
Matahari terik menembus celah-celah dinding setengah papan, dari rumah sederhana berwarna hijau. Di ruang tamu, Petra yang sibuk menonton tayangan TV, ikut mengendus, mencium aroma wangi yang berasal dari dapur.
Saat ini, Hiyola tengah sibuk menyiapkan maka siang untuk dirinya dan dua penghuni sementara. Sejak pagi tadi, ia dan Petra tidak berhenti berdebat mengenai keberadaan Roberth. Petra yang notabene seorang anak buah tidak berani membangunkan tuan nya, sementara Hiyola, ia mungkin akan membunuh Roberth saat berusahaembangunkan pria itu, jika Petra tidak menghentikan nya. Alhasil, mereka memutuskan menunggu hingga Roberth bangun dan sadar akan perbuatan nya.
"Astaga, entah sudah berapa lama, aku tidak menikmati istirahat menyenangkan ini," ujar Petra yang tengah duduk anteng, sambil memencet remote tv, sambil sesekali terkekeh geli.
Sejak menjadi asisten di keluarga Kohler, Petra sama sekali berubah drastis dari seorang pria banyak bicara, menjadi seseorang yang kerap bersikap dingin dan kaku persis seperti bos nya.
"Ah, ku harap, Tuan Roberth akan berbaring sedikit lebih lama, dan..."
Belum ada kalimat Petra berakhir sebuah suara dari samping mengejutkan nya.
"Di mana ini?"
Petra dengan gerakan empat lima, langsung terlonjak dari duduk nya. Sikap santui yang tadi, berubah drastis. Roberth terduduk sambil memegang kepala nya yang terasa pusing.
"Petra? Apa yang kau lakukan di sini? Dan, kenapa aku bisa berada di sini? Tempat apa ini?"
Semua kalimat tanya itu, keluar begitu saja dari mulut Roberth. Petra yang melihatnya haya bisa menggeleng hendak menyampaikan apa yang terjadi, tapi, saat Hiyola masuk sambil membawa makanan, Roberth sontak berdiri.
"Kenapa ada kamu?" tanya nya, spontan.
Hiyola tidak menjawab. Dia sengaja tidak menghiraukan keberadaan Roberth. Wajah penuh tanya sang bos, hanya bisa Petra jawab dengan isyarat, 'Akan saya jelaskan, Tuan'
"Kalian ingin makan atau langsung pergi saja?" tanya Hiyola. Dia sama sekali tidak menatap Roberth. Pertanyaan yang terdengar jutek tersebut di tujukan pada Petra.
"Semua terserah Tuan saja," jawab Petra, melempar pandangan nya kepada pria yang masih berdiri kebingungan.
Roberth masih berdiri, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kedua alisnya mengerut, menatap Hiyola dan Petra bergantian. Entah siapa yang telah menyeretnya hingga ia berakhir di rumah asing ini.
"Ada yang bisa jelaskan, kenapa aku bisa berada di tempat aneh ini?"
Mendengar pertanyaan Roberth tersebut, Hiyola hampir melempar centong nasi ke arah nya, namun, Petra segera menyela cepat.
"Saya rasa, kami akan pulang sekarang. Mari, Tuan..." ucap Petra seraya mengulurkan tangan nya ke arah pintu.
Roberth bergeming. Setelah melihat seisi rumah, dan beberapa foto yang terpajang, kini dirinya tahu dia berada di kediaman Hiyola.
"Saya lapar! Kita makan baru pergi," ucap Roberth. Dia sama sekali tidak menghiraukan tatapan tajam Hiyola terhadap nya.
Kini setelah berpikir sedikit keras, Roberth sudah mengingat segalanya. Di mulai dari perjalanan menuju hotel dengan kemarahan, hingga dirinya berakhir di sebuah klub malam, lau tanpa sadar datang ke rumah hijau ini. Yang mana, satu-satunya penyebab hilang kendali akan dirinya, kini tengah memasang wajah penuh permusuhan padanya.
Dengan sikap acuh tak acuh, Roberth mengambil piring yang sudah Hiyola sediakan di atas meja. Tanpa perintah, ataupun ijin, ia langsung mengambil sesendok nasi, mie goreng dan telur gulung. Hiyola dan Petra saling melempar pandangan melihat tingkah Roberth yang aneh. Sesekali keras kepala, marah-marah tidak jelas, lalu kembali menjadi peduli dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kalian hanya memandang ku? Ayo makan. Jagan sungkan," ucap nya seraya menyengir.
Sungguh, jika sikapnya seperti ini, Hiyola jadi kehilangan selera makan nya. Sepertinya setelah mabuk, Roberth sudah kehilangan akal sehat nya.
"Kau makanlah, Petra. Maaf, karena saya hanya punya makanan cepat saji,"
"Oh, tidak masalah, nona. Sudah lama saya tidak menikmati mie instan seperti ini. Benarkan, Tuan?" ucap Petra, yang melihat Roberth makan dengan begitu lahap.
