Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 35: Surprise Hiyola...



Hiyola duduk seraya bertopang dagu. Pandangan nya tajam, menatap pria tampan di depan yang sedang melahap hidangan nya.


"Kamu tidak makan?" Roberth bertanya saat dirinya tengah sibuk mengiris daging steak pesanan nya.


Hiyola menggeleng, "Tidak, Tuan. Saya masih kenyang."


Tentu saja Hiyola berbohong. Saat ini perutnya sudah keroncongan, menahan lapar di tambah menyaksikan Roberth melahap makanan nya, Hiyola jadi tambah ngiler. Seumur-umur Hiyola sama sekali tidak pernah membeli daging steak untuk dirinya sendiri. Sekalinya beli, malah di makan suami tidak berperasaan ini.


"Tidak lapar tapi liurmu sudah hampir meleleh." Roberth mengisi sepotong steak ke dalam mulut.


Hiyola buru-buru menegakkan tubuh nya. Karena lapar ia jadi hilang fokus. Dengan satu gerakan dirinya sontak mengusap liur yang padahal tidak ada tersebut, sampai membuat Roberth terkekeh pelan.


"Dasar bodoh," ejek Roberth, dengan senyum menawan nya.


Sebuah tatapan setajam silet Hiyola lemparkan ke arah Roberth. Namun, pria paling ahli mengacuhkan nya tersebut malah tidak bergidik dan terus melanjutkan makan nya, dengan wajah mengejek.


Jantung Hiyola mulai berpacu lebih cepat saat melihat makanan Roberth sudah hampir selesai. Dirinya meneguk air putih gratis yang di sediakan restoran, dengan mata awas yang tertuju pada piring.


Mereka memang tidak jadi makan di restoran termahal sebelum nya, namun restoran saat ini hanya turun dua standar, yang mana makanan nya masih lumayan mahal.


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan pria berjalan ke meja mereka. Hiyola menelan liurnya sembari menatap pria tersebut dengan mata sayu.


"Total satu Aussie Yuu Beef Steak dan Anggur, 438.000.00."


Rahang Hiyola hampir saja jatuh, mulutnya menganga tidak percaya atas apa yang telinga nya dengar. Daging secuil dan anggur merah tidak sampai penuh gelas saja harganya bisa membeli puluhan nasi padang yang tentunya lebih mengenyangkan.


Sambil menyengir tidak jelas, Hiyola menggaruk belakang telinga, seraya menatap sang pelayan, lesu. "Boleh tidak, ya. Saya cuci piring di sini untuk separuh harga?"


Giliran pelayan pria dan Roberth yang menganga. Keduanya menatap Hiyola tidak percaya.


"Maaf, nona. Kami tidak menerima bayaran dalam bentuk jasa," Wajah pelayan tersebut berubah masam. Dia beralih menatap Roberth. "Bagaimana jika pacar nona saja yang membayar?" saran nya dengan nada sedikit sinis.


Namun, buru-buru Hiyola menggeleng. Ini merupakan tanggung jawab nya.


"Baiklah saya akan membayarnya." Dengan gerakan lemas, Hiyola mengeluarkan lembar-lembar uang dari saku celana jeans. Wajah nya nampak sangat tidak rela saat menghitung jumlah yang harus dj keluarkan. Empat ratus ribu, jumlah yang dapat dirinya peroleh setelah bekerja kesana kemari, selama seminggu lebih akan hilang hanya dalam satu kedipan mata.


Tangan Hiyola bergetar saat hendak memberikan uang tersebut, dirinya bahkan sempat tarik menarik dengan pelayan pria, saking tidak rela nya.


Setelah mendapat kembalian 18 ribu, mata Hiyola berkaca. Mungkin bagi Roberth uang sejumlah tersebut bukan apa-apa. Namun, bagi Hiyola, itu adalah keringat nya selama seminggu lebih, kerja keras yang ia dapatkan dari bekerja di berbagai macam tempat, dengan jumlah upah tidak menentu. Dirinya bahkan sampai harus mencuci pakaian orang, membuang sampah mereka bahkan sampai membersihkan kamar mandi yang tidak terkira bau nya.


"Tuan sudah kenyang bukan? Ayo pergi!"


