Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 45 : Restoran



Langit masih sangat gelap saat Roberth berjalan pelan, keluar dari kamarnya lalu berhenti tepat di depan kamar yang saat ini Hiyola tempati. Gadis itu sudah sembuh, jadi Roberth tidak lagi punya alasan agar Hiyola tetap berada di dalam kamar nya.


Sudah hampir berminggu-minggu saat mimpi buruk tidak lagi membuatnya terbangun dari tidur panjang, kini dengan peluh yang berguguran, Roberth kembali bangun karena bayangan masa lalu yang masih menghantui nya.


Bahkan kebiasaan saat tidak sengaja terbangun di tengah malam dan mendapati Hiyola di ranjang sebelah, telah menjadi candunya. Membuat kakinya dengan lancang berjalan ke dalam kamar bersama dengan sosok perusak harinya.


Roberth berjalan mendekat, hanya cahaya lampu tidur yang menerangi. Dia menghembuskan nafas kasar ketika mendapati tubuh Hiyola yang meringkuk karena kedinginan. Di ambilnya remote AC, kemudian menurunkan suhu benda penghasil dingin tersebut.


Setelahnya, Roberth kian mendekatkan posisi nya, sebuah ide konyol muncul di benak. Dengan gerakan yang amat sangat pelan, dia berbaring tepat di samping Hiyola. Ia menghembuskan nafas lega saat tubuh nya berhasil berbaring tegap di samping Hiyola. Seulas senyum tergambar jelas di bibirnya, Roberth berjanji hanya akan sebentar saja di sana.


Lima menit kemudian, Hiyola bergerak, tubuhnya yang tadi memunggungi Roberth, kini beralih menghadap nya, dengan postur menyamping.


Sempat menahan nafas, Roberth hendak berlari seandainya Hiyola membuka mata, namun setelah beberapa saat di tunggu, tidak ada pergerakan, ia mengurungkan niatnya. Posisi yang awalnya terlentang, dia ubah menjadi menyamping. Sekarang di bawah temaram lampu, Roberth bisa melihat dengan jelas wajah teduh yang membuatnya hampir tidak bisa bekerja seharian.


Perlahan, Ia mulai mengangkat tangan, dan dengan lancang menyentuh wajah polos Hiyola. Tangannya bergerak di sepanjang garis wajah gadis itu. Menyentuh dahi, mata, hidung bahkan bibirnya.


"Apa mungkin aku mulai menyukai mu?" lirih Roberth dalam hati, sayup-sayup matanya mulai terpejam, membawa nya dalam kenyamanan yang begitu aneh.


***


Pagi ini, langit begitu cerah. Rasa nyaman yang mengalir di relung nadi nya, membuat Hiyola enggan membuka mata. Seulas senyum tersungging di wajahnya, tapi di detik berikut mulai lenyap ketika dirinya yang hendak bergerak, tertahan oleh sesuatu.


Dengan gerakan lambat, Hiyola mulai menyentuh sesuatu yang melingkar di pinggang nya.


Hmm... Tangan...


Eh? Tangan?


Mata nya sontak terbuka lebar, spontan ia memutar tubuh, lalu seketika menjerit saat mendapati dirinya tengah berada dalam pelukan Roberth.


"Kyaaaa...! APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMAR KU!!! ROBERTH MESAC KOHLER!!!"


Bugh...!


Satu tendangan Hiyola berhasil menjatuhkan Roberth, yang posisinya berada di ujung ranjang. Pria itu bangun dengan raut kebingungan, dan gestur linglung.


"Tunggu sebentar, saya bisa jelaskan..." ujar Roberth, memegang kepala yang masih terasa pusing akibat efek bangun tidur.


Hiyola merengkuh tubuhnya, penuh curiga. "Dasar mesum!!!"


Cibiran Hiyola, seketika membuat Roberth tersadar dari kantuknya. Dia berucap lambat-lambat, "Saya tidak melakukan apa pun, saya hanya--"


"Tuan bisa keluar sekarang." Kalimat Roberth terpotong saat Hiyola mengangkat tangannya.


Beberapa saat kemudian setelah seluruh kesadaran nya terkumpul, Roberth baru sadar bahwa ternyata dirinya menghabiskan waktu beberapa jam di kamar Hiyola, bahkan tidur di sampingnya, sampai memeluk gadis itu. Bukannya merasa malu atau meminta maaf, Roberth malah mendekat dan bersedekap. Di detik berikut, ia membanting diri kembali diatas ranjang, membuat Hiyola membelalak tidak percaya.


"Apa yang..."


Kalimat Hiyola tertahan saat tangan Roberth menepuk ranjang, mengisyaratkan Hiyola untuk berbaring di sampingnya. Karena sikap cuek Hiyola kemarin, Roberth kini berencana mengodanya, sekaligus menyembunyikan rasa canggung nya.


"Kemarilah istri ku. Akui saja, kau pun merasa nyaman dalam pelukan ku. Bukan, begitu?"


Hiyola melebarkan kedua matanya, lalu bergidik ngeri. "Tuan sudah tidak waras, ya? Kenapa Tuan tidur di kamar saya?" gerutu nya.


Roberth menyengir, ia sendiri pun tidak menyangka bahwa akan ketiduran. Tidak bisa di sangkal berada di sisi Hiyola selalu berhasil membuatnya merasa nyaman.


"Memangnya tidak boleh, ya? Tidur bersama istri sendiri?" balas Roberth.


Hiuola mendengus, tangan nya meraih bantal guling yang dekat dengan posisinya, kemudian melemparnya ke wajah Roberth. "Istri kontrak, kalau Tuan lupa!"


Roberth yang mendengar hal tersebut, merubah posisi menjadi duduk. Matanya yang semula menatap penuh binar percaya diri, berubah sendu. Dia tidak pernah lupa status mereka, jadi kenapa Hiyola harus selalu mengingatkannya?


Akhirnya tanpa berdebat panjang lagi, Roberth berdiri dan melenggang keluar. Hiyola yang menyaksikan perubahan sikap Roberth jadi merasa bersalah.


"Apa aku mengatakan hal yang salah?" gumam Hiyola bingung.


***


Waktu berjalan begitu cepat. Langit mulai menggelap saat Hiyola masuk ke sebuah restoran mewah. Matanya menatap canggung, restoran Italia tersebut sangat mewah dan elegant, interior nya terlihat nampak dengan kualitas bahan terbaik.


"Hai, kau Hiyola, ya?" Seorang wanita jakung, dengan seragam Waiters berbicara padanya.


Dengan canggung Hiyola menjawab. "Iya."


Mendengarnya, wanita jakung itu tersenyum lega, dia kira Rita berbohong soal kerja paruh waktu.


"Aku mendapat kontak mu dari Rita. Kamu akan mengganti ku sementara, tidak masalah bukan?"


Hiyola mengangguk, seraya tersenyum ramah. "Saya yang seharusnya berterimakasih," balas Hiyola.


Setelah kepergian wanita Waiters itu, Hiyola segera merapikan penampilan nya, mengenakan seragam restoran dan juga celemek berwarna senada. Walau tidak tetap, Hiyola sudah berkali-kali bekerja sebagai pelayan restoran, jadi ia tahu seperti apa tugasnya.


Selesai menyanggul rambut, Hiyola mulai melaksanakan tugas nya. Dengan gesit ia mulai melayani beberapa tamu, mencatat menu pesanan dan menyajikan menurut nomor meja.


Walau sudah sering bekerja di restoran, Hiyola tetap merasa gugup karena restoran ini merupakan restoran paling mewah dalam pengalaman kerjanya. Saking gugupnya ia melakukan semua dengan sangat hati-hati.


"Hey, bisakah kau antarkan ini ke meja 15? Perut ku sakit." Hiyola terbengong saat melihat seorang pria berkaca mata, menyerahkan nampan berisi dua piring Spaghetti Albacore Tuna padanya. Ingin menolak, Hiyola jadi tidak tega saat melihat kondisi pria itu yang terus membungkuk menahan sakit.


"Baiklah." ujar Hiyola.


Pria tersebut berterimakasih, kemudian berlari ke arah belakang. Sepertinya ia akan menghabiskan waktu yang lama di sana.


Setelah menerima nampan, dengan cepat Hiyola memasuki ruang makan. Sambil berjalan, mata nya menyapu seisi ruangan, mencari meja lima belas, mengikuti instruksi pria berkaca mata tadi. Namun, langka Hiyola tiba-tiba terhenti, ia tertegun melihat siapa pelanggan di meja 15.


Hatinya bergemuruh begitu melihat dua orang yang sangat ia kenal yaitu, Roberth dan Kimberly.


Senyum yang dari tadi tersungging perlahan redup, langkah kakinya pun beranjak mundur, bahkan tangan yang memegang nampan mulai mengepal melihat bagaimana kedua insan itu tengah berbincang sambil sesekali tersenyum.


Hiyola langsung celingak-celinguk mencari tahu, mungkin ada seseorang yang bisa ia serahkan tanggung jawab tersebut, tapi setelah di lihat, rupanya semua orang tengah sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Sehingga dengan semua keberanian nya, terpaksa Hiyola melangkah sambil memasang wajah tembok.Semakin mendekat, Hiyola merasa atmosfer di sekitarnya semakin memanas.


"Dua Spaghetti Albacore Tuna, silahkan di nikmati."


Hiyola yang berusaha menghindari tatapan kedua tamunya terlonjak kaget saat tiba-tiba Roberth menggenggam tangan nya. Kimberly pun ikut ternganga melihat seseorang yang ia benci berdiri di hadapan nya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Roberth.


Suara terdengar geram, menahan emosi, namun, Hiyola hanya bergeming. Mulutnya seketika kelu.


Biasanya ia tidak pernah merasa malu saat tidak sengaja mendapat tamu seseorang yang ia kenal. Namun, di hadapan Roberth dan Kimberly, Hiyola merasa rendah diri, seolah tertampar kenyataan bahwa dirinya hanya setitik debu di antara mereka.


"Maaf, saya harus bekerja." ujar Hiyola, melepaskan cengkraman tangan Roberth.


Kimberly berseru. "Jangan bilang uang 200 juta yang Mommy Vio berikan sudah ludes secepat ini." celetuk nya sinis.


Meskipun begitu, Hiyola tetap menahan emosinya, dia bahkan berusaha menahan panas yang kini menyeruak di balik kedua netranya.


"Maaf, jika ada lagi yang dibutuh kan, silahkan panggil saya." ucapnya kemudian berpaling, dan beranjak pergi.


Roberth hendak berdiri namun Kimberly mencegahnya. "Jangan bilang kau akan mengejarnya Rob, aku akan sangat marah!" kecam Kimberly, sedikit berbisik.


Kemarin Roberth sudah berjanji untuk menebus kesalahan nya dengan mengikuti semua keinginan Kimberly, jadi ia tidak akan membiarkan semua yang sudah di rencanakan kacau.


Hari ini Kimberly berencana membawa Roberth ke sebuah hotel, dan menghabiskan malam yang panas dengan nya, jadi ia tidak akn membiarkan siapa pun mengacaukan rencana tersebut, termasuk Roberth sekalipun.


Namun, siapa sangka, kehadiran Hiyola tadi berhasil mempengaruhi pikiran Roberth. Selama ini yang dirinya tahu, Hiyola hanya bekerja di perusahan Meet me, dia tidak tahu bahwa ternyata Hiyola pun bekerja sebagai seorang Waiters.


Mata Roberth tidak hentinya menatap gerak gerik Hiyola. Pasta di depannya pun tidak di sentuh sama sekali, karena sibuk mengikuti arah gerak Hiyola yang tampak tidak peduli dengan keberadaan nya. Padahal tanpa Roberth sadari, Hiyola tengah berusaha menekan perasaan nya dengan menyibukkan diri.


***


Beberapa menit kemudian.


"Ini bayaran nya, dan ini tip untuk mu." Kimberly menyerahkan uang untuk harga pesanan nya. Satu sudut bibirnya terangkat sinis, dengan tatapan merendahkan, memasukkan beberapa lembar uang nominal seratus ribuan ke dalam saku celemek Hiyola.


"Apa yang kau lakukan, Kim?" ketus Roberth, namun Kimberly malah tersenyum tidak berdosa.


"Aku memberi pelayan ini Tip, kau tidak lihat?" ujarnya berusaha merendahkan Hiyola di depan Roberth.


Mendengar hal tersebut, Hiyola hanya bisa menelan seluruh kekesalan di dalam hatinya. Bukan nya marah, ia malah mengatur rapi lembar-lembar uang tersebut. Lagi pula dia melakukan pekerjaan yang halal, jadi dirinya tidak perlu merasa malu.


"Terimakasih untuk Tip nya, silahkan kembali lagi nanti." ucap Hiyola tidak lupa tersenyum sehingga mendapati tatapan menusuk dari Roberth.


Kimberly yang merasakan ketegangan langsung berdiri dan mengapit lengan Roberth, posesif. "Pasti! kami pasti akan kembali lagi nanti," balasnya puas. Dengan langkah cepat dia membawa Roberth keluar dari restoran, mengacuhkan penolakan pria itu, yang masih ingin berada di sana dan melontarkan berbagai pertanyaan.


Setelah kepergian Roberth dan Kimberly, Hiyola langsung melaksanakan tugasnya.


Sambil mengelap sisa air di atas meja, Hiyola mengusap matanya yang mulai berair, mencegah perasaan konyol yang mulai menggerogoti jiwa, meluap begitu saja. Ya, sudah seharusnya begini.


Di detik beriku, mata kemerahan nya memicing irisnya menangkap benda lonjong berwarna merah tua di atas bangku. Sambil mengusap mata, diraih nya dompet tersebut. Tentu saja Hiyola tahu milik siapa benda itu.


Dengan langkah cepat Hiyola berlari ke luar dengan niat mengembalikan benda itu kepada sang pemilik, langkahnya terhenti saat menyaksikan kejadian menyakitkan itu.


Degh...


Benda panjang berwarna merah di genggaman nya terjatuh, bersamaan dengan langkah Hiyola yang beringsut mundur saat netranya menatap nyalang dua insan yang tengah berciuman mesra di parkiran mobil.


***