
Bunyi lift berdenting. Jeremy keluar dengan langkah tergesa, wajah nya datar dan terkesan dingin. Sangat berbeda dengan keseharian nya saat di depan orang lain.
Tangan Jeremy yang terkepal meraih ganggang pintu kamar Hiyola. Benar saja saat masuk, Roberth tengah berbaring santai di atas ranjang besar berseprai hijau. Tanpa menunggu aba-aba, Jeremy berjalan cepat, menemukan satu kaki di atas ranjang dan menarik kerah baju pria yang tiba-tiba membuka mata dan,
Bugh...!
Melayangkan tinjunya, Jeremy menggertak gigi. "Bre*gsek!!! Apa yang kau lakukan di kamar kekasih ku?" maki nya.
Roberth tersenyum santai untuk beberapa saat. "Padahal aku berharap Hiyola yang akan naik ke sini!" ucap nya. Namun, Roberth tidak tinggal diam, ia mengatur posisi lalu membalas pukulan kakak tiri nya. Wajah nya yang semula santai berubah dingin.
"Jangan berpura-pura seolah kau tidak tahu siapa dia sebenarnya!" Tangan Roberth kini sudah mencekal kerah kemeja Jeremy. "Apa kau mendekatinya karena ingin balas dendam? Kau ingin membalas perbuatan ibu ku?"
Jeremy berdesis, sinis. "Akan menjadi balas dendam jika kau benar-benar mencintai nya, bangsat!"
Bughhh...!
Mereka kembali mendaratkan pukulan pada wajah bahkan perut, saling menonjok meninggalkan bekas kemerahan di sudut bibir masing-masing.
"Jauhi Hiyola, karena memanfaatkan nya tidak akan bisa membuat ku kalah. Dia tidak berarti untuk ku!" ucap Roberth. Tangan nya masih mencengkram kerah baju Jeremy, begitupun sebaliknya.
Jeremy menarik satu sudut bibir nya. "Awalnya aku memang berniat memanfaatkan nya. Tapi, setelah melihat sejauh apa hubungan kalian, ku rasa ini bukan lagi tentang balas dendam. Aku berniat menjadikan nya milik ku."
Urat di pelipis Roberth tampak bermunculan. Dia tidak bisa pungkiri bahwa mendengar niat Jeremy membuat seluruh aliran darah nya mendidih.
"Kau memata-matai kami? Bangsat!"
Bugh...!
Satu layangan telak kembali menyentuh wajah Jeremy namun, ia sama sekali tidak nampak marah. Dia malah melepaskan kerah baju sang adik lalu melepaskan diri dengan senyum smirk nya.
"Aku memang memata-matai mu jauh sebelum aku tahu bahwa Kimberly yang kau nikahi adalah orang lain,"
Jika kalian ingat mengenai seorang pria yang menyapa Hiyola di pelaminan, berbicara basa-basi dan membuat gadis itu tidak merasa nyaman sehingga berpura-pura mengambil minuman, Jeremy lah orang nya.
Saat itu tidak ada yang tahu kedatangan Jeremy. Ia menyelinap ingin menyaksikan pernikahan sang adik, mencari celah agar bisa merencanakan balas dendam dengan mendekati Kimberly, namun saat melihat Hiyola ia sadar bahwa Kimberly yang di nikahi Roberth saat itu adalah orang yang berbeda.
Merasa mendapat kesempatan, Jeremy mulai memantau perjalanan pernikahan mereka. Awalnya berencana membuka rahasia Roberth kepada sang ayah, namun melihat kedekatan mereka Jeremy sadar bahwa Hiyola adalah satu-satunya balas dendam terbaik. Jeremy bahkan lebih banyak menghabiskan waktu libur nya dengan terbang ke Indonesia, untuk memantau keseharian seorang Hiyola hingga hal tersebut mulai menjadi candu baginya. Ia bahkan sengaja menghabiskan semua pekerjaan pada cabang perusahan di Jerman dengan cepat hanya untuk terbang ke Indonesia, menjalankan hobi baru nya memata-matai Hiyola.
Motor kawasaki hitam, jaket hitam dan semua perlengkapan serba berwarna hitam selalu menjadi andalan nya. Jeremy mulai menyadari ada sedikit rasa kepada Hiyola saat ia tidak sengaja membuka ponsel Hiyola yang ketinggalan di kelas. Membaca pesan peringatan Roberth, ia tahu bahwa dia cemburu karena setelah membacanya, dengan geram ia menghapus pesan tersebut.
Walau sadar keberadaan nya terancam karena di ketahui oleh Petra, Jeremy tidak kehilangan akal. Dia memutuskan untuk menawarkan diri mengajar beberapa keahlian bisnis nya, karena merupakan salah satu donatur terbesar, akhirnya Jeremy pun di terima tanpa sepengetahuan Roberth.
Roberth mengepalkan tangan nya, saat mendengar cerita Jeremy. Dia menggerakkan gigi mencoba menahan amarah saat mendengar langkah kaki Esmeralda dan Alberto di luar sana. Wanita tua itu baru kembali dari kamar Clodio di lantai empat.