Karena sedang mengunyah, Roberth hanya bisa megangguk. Setelah menelan makanan di mulutnya, dia langsung menyanggah satu kata Petra yang sempat salah tadi.
"Sudah aku katakan! Dia adalah nyonya Hiyola, berhenti memanggilnya nona!" ketus Roberth, kembali menyantap makanan nya.
Hiyola terdiam. Dia tertegun mendengar kalimat Roberth barusan. Pria ini selalu berhasil membuat nya kesal dan senang di saat bersamaan, namun, sejak di pecat waktu itu, Hiyola sudah memutuskan untuk tidak menjadi lemah, maupun terpengaruh dengan sikap Roberth.
Namun, sebelum beranjak, Roberth yang padahal sedang fokus makan, tiba-tiba menggenggam tangan nya.
"Mau kemana? Suami mu sedang makan!" ucapnya.
Hiyola buru-buru melepaskan cengkraman Roberth di tangan nya. Tanpa banyak berkomentar, dia langsung duduk,kembali ke posisi semula. Jujur saja, saat ini dirinya tidak punya lebih banyak tenaga untuk meladeni Roberth. Melihat perubahan sikap Hiyola, entah mengapa Roberth merindukan saat dimana mereka selalu bertengkar dan saling beradu mulut.
Sepuluh menit kemudian, Roberth dan Petra sama-sama meletakkan piring nya, begitu pun Hiyola. Mereka bertiga melalui makan siang dalam suasana diam.
Selesai dengan makan nya, Petra membantu Hiyola membawa piring dan semua perlengkapan makan mereka ke dapur, sementara Roberth sibuk menilik rumah bahkan foto-foto yang terpajang di dinding. Senyumnya terukir begitu melihat potret Hiyola kecil bersama ibu, ayah dan seorang anak gadis yang di perkirakan adalah adiknya.
"Saya akan ke depan untuk memanaskan mobil tuan," pamit Petra yang lebih dulu keluar dari dapur.
Roberth mengangguk, mata keabuan nya masih fokus pada potret masa kecil Hiyola yang amat lucu.
"Apa yang tuan tertawakan?" tanya Hiyola dari arah dapur.
Roberth yang menoleh cepat, sempat melihat Hiyola menyentuh dahinya. Dengan wajah cemas ia menghampiri Hiyola yang masih setengah perjalanan menuju ruang tamu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Roberth. Tangan nya dengan lancang menyentuh dahi Hiyola membuat gadis itu terpaku di tempat.
Entah Roberth ini punya perasaan atau tidak, yang pasti Hiyola benci dengan sikapnya yang selalu berubah. Dengan cepat ia mundur, lalu menatap wajah Roberth serius.
"Apa yang Tuan lakukan?" sergah Hiyola.
Roberth menatap tangannya yang masih terasa hangat setelah menyentuh dahi Hiyola tadi. Dengan cepat ia kembali meraih tangan Hiyola, hendak membawanya keluar.
"Apa yang Tuan lakukan? Lepaskan saya!" ketus Hiyola kembali menghempaskan tangan nya. Matanya memerah menahan tangis. Padahal ia sudah membulatkan tekad untuk tidak lagi peduli pada apa pun yang Roberth lakukan, namun pria itu kembali mempengaruhi semua keputusan nya.
"Kau harus kembali ke rumah sakit! Tubuh mu sangat panas!" ucap Roberth. Raut khawatir terpampang jelas di wajah tampan nya.
Hiyola tersenyum miring. "Saya baik-baik saja, Tuan. Lebih baik Tuan pulang, sekarang," balas Hiyola.
Roberth menggusar kuat rambutnya. "Kau itu benar-benar keras kepala! Jika sesuatu terjadi pada mu, bagaimana?" bentak nya frustasi. Dia lalu kembali meraih lengan Hiyola, main lagi-lagi kembali di tepis. Matanya begitu sendu menatap Roberth.
"Jangan bersikap seolah Tuan peduli," lirih Hiyola.
Roberth berdecak. "Apa kau berkata begini karena memiliki pria lain di sisi mu?" sinis nya. Wajah angkuh dan intimidasi ini merupakan hal yang paling Hiyola benci dari seorang Roberth.
"Maaf Tuan, sebaiknya kalian pulang. Saya takut, istri tuan mungkin sedang khawatir setengah mati," ucap Hiyola.
Roberth mendengus, mata keabuan nya menatap Hiyola tajam. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Hiyola Anastasia!" ketus Roberth yang sangat tahu jika saat ini Hiyola tengah berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Saya tidak sedang mengalihkan. Saya sedang memberi saran, melihat panggilan telpon yang terus masuk dari tadi," balas Hiyola dