
"Saya bisa jelaskan." Satu kalimat sakral yang selalu di katakan pria, keluar begitu saja dari mulut Roberth. Tangan nya kini sudah mencekal tangan Hiyola, saat gadi itu hendak berbalik masuk ke dalam restoran.
Dengan tenang Hiyola menoleh, sama sekali tidak ada ekspresi marah, yang ada hanyalah senyum di paksakan. "Oh, tidak, Tuan." sahut Hiyola buru-buru. Tangannya menggeleng cepat di depan wajah Roberth, seolah mengatakan ia tidak masalah. "Saya berbalik karena takut mengganggu kalian."
Roberth menggeram, "Jangan berbohong!" bentaknya. "Aku tahu alasan mu kembali, dan aku bisa jelaskan. Semua tidak seperti yang kau lihat, kami--"
Belum juga Roberth selesai bicara, senyum sinis Hiyola berhasil menyela. "Maaf, Tuan. Apa yang kalian lakukan, bukan urusan saya! Lagipula, kita hanya dua orang asing, yang hidup di dalam satu atap dengan status suami istri, tidak lebih. Anda tidak mencintai saya, begitupun sebaliknya. Jadi tidak perlu merasa bersalah." Ucapan Hiyola begitu menohok hingga ke ulu hati, sehingga Roberth melepaskan cengkraman nya.
Dengan cepat HIyola mengambil dompet yang sempat terjatuh, kemudian menyerahkan benda berwarna merah tersebut kepada wanita yang baru saja mendekat, setelah sejak tadi hanya berdiam diri sambil tersenyum puas.
"Mengganggu saja!" ucap Kimberly seraya mengecek isi dompetnya, setelah kepergian Hiyola.
"Kau sengaja melakukan nya?"
Kimberly menoleh, menatap sang kekasih dengan raut bingung. Wajah Roberth merah padam, rahang nya menegang, menahan amarah, namun sebisa mungkin ia mencoba tenang.
"Apa maksudmu, Rob? Kau menuduh ku?"
"Bukankah kau sengaja meninggalkan dompet mu di sana? Bahkan ciuman itu?" bentak Roberth.
Yang sebenarnya terjadi adalah Kimberly memang sengaja meninggalkan dompetnya di sana karena yakin Hiyola lah yang akan mengembalikan nya, kemudian memilih momen yang sudah diperkirakan untuk mencium Roberth. Sebab, yang Hiyola saksikan tadi bukanlah dua orang yang tengah berciuman.
Kimberly tidak lagi bisa berkutik. Ia kira Roberth tidak akan semarah ini. Menurutnya ini hanyalah hal sepele.
"Ya! Aku memang sengaja!" sahut Kimberly, ketus. "Lalu apa masalah nya? Bukankah dia tidak berarti untuk mu?"
Ya! Seharusnya hal tersebut tidak berarti baginya, tapi, kenapa rasanya sangat sakit ketika melihat Hiyola yang sama sekali bersikap tidak peduli? Bukankah seharusnya ia senang karena tidak perlu berdebat?
"Kenapa Rob? Jangan bilang kau mulai menyukai nya?" selidik Kimberly. Dia bahkan mengepalkan tangannya, menunggu dengan getir jawaban yang keluar dari bibir Roberth.
"Aku tidak menyukainya! Aku hanya takut kontrak kami berantakan karena hal ini!" Roberth tidak lagi mengacuhkan pertanyaan Kimberly, dia berjalan begitu saja menuju mobilnya.
Jawaban Roberth jelas, tapi terdengar ambigu dan tidak memuaskan di telinga Kimberly. Dia berlari mensejajarkan jalan nya dengan Roberth.
"Lalu kenapa kau marah seolah dirimu di pergok istri yang kau cintai? Jawab aku Rob!" tuntut Kimberly.
Roberth menghentikan langkahnya. Dia menggusar rambutnya frustasi. "Aku akan memesan taksi untuk mu! Pulanglah dengan itu!"
Netra biru Kimberly membelalak kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Kimberly semakin tidak percaya ketika Roberth masuk ke dalam mobilnya, kemudian mengunci pintu mobil. Berkali-kali dia mengetuk kaca mobil, namun Roberth sama sekati tidak menghiraukan nya, dan terus mundur hingga memutar bahkan keluar dari kawasan restoran.