Suara Hiyola terdengar kesal di telinga Roberth. Gadis itu bahkan tidak menatapnya saat bicara. Dia sibuk berjalan sambil menyembunyikan raut wajah nya. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat Roberth sadar bahwa Hiyola sedang marah.


"Setelah ini Tuan mau ke mana lagi?" Hiyola menatap Roberth lewat spion motornya dengan jengkel. Namun, Roberth yang sibuk melihat ke arah lain tidak menyadari hal tersebut. Roberth ini memang manusia kaku yang sangat tidak peka.


"Setelah ini kita cari makan untuk mu dulu."


Hiyola lantas membuang nafas kasar. Untuk saat ini dirinya tidak ingin mendengar kata 'Makan'!


"Saya kenyang, Tuan. Anda tidak perlu khawatir!" balas Hiyola judes.


Roberth kini menatapnya Hiyola lewat spion saat gadis itu tengah fokus mengendara. "Dia marah?" ia membatin.


"Ya, sudah, jika kamu tidak lapar. Selanjutnya kita ke wahana permainan."


Mendengar permintaan aneh tersebut, Hiyola melirik Roberth lewat kaca spion. Menurutnya Roberth memang sudah tidak waras. Mana ada taman bermain buka di siang hari? Ada-ada saja!


"Kenapa melihat saya seperti itu? Apa hanya kamu yang boleh pergi ke wahana permainan dan saya tidak?"


Hiyola memutar mata, jengah. "Tidak, tentu saja Tuan boleh pergi ke sana." di otak nya tawa menyeramkan telah memenuhi kepala.


"Lihat saja! Sampai disana tidak akan ada apa pun. Dan jika dia meminta hal lain, aku akan langsung menjitak kepala bodoh nya."


"Kenapa menyeringai?"


Hiyola menggeleng lagi, lalu mulai melajukan motornya.


***


Hiyola berdiri terpaku, matanya membulat sempurna, mulutnya bahkan sampai menganga. Di depan sana di wahana permainan, tempat tersebut begitu ramai. Seluruh wahana difungsikan seolah malam hari. Padahal selama yang ia tahu wahana ini hanya buka ketika sore hari atau malam.


"Bagaimana--"


Dengan girang, Hiyola langsung berjalan memasuki pintu arena permainan. Baru selangkah, dirinya di kejutkan dengan tiupan trompet dan beberapa anak yang masuk dengan balon bertuliskan happybirthday, di tambah tepuk tangan dan nyanyian dari semua pengunjung.


Mata Hiyola berkaca, hatinya terenyuh saat Roberth masuk diantara gerombolan orang dengan sebuah kue ulang tahun dan lilin angka 26.


Air mata Hiyola mengalir, bersamaan dengan kekehan kecil karena angka tersebut. Dirinya bahkan lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun nya.


"Apakah Tuan yang merencanakan semua ini?" Hiyola bertanya sembari mengusap air matanya.


"Ck, padahal saya mau merayakan diner mewan nanti malam. Tapi karena kamu mengganti style saya, jadinya pesta ultah mu di sesuaikan dengan kostum."


Yup! Roberth sebenarnya mengenakan jas rapi tadi, bukan tanpa alasan. Dirinya memang berencana membawa Hiyola untuk merayakan ulang tahun gadis itu di tempat-tempat yang mewah dan resmi, sayang nya karena miss komunikasi, Roberth mengubah rencana. Dia bahkan sengaja melambat-lambat kan proses makan sampai menggonta-ganti restoran hanya agar Petra bisa mengurus perubahan rencana mendadak ini.


Hiyola tertawa garing mendengar penuturan Roberth. Ini adalah kejutan ulang tahun pertama setelah sekian lama dirinya tidak pernah mendapatkan surprise apa pun. Dia bahkan pernah memarahi Miona hanya karena adiknya itu membeli kue ulang tahun, yang menurutnya hanya membuang uang.


"Cepat tiup lilin nya! Tangan saya pegal."


Hiyola tahu Roberth tidak bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya. Pria itu hanya tidak bisa mengekspresikan perasaan nya sendiri.


Sekali tiup, lilin dengan angka 26 itu langsung padam. Hiyola sedikit tersenyum saat melihat angka tersebut, dirinya bersyukur bisa berada di usianya yang ke 24 tahun.


"Dewasalah...!" Roberth mengacak lembut puncak kepala Hiyola. Kali ini ia sama sekali tidak menyembunyikan senyum merekah, membuat Hiyola yang paling tidak suka rambutnya di acak, jadi tersipu malu.


