Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 30 : Di usahakan tidak canggung



Hiyola mengerjapkan mata saat tidurnya terganggu oleh suara yang pernah ia dengar sebelumnya.


Suara jerit kesakitan Roberth.


Mungkin karena jengkel atas perbuatan Violeta dan Roberth tadi malam, Hiyola jadi terbawa mimpi, mengira ia mendengar suara igauan yang sering keluar dari mulut Roberth.


Mata Hiyola terus mengerjap beberapa kali, tidak mau terbuka, namun, karena suara tersebut semakin jelas, terpaksa membuka matanya.


Oke, warna kamar abu-abu, berbeda dengan kamar yang di tempati sebelum nya.


Sadar, Hiyola spontan berubah posisi dari tidur jadi duduk. Matanya melebar, sudah melek sepenuh nya.


"Kamar Roberth?" pekiknya, membungkam mulut sendiri. Terakhir yang di ingat, dia tertidur di kamar sebelah.


Bagaimana aku bisa ada di sisni? Apa jangan-jangan dia membawa ku kemari?


Hiyola menoleh, melihat Roberth yang terus mengeram. Seperti malam sebelumnya, pria itu kembali mengigau, kesakitan.


Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung membanting tubuhnya, terkelungkup. Kali ini dia akan pura-pura tidak peduli, seperti yang Roberth lakukan beberapa jam sebelum nya.


Mengambil dua bantal tidur, ia menggunakan benda tersebut untuk menutup kedua telinga. Hiyola berencana melanjutkan tidur, membiarkan Roberth sedikit menderita, membalas apa yang telah pria itu lakukan.


30 detik


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Empat...


"Arghhh!!!" Hiyola terduduk, mengeluh, memutar bola mata jengah, bibirnya di kerucutkan sambil kedua kaki di banting memukul spring bad, kesal. Rupanya dia masih punya sisa hati nurani, untuk tidak membiarkan Roberth menghabiskan malam sambil berteriak.


Turun dari ranjang, Hiyola berjalan ke samping ranjang lain, milik Roberth. Tangan yang satu menggenggam tangan Roberth. Sementara tangan yang lain menepuk lembut lengan Roberth, berusaha menenangkan nya, seperti yang sudah ia lakukan di hari sebelum nya.


Lima menit kemudian, Roberth sudah tenang. Hiyola masih menepuk lengan Roberth, setelah di rasa sudah cukup, dia berencana kembali ke bukan ke ranjang sebelah namun, kamar sebelah. Nanti besok, dia akan membuat perhitungan atas apa yang menimpanya dan atas kelancangan Roberth karena sudah mengangkutnya kemari.


Sayang nya, saat akan beranjak, Hiyola berusaha melepaskan tangan, namun tidak bisa karena genggaman erat Roberth.


Sekuat tenaga Hiyola berusaha menarik tangan nya, namun lagi-lagi Roberth menguatkan pegangan nya dalam kondisi mata masih terpejam.


"Aduh, mimpi apa sih, dia?" gerutu Hiyola.


Di karenakan keseimbangan yang tidak baik, Hiyola terhuyung.


"Huuuuaaaa....! pekik nya tertahan, kemudian terjatuh dengan kepala yang tepat menyentuh dada Roberth.


Jantungnya berdegup cepat saat tangan Roberth yang lain membekap bahunya. Lagi-lagi mata Roberth masih tetap terpejam. Perlahan pria itu kembali menggumamkan sesuatu, yang membuat hati Hiyola terenyuh.


"Aku minta maaf untuk perbuatan ibu ku."


Hiyola mendongak, "Apa dia begitu menyesal sampai terbawa mimpi begini?" ujarnya penuh tanya.


Lama dalam posisi seperti tadi, perlahan dekapan Roberth mulai melonggar, namun genggaman nya belum juga lepas. Jika terus seperti ini, Hiyola bisa mati keram berdiri terus.


Akhirnya, Hiyola memutuskan untuk meraih kursi kayu mewah, tanpa sandaran, berada di meja yang membatasi antara ranjang mereka. Ia memutuskan untuk duduk sebentar di sana, menunggu sampai Roberth melepaskan genggaman nya.


***


"Apa yang kau lakukan di ranjang saya?"


Hiyola mengucek mata nya yang tengah berusaha menyesuaikan penerangan. Hari sudah pagi, matahari dengan semangatnya menusuk menembus gorden kamar.


Spontan berdiri, Hiyola mundur. Dia mendelik, kaget, ketika sadar bahwa semalam bukannya ke kamar sebelah, ia malah tertidur di samping ranjang Roberth.


Roberth menatap penuh selidik, dia mulai curiga. Apa mungkin selama ini Hiyola hanya bersembunyi di balik topeng jaim nya? Bersikap seolah tidak tertarik padanya, tapi diam-diam mengambil kesempatan di saat diri nya sedang tertidur.


"Apa yang kamu lakukan?" tukas Roberth penuh curiga. Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Roberth bahkan merasa geli sendiri dengan sikap nya tersebut.


Hiyola mengerutkan dahinya, memangnya apa yang ku lakukan? Apa dia tidak tahu, aku berusaha menenangkan nya, dan dia sendiri yang menarikku sampai tidak bisa bergerak?


"Saya tidak melakukan apa pun tuan! Mau berapa kali saya katakan?" sergah Hiyola mulai naik darah.


"Jangan bohong! Buktinya kau berada di samping ranjang." Kali ini Roberth menunjuk TKP.


Hiyola mendengus, sebal. " Memangnya apa yang akan saya lakukan?"


Roberth mengangkat bahu, menebak. "Mungkin kau mau mengambil keuntungan saat saya tertidur? Siapa yang tahu? Mungkin karena diam-diam kamu mulai menyukai saya?"


Lagi-lagi Hiyola mendengus kesal karena tuduhan tidak berdasar yang Roberth lontarkan.


Dan, apa? Menyukai nya? Tidak salah? Siapa yang menyukai siapa? Siapa juga yang akan menyukai pria picik seperti nya?


Hiyola membuang muka, cuek. "Tuan bukan tipe saya, jadi tuan tidak perlu khawatir."


Roberth melebarkan matanya sebentar, kemudian kembali berpura-pura tidak terkejut. "Memangnya seperti apa tipe mu? Seperti Daniel?" sinis Roberth.


Air muka Hiyola seketika berubah. Dia sontak terdiam, membuat Roberth jadi salah tingkah.


"Kenapa diam?"


Hiyola tidak menjawab, dia memilih bungkam, tidak melanjutkan perdebatan mereka. Harusnya dia yang marah-marah karena sikap lancag Roberth.


Astaga! Daniel pasti akan menyuekinya seharian suntuk, bisa jadi seminggu, paling lama sebulan. Pria itu hebat dalam hal mendiami.


"Mau kemana kamu? Tanggung jawab atas perbuatan mu dulu!" teriak Roberth.


Tangan Hiyola sudah menyentuh ganggang pintu. Dia menunduk sebentar, membuang nafas kasar. Akhir-akhir ini semuanya semakin sulit.


"Saya minta maaf karena sudah mendekati tuan. Saya pastikan hal ini tidak akan terulang lagi." balas Hiyola sebelum benar-benar keluar.


Roberth menatap punggung yang menghilang di balik pintu, padahal dia hanya berusaha bercanda agar mereka tidak terlau kaku, akibat kejadian semalam. Tapi seperti nya, dia memang tidak cocok dalam hal tersebut.


***


Sementara itu, di kamar sebelah, Hiyola telah masuk ke dalam kamar mandi, melepaskan semua pakaian dan memulai ritual mandi.


Tamparan Violeta semalam, masih lumayan terasa di pipi, membuat nya penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, dan di mana letak kesalahan yang ia lakukan. Pasalnya yang seharusnya marah kan, Hiyola, sebab Roberth telah mengganggu priavasi nya!


Jika bukan karena masih shock atas apa yang menimpa Daniel, maupun rahasia yang terbongkar, Hiyola pasti sudah meladeni Violeta semalam. Bagaimana pun juga, mereka semua kan, sama-sama di untungkan.


Hiyola memejamkan matanya, frustasi. "Arghhh!! Bisa gila, aku!" geram nya, mulai mengguyur seluruh tubuh.


30 menit sudah Hiyola berendam di dalam bathtub. Setelah di rasa seluruh otot yang tadinya menegang, kembali rileks. Hiyola memutuskan untuk keluar dari benda putih berukiran besar berbentuk mangkok tersebut.


Dia punya tugas penting, harus menemani Daniel, karena hari ini adalah hari pemakaman ibu nya.


Hiyola tidak akan menjelaskan apapun, dia hanya akan membiarkan Daniel melalui hari berkabung, baru setelah nya ia akan menjelaskan semua tanpa menutupi apa pun, terutama mengenai pernikahan.


Terserah Daniel mau mengusir, menjambak bahkan mendendang nya seperti yang sering mereka lakukan, Hiyola pasti akan terima. Untuk saat ini dia hanya memiliki Daniel di sisi nya. Hiyola belum berani mengungkapkan segalanya kepada Bibi Alya, teruma Miona.


Usai membersihkan diri, Hiyola mengambil baju bekas pakainya, lalu membungkus rambut. Saat hendak meraih handuk, dia spontan membelalak, baru sadar bahwa dirinya melupakan handuk yang berada di dalam ransel pakaian yang berada di kamar sebelah.


"Mati aku!" gerutunya menoyor kepala sendiri.


***