Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 25 : Aku mencintai mu, Kim!



Terang lampu kota, sesekali menyinari wajah letih dengan mata terpejam, milik Hiyola. Sesekali, pengendara yang duduk di samping, melihat ke arah nya. 


Satu lengkungan singkat terbentuk di bibir Roberth. Netranya kembali fokus ke jalanan. Apa yang ia rasakan, mulai terlihat ambigu. Di dekat Hiyola membuat nya kadang merasa kesal, namun kadang terasa menyenangkan.


Jalanan malam itu sangat sepi. Mungkin karena sudah larut. Roberth membawa  mobil Mercedes Benz, lambat, agar tidak mengganggu Hiyola yang tengah tertidur pulas, dengan mulut yang sedikit menganga.


Sesaat sebelum memasuki kawasan rumah, ponsel di dalam jas Roberth bergetar. Tidak ingin membangunkan Hiyola, dia membuka pintu perlahan kemudian beranjak turun. Memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut sembari menunggu Hiyola bangun.


 Tangan Roberth mebeku sebentar saat layar kunci yang baru saja di buka, menunjukkan nama seseorang yang sangat ia rindukan.


"Kimberly?" lafal Roberth, tertahan. Tergesa-gesa dia mengangkat panggilan dari wanita yang sangat ia cintai.


Bersamaan dengan nya, mata Hiyola mengerjap. Dia terkejut. Matanya langsung membola saat menangkap gambaran rumah yang sangat dikenal. 


Buru-buru keluar dari mobil. Hiyola mencari keberadaan Roberth, sambil merapikan rambut dan juga poni tudung ny7a. Dengan wajah menekuk, netranya terus jelalatan mencari keberadaan pria itu. 


"Dia membiarkan ku tidur di mobil?" 


Hiyola menggerutu, mengira Roberth meninggalkan dia di luar begitu saja. Membanting pintu mobil dengan kencang, berjalan masuk. 


Langkah nya terhenti saat tidak sengaja mendengar suara Roberth yang berasal dari halaman samping. 


Mengendap-endap, Hiyola coba berjalan mendekati Roberth yang memunggungi. Hiyola terkejut, saat mendapati pria itu tengah bertelepon. Tidak mau di sangka kepo, Hiyola hendak beranjak. Namun, langkahnya terhenti saat Roberth berucap dengan lembut pada orang di seberang telpon.


"Aku mencintai mu, Kim." 


Nafas Hiyola tertahan sebentar. Kenapa kalimat tersebut sangat tidak sedap di dengar? Dan, Kim? Apakah Kimberly? 


Tidak jadi kembali. Rasa penasaran kini menyelimuti Hiyola. Dia benci mengakui bahwa saat ini Roberth tengah menjadi pusat perhatian nya.


Entah apa yang di ucapkan wanita di sebrang telpon, Roberth menjawab.


"Tentu saja. Pernikahan ini hanya sementara. Aku tidak mungkin menyukai wanita yang sanggup melakukan apa pun demi uang." 


Deg...


Suara Roberth yang terdengar tegas, penuh keyakinan, membuat Hiyola membeku di tempatnya. Baru beberapa saat lalu hatinya berbunga-bunga karena Roberth, kini perasaan nya kembali berkeping. 


Ada kecewa tergambar jelas di wajah Hiyola. Tidak tahu apa yang ia rasakan, tapi hatinya sakit. Yang Roberth katakan memang tidak salah, hanya saja waktu yang sering mereka habiskan bersama membuat Hiyola mulai menganggapnya sesuatu yang berbeda.


"Ya, pernikahan ini hanya hubungan timbal balik." gumam Hiyola menunduk,  meyakinkan dirinya sendiri. Langkah yang tadi terhantuk kesal, bergerak lemas. 


Tadinya ia salah kira soal maksud Roberth. Hiyola pikir permintaan maaf hanyalah alasan. Namun, apa yang di dengar barusan, telah menyatakan beberapa jam tadi memang hanya sebuah permintaan maaf dan tidak lebih.


"Apa yang kau lakukan di situ? Kau menguping?" 


Suara Roberth menghentikan langkah Hiyola. Dengan lapang, Hiyola berusaha menyajikan senyum terbaiknya.


"Saya hanya lewat." jawab Hiyola gugup. Lagi pula Roberth juga tidak akan peduli jika tahu kalimat nya tadi telah melukai bagian dari diri Hiyola.