"Terimakasih Tuan," ucap Hiyola tulus. Air mata masih mengalir di pipinya.


Roberth tersenyum. "Happy birthday , Hiyola Anstasya." sekali lagi Roberth meletakkan tangan nya dia atas puncak kepala Hiyola, namun bukan mengacak nya, dia malah mengusap lembut kepa gadis yang selalu berhasil membuat harinya lebih berwarna.


"Maaf, ya, untuk 438.000.00 yang lenyap tadi." ucap Roberth sinis. Tangan nya masih mengusap lembut.


Hiyola spontan tertawa sambil mengangguk, lucu. Bisa-bisa nya Roberth berkata seperti itu di saat suasana nya sedang romantis begini.


"Jadi, saya boleh memainkan semua wahana disini secara cuma-cuma?" tanya Hiyola dengan mata berbinar. Roberth mengangguk.


Cekatan, Hiyola sontak menarik tangan Roberth untuk ikut bersamanya.


"Eh, saya tidak ikut. Kamu saja." Wajah Roberth sudah memucat saat mereka berhenti tepat di depan wahana yang mereka sebut 'Tornado'.


***


Waktu menunjukkan pukul 20.08 saat Hiyola dan Roberth keluar dari kawasan bioskop. Setelah surprise di wahana permainan tersebut, Roberth yang menanggung semua biaya jalan-jalan mereka.


"Lain kali kita tidak akan menonton film Horor!"


Roberth menampakkan wajah kesal, seraya mengusap seluruh lengan yang tersisa bekas cakaran kuku Hiyola. Padahal rencana nya ia ingin mengajak Hiyola untuk menonton film Romantis, tapi gadis itu malah bersikukuh untuk menonton film horor, dan Roberth berakhir sebagai korban.


"Maaf Tuan, saya tidak menyangka pengabdi setan malah semenyeramkan itu." Hiyola membalas dengan gestur bergidik ngeri. Membayangkan adegan menyeramkan tadi, wajah nya jadi takut setengah mati. Roberth yang tadinya sempat kesal, malah tersenyum melihat tingkah Hiyola.


"Kapan kau akan dewasa?" ejek Roberth, memasukkan satu tangan ke dalam saku, kemudian berjalan menuju parkiran. Hiyola yang tidak mendengar, mengekori Roberth sambil terus bergidik membayangkan setiap adegan di film tadi.


***


Hope membawa Roberth dan Hiyola melewati ramainya lalu lintas malam. Lampu-lampu kota menerangi setiap sisi jalan, menambah keindahan malam itu.


Tanpa sadar, satu tangan Roberth terulur kedepan, menyentuh pinggang Hiyola dengan posesif, membuat gadis itu menahan nafas degdegan. Jantungnya berpacu sangat cepat, saking kuat nya Hiyola takut Roberth bisa mendengar.


"Kamu membuat saya bingung," ucap Roberth tiba-tiba, dengan suara rendah sehingga Hiyola tidak bisa mendengar nya. Matanya sibuk melihat Hiyola lewat spion.


Tidak lama setelah nya, Hope memasuki kawasan rumah milik Roberth. Hiyola memarkirkan motor, menatap Roberth sedikit kesal. Pria itu tidak pernah menunggu nya, dia selalu pergi lebih dulu.


Setelah selesai dengan urusan nya, Hiyola langsung berlari kecil mengekori Roberth. Di kedua tangan, Hiyola menenteng empat kresek besar penuh ayam goreng yang Roberth pesan untuk Hiyola dan Mbok Ami. Saking bahagia dengan kegiatan mereka, Hiyola sampai lupa makan, padahal Roberth berkali-kali memaksanya, namun gadis itu malah menolak, katanya dia sudah biasa.


"Untung aku sedang bahagia. Kalau tidak, sudah ku lempar kepalanya dengan satu paha ayam." gerutu Hiyola, seraya tersenyum semringah.


Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Saat Roberth yang berada empat langkah di depannya membuka pintu.


Brakk....


Satu pelukan erat mendarat menubruk tubuh bidang Roberth. Hiyola lantas menghentikan langkah, kakinya tidak lagi bisa bergerak. Senyum yang tadi luntur seketika.


"Kimberly..."


***