"Jangan pernah menyentuhnya. Dia masih terikat kontrak pernikahan dengan ku!" ketus Roberth pelan, masih terdengar egois. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Mendengar hal itu, Jeremy tersenyum sinis, dia sudah menunggu kesempatan ini begitu lama. Saat di mana dirinya akan berhadapan dengan sang adik tiri dan mengklaim Hiyola sebagai milik nya. Karena walau tanpa di ucap, Jeremy tahu di dasar hati Roberth, dia sudah mencintai Hiyola, namun kenyataan itu tertutupi oleh keinginan Roberth untuk membahagiakan Violeta.
"Hiyola seorang manusia! Jangan bersikap seolah dia hanya barang pelengkap mu!" kecam Jeremy, dia mantap tajam sang adik, tatapan itu amat dingin dan sarat akan kebencian.
"Kau bahkan tidak mengenalnya. Gadis itu hanya akan merugikan mu! Apa kau tidak tahu pekerjaan apa saj yang ia lakukan hanya untuk uang? Apa kau akan tetap menyukai gadis yang bahkan menjual dirinya hanya untuk uang? Jangan bersikap seolah kau tahu segala hal tentang--"
Brughh....!
Bugh...!
Roberth terhempas, tubuhnya menyentuh lemari berisi pakaian hingga cermin di lemari pecah berantakan, karena pukulan Jeremy. Padahal Roberth bermaksud menjelekkan Hiyola di mata Jeremy agar pria itu tidak mendekati Hiyola lagi, namun reaksinya malah membuat Roberth bingung.
"Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang nya! Bre*gsek!!!"
Lagi, Jeremy melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Roberth. Tidak tinggal diam pria bermata abu-abu itupun juga melayangkan pukulan balasan.
"Kau bahkan tidak tahu kapan dan di mana ia menjatuhkan air mata karena perbuatan mu, bre*gsek!"
Bugh...!
Roberth berdesis, terpaku mendengar ucapan Jeremy. Bahkan ia yang terlentang di bawah sang kakak hanya bergeming tanpa melawan dan menerima semua pukulan yang lolos ke wajah nya. "Apa maksud mu?" lirih Roberth.
Jeremy berbicara dengan selingan pukulan di wajah Roberth yang mulai babak belur. "Pria baji*gan seperti mu tidak pantas mendapat gadis baik seperti nya."
Satu pukulan mendarat,
"Apa kata mu? Suami? Kau bahkan tidak tahu apa yang dia tanggung selama ini."
Pukulan ke dua,
"Menjual diri? Apa kau pernah sekali saja mendengar penjelasan nya? Bahkan saat ia menangis di hotel hari itu karena salah paham mu, di mana saja kau? Kau kira dia berbohong?"
Bugh...! Pukulan ke tiga,
"Saat itu akulah dosen yang ia katakan. Dia sengaja membiarkan mu salah paham agar tidak perlu membuka jati diri nya yang sebenarnya!"
Roberth terpaku, mulut nya kelu matanya berubah sayu. Ingatan saat dia mencurigai bahkan menuduh Hiyola terngiang-ngiang di kepalanya.
"Apa yang kau bicarakan Jeremy? Apa maksud mu?" Roberth yang mulai kewalahan, berdiri dari posisinya, rasa bersalah menyebar di seluruh nadi nya. "Apa maksud mu kau ada di sana?" tanya Roberth sembari mencengkram kerah baju Jeremy, namun pria itu malah tersenyum sinis.
"Kau ingin tahu sekarang? Di mana nurani mu saat ia mencoba menjelaskan semua nya dan kau hanya berdiri di sana dengan wajah tidak peduli mu? Bahkan saat ia terjatuh dan pingsan, menimpa genangan kotor di depan perusahan, di mana kau saat itu, bre ngsek?" Satu pukulan kembali mendarat.
Ya, Jeremy selalu berada pada tempat di mana Hiyola ada. Saat di perusahan waktu itu pun ia berada di sana, bersembunyi di salah satu sudut gedung, dan menyaksikan semuanya dengan darah mendidih.
"Jadi pria itu?" Tanpa terasa, cengkraman pada kerah Jeremy mulai melonggar. Roberth menatap nanar sang kakak. Tubuhnya luluh lantak ke lantai.
"Ya! Pria yang kau lihat selama ini adalah aku! Jadi, jangan pernah merendahkan atau menghina nya!" geram Jeremy.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alberto, Hiyola dan Kimberly berhamburan masuk ke kamar, menyaksikan dua pria yang terduduk di atas pecahan kaca.
Matanya yang cemas tertuju pada Roberth yang juga melihat ke arah nya. Entah apa arti tatapan itu, namun Hiyola tidak lagi peduli. Dia menghampiri Jeremy dan membantunya berdiri.
"Ya, Tuhan, Jeremy! Apa yang terjadi? Kemari lah, aku akan mengobati mu."
Melihat perhatian Hiyola pada Jeremy, Roberth menyesali kebodohan nya. Penyesalan di sorot mata telah menjelaskan betapa hancur hatinya saat menatap punggung gadis tidak berdosa yang kini berjalan menjauh dari nya.
"Maafkan aku, Hiyola..." lirih Roberth kelu.
***