Alis Roberth bertaut penuh selidik. Matanya memicing curiga.


"Apa yang kamu dengar?" paksa Roberth. Suara nya mulai meninggi saat melihat senyum palsu yang Hiyola suguhkan.


"Saya tidak mendengar apa pun, Tuan." Hiyola melepaskan Earphone bluetooth yang tersembunyi di balik rambut sebahu nya lalu menunjukkan benda berwarna hitam tersebut kepada Roberth. 


Roberth mengernyit. Dia sudah berdiri sejak tadi di situ, namun tidak ada seekor kucing pun yang lewat.  Halaman rumah saja dikelilingi pagar tembok, lalu dari mana kucing nya masuk? Tapi baguslah jika Hiyola tidak mendengar percakapan nya barusan.


"Sepertinya kau masih mengantuk." ujar Roberth lalu melenggang lebih dulu.


Hiyola menarik nafas beberapa kali. Beruntung Roberth percaya. Matanya yang berubah sendu, menatap earphone di tangan nya, kecut. 


***


Sudah pukul 12 malam, dan sepertinya Ami sudah tidur. Tadi Roberth sudah menghubungi Ami, mengatakan agar wanita itu tidak perlu membuatkan makan malam. Dan tidak perlu menunggu nya dan Hiyola karena mereka akan pulang larut. 


Hiyola mengekori Roberth yang tengah berjalan menaiki tangga. Saat tangan Hiyola hendak meraih ganggang pintu, Roberth menghentikan nya. 


"Kamu tidur di kamar saya." ucap Roberth, langsung membawa Hiyola ke kamar nya tanpa melepaskan genggaman nya.


"Saya bisa masuk sendiri, tuan." Hiyola melepakan genggaman Roberth menggunakan tangan nya yang bebas. Dirinya tidak mau salah paham lagi dengan semua sikap Roberth. 


Dengan langkah gonatai Hiyola berjealan, sedikit terperangah saat matanya menangkap twin bad yang sudah rapi, di dalam kamar yang amat sangat megah, kepunyaan sang suami setahun. Baru kali ini Hiyola memperhatikan betul kamar tersebut. 


Barang-barang nya yang berada di kamar sebelah juga sudah di pindahkan dan di rapikan.


"Saya akan langsung tidur, tuan." ucap Hiyola, naik di salah satu ranjang yang ukuran nya sedikit lebih kecil, yang dipastikan di sediakan untuk diri nya.


"Kau tidak mandi?" 


Ucapan Roberth menggelitik telinga Hiyola. "Tidak!" jawab Hiyola tanpa banyak imbuhan. Tidak mungkin ia akan mandi di dalam kamar pria itu. 


"Kalau begitu saya mau mandi dulu. Kamu bisa langsung tidur." Roberth hendak berjalan ke kamar mandi namun,  langkah nya terhenti. Dia menoleh, menatap Hiyola yang masih melihat nya.


"Jika saya mengigau lagi seperti kemarin. Kamu bisa tidur saja." tambahnya kemudian melenggang masuk. 


Hiyola mengangguk paham. Berarti dia dan Roberth memiliki pikiran yang sama. Jujur saja, rasanya masih lumayan canggung untuk berdua lagi di kamar di mana kejadiam tersebut terjadi. Walaupun agak canggung, Hiyola tetap berusaha menyesuaikan dirinya. Cepat atau lambat ia harus bisa menyesuaikan diri. 


***


30 menit berlalu. Sejak tadi Hiyola berusaha memejamkan mata, tapi terus terganggu setiap kali telinga nya menangkap bunyi guyuran air dari dalam kamar mandi. 


Pikiran Hiyola terus melalang jauh ke beberapa hari lalu. Walau benci dengan sikap Roberth kala itu, Hiyola tidak bisa menyangkal bahwa wujud Roberth saat itu sedikit menggodanya. 


Tubuh kekar dengan beberapa potong roti sobek yang tidak terlalu menonjol, berhasil menarik perhatian Hiyola yang sebelum nya sangat anti dengan kharisma pria. 


Dan kali ini, Hiyola tengah gugup setengah mati, menerka apa yang mungkin akan terjadi saat pintu kamar mandi terbuka.


Saat pikiran nya tengah berkecamuk memikirkan  mungkin  harus berpura-pura tidur...


Ceklek...! 


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki basah Roberth, hampir tidak terdengar di telinga Hiyola, sebab pacuan detak jangtungnya yang memburu.


***