Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 6 : Handuk Sialan



“Hoam…”


Mulut memang tidak selalu sejalan dengan hati. Karena terlalu lelah tadi malam, Hiyola bahkan tidak tahu pukul berapa ia tidur sampai bisa bangun sepagi ini. Dirinya bahkan tidak sempat mandi semalam. Lihat saja tubuhnya yang penuh keringat dan terasa lengket.


“Astaga, aku harus segera mandi.”


Seusai merapikan kamar, Hiyola membuka lemari pakaian, ia berencana mandi sebelum melakukan tugas seperti yang tertera di dalam kontrak.


Seperti yang Hiyola duga, rupanya Violeta sungguh melakukan yang ia katakan mengenai apa yang harus Hiyola kenakan setelah menikah dengan Roberth.


Lihat saja lemari yang berisi pakaian ini. Begitu penuh, dan padat, semua inilah yang harus Hiyola kenakan karena katanya sesuai dengan selera Roberth.


Hiyola mulai meneliti semua pakaian yang katanya di sukai Roberth ini. Satu persatu ia sampirkan ke sudut Kiri Lemari. Namun, semua pakaian yang ada di dalam lemari membuat Hiyola mengeluh resah.


“Dress.”


“Dress lagi.”


“Dan Dress…”


Hiyola memukul jidat pelan.


Bagaimana mungkin selera Roberth seperti ini? Apakah pria itu suka memandang betis jenjang para gadis?


Memikirkannya membuat Hiyola refleks menutup lemari.


Membayangkan tinggal serumah saja sudah cukup membuatnya frustasi, di tambah ia juga harus mengenakan dress-dress memuakkan.


“Hiii…” ujar nya bergidik ngeri.


Hiyola memutuskan untuk keluar dari kamar. Sepertinya ia akan bersih-bersih lebih dulu.


Perlahan pintu kamar Hiyola tarik. Kepalanya lebih dulu ia julurkan untuk mlihat keadaan luar.


Mata nya memicing, di luar masih sangat gelap karena semua lampu di matikan, di tambah hari yang masih terlalu pagi. Sebelum benar-benar keluar, Hiyola menyempatkan diri untuk melihat pintu yang berada tepat di samping pintu kamarnya.


Rupanya Roberth belum bangun, karena celah bagian bawah pintu kamarnya tidak mengeluarkan sedikit pun cahaya.


Dalam hati Hiyola menarik nafas lega, dia bisa melakukan semua aktivitasnya tanpa merasa terganggu.


Saat hendak keluar, Hiyola teringat sesuatu, terpaksa ia kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya. Ia baru datang semalam, tentu saja dia tak tahu di mana letak semua kontak lampu.


Sesudah meraih ponselnya, Hiyola kemudian buru-buru menuruni tangga. Mau merapikan rumah, tapi entah apa yang harus ia rapikan, karena kondisi rumah yang terlampau rapi.


Akhirnya Hiyola memutuskan untuk berjalan ke arah dapur. Untung saja berkat cahaya ponsel nya, Hiyola berhasil sampai di depan kulkas dengan selamat.


Hiyola membuka kulkas untuk melihat apa yang mungkin bisa ia masak pagi ini. Binar mata bahagia terpancar kala ia melihat telur yang tertata rapi di bagian atas. Di ambil nya dua butir telur, kemudian mengcoknya menjadi satu. Dia akan membuat telur dadar.


Hiyola kembali membuka kulkas, mengambil beberapa helai daun bawang, mengiris lalu memasukan nya ke dalam wadah berisi telur, tidak lupa menambahkan penyedap rasa.


Saat kompor di nyalakan, Hiyola merasa ada sesuatu yang kurang. Dia letakkan kembali wadah di atas meja makan, yang kebetulan brada di depan kulkas, kemudian membuka pintu kulkas untuk kesekian kalinya. Saat netranya menangkap sosok kecil berwarna merah, Hiyola sadar bahwa ia melupakan cabai.


“Ya ampun, bagaimana bisa aku melupakan mu?” ujarnya bermonolog.


Setelah mencincang cabe, Hiyola sempat tertahan sebentar. Takutnya penghuni rumah yang satu itu tidak makan cabe.


“Ah, tapi tidak mungkin. Kenapa juga dia harus menyiapkan stok cabe di kulkas, kalau dia sendiri tidak makan cabe? Pasti dia juga suka pedas.” Keputusan pribadi.


Tanpa berpikir panjang dimasukkan lah cabe sejumlah 6 biji yang telah di cincang halus tadi ke dalam wadah, kemudian Hiyola mulai menggoreng.


Selesai dengan telur dadar, Hiyola mengambil beras dan menanak nya, walaupun ada penanak nasi digital, Hiyola tidak mau menggunakan nya. Menurut Hiyola menanak nasi di panci jauh lebih enak.


Lama menunggu, nasi belum juga matang. Hiyola akhirnya memutuskan untuk naik dan mandi lebih dulu, lagi pula ia tidak akan lama jadi pasti masih sempat untuk mematikan kompor.


***


Roberth terbangun dari tidurnya karena bau yang sangat menyengat. Setelah membuka pintu, Roberth segera berjalan menuruni tangga mengikuti bau hangus yang semakin menusuk hidung.


Sesampainya di dapur ia memekik kaget.


