Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 51 : Dipecat



Hiyola merasa, seluruh dunianya hancur. Perusahan Meet Me adalah satu-satu nya pekerjaan tetap yang ia miliki. Bukan hanya karena uang, tapi setiap kisah dan kedekatan yang ia bangun bersama para pelanggan nya terlalu berarti. Kedekatan mereka, keluh kesah dan kepercayaan mereka, hal itulah yang menjadi motifasi bagi nya. Bahkan mendengar kisah mereka merupakan satu-satu nya obat penenang, sehingga ia tahu bahwa dia bukan satu-satunya orang yang memiliki penderitaan di dunia. 


Dengan tangan gemetar dan jantung  berdegup kencang, Hiyola mengambil ponsel nya kembali. Wajahnya memucat, seiring dengan buliran bening yang mengalir. Bibirnya bergetar menahan kelu yang begitu mencekat. Sekarang tujuan selanjutnya bukanlah rumah maupun air hangat, melainkan perusahan.


"Ya! Aku harus menjelaskan segalanya. Pekerjaan ini terlalu berarti untuk ku." gumamnya dengan suara bergetar.


Hiyola segera mengusap air matanya, tidak ada waktu untuk menangis. Ia harus melakukan sesuatu. 


Bagaikan kilat yang kini tengah bersahut-sahutan di langit malam, Hiyola melesat di tengah padatnya jalanan arus pulang. Semua orang seperti di kejar waktu, melihat langit yang mulai menurunkan air nya. Tidak terkecuali Hiyola yang terus menahan dinginnya cuaca malam untuk tiba di perusahan.


Sesampainya di kawasan luas milik PT. Meet Me, Hiyola langsung berlari tanpa memarkirkan motornya. Langkah nya terlihat ragu, tangan nya saling meremas cemas, matanya bergerak kesana kemari memastikan dengan penuh tanya tentang keramaian apa yang terjadi di perusahaan. 


Memang sudah biasa baginya melihat banyaknya kendaraan di depan perusahan, tapi kali ini terlalu banyak dan tidak seperti biasanya.


Langkah Hiyola berhenti tepat di depan pintu lobi perusahan. Di sana ada sepuluh pria bertubuh kekar, dengan setelan jas lengkap. Wajah sangar mereka mengingatkan Hiyola akan Petra. Dia tahu mereka adalah para Bodyguard, tapi kenapa sangat banyak dan penjagaan pun terlihat sangat ketat. Tapi bukan itu masalah nya sekarang. Yang menjadi masalah ialah bagaimana ia bisa menembus sepuluh bodyguard untuk tiba di sana. 


Saat hendak melalui pintu, dua orang bodyguard yang berada di masing-masing sisi, merentangkan tangan mereka.


"Silahkan laporkan nama, sebelum masuk ke dalam." ujar bodyguard di sisi kiri.


Hiyola mengernyit, sebisa mungkin ia menahan gejolak di dadanya, agar suaranya tidak bergetar. "Saya karyawan di sini." 


Bodyguard sebelah kanan mengernyit, matanya memicing. Sepertinya ia melihat penampilan Hiyola yang acak-acakan lalu berkomentar, "Nama anda, nona." dengan suara yang lebih tegas dari bodyguard sebelum nya. 


Hiyola mendengus, "Hiyola Anastasya!" jawab nya geram. 


Sepuluh bodyguard yang berjaga serempak melihat ke arah nya. Hiyola tampak gelagapan saat dua diantaranya mendekat ke arah nya.


"Eh! Ada apa ini? Apa yang mau kalian lakukan?" pekiknya saat dua pria bertubuh kekar itu mengapit masing-masing lengannya. 


"Hei! Sial! Lepaskan aku!!!" Hiyola mencoba berontak, tapi dua pria itu memiliki tubuh 20 kali lipat dari nya. Bahkan saat ia sengaja melorotkan tubuh begitu saja, kedua pria itu masih bisa memboyong nya pergi dengan tubuhnya yang melayang bagaikan ayunan. 


"Kalian tidak percaya kalau aku adalah karyawan di sini?" Hiyola segera merogoh tasnya, ketika kedua pria tadi melepas nya di saat mereka telah tiba di parkiran. 


Sebelum kedua bodyguard pergi, Hiyola meraih kartu karyawan nya yang berbentuk persis KTP. Dia berlari kemudian menghalangi mereka seraya merentangkan tangan lebar. 


"Ini kartu karyawan saya!" Tunjuk nya. Walau dengan angkuh, Hiyola sama sekali tidak bisa berhenti menunjukkan rasa cemas dan khawatir. 


Namun sayangnya, kedua bodyguard itu tampak tidak peduli. Mereka melewatinya tanpa berkata satu patah pun. 


"Hei..! Kalian mau kemana? Ijinkan aku masuk!" teriak Hiyola mengekori kedua pria itu, tapi kembali terhenti saat sudah tiba di depan pintu lobi, ia kembali di tahan.


"Hei! Aku harus masuk ke dalam!" lagi-lagi saat mencoba masuk, Hiyola kembali di cekal oleh para bodyguard. Tanpa suara, mereka kembali menggiringnya untuk kembali ke parkiran. Hiyola memberontak, memekik, bahkan meminta tolong pada beberapa orang berpakaian rapi yang juga baru datang, tapi sialnya mereka malah menatap Hiyola dengan pandangan tidak suka. 


"Tolong biarkan aku masuk..." lirih nya saat sudah kembali lagi ke parkiran. "Ku mohon, sekali ini saja." 


Hiyola berlutut di depan dua bodyguard yang masih berdiri di depanya. Ia mengatupkan kedua tangan, harapannya telah pupus. Rintik-rintik hujan bahkan mulai berubah deras membasahi seluruh tubuh Hiyola.


"Tolong tuan, aku harus masuk ke dalam." rintih nya berkali-kali tapi kedua pria itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan. 


Tiba-tiba sebuah pencerahan muncul di benak nya. Hiyola mendengus. Bagaimana mungkin dia melupakan hal sepenti itu? Bisa-bisanya ia melupakan satu manusia paling bergengsi di perusahan! 


Dan di saat kedua pria tadi hendak beranjak, Hiyola berucap, "Aku harus bertemu Roberth!" 


Sontak saja hal itu menghentikan mereka. Hiyola berdiri, seraya kedua pria tadi berbalik. Selama ini hanya karyawan di gedung perusahan lah yang mengenal Roberth, sementara karyawan seperti Hiyola, mereka hanya bertemu dengan bagian Administrasi maupun eksekutif lainnya. 


"Lancang sekali kau menyebut nama Tuan seperti itu!" ketus salah satu bodyguard. Suaranya yang lantang membuat Hiyola beringsut mundur, gentar. 


"Mak-maksudku, Tuan Roberth," ucapnya, membenarkan kalimat tersebut. 


Ternyata kedua pria itu hanya berbalik karena penyebutan Hiyola yang tidak sopan. Setelahnya mereka kembali melanjutkan langkah menuju lobi hotel tanpa menoleh sedikitpun.


"Hei! Aku ini sudah seperti saudarinya, apa kalian tidak percaya? Aduh, aku bahkan seperti istrinya," pekik Hiyola mulai kehabisan akal. 


Beberapa orang berpayung tertawa mendengar teriakan Hiyola tadi. Mereka bahkan saling berbisik menertawai tingkah nya. 


"Seperti istri? Lucu sekali! Aku dengar istri Tuan Roberth seorang model dari luar. Katanya ia cantik." bisik seorang wanita.


"Ya, hari ini pun pertama kalinya mereka go public. Penasaran, wanita seperti apa yang bisa menaklukkan hati Tuan Kaku, kita," timpal yang lain. 


Seorang wanita pun ikut menyahut, "Oh iya, hari ini katanya CEO perusahan, Tuan Clodio juga hadir." 


