Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 31 : Lagi-lagi karena Handuk



Mata sayu itu menatap jam di ponsel dengan murung. Sudah pukul 11.30 mbok Ami pasti sudah ke pasar. Dan satu-satu nya manusia yang ada di rumah hanya Robert. Tidak mungkin seorang Hiyola yang seharusnya marah, malah meminta tolong. Dan, ayolah, mengambil handuk? Oh! aesthetic sekali!


Mondar mandir, Hiyola berjalan seakan tengah mengukur tiap sudut kamar mandi sambil menggigit kuku jari.


Biasanya kalau di rumah, Hiyola pasti langsung berteriak lantang, menyuruh Miona untuk mengambil handuk, tentu saja tanpa kata 'Tolong' di depan, sebab biasanya Miona yang lebih sering lupa.


Akhirnya Hiyola tahu kapan dia akan sangat membutuhkan Miona.


Kebetulan di kamar sebelah, Roberth sudah siap. Saat ini ia sedang memasang dasi biru dongker, alisnya kembali berkerut, rasanya sesak saat kejadian semalam kembali bersenandung ria di benak nya. Merasa tidak enak dengan apa yang terjadi semalam , Roberth memutuskan untuk mengetuk pintu kamar sebelah.


Tok


Tok


Tok


Tidak ada sahutan. Dia merapatkan telinga, tidak ada suara sama sekali, jadi kalau misalkan Roberth membuka pintu dan menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan, salahnya jatuh pada Hiyola.


Lama menguping, perasaan Roberth mulai tidak enak. Ia membuka pintu, nyaris membantingnya. Untuk beberapa detik tadi, pikiran nya mulai berkelana kemana-mana.


Saat pintu terbuka, netra Roberth langsung mengedar ke seluruh ruangan. Kamar ini tidak memiliki ruang ganti, seperti yang ada di kamar nya, jadi ia menebak Hiyola masih di kamar mandi.


Tidak ingin mengganggu, apalagi bersikap lancang, Roberth memutuskan untuk mengambil buku yang sering dia baca, berada di laci meja, memutuskan menunggu sampai Hiyola selesai mandi. Untungnya sebelum ke pasar, Ami sudah membersihkan kamar, jadi Roberth tidak perlu merasa risih seperti semalam saat dirinya masuk untuk memindahkan Hiyola.


Buku yang di baca, tidak satupun yang berhasil masuk ke dalam pikiran nya. Sudah setengah jam berlalu, dan Hiyola belum juga keluar. Jangan kan keluar kamar mandi, bahkan suara guyuran pun tidak terdengar.


Roberth menutup buku kemudian memasukkan nya kembali ke dalam rak. Tangan nya mulai bersedekap. Matanya nya nyaris tidak lepas dari pintu berwarna abu-abu dengan corak garis tidak beraturan namun aesthetic tersebut.


"Dia bersemedi?" gerutu Roberth. Untung hari ini tidak ada jadwal yang terlalu penting, jadi tidak masalah jika dirinya pergi maupun tidak ke kantor.


Tangan yang tadinya bersedekap, berubah posisi. Kedua tangan nya di masukkan ke dalam saku celana. Dahinya semakin mengerut. Pikiran aneh mulai melayang menggoda dirinya untuk mulai merasa khawatir.


Roberth yang biasanya tidak pandai berekspresi, mulai menunjukkan perubahan. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah tampan nya. Mata keabuan tersebut semakin memicing seiring berjalan waktu.


Menyimpan semua harga diri nya, Roberth mencoba meneriakkan nama nya.


"Ekhmmm..." Berdeham, awal yang harus di coba. Masih tidak ada sahutan.


Roberth mulai maju mendekat. Telinganya dirapatkan ke daun pintu. Tidak sopan memang, tapi Roberth tidak punya pilihan lain, selain melakukan hal tersebut.