“Astaga! Apa yang terjadi?” pekiknya saat melihat pemandangan buruk dapur nya.


“Aaaa…. Nasi nya… astaga kenapa aku bisa lupa?”


Karena terlalu menikmati air hangat Hiyola jadi lupa akan nasi yang masih berada di atas kompor. Ia berlari sekuat tenaga berharap memiliki kekuatan teleportasi agar dirinya bisa langsung sampai ke dapur namun, tepat di anak tangga terakhir Hiyola menahan gerakan nya, mencoba menghentikan langkah kakinya tapi terlambat, mau tidak mau, tubuh ramping itu akhirnya terhuyung kedepan kemudian menimpa Roberth, alasan Hiyola berhenti.


Bugh…


“Awww…” pekik Roberth dan Hiyola bersamaan.


Saat ini mereka berdua berada dalam posisi yang sangat tidak menyenangkan, dimana Hiyola berada tepat di atas tubuh kekar Roberth.


Walau tubuh mereka tidak berdempetan karena kedua tangan Hiyola yang berada di sisi kiri kanan Roberth menahan tubuhnya, apa yang kenakan Hiyola membuat gadis itu jauh lebih sial lagi.


Tadi saat sedang menikmati sejuknya air hangat Hiyola tanpa sadar berlari keluar dengan hanya mengenakan handuk. Ia tidak mengira bahwa Roberth akan berada berada di bawah.


Sementara Hiyola merutuki kebodohan nya, mata Roberth yang tadinya tertuju pada wajah Hiyola perlahan turun, secepat kilat Hiyola langsung berusaha melepaskan diri.


“Berhenti di situ! Jangan menatap ke bawah, atau kau akan menyesal.” Ancam Hiyola dengan mata melotot dan gigi gemertak. Tapi bukannya menurut, Roberth malah menurunkan pandangan nya.


“Hey!!!” pekik Hiyola lagi.


“Jangan bergerak!” seru Roberth, tentu saja Hiyola tidak mendengarkan, dengan mata melotot, Hiyola kembali berusaha berdiri,tapi dicegah lagi oleh Robert.


“Sudah saya bilang jangan bergerak!” Pria itu bahkan sudah memegang tangan kiri Hiyola, sementara satu tangan nya yang bebas merangkul pinggang gadis itu.


“Lepaskan, apa yang kau lakukan?” teriah Hiyola mulai histeris, di kepalanya ia mulai membayangkan hal-hal aneh yang sering ia tonton dalam drama psikopat.


“Jangan macam-macam.” Pekiknya mengancam.


Roberth memejamkan matanya frustasi.


“Jika kau bergerak, handukmu akan lepas.”


Hiyola terkejut bukan main, dia tidak percaya dengan bualan Roberth tapi tetap saja menurunkan pandangan untuk melihat kondisinya sendiri.


Benar saja simpul handuk yang ia selipkan di tangan kanan nya sudah terlepas, sementara handuk yang saat ini menutupi tubuhnya di apit oleh tangan kiri, itulah sebabnya dari tadi Roberth dengan keras mencengkram lengan kirinya.


“See?” ujar Roberth mencoba mengatakan bahwa ia tidak berniat mengambil keuntungan apa pun dari Hiyola.


Kini antara malu, kesal dan merasa goblok, semuanya menyatu dalam diri Hiyola. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pasalnya dari tadi ia bersikap seolah Roberth akan melakukan sesuatu yang aneh pada nya.


“Lalu saya harus bagaimana?” bisik Hiyola sungkan, sangat memalukan memang.


Roberth memutar bola matanya jengah, “Ikuti arahan saya. Mengerti?”


Hiyola kemudian mengangguk paham. Roberth lalu memegang seuntas handuk yang menggantung tadi, kemudian tanpa melepaskannya, ia memegang tangan kanan Hiyola dengan tangan kirinya, kemudian mengangkat tubuh ramping itu dan mreka sama-sama bergerak berdiri.


Hiyola baru menghembuskan nafasnya begitu mereka sudah sama-sama berdiri. Agak canggung tapi dirinya harus berterimakasih.


“Terimak_” belum sempat mengutarakan niatnya, Roberth sudah lebih dulu protes.


“Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini? Kenapa pancinya bisa hangus? Astaga, kau hampir membakar rumah! Kamu berencana membunuh saya, agar bisa lari dari kontrak?” tuding Roberth, walau terkesan datar-datar saja, sebenarnya pria itu tengah marah.


Sepanjang hidupnya Roberth tidak pernah mengalami pagi yang lebih buruk dari ini.


Hiyola yang di semprot pun hanya bisa menunduk pasrah, dia akui bahwa ini adalah kesalahan nya, tapi berdiri dengan kondisi seperti ini juga tidak benar.


“Apa saya boleh naik berpakaian dulu sebelum kau mengomel?”


Lagi-lagi Hiyola berhasil membuat Roberth kesal, ia tidak membayangkan akan melewati hari-hari nya dengan wanita ini.


“Ya. Naiklah, saya akan menunggu di sisni.” Balas Roberth.


Hiyola langsung buru-buru naik ke kamarnya sementara yang bisa Roberth lakukan hanya mengeram karena kesal sendri.


“Wanita macam apa yang kau berikan ini, mom!!!”


***