
Malam ini tidak seperti biasanya. Dalam dua minggu terakhir Roberth mungkin bisa menahan diri untuk tidak menemui Hiyola dengan bantuan pikiran buruk tentang pekerjaan malam yang gadis itu selami. Namun, bagaimana dengan sekarang, di saat semua tuduhan yang ia lontar kan ternyata tidak benar? Apakah ia masih sanggup menahan diri untuk tidak lagi merindukan nya.
"Argghhh...!"
Roberth menggusar rambut nya frustasi. Wajah tampan nya yang babak belur tidak mengurangi rasa penyesalan yang kian tumbuh menggerogoti.
Sementara di tempat lain, tepat nya di kamar Jeremy, Hiyola dengan cemas mengobati luka memar di sudut bibir pria itu. Dia begitu telaten dan fokus dengan yang dilakukan sampai tidak sadar sejak tadi, sang pasien terus menatapnya tanpa canggung.
"Kau tidak penasaran apa yang sebenar nya terjadi?" Jeremy bersuara. Hiyola menghentikan tangan nya yang mengolesi obat merah. Dia menatap Jeremy sebentar.
"Kalian orang dewasa, apa pun masalahnya aku tidak berhak ikut campur atau mempertanyakan?" Kembali melanjutkan kegiatan nya, Hiyola mencoba menahan diri. Bukan nya geer, perkelahian itu terjadi di kamar nya, jadi pasti ada hubungan dengan dia.
Jeremy berdesis pelan, perih di sudut bibirnya mulai terasa. "Bahkan jika hal itu berhubungan dengan mu?"
Hiyola terdiam. Dia berpikir sejenak, kemudian memberanikan diri untuk mengambil tempat di bibir ranjang tepat di samping Jeremy.
"Katakanlah, aku penasaran,"
Jeremy beringsut sebentar mengubah posisi nya. Ia menatap Hiyola intens. "Aku sudah meluruskan kesalah pahaman antara kau dan Roberth," ujar nya.
Tidak merespon, Hiyola menakutkan kedua alis bingung. Salah paham? Salah paham apa?
"Aku tidak mengerti," jawab Hiyola. Tatapan nya heran.
"Nanti akan ku jelaskan. Tapi ketahuilah salah paham di antara kalian sudah terselesaikan." Jeremy kembali memutar tubuh nya. Ia memutus kontak mata. "Mungkin setelah ini sikapnya mulai berubah. Dia mungkin akan baik pada mu, tidak seperti sebelum nya. Jika sikap nya berubah, bagaimana dengan mu?" tanya nya.
Hiyola masih terheran-heran, namun pernyataan dan pertanyaan Jeremy cukup membuatnya bimbang. Roberth mungkin adalah pria pertama yang telah berhasil mendiami hati nya. Walau baru menyadari tidak akan mudah melupakan perasaan itu, rasa kecewa pada Roberth, pelan-pelan telah menggeser posisi Roberth di hatinya. Terutama saat melihat kedekatan nya dan Kimberly, Hiyola sudah mulai belajar melupakan.
Dengan tekat bulat, Hiyola memutuskan. Mungkin untuk menghindar tidak lah mudah, tapi ia tidak akan menjadi orang bodoh yang jatuh ke dalam pesona Roberth lagi.
Belum menjawab pertanyaan Jeremy, Hiyola mengambil perlengkapan P3K nya lagi. Dia mengambil bahu Jeremy dengan satu tangan dan mengubah posisinya hingga berhadapan. Tangan lentiknya kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Asal kau tahu saja. Aku bukan wanita lemah. Aku wanita berpendirian. Mungkin tidak akan mudah menghindari Roberth karena kenyataan aku menaruh perasaan padanya.Tapi percayalah, tidak akan mudah lagi baginya, seperti pertama kali saat perasaan itu datang," lanjut Hiyola.
Jeremy bisa merasakan hatinya berdenyut mendengar pengakuan gadis yang ia cintai, namun melihat matanya, Jeremy berharap masih akan ada saat di mana ia bisa benar-benar memenuhi hati seorang Hiyola.
***
Hari ke dua di Jerman tidak seperti kemarin yang terasa dingin dan kaku. Semua orang nampak lebih diam saat menyantap sarapan. Rupanya Esmeralda tidak di beritahu tentang kejadian semalam. Ah, ternyata kesehatan Esmeralda lebih penting dari kesetiaan Alberto. Pria itu lebih memilih menutupi kejadian semalam dari pada melihat majikan nya jatuh sakit karena kedua cucu tersayang yang bertengkar.
"Ku harap Jeremy dan Roberth bisa akrab layaknya saudara."