Sementara itu, di dalam kamar mandi, Hiyola sudah mulai panas dingin. Dia mendengar deheman keras dari luar, namun ia urung menjawab. Pasalnya dia tahu siapa yang berada di luar. Akan sangat memalukan jika Roberth sampai harus tahu keteledorannya.


"Hiyola!?"


Hiyola tersentak kaget saat nama nya di panggil dari luar. Kuku yang digigit semakin turun, membuat ujung-ujung jari nya memerah.


"Hei! Kau baik-baik saja?"


Suara gedoran mulai membuat nyali Hiyola ciut.


Seharusnya jika tidak ada jawaban pergi saja!!! gerutu Hiyola dalam hati. Karena takut jika lama-lama tidak menjawab, Roberth mungkin bisa mendobrak pintu kamar mandi. Kan, malu kalau sampai...


Astaga membayangkan nya saja hampir membuat Hiyola muntah. Akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, Hiyola harus benar-benar jujur dengan keadaan nya.


"Tuan...."


Tangan yang hampir mendarat lagi di daun pintu, berhenti sejenak. Walau pelan, Roberth bisa mendengar suara Hiyola yang memanggilnya.


"Kau baik-baik saja?"


Hiyola semakin mengeraskan gigitan pada jari-jari nya. Kata 'Tolong' sangat sulit untuk di utarakan.


Mendongak kemudian menunduk, menggigit jari kemudian meremasnya.


"Hei! Kamu dengar, tidak? Kalau kamu tidak menjawab saya dobrak pintunya."


"Jangannn!!!" teriak Hiyola, membelalak. Tidak ada pilihan lain.


"Saya boleh minta tolong?" tanya Hiyola dari dalam. Roberth jadi semakin panik, matanya sudah melirik kotak P3K di laci meja.


"Ya, katakan!" balasnya semakin merapatkan tubuh dengan pintu kamar mandi. Di dalam Hiyola tidak sengaja menggigit jarinya hingga berdarah.


"Aduh!" pekiknya.


Mendengar nya, Hiyola jadi salah tingkah sendiri. Roberth dengan jelas menunjukkan rasa khawatirnya.


"Saya baik-baik saja, Tuan." Balas Hiyola. Dia mulai menghisap jari yang sempat berdarah tadi.


"Makanya, katakan ada apa?" Roberth mulai tidak sabar.


Hiyola memejamkan matanya sebentar. Masih sambil menghisap jari, dia menarik nafas dalam.


"Tolong ambilkan handuk saya!!!" teriak Hiyola dengan suara lantang, berharap rasa malunya bisa tertutupi.


Roberth mundur selangkah, menatap daun pintu tidak percaya. Dia kira Hiyola sudah kenapa-kenapa, ternyata perkara handuk saja Hiyola membuat nya hampir mendobrak pintu.


"Kau ini!" omel Roberth, merasa lega. Siapa tahu di dalam, wajah Hiyola sudah bersemu merah, persis udang. Dia menutupi wajah sendiri, tidak berani menatapnya lewat cermin yang ada di dalam kamar mandi.


"Memalukan!" gerutu Hiyola, menghantuk hantukan kakinya di lantai.


Roberth menggeleng. Bukannya ke kamar sebelah, dia malah membuka lemari yang ada di kamar, kemudian mengambil baju mandi berwarna pink dengan motif bunga Daisy.


Berjalan kembali ke pintu, Roberth tidak bisa berhenti tersenyum, dia bahkan nyaris tertawa, tapi berusaha merapatkan bibir, sehingga tidak mengeluarkan suara yang pasti akan membuat Hiyola tersinggung. Membayangkan bagaimana teganggnya Hiyola hanya untuk meminta handuk, membuat Roberth semakin tergelitik.


Pintu di ketuk, Hiyola terlonjak kaget. Dia sudah melalui banyak kejadian memalukan sebelum nya, tapi entah mengapa kali ini rasanya berlipat-lipat.


Ceklek...


