjawab. Siakap diamnya telah menjelaskan segalanya.
"Sejak kapan? Sejak kapan kau tahu hal ini?" Suara Hiyola semakin meninggi. Untungnya kesunyian di lokasi itu menyelamatkan percakapan mereka.
"Sejak pertama kali aku melihat mu, aku mencari tahu segala hal tentang mu. Aku mungkin tidak mengenal pria itu, tapi aku tahu apa yang ia lakukan padamu!" jawab Jeremy. Hiyola bisa melihat kejujuran di sorot mata nya, namun rasa malu kini semakin membelenggu. Hiyola mengira bahwa ia mungkin bisa sedikit menggunakan Jeremy untuk membantu kelangsungan Hidupnya selama tidak bersama Roberth, namun ternyata pria itu tahu segalanya.
Hiyola menekan kedua kelopak matanya, memejamkan nya erat, berharap rasa malu yang ia pendam saat ini bisa tersalurkan. Sungguh, ia merasa seperti orang bodoh.
"Maafkan aku, Hiyola. Aku telah lancang," ucap Jeremy.
Hiyola menggeleng. "Kau tidak salah, Jeremy! Akulah yang salah. Seharusnya aku tidak bersikap seolah aku adalah seseorang yang bisa kau miliki. Aku malu, Jeremy. Itu artinya kau tahu jika selama ini aku--"
"Memanfaat kan ku?" potong Jeremy cepat. Hiyola mengangguk pasrah, dan Jeremy tersenyum hangat. "Jika kau merasa sedikit bersalah, maka jadilah kekasih ku," lanjut nya, namun Hiyola cepat-cepat menggeleng.
"Aku tidak bisa, kau tahu alasan nya. Aku sudah menikah, Jeremy, dan ini bukan sebuah permainan," tegas Hiyola.
Jeremy mengambil satu langkah mendekat, memotong jarak antara mereka. "Mungkin bagimu ini bukan permainan, tapi bagi pria itu? Kau hanya alat untuk melindungi hal lain yang lebih berarti baginya, tidak lebih! Dan aku tahu kau sadar akan hal tersebut!"
Hiyola lagi-lagi mengangguk. Dia tidak menyangkal apapun yang di katakan Jeremy. "Ya, kau benar! Itulah yang dia lakukan, tapi tidak dengan ku." Menarik nafas sebentar, "Aku tahu seperti apa rasanya di khianati, ditinggalkan, dan aku tidak akan menjadi salah satu dari mereka yang melakukan hal itu. Aku akan menjalankan pernikahan ini tanpa menghianati siapa pun."
Hiyola memejamkan matanya, mengingat bagaimana dia ditinggalkan oleh sang ibu. Saat itu langit sudah gelap, petir menyambar, menurunkan air Tuhan membasahi tubuh gadis muda yang bahkan melihat hari esok pun masih sangat ketakutan.
"Maaf, Jeremy. Kau pria baik, tapi aku punya tanggung jawab. Aku terikat, dan tidak bisa melepaskan nya begitu saja," sesal Hiyola, menatap Jeremy dengan mata berair.
Dengan begitu lembut, Jeremy membawa Hiyola ke dalam pelukan nya. "Baiklah, jika itu yang kau mau," ujarnya mengusap lembut puncak kepala Hiyola, membuat sang empu merasa begitu nyaman.
Jika Jeremy adalah orang pertama yang ia kenal, dan orang pertama yang masuk kedalam hatinya sebelum Roberth, dia mungkin akan jatuh cinta tanpa bertanya. Sayangnya, dia hanya manusia biasa yang bahkan tidak bisa mengatur perasaan nya sendiri. Untuk menyukai Roberth dan terluka karena nya sudah cukup membuat Hiyola sadar bahwa tidak ada cinta yang murni di dunia ini. Semua hal selalu punya konsekuensi masing-masing.
Saling mendiami, Hiyola yang masih menyimpan satu pertanyaan di benaknya tadi, memutuskan untuk bertanya.
"Kenapa mata mu memerah saat tiba tadi? Apa sesuatu terjadi, Jeremy?" Dia bisa melihat wajah murung Jeremy lagi.
"Apa yang terjadi, Jer?" tanya Hiyola.
Jeremy menatap tepat kedua iris hitam Hiyola, dia kelihatan ragu-ragu. "Ayah ku, dia sekarat," sahut Jeremy.
