Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 34 : Saya Hanya Asisten



Angin berhembus, menerpa wajah kedua manusia yang tengah melesat di antara padatnya lalu lalang penghuni jalan raya.


Sesekali terpaan angin kencang akibat lajunya sang pengendara membawa motor, membuat rambut yang menjuntai di luar helm, terbang ke sana ke mari.


Wajah pria yang menjadi penumpang tampak menekuk, awal nya. Lama-kelamaan dia pun menikmati alur dan keadaan yang di suguhi sang wanita.


"Bagaimana tuan?!! Menyenangkan, bukan?" goda Hiyola, sedikit berteriak, terpaan angin membawa suaranya hingga nyaris tidak terdengar.


Roberth sang penumpang tidak menjawab. Dia hanya menunjukkan respon wajah kesal lewat kaca spion, membuat Hiyola mengulum senyum. Dalam hati Hiyola amat bersyukur karena niatnya mengerjai Roberth sudah berhasil.


Padahal sebenarnya, setelah memalingkan wajah, giliran Roberth yang mengulum senyum. Jika tahu naik motor berdua akan semenyenangkan ini, dari dulu ia akan belajar membawa motor, dan pergi berdua bersama Hiyo-eh, maksudnya Kimberly.


"Kita kemana dulu, tuan!?"


Pertanyaan Hiyola membuyarkan lamunan nya. Roberth melirik jam pada arloji, sebentar lagi sudah pukul 12, jadi mereka akan makan lebih dulu.


"Makan!" balas Roberth.


Hiyola langsung menelan saliva. Makan biasanya satu hal yang sangat menguras uang, apalagi bagi mereka si manusia kaya. Dia menyentuh saku celana jeans nya dengan gusar. Makan yang Roberth maksud, bukan di restoran, kan?


"Di mana tepatnya, tuan?" Hiyola berusaha bersikap setenang mungkin. Walau dalam hati begitu cemas, dia tetap berusaha bersikap santai.


"Kamu tahu, House of Cuisines, kan? Di sana."


Chiiitttt.....


Hiyola mengerem mendadak, membuatnya mendapat kecaman tajam dari beberapa pengendara lain. Dengan rasa bersalah, dia meminta maaf kepada beberapa pengendara tersebut, kemudia kembali melajukan motornya.


Matanya menatap tajam lewat spion. "Tuan tidak sedang bercanda, kan? Uang saya tidak akan cukup!" ujarnya memelas.


Siapa yang tidak tahu House of Cuisines, adalah orang paling kudet sedunia. Restoran termahal dengan takaran porsi yang amat kecil tersebut membuat orang seirit Hiyola akan berpikir seribu kali, bahkan sejuta kali untuk makan di sana.


Hiyola pernah satu kali, makan di sana. Saat itu Hiyola berperan sebagai tunangan seorang pria berusia 30 tahun, salah satu klien nya dari aplikasi Meet Me, yang dipaksa menikah lagi setelah baru sehari istrinya meninggal. Dirinya bahkan sama sekali tidak merasa kenyang setelah menelan tiga porsi makanan.


"Jadi kamu tidak mau?"


Tentu saja Hiyola mengangguk. Uang yang dia dapatkan selama bekerja seminggu juga tidak akan cukup untuk memesan satu porsi makanan di restoran tersebut.


"Kita makan di warung terdekat saja, ya, Tuan?" pinta Hiyola. Sebenarnya jika dia bisa, dirinya ingin mengubah kalimat permintaan tersebut menjadi sebuah kalimat perintah, akan tetapi, yang menjadi bos di sini bukan diri nya, melainkan pria tidak berperasaan yang saat ini menjadi penumpang nya.


Roberth langsung menggeleng dengan dalih dirinya pun tidak menolak saat Hiyola meminta hal-hal aneh dari nya kala itu.


"Tahu begitu, aku akan minta emas batangan!" Hiyola memanyunkan bibirnya sambil menggerutu pelan. Roberth yang melihat lewat spion menarik seulas senyum singkat yang kembali di ubah datar.


"Pertigaan di depan sana, jangan lupa belok!" ujarnya melihat Hiyola lewat cermin tersebut. Hiyola tidak merespon, dia malah melambatkan laju kendaraan, berharap ada sedikit rasa kasihan dari penumpang menyebalkan nya, sehingga dirinya tidak perlu bebelok di pertigaan depan, dimana letak restoran mahal tersebut berada.


