Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 23 : Memenuhi keinginan (Bagian 2)



Lagi-lagi mata bulat Hiyola berbinar, kala pedagang es krim menyerah kan makanan dingin berwarna-warni tersebut. 


Dua es krim yang ia pesan, berada pada masing-masing tangan nya.


"Hmm... Kenapa rasa nya jauh lebih enak dari enam tahun lalu?" Komentar Hiyola, mulai menyantap.


Sudut bibir Roberth terangkat,  menyanggah dengan senyum mengejek. "Rasanya enak karena gratis." sanggah nya, sedikit berteriak karena ramainya wahana permainan, tempat yang di pilih Hiyola untuk menikmati es krim.


Hiyola menoleh dengan satu tatapan tajam, wajah nya sinis. "Tuan memang paling ahli soal menghina." menyeruput es. "Lebih baik tuan makan." sarannya menyerahkan es krim di tangan kiri, yang belum ia cicipi.


Roberth menggeleng. Memangnya aku anak kecil?


"Saya bukan anak kecil!" tutur nya, menolak.


Kedua dahi Hiyola mengerut, memangnya ice Cream hanya di makan oleh anak kecil? Buktinya aku makan! 


Eh, apa maksud dia, aku anak kecil? 


"Ya, sudah kalau tuan tidak mau!" Hiyola langsung memasukkan es yang ia sondorkan tadi, kedalam mulut dalam satu suapan, saking kesalnya. 


Kali ini Roberth tersenyum geli. Semua tingkah Hiyola membuat nya ingin tersenyum. 


Lidah yang di julurkan panjang, mata melebar, deretan gigi yang di tunjukkan saking senang nya dan semua gerak-gerik aneh Hiyola, terus memancing senyum pada wajah kaku Roberth. 


Entah apa yang pria itu rasakan, diri nya lumayan terhibur bersama Hiyola. Sekalipun gadis itu bertingkah konyol, Roberth berharap malam tidak terlalu buru-buru melarut. 


Suasana di wahana permainan amat ramai. Roberth yang nota bene pembenci berisik, mulai menyesuaikan diri dengan dunia yang Hiyola sondorkan.


Lampu kerlap-kerlip yang selalu pria itu tatap dengan sinis, bisa di terima matanya malam ini. 


Wahana permainan yang merupakan salah satu tempat paling di benci Roberth, saat usianya tujuh tahun, mulai memberi arti yang berbeda, bahwa tidak harus bersama keluarga yang lengkap agar bisa menikmatinya.


"TUAN ROBERTH !!!" 


Roberth mendelik, terkejut dengan teriakan Hiyola.


"Saya tidak tuli!" ketus nya, mengorek kuping.


Hiyola bersedekap, dua es krim nya sudah habis.


"Dari tadi saya tanya, mau naik bianglala bersama saya atau tidak!!!?" Suara Hiyola lebih ketus lagi. 


Apa yang dia pikirkan sampai lima panggilan ku tidak satupun di jawab! Sudah budek, nyolot lagi. 


Roberth menoleh melihat bianglala yang tengah berputar. Kemudian beralih menatap Hiyola. "Kamu mau naik? Benda itu hanya untuk anak kecil! Jangan aneh-aneh, kalau jatuh bagaimana?" 


"Buahahhahahaha..." Menahan perutnya, Hiyola jadi terbahak-bahak mendengar penuturan Roberth. Memangnya dia tidak tahu kalau orang dewasa pun naik benda besar tersebut? 


"Kenapa tertawa?" tanya Roberth dengan sangsi. Seperti nya tidak ada yang salah dari kalimat nya.


Masih tergelak, Hiyola mencoba mengatur nafas. "Apa Tuan tidak pernah menaiki bianglala dengan nyonya Violeta dan ayah, Tuan?" tanya Hiyola dengan mata melebar dan kedua alis terangkat tinggi, masih berusaha menahan tawanya. 


Masa iya, orang setajir dan sekaya dia tidak pernah naik bianglala? Bahkan sekali?


"Kamu tidak perlu tahu soal itu!" ketus Roberth tidak menghiraukan pertanyaan Hiyola. 


Hiyola memicing, "Tuan... Tuan..., bahkan saat berkencan, bianglala jadi tempat pilihan terbaik untuk para pasangan. Apa hal itupun Tuan tak tahu?" Hiyola melihat bianglala tepat di saat benda raksaa tersebut berhenti berputar. 


Dia menunjuk ujung nya dengan heboh. "Nah, saat berada di paling atas, itulah kesempatan  yang tidak boleh di lewatkan, biasanya  mereka memanfaatkan saat itu untuk satu ciuman kilat, karena bianglala yang terus berputar. Hah...! Bayangkan betapa romantis nya itu?" 


Satu toyoran mendarat di kepala Hiyola. Itu ulah Roberth. 


"Kamu bukan ibu saya, dan kita sedang tidak berkencan jadi, mari pergi." 


Roberth meraih tangan Hiyola, namun gadis itu malah menghempaskan nya, melemparkan tatapan penuh selidik.


"Tuan takut, ya???" teriak nya. Semua orang yang tengah berlalu lalang menoleh memperhatikan mereka berdua. Ada yang tersenyum malu, bahkan ada yang geleng-geleng kepala. 


Tentu saja disini yang dipertaruhkan harga diri Roberth. 


Hiyola bersedekap, sembari mengangguk-anggukan kepala nya. "Benar, Tuan pasti ketakutan." pancingnya lagi.


Roberth balas menatap tajam, dia langsung meraih tangan Hiyola, tentu saja kalian tahu ke mana. Sebab pria paling benci yang nama nya di remehkan.


"Umpan di makan..." pekik kegirangan Hoyola, dalam hati. 


Tentu saja Hiyola sengaja. Mereka sudah berada di sini, jadi setidak nya  harus memainkan salah satu permainan yang ada di sana. Lagi pula, sejak awal  Hiyola memang berencana datang kemari agar bisa sekaligus memainkan wahana yang ada di sana. Apalagi ini semua gratis, tentu saja harus di manfaatkan dengan baik. Pokoknya, selama bukan uang nya yang keluar, Hiyola akan memanfaatkan keadaan yang ada.


***


Dan disinilah mereka berakhir, duduk bersama di dalam kabin bianglala. Mereka duduk saling berhadapan.


Hiyola yang kegirangan, sibuk melihat keluar saat bianglala memutar perlahan untuk mengambil penumpang lain, sementara di sisi lain, Roberth tengah duduk dengan ekspresi yang sulit di artikan. Wajahnya datar, tidak menunjukkan apa pun, namun pegangan kuat pada sisi bianglala menunjukkan bahwa pria itu tengah menekan rasa takut nya. 


Kabin mereka mulai naik lebih tinggi, dan semakin tinggi. Hiyola mulai memperhatikan Roberth yang berpura-pura cuek. 


"Tuan takut ketinggian, ya?" tanya Hiyoa, dia mulai merasa bersalah karena memaksa Roberth untuk naik bersama nya. Tapi, pria itu malah menggeleng menyangkal rasa takut yang sudah semakin mencekik nya. 


Saat semua penumpang sudah memasuki kabin, dan bianglala mulai berputar seperti seharusnya, terdengar suara-suara teriakan senang dari penumpang lain, begitu pun Hiyola yang juga menikmati wahana tersebut. Namun, saat Hiyola menoleh lagi, mata Roberth sudah mulai terpejam. 


"Ck! Katanya tidak takut!"


Hiyola berpindah,  duduk di samping Roberth. Perlahan dia melepaskan genggama tangan Roberth pada tempat duduk kabin, membuat mata pria itu terbuka perlahan.


Tidak ada satu kat pun yang keluar. Hanya mata keabuan yang menatap Hiyola dengan cukup sayu. 


Tangan Hiyola menggenggam erat tangan Roberth, berusaha memberika senyum terbaiknya, berharap pria itu bisa tenang.


"Kalau Tuan takut, berteriak saja! Tidak ada orang yang langsung berani saat pertama kali. Mereka hanya berteriak girang untuk melepaskan rasa takut nya! Saya pun demikian." ucap Hiyola sedikit berteriak karena pengaruh angin.


Melihat senyum manis, dan mendengar kata-kata Hiyola, di tambah jarak mereka yang amat dekat, Roberth bisa merasakan jantungnya berpacu dua kali lebih cepat, menutupi debaran rasa takutnya. 


Tangan yang menggenggam nya erat, membuat hatinya menghangat. Sejak kecil, Violeta selalu membawa Roberth untuk menaiki bianglala hanya untuk meluapkan emosinya terhadap sang Ayah yang kala itu masih bersama istri pertama nya. Roberth masih seorang anak kecil, yang harus di bimbing untuk menikmati wahana menakutkan tersebut, jadi bertambah takut karena luapan emosi sang ibu. 


Tapi kini, perlahan, kenangan menakutkan tersebut mulai hilang. Hiyola memberikan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari orang-orang yang telah bersama nya, sepanjang hidup nya. 


Tidak bisa di sangka-sangka, perlahan mata keabuan Roberth mulai turun. Dia fokus menatap bibir yang terus berucap tanpa henti. 


Bibir merah alami dan di timpa polesan liptint tersebut seakan menggodanya, membuat Roberth berani melepaskan satu tangan yang menggenggam jendela kabin, lalu memangkas jarak antara mereka. 


Diam seketika, Hiyola sontak menahan nafasnya saat wajah Roberth mulai mendekat. Hidung mancung, dan mata keabuan itu mulai membuatnya berdebar, genggaman Hiyola pada tangan Roberth tambah mengerat saat mata pria itu tidak lepas dari bibirnya. 


Perlahan, keduanya mulai memejamkan mata. Kebisingan dari penumpang lain seolah hilang di telan kesunyian yang tercipta di antara mereka.


Mungkin malam ini akan menjadi malam paling bersejarah untuk Hiyola Anastasya, si jomblo karatan.


***