Hiyola menutup mulut nya dengan kedua tangan, matanya membulat sempurna.
Jeremy masih menatap wajah cantik Hiyola dengan sangat intens. "Dia sekarat, dan sangat ingin melihatku bersama wanita yang kelak akan menjadi istriku."
"Oh, maafkan aku, Jeremy. Aku tidak..." Kini rasa bersalah mulai menyelimuti dirinya. Hiyola merasa, dia mungkin akan menjadi kekecewaan paling besar untuk Jeremy, orang yang peduli padanya.
"Maafkan aku, karena tidak bisa menjadi wanita itu, Jeremy," sesal Hiyola. Namun, Jeremy malah tersenyum ke arah nya.
"Kalau begitu, ijinkan aku menjadi salah satu pelanggan aplikasi yang akan menyewamu sebagai calon istri untuk di kenalkan kepada kedua orang tua ku Hiyola..." Kini Jeremy mengambil alih kedua tangan Hiyola, dan menggenggamnya penuh harap.
"Tapi aku bukan lagi karyawan di sana, Jeremy. Kau lupa? Aku sudah di pecat." terang Hiyola, mengingatkan.
Jeremy mengangguk, dia tidak mungkin melupakan hari di mana ia hampir kehilangan gadis ini.
"Ya, aku tahu. Aku meminta mu sebagai ganti perkenalan yang gagal saat aku pertama kali menjadi pelanggan mu," ujarnya.
Kini Hiyola menakutkan kedua alisnya, dia kemudian tersenyum malu saat mengingat pertemuan pertama mereka yang begitu memalukan, bahkan menghabiskan waktu bercerita di dalam Jeep hitam.
"Maksudmu, sebagai ganti? Hanya sebuah status pura-pura? Tapi kenapa harus dengan ku? Bukankah, seharusnya kau memilih gadis lain yang tidak memiliki ikatan pernikahan?" tanya Hiyola bingung. Walau beberapa pelanggan terakhirnya memang menggunakan nya untuk menipu segelintir orang, hal itu terjadi karena mereka pun tidak tahu statusnya saat ini. Namun, Jeremy hanya mengdikan bahunya.
"Mungkin karena kau lebih berpengalaman," jawab Jeremy, dengan kedua alis yang diamainkan, membuat Hiyola terkekeh. Dia ingat bagaimana ia menghabiskan waktu, berakting dengan para pelanggannya hanya untuk membantu mereka lepas dari jeratan orang tua yang selalu memaksakan kehendak terhadap anak-anak mereka.
"Jadi, kapan pertemuannya akan di mulai?" tanya Hiyola setelah selesai dengan gelak tawanya, dan keputusan untuk membayar rasa bersalah nya.
"Besok! Dan itu bukan di Indonesia, sayang."
***
Beberapa jam sebelum nya. Kimberly dalam perjalanan pulang kerumah. Semua persiapan sudah di beli untuk malam ini.
[Aku tidak sabar menunggu mu pulang, Honey.]
Pesan sudah di kirim 20 menit yang lalu. Dua centang abu-abu pun sudah berubah biru, namun tidak ada balasan sama sekali. Mencoba tidak memikirkan kemungkinan buruk, Kimberly tetap melakukan mobilnya menuju rumah yang telah ia tempati selama hampir tiga minggu itu.
Tiba di rumah, Kimberly di kejutkan dengan suasana rumah yang nampak lebih sunyi dari biasany. Dia segera menurunkan semua belanjaan, lalu mulai berjalan masuk.
"Dimana semua orang, Ami?" tanya Kimberly. Ekspresi tegang begitu kentara saat dirinya tidak mendapati tanda-tanda keberadaan Violeta dan Clodio.
"Maaf nona, karena sebuah insiden tadi, Tuan Clodio, nyonya Violeta dan Tuan Roberth harus kembali ke Jerman. Tuan Roberth meminta saya untuk menyampaikan penyesalan nya karena tidak bisa mengantar anda kembali ke kediaman anda malam ini juga," terang Ami.
Kimberly bahkan tidak percaya saat Ami menunjukkan deretan kopernya yang telah di susun tepat di depan pintu utama. Matanya memerah dengan tangan mengepal, saat sadar bahwa Roberth sudah tidak ingin terlibat lagi dengan nya.
"Sialan kau Roberth!"
***