"Tuan tidak ingin berubah pikiran?" Jarum gas motor semaki menurun, bahkan sudah kurang dari angka 20.


Roberth kembali menggeleng. Dia memegang kedua bahu Hiyola. "Jangan lupa belokan!" Suaranya malah semakin menekan pada setiap kata, membuat tangan Hiyola semakin melemas. Ingin rasanya ia berpura-pura kehabisan bensin atau motornya rusak agar mereka tidak perlu sampai disana, namun dirinya sangat yakin bahwa Roberth tidak akan mudah di bodohi.


Hampir 5 menit mereka baru sampai di depan restoran mewah tersebut. Padahal jika secara normal, harusnya hanya beberapa detik saja.


Dalam diam Hiyola memarkirkan motornya di tempat khusus untuk kendaraan beroda dua. Di halaman parkir tersebut hanya ada motornya saja, sementara lahan bagian parkir mobil penuh dengan berbagai macam merk kendaraan dari jenis kalangan menengah sampai yang paling mahal.


"Hanya orang gila yang masuk ke tempat ini dengan motor." lirih Hiyola, mengusap pelan si Hope yang kelihatan kesepian. Tentu saja para pelanggan di sana adalah orang-orang berduit.


Setelah memastikan urusan Hiyola dengan motornya selesai, Roberth langsung melenggang masuk lebih dulu.


Beberapa karyawan yang berada di dalam restoran menatapnya takjub. Ini adalah pertama kalinya Roberth datang ke restoran dengan penampilan yang cukup Kasual. Rambut yang selalu rapi kini terlihat sedikit berantakan, bahkan tubuh atletis yang biasanya tertutup jas, semakin kentara di balik kemeja putih yang sedikit transparan sehingga membuat para pelanggan wanita pun ikutan melirik ke arah nya.


Dari belakang Hiyola mengekori sambil sedikit berlari kecil. Kaki panjang Roberth memang selau membuatnya tertinggal.


"Anda kelihatan sangat berbeda hari ini, Tuan Roberth."


Seorang wanita dengan tubuh tinggi dan paras cantiknya menghampiri meja Roberth dan Hiyola. Di bagian papan nama yang bertengger di dada kanannya tertulis 'Restaurant Manager'.


"Anda terlihat sangat tampan dengan penampilan ini."


Roberth tidak lantas menjawab pujian jelas tersebut. Dia malah mengambil daftar menu, dengan sikap acuh tak acuh, membuat wanita tadi sedikit kesal.


Wanita cantik yang sudah mengenal Roberth sebagai pelanggan setia selama hampir tiga tahun tersebut, memasang tampang kesal saat melihat interaksi Roberth dan Hiyola.


Selama ini wanita itu menyimpan rasa suka nya terhadap Roberth. Bahkan saat dirinya tahu bahwa Roberth memiliki banyak wanita pemuja, dia tetap melangkah maju. Karena nya setiap kali Roberth datang ke restoran tersebut, dirinya yang akan mengambil alih untuk meja pria itu.


Sebenarnya bukan baru-baru ini saja, dahulu bahkan saat bersama Kimberly pun, wanita itu terang-terangan menunjukkan ketertarikan nya.


Dirinya sempat berhenti bersikap lancang saat Kimberly mengancamnya, namun karena akhir-akhir ini Roberth hanya datang berdua bersama Petra, Wanita tersebut jadi berani lagi.


Karena tidak mendapat respon, wanita tersebut kembali mencoba mencari perhatian Roberth.


"Wah, Tuan punya asisten baru, Rupanya." ujar wanita itu lagi.


Kali ini Roberth benar-benar menatap wanita bernama Ayu itu, dengan tatapan tajam.


"Dia ist--"


"Saya hanya asisten sementara."


Belum sempat Roberth menjawab, Hiyola sudah lebih dulu menyela. Mendapati respon tersebut, Ayu jadi kegirangan sendiri. Padahal dirinya sempat khawatir, kalau-kalau Hiyola adalah pacar baru Roberth, ditambah Ayu yang selalu mengenakan make up tebal tersebut sempat merasa iri dengan kecantikan Hiyola yang sangat natural.


"Tuan Petra sedang sakit, jadi saya menggantinya." lanjut Hiyola.


Dia lantas melirik pria di samping yang tengah menatap tajam ke arah nya, setelah menyela nya tadi.


Dengan cepat Roberth meraih tangan Hiyola, kemudian membawanya keluar dari sana. Wajah pria itu tampak merah padam. Dirinya bahkan tidak tahu alasan Hiyola yang selalu menyangkalnya sebagai suami, padahal wanita mana saja pasti akan mengakuinya sebagai kekasih mereka tanpa pikir panjang.


"Tuan, tidak jadi makan?" Tanya Hiyola polos, sama sekali tidak peka, ketika mereka sudah berada di parkiran. Dirinya bahkan sibuk merapikan poni yang sedikit berantakan.


Ingin rasa nya Roberth mengacak kembali rambut Hiyola, saking kesalnya.


"Kau! Argh...!" Roberth mencengkram rambutnya frustasi. Ini merupakan kedua kali wanita itu menyangkal nya.


Hiyola lantas mendelik. "Tuan, marah? Apa saya melakukan kesalahan?" tanya nya kebingungan. Dirinya tidak merasa melakukan kesalahan apa pun, sampai Roberth harus bersikap seperti itu. Bukan kah dengan berjalan keluar seperti tadi akan merusak reputasinya?


"Kamu menyangkal saya lagi, apa alasan nya?" ungkap Roberth, akhirnya.


"Menyangkal?" Hiyola mengernyit sebentar. "Oh, soal tadi?" Dia manggut-manggut.


"Seperti nya wanita tadi menyukai tuan. Saya tidak enak kalau sampai dia tahu Tuan sudah menikah."


Roberth bahkan sampai menganga tidak percaya dengan alasan konyol tersebut.


Memang benar Hiyola tidak ingin mengakui Roberth, karena dirinya tidak mau Roberth kehilangan kesempatan untuk di dekati wanita manapun. Walau sesuatu di sudut hatinya juga tidak rela, namun, pernikahan mereka akan berakhir, dan pria itu harus tetap melanjutkan hidup nya.


"Saya tidak mau tuan melajang setelah kita bercerai nanti." tambah nya. Roberth menatap sinis.


"Alasan macam apa itu? Tidak ada istri yang rela suaminya di goda wanita lain. Bahkan hal sederhana seperti itu saja kau tidak paham?" geram Roberth. Dia tidak tahu harus berbicara seperti apa agar Hiyola dapat mengerti, bahwa dirinya tengah kesal sekarang.


Hiyola lantas menjadi salah tingkah. Mereka bertengkar hanya karena dirinya menyangkal pria itu sebagai suami. Lalu apa yang Roberth harapkan darinya, bukankah status tersebut hanya sandiwara?


"Apa saya harus kembali ke dalam, lalu mengatakan yang sebenarnya?" Hiyola sudah akan mengambil langkah untuk kembali ke dalam. Dia jadi kesal sendiri. Padahal di dalam peraturan kontrak, Roberth bersikap seolah akan memakan nya jika status mereka terbongkar.


"Tidak perlu!" cegat Roberth yang sudah tidak mood lagi. "Kita ke tempat lain!"


Hiyola spontan mengembangkan senyumnya, sama sekali tidak peka. Dirinya sama sekali tidak merasa bersalah, dan dengan girang menaiki motornya.


"Asik! Uang ku tidak jadi direnggut." gumamnya pelan namun terdengar di telinga Roberth.


Melihat senyuman manis Hiyola, Roberth jadi kesal sendiri. Kadang-kadang senyuman itu membuat hatinya bergemuruh, terkadang malah menyebalkan.


"Berhenti tersenyum! Atau saya berubah pikiran!" Kecaman Roberth tersebut tidak Hiyola acuhkan. Dia bahkan bersenandung kecil, sambil melakukan si Hope.


"Kalau mau berubah pikiran, lompat saja sekarang!" gumamnya amat bahagia. Dia sengaja melaju kencang agar tidak perlu mendengar ocehan Roberth.


"Kemana tujuan Anda, tuan?"


***