Perlahan Hiyola membuka pintu. Hanya sedikit, sangat sedikit. Tangan nya yang kuruspun nyaris tidak bisa keluar.


Roberth jadi tergelak melihat apa yang Hiyola lakukan, tangan putih masih sedikit basah, terjulur keluar sambil berusaha meraih.


Mundur selangkah, Roberth bersedekap, tangan nya masih menggengam baju mandi (Kimono).


"Tuan? Kau masih di sana?" Teriakan Hiyola membuat Roberth tak kuasa menahan tawa. Walau hanya cekikikan, Roberth akhirnya menyerah, lalu memberikan kimono tersebut ke tangan Hiyola. Sedikit terganggu saat melihat jari telunjuk Hiyola yang berdarah.


"Terimakasih, tuan...!" teriak Hiyola dari dalam. Di detik berikut, tangan Hiyola kembali terulur ke luar dengan kimono yang masih bertengger.


"Ini bukan punya saya, tuan!" Hiyola mendengus kesal. Padahal ia sudah menarik nafas lega tadi.


"Sudah, pakai saja! Itu handuk bersih yang ada di lemari. Kau pasti tidak pernah memeriksa lemarinya dengan benar!"


Mendengar hal tersebut, Hiyola sontak memukul jidat. Seandainya dia tahu akan ada handuk di sana, dirinya pasti tidak akan berlama-lama di dalam, apalagi meminta tolong Roberth.


Hiyola kembali menarik tangan, masuk. Segera membungkus tubuhnya dia kembali berucap.


"Tuan saya akan keluar!" ucapnya memberi tahu agar Roberth segera menyingkir dari kamar.


"Saya akan menunggu di lantai bawah, jadi keluar, lah." balas Roberth. Dia mengulum senyum, sambil menggeleng sebentar kemudian keluar dari kamar.


Tiga menit kira-kira, Hiyola coba mengintip lewat sedikit celah pintu yang ia buka. Mencari keberadaan Roberth dengan curiga, ternyata dia tidak ada di sana. Membuang nafas lega, Hiyola akhirnya keluar dari kamar, berlari cepat ke kamar Roberth. Mengambil pakaian dan perlengkapan nya, kemudian kembali lagi ke kamar sebelah.


Hiyola melirik sebentar Roberth yang masih duduk di bawah, lalu menggerutu kesal. "Kenapa dia masih di sana? Bukankah seharusnya dia sudah ke kantor? Huh! manusia labil ini membuat ku pusing saja!"


***


20 menit berlalu. Roberth menoleh saat mendengar bunyi langkah menuruni tangga.


Hiyola menggunakan celana kulot levis biru, dengan baju kaos krop polos berwarna ungu tua, berbahan katun. Rambut basah dengan wajah polos tanpa make up nya terlihat segar.


Hiyola berjalan canggung saat mendapati Roberth tengah menatap nya. Pria itu semakin hari tampak semakin tampan. Entah karena Hiyola yang mulai merasa baper, atau karena memang Roberth sudah tampan dari sono nya.


"Tuan belum ke kantor?" Hiyola basa basi, mencoba tidak berkontak mata dengan Roberth. Tangan nya sibuk memasang arloji coklat yang tidak kunjung terpasang.


"Kemari." balas Roberth. Dia membuka kotak berwarna merah putih, berisi perlengkapan P3K.


Hiyola berhenti tepat di samping sofa tempat Roberth berada. Dia hanya berdiri di sana. Sejurus kemudian, Roberth meraih tangan Hiyola, menariknya untuk duduk di samping, membuat jantung Hiyola berdegup kencang.


"Apa yang tuan lakukan?" tanya Hiyola mulai gugup. Mereka terlalu dekat.


Roberth tidak mengatakan apa pun, dia menarik tangan Hiyola, meraih jari telunjuknya, menunjukkan luka yang ada di sana.


"Kamu memang ceroboh!"


***