"Eh, tapi, acaranya di lantai berapa ya? Aku termor mau ketemu CEO, sampai lupa." seorang pria berlagak ayu, menunjukkan tangan nya yang gemetar. Mungkin ini adalah pertama kalinya ia bertemu sang CEO.


Wanita pertama berdecak. "Asgata, kau ini! Lantai 17. Cepatlah kalian, hujannya semakin deras," sahutnya geleng-geleng kepala. 


Hiyola mendungu mendengar celotehan para karyawan tadi. Dia hanya bisa mendesah atas kebodohan karena mengatakan bahwa dirinya adalah istri Roberth. Tentu saja tidak akan ada yang percaya. Yang mereka tahu, istri Roberth adlah seorang model modis, sementara lihat lah dirinya. Dia hanya seorang mahasiswa awal di usia tua, dengan penampilan acak-acakan. Sepertinya  selama ini, dia terlalu nyaman dalam statusnya sebagai istri, sehingga lupa bahwa dirinya hanya seorang Kimberly palsu. 


Akhirnya dengan segenap harga diri yang tersisa, Hiyola membulatkan tekatnya untuk mencoba masuk lagi ke dalam. Kali ini ia tidak ingin berusaha agar bisa kembali bekerja, dirinya hanya ingin menjelaskan alasan sebenarnya, bahwa bukan niatnya untuk membodohi siapa pun, dan betapa ia bersyukur bisa bekerja di sana. Dia pun ingin meluruskan kesalah pahaman karena tidak ada lagi yang perlu di tutupi.


Sambil mengambil ancang-ancang, Hiyola menunggu beberapa orang yang baru saja datang. Ia berencana menerobos pintu, di saat para bodyguard lengah memeprsilahkan mereka masuk. 


Dan di saat mereka menunggu keempat karyawan  wanita merogoh tas mereka, Hiyola mengambil kesempatan tersebut untuk berlari masuk.


Semua orang spontan memekik kaget. Resepsionis yang Hiyola lewatipun berteriak histeris.


"Hei! Tangkap dia!!!" teriak sang resepsionis. 


Sayangnya, pergerakn mereka terlalu lambat. Pintu lift sudah tertutup. Dengan tangan gemetar, Hiyola menekan angka 17, tempat yang di debutkan oleh para karyawan tadi. Dia baru bisa menarik nafas lega, saat angka merah di atas pintu lift, menunjukkan nomor delapan.


Ternyata bakat larinya saat masih SMP dan SMA tidak terbuang percuma. Dahulu karena terlalu sering bekerja, Hiyola sering meninggalkan pelajaran. Karena otak nya yang tidak terlalu cerdas, setiap ada lomba yang berkaitan dengan fisik apalagi  yang menghasilkan uang, Hiyola selalu menjadi orang pertama yang mendaftar. Dan ketangkasan nya saat itu, membuahkan hasil hari ini. 


Ting..! 


Senyum Hiyola mengembang saat pintu lift terbuka, di lantai 18. Di lantai ini hanya ada satu pintu, dengan ruang aula yang amat megah. Hiyola pernah satu kali ke sana, saat di undang di acara  pengangkatan kepala staf. 


Keadaan koridor begitu sunyi saat kakinya memijak. Hanya suara sayup-sayup seorang MC berbicara.


"Ck!" 


Hiyola kembali berdecak saat dua pria bertubuh kekar berjalan ke arahnya. Mereka tampak berbicara lewat Earpiece yang terpasang di telinga. Tentu saja para bodyguard di bawah tidak perlu mengejarnya jika mereka memiliki benda kecit tersebut.


"Oke! Saya minta maaf." Hiyola mengangkat tangan dengan dua jari tanda perdamaian. "Saya hanya ingin bertemu dengah Tuan Roberth, kemudian pergi dari sini." pintanya memelas. Namun, kedua pria itu malah mencekalnya kuat, berusaha menggiring. Namun cengkraman kaki Hiyola pada karpet bulu di bawah sana berhasil menahan tubuhnya sehingga tidak mudah digiring.


"Lepaskan aku! Ku mohon! Aku harus bertemu dengan Tuan Roberth!!! Ada yang harus ku jelaskan!!!" terika Hiyola. Dia mulai membuat keributan, sehingga terdengar di dalam ruangan. 


"Lepaskan aku! Hei! Kalian tuli ya? Aku harus bertemu Tuan Roberth! Ada sesuatu yang harus ku katakan padanya," pekiknya lagi.


"Roberth!!!!"


"Roberth....!!!" 


"Rob---"


Ceklek...


Pintu terbuka. Kedua bodyguard tadi menoleh, saat ini penampakan nya sangat memalukan. Kedua kaki Hiyola, mengapit masing-masing kaki dua bodyguard tadi yang berada di kedua sisinya. Mereka seperti terbelit sehingga susah bergerak.


"Lepaskan dia." Suara bariton Roberth, membuat wanita astral itu melepaskan lilitan kaki nya. 


Hiyola segera merapikan baju nya. Bertengkar dengan dua bodyguard tadi berhasil mengacaukan penampilannya yang memang sudah kacau. 


Dengan senyum merekah, Hiyola berjalan ke arah Roberth.


"Karena Tuan sudah mengetahui segalanya, saya akan meluruskan kesalah pahaman kita. Sebenarnya saat di ho---"


Belum sempat Hiyola menyelesaikan kalimatnya, tangan Roberth terangkat menyela. 


"Saya tidak ingin mendengar apa pun lagi!" ucapnya. Tatapan nya begitu mengintimidasi, senyumnya begitu sinis. 


"Perusahan tidak akan menolerir pelanggaran dalam bentuk apa pun! Beraninya kau membodohi kami!" ketus Roberth.


Hiyola mengangguk. Dia tidak menyangkal hal tersebut. Dia memang bersalah karena telah menipu perusahan, jadi Roberth berhak marah kepadanya. 


"Saya akui, kesalahan yang saya lakukan, memang fatal. Saya juga tidak ingin membenarkan tindakan tersebut. Saya hanya ingin mengatakan alasan sebenarnya. Bukan agar dapat di terima kembali. Hanya saja, saya ingin semuanya berakhir tanpa ada kesalah pahaman."


Hiyola menarik nafas sebentar, meremas jari-jarinya gugup. "Memang tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakan saya ini, tapi percayalah Tuan, saat itu saya sangat membutuhkan uang, adik---"


"Memangnya hasil dari menjual tubuh mu saja tidak cukup?" 


Degh...


Mulut Hiyola tiba-tiba terasa kelu. Roberth menyelanya dengan begitu sinis. Tapi Hiyola mencoba menahan setiap rasa sakit yang terasa karena Riberth yang berbicara saat ini hanya seorang pria yang salah paham.


"Ya, aku pun ingin menjelaskan soal di hotel saat itu. Sebenarnya saat itu aku tengah menemani seorang dosen. Dia meminta ku untuk menemaninya melakukan riset, tidak lebih dari itu,"


"Riset di atas ranjang, maksud mu?"


Deghhh....


"Kau bicara seolah aku akan percaya!" sinis Roberth.


Lagi-lagi Hiyola merasa hatinya di remas. Entah Roberth yang terlalu bodoh, atau ia sendiri yang terlalu yakin bahwa pria itu akan percaya pada nya. 


Sungguh, kali ini, Hiyola tidak bisa lagi membendung air matanya. Tubuhnya yang menggigil kedinginan, semakin terasa dingin karena tatapan Roberth. Dia tidak tahu harus seperti apa menjelaskan agar pria itu mau percaya padanya. 


"Tolong dengarkan penjelasan saya, Tuan."cicit Hiyola.


Ceklek...


Pintu kembali terbuka. Kimberly dengan gaun merah cerah dan tentu saja belahan dada rendah, keluar bersama Violeta.