Selesai menyantap sarapan nya, Esmeralda bersuara. Dia senang mendapat kabar dari Alberto tentang kedua cucunya yang sibuk bekerja sama mengurus perusahan. Sejak kecil kedua bocah itu tidak pernah akur sehingga tak jarang Esmeralda harus turun tangan.
"Oh iya, tadi malam Steward mengatakan bahwa kondisi Clodio sudah baik-baik saja. Mungkin dalam beberapa hari dia akan pulih." Esmeralda berbicara. Semua orang di ruangan itu tahu tujuan nya untuk Violeta, namun wanita yang tidak di sebutkan nama nya hanya bersikap acuh tak acuh.
Karena ruangan yang hening, Hiyola yang juga sudah menyelesaikan makan nya, berani angkat bicara. Jujur saja dia bukan tipe gadis pendiam. Sehari tidak bicara, mulutnya terasa gatal.
"Jadi, apakah kami boleh menengok Tuan Clodio?" Astaga, kebiasaan nya memanggil sang CEO yang belum pernah ia lihat batang hidungnya, terbawa-bawa sampai sekarang.
Esmeralda terkekeh pelan, Kimberly menganga tidak percaya pada Hiyola yang baru saja berkenalan dengan Esmeralda berani berbicara pada wanita berwajah garang itu.
"Jagan panggil Tuan, Clodio itu akan menjadi ayah mertua mu kelak, kau tidak perlu memanggilnya seperti itu. Cukup, Daddy. Persisi seperti yang Jeremy lakukan."
Hiyola tersenyum kikuk, "Baiklah, Grandma," balas Hiyola seraya mrnggatuk tengkuknya yang tidak gatal.
Kini fokus Esmeralda kembali teralih pada Violeta. "Kau ajaklah menantu-menantu mu berbelanja. Akan sangat baik jika mereka tidak terjebak di rumah ini padahal berada di luar negri," titah Esmeralda. Wanita tua itu sedikit merasa bersalah atas sikap nya semalam, namun bapaknya sang menantu masih marah.
Violeta meletakkan kain pembersih mulutnya, dia menatap Esmeralda sedikit tidak bersahabat. "Maaf, ibu, menantu ku hanya satu. Aku tidak berkewajiban untuk menyenangi menantu orang lain," ucap nya ketus kemudian berdiri meninggalkan meja.
Esmeralda memandang tidak percaya. Kepalny geleng-geleng melihat tingkah Violeta. "Sepertinya aku terlalu memanjakan dia di rumah ini." Esmeralda melihat Kimberly, "Kejarlah mertuamu, Kim. Katakan pada nya Grandma menyesal atas sikap semalam," tandas nya.
Hiyola dapat melihat kasih sayang keibuan yang di miliki Esmeralda. Mungkin ia tidak terlalu menyukai Violeta, tapi di sini dirinya pun masih berusaha menerima kehadiran nya yang salah.
Sungguh kasih sayang yang rumit.
Sepeninggal Kimberly, Esmeralda memutuskan untuk kembali ke kamar nya di temani Alberto, sedangkan Hiyola, dia diminta Esmeralda untuk berbelanja bersama Kimberly dan juga Violeta. Walaupun wanita itu bersikap angkuh tadi, Violeta tetap akan melakukan apa yang di perintahkan Esmeralda untuk mengajak kedua wanita muda itu untuk berbelanja.
"Persiapkan diri mu. Aku tidak akan menunggu lama!!!" titah Violeta saat Hiyola akan naik ke kamar nya.
Dengan gerakan buru-buru, Hiyola mulai memencet tombol lift. Setelah terbuka dia masuk ke dalam. Ada rasa canggung saat ia harus benar-benar pergi berbelanja bersama wanita yang adalah ibu mertua nya. Mereka tida begitu dekat, bahkan setiap kali beradu kata dengan Violeta semua akan berakhir buruk bagi mereka.
"Ah, sudahlah. Nanti saja baru di pikirkan."
Pintu lift tertutup. Hiyola baru akan menekan tombol angka 7 saat lift kembali terbuka. Ia terkejut saat mendapati Roberth melangkah masuk ke dalam.
"Saya akan naik nanti. Tuan duluan saja."
Baru satu langkah beranjak, tangan Hiyola sudah di cengkram kuat. Roberth tanpa aba-aba menarik Hiyola masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka tujuh, mengacuhkan semua protes yang Hiyola layangkan.
"Kenapa Tuan senang sekali memaksa?" Hiyola berdecak. Ingatan saat Roberth mencuri ciuman nya kembali berputar. Dia benci dengan tatapan sendu yang saat ini Roberth lempar ke arah nya.
"Saya minta maaf,"
***