Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 20 : Bertemu pelanggan



"Hai, Hiyo..." 


Hiyola dan Daniel sama-sama menoleh. Bram; ayah Daniel, berteriak dari garasi mobil. Rupanya pria 58 tahun tersebut baru kembali dari kantor yang mana jelas terlihat dari penampilan nya. 


Hiyola menghentikan Hope tepat di dalam gerbang. "Hai, Om!" sahut nya. Sementara Daniel turun dari motor. 


"Tidak mampir, huh?" tawar Daniel. Hiyola menggeleng, kemudian menaikkan lagi standar motor nya.


"Sudah hampir pukul empat." balas Hiyola dengan raut wajah menyesal, sembari menggoyang arloji di tangan. 


Bram yang mendengar percakapan putra dan sahabat nya berjalan mendekat. 


"Sudah lama Hiyola tidak mampir." ucap Bram.


Hiyola mengangguk canggung. "Maaf ya, Om. Akhir-akhir ini aku punya banyak pekerjaan. Ini saja aku harus bertemu klien dari aplikasi." 


Bram yang sudah cukup mengenal Hoyola, tersenyum lalu mengangguk. Dia tahu pekerjaan yang Hiyola maksud. Akhir-akhir ini Daniel pun banyak membicarakan nya. 


"Ya, sudah." Sahut Bram.


Dahulu Bram pernah menawarkan pekerjaan dengan jabatan yang cukup layak di perusahan nya, tapi sayang nya Hiyola menolak dengan alasan tidak mau mengambil posisi yang ia sendiri belum layak tempati. Oleh sebab sikap jujur dan rendah hati Hiyola, Bram selalu senang melihat kedekatan Daniel. 


"Lain kali saja mampir nya." imbuh nya.


Hiyola mengangguk, kemudian menyalakan Hope, berpamitan pada Daniel dan Om Bram lalu mulai melaju meninggalkan kawasan perumahan elit tersebut. 


Waktu nya hanya tersisa 30 menit untuk tiba di cafe yang telah di sepakati bersama klient.


***


Setelah menempuh hampir 29 menit, akhirnya Hiyola tiba di lokasi yang telah di janjikan, kemudian mulai memarkirkan Hope di tempat yang sudah di sediakan. 


Mata Hiyola berbinar saat menyaksikan penampilan cafe yang sangat keren menurutnya. 


Cafe tersebut hanya berupa sebuah lapangan besar tanpa atap yang terdiri dari tatanan kursi dan meja, tidak ada pintu maupun dinding. Hanya sambungan sambungan lampu Tumbler lah yang menjadi penghias nya, di tambah suasana sore menjelang malam membuatnya terlihat sangat indah dan menyenangkan di tengah sayup-sayup suara tawa yang terbawa angin.


Hiyola berdecak kagum, "Pantas saja nama nya, 'Awesome cafe'!"


Matanya mengerjap beberapa kali. Ia tidak pernah tahu kota nya memiliki tempat seindah ini. 


Berjalan mendekat, Hiyola melewati sebuah sekat yang tidak berpenyanggah. Dari kejauhan ia bisa melihat banyaknya pelanggan Cafe dan tepat di tengah, seorang pria bule  berusia sekitar 60-an tahun, tengah duduk sendiri menatap orang-orang di sekeliling nya. 


Pria tua tersebut nampak sangat kesepian. Untuk sejenak, Hiyola teringat akan ayah nya. Mata Hiyola kemudian berpindah ke atas meja, di sana terletak sebuah kertas dengan tulisan, 'Meet Me' yang mana merupakan kode bagi setiap klien maupun karyawan yang hendek bertemu. 


Dengan langkah pelan Hiyola mendekati pria tersebut, sambil harap cemas semoga pria tersebut tidak akan masuk dalam black list pelanggan nya. 


"Tuan, C?" begitulah kira-kira panggilan yang di inginkan san klient, menurut data aplikasi. 


Pria tersebut menoleh, mengangguk, dan mempersilahkan Hiyola duduk, hanya dengan gerakan tangan nya.


Beberapa saat setelah Hiyola duduk, pelayan membawakan dua cangkir kopi hangat dengan camilan pendamping. 


Hiyola terus memperhatikan pelanggan nya. Wajah nya cukup tampan untuk seorang pria berusia. Dari perangai nya, Hiyola bisa menebak Tuan C ini seorang yang berwibawa, mungkin seorang pemimpin di suatu agensi. Namun yang paling indah, adalah mata, mata nya berwarna keabuan dan nampak sayu. 


Tuan C terus saja mengedarkan pandangan nya, menyaksikan semua pengunjung yang ada. Kadang ia menyunggingkan senyum simpul di wajah keriput nya.


Alis Hiyola mengerut, ia baru sadar satu hal.


"Seperti nya beliau ini, bisu." batinnya seraya mengangguk-angguk. "Sungguh kasihan." timpalnya lagi. 


"Saya berharap memiliki hari tua yang menyenangkan, selayaknya mereka." ucap Tuan C, matanya masih menerawang ke segala arah. 


Hiyola spontan menoyor kepalanya sendiri. Sikap sok pintar nya langsung dipatah kan saat Tuan C berbicara barusan. Bahkan bahasa Indonesia pria itu sangatlah lancar. 


"Saya berharap tidak pernah melakukan kesalahan itu." kali ini mata Tuan C melihat Hiyola. Terlihat jelas penyesalan di mata keabuan nya. "Maaf saya menceritakan hal ini kepada mu."


Hiyola mengangguk, ada sedikit rasa syukur karena pria tersebut tidak seperti yang ia pikir sebelumnya. 


"Tidak masalah tuan, saya memang di bayar untuk itu." sahut Hiyola ceplas-ceplos. 


Tuan C tertawa garing. "Saya suka sikap gadis seperti mu." ujar nya merasa lucu dengan Hiyola yang terlalu jujur. Lalu seperti biasa, Hiyola hanya bisa menggaruk telinga nya karena salah tingkah.


Tuan C menyesap kopi nya. Matanya menerawang jauh. 


"Saya telah menyakiti wanita yang saya cintai." Tuan C tersenyum getir, meletakkan cangkirnya kembali. "Saya punya dua putra dari dua wanita berbeda."


Hiyola menarik nafas dalam. "Huh, topik nya berat." gumam Hiyola dalam hati. 


"Saya menyakiti istri yang paling saya cintai dan memilih hidup bersama wanita lain." 


Lagi-lagi Hiyola tidak berkomentar. Dirinya bahkan belum pernah jatuh cinta. 


Tuan C menunduk memijat pelipis. penyesalannya begitu kentara.


"Saya menyakitinya berkali-kali hingga ia begitu terpuruk. Saya mengkhianatinya dan juga putra saya hanya untuk bersama wanita lain. Dan kini, saya mulai menyesal." 


Hiyola bingung mau bereaksi seperti apa. Sudah tentu si Tuan C ini bersalah disini. Tapi, ia tidak mungkin menghakimi nya saat ini. 


"Ya, sudah, tinggalkan saja istri baruTuan ." lagi-lagi Hiyola tidak pakai hati dan hanya menggunakan otak tidak peka nya. 


Kali Tuan C langsung mengangkat wajah nya melongo. Dia shock dengan saran dari teman minum kopinya. Di detik berikut, pria itu sontak tertawa sambil memegang perutnya. 


"Kamu gadis kecil, selalu mengatakan apa yang kau mau, hm..?" ujarnya masih tergelak. 


Hiyola menatap intens wajah tampan Tuan C. Pria yang nampak tertekan sebelum tadi, kini sudah sedikit lebih baik. 


"Sepertinya saya harus mendengar pendapat dari gadis jujur seperti mu." ujar Tuan C seraya kembali mengangkat gelas nya. 


Hiyola menggeleng sebentar. "Maaf sebelum nya tuan. Saya pribadi tidak berpengalaman dalam hubungan percintaan. Namun, boleh kah saya berkata jujur?" 


Tuan C meletakkan Cangkirnya seraya mengangguk. "Tentu saja, sebab itu saya ingin mendengar pendapat mu." balas tuan C mengiyakan. 


Hiyola menarik nafas sebentar. Nampak ragu-ragu. 


" kalau bisa saya katakan, Tuan itu seorang yang brengsek." 


Uhuk... 


Tuan C seketika tersedak karena kalimat Hiyola barusan, namun bukan nya marah, dia malah terkekeh mengakui apa yang Hiyola katakan. Membuat Hiyola membelalak karena reaksi Tuan C. 


"Lanjutkan saja, saya hanya kaget karena tidak pernah ada orang yang berani mengatakan hal tersebut, langsung di depan saya." ujar tuan C di sela-sela tawa nya. 


Hiyola menggaruk telinga nya lagi. Mulutnya memang tidak pernah bisa di kontrol jika berhubungan dengan penghianatan dan sejenis nya. 


"Jadi, di sini sudah jelas Tuan yang bersalah. Saya tidak ingin memberi pendapat dari pihak wanita-wanita yang sudah tuan sakiti. Tuan dan wanita-wanita itu mungkin hanya terhubung lewat secarik kertas; akta pernikahan, maupun sebuah janji. Namun, hubungan dengan putra-putra Tuan merupakan hubungan darah. Tuan tidak bisa memutuskan hubungan itu begitu saja. Dengan memilih hidup bersama salah satu wanita."


"Sebagai orang tua, Tuan tidak bisa meninggalkan anak Tuan , entah untuk alasan apa pun. Sebab Tuan tidak akan pernah tahu seperti apa mental seorang anak yang di tinggal orang tua nya. Sakit, kesepian, rasa penghianatan, putus asa, itulah yang kami, anak-anak rasakan. Sekalipun sudah dewasa, kami anak-anak tetaplah seseorang yang butuh kalian, terlepas dari masalah ataupun kondisi kalian sebagai orang tua." 


"Karena kalian lah, kami ada. Karena Tuan lah putra-putraTuan , ada. Jadi, saya mohon jangan pernah membuat keputusan yang menghancurkan anak-anak anda. Saya tidak peduli seperti apa Tuan menyelesaikan masalah dengan para wanita, bisa saya pastikan sangat rumit, tapi jangan pernah tinggalkan anak anda, karena saya tahu betul bagaimana rasanya ditinggal oleh orang tua." 


Tuan C tertegun mendengar penuturan gadis muda di depan nya. Gadis yang tampak lucu dan ceplas-ceplos ternyata memiliki pemikiran yang luar biasa. Bahkan matanya menunjukkan luka yang amatlah dalam.


"Saya tercengang." ujar Tuan C tepat setelah Hiyola menyelesaikan pidatonya. 


Sruuutttt....


Hiyola tak menggubris pujian tuan C, dia sibuk menyeruput kopinya karena mulut yang tiba-tiba kering. 


"Kamu punya pemikiran yang hebat untuk gadis kecil seperti mu." 


Hiyola memutar bola mata jengah. Sudah ia duga, poni nya ini memang membawa dampak buruk. 


"Saya ini sudah dewasa tuan, saya bukan anak kecil." sungut Hiyola membuat Tuan C tergelak. 


Sementara itu, dari kejauhan, lagi-lagi Roberth ada di sana, memantau dengan alis yang sedikit berkerut. Dia dan petra sudah berada di sana sejak tiga menit yang lalu. 


"Itu hanya klien nya tuan." ucap Petra tiba-tiba. Roberth sontak mengubah ekspresi yang semula kesal menjadi datar dan biasa saja.


"Iya, saya tahu! Tidak perlu menggurui!" ketus Roberth.


***