"Arghhh...! Sialan kau Rob!" maki Kimberly. Dia bahkan tidak peduli akan pandangan beberapa orang yang baru saja keluar dari restoran.
"Apa kalian lihat-lihat!" Bentak Kimberly membuat orang-orang yang menatapnya malah terkekeh geli.
***
Tiga jam berlalu. Hiyola pulang dengan mengendarai motornya. Sepanjang perjalanan di tengah berisik nya jalan raya, dan gelapnya langit malam yang mulai membunyikan gemuruh nya, dia menumpahkan seluruh kekesalan nya.
Penghinaan Kimberly, ketidakberdayaan dirinya, bahkan ciuman dua sejoli tadi, membuat Hiyola merasa peran nya di dalam cerita hidupnya sendiri begitu kecil. Selama beberapa jam terakhir, Hiyola bahkan terus berusaha menekan semua sakit hatinya. Ia tidak ingin orang lain melihat kesakitan yang ia rasakan, namun langit ternyata punya rencana lain, seolah mendukungnya dengan menjatuhkan buliran bening dari langit, untuk menutupi buliran bening yang keluar dari balik pelupuk mata nya.
"Argh...! Kenapa dengan ku ini? Seperti nya aku sudah kehilangan akal!" gerutu nya, mengusap air mata yang sama sekali tidak ingin berhenti mengalir.
Entah karena penghinaan yang ia terima, atau karena menyaksikan pemandangan yang begitu menyakitkan, Hiyola sudah tidak tahu lagi. Terlalu banyak penderitaan yang harus ia lewati dalam hidupnya. Ditinggalkan, ditinggal lagi, penghinaan, bahkan mungkinkah ia harus menerima penghianatan juga dalam daftar penderitaan nya? Semuanya terlalu berat untuk gadis muda sepertinya. Bahkan di usia pencarian jati diri ini, Hiyola harus melalui segala nya dengan menerima setiap keadaan dan kondisi yang menghampirinya tanpa bisa memilih.
"Tuhan... Kenapa ini begitu sulit?" Mengusap air mata yang terus tersapu hujan. "Aku ingin beristirahat, rasanya terlalu sulit..." keluh nya, meluapkan semua sesak di dada.
***
Lima belas menit, Hope memasuki kawasan rumah dua lantai yang sudah menjadi tempatnya pulang. Waktu menunjukkan pukul 10.30 ketika Hiyola menginjakkan kaki nya di depan pintu.
Menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan nya pelan. Hiyola hanya bisa melihat rumah dua lantai ini dengan penuh penyesalan. Seharusnya sejak awal ia tidak pernah berhubungan dengan semua manusia kaya ini, seharusnya ia tidak kenal seorang Roberth sehingga tidak perlu merasakan lara yang membingungkan nya saat ini.
Perlahan dengan sendu, Hiyola mendorong pintu utama tersebut, kemudian masuk dengan langkah yang amat pelan agar tidak mengganggu orang rumah yang mungkin sudah beristirahat. Hiyola pun sudah mengirim pesan kepada Ami agar tidak perlu menunggunya.
Sesekali Hiyola menggosok kedua tangan nya yang menggigil, kemudian terus melangkah memijak satu demi satu anak tangga. Kakinya tehenti sebentar, diantara pintu kamarnya dan Roberth. Melihat pintu kamar pria itu yang masih tertutup tanpa sedikitpun cahaya lampu, ia menghembuskan nafas lega. Setidaknya ia tak perlu melihat sosok yang telah membuat perasaan nya terasa begitu hampa.
Dengan langkah pasti, Hiyola kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Seluruh tubuhnya menggigil karena nekat menembus hujan tadi. Namu, baru saja pintu di belakang nya tertutup. Hiyola di kejutkan dengan seseorang yang kembali membuka pintu itu dengan amat keras, sehingga menimbulkan suara gebrakan yang begitu keras, hingga membuat sang empu kamar berbalik, spontan.
Mata Hiyola membelalak begitu mendapati sosok Roberth yang berjalan kearahnya.
"Tuan--" Belum juga Hiyola menyelesaikan kalimat nya, Roberth sudah mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya yang dingin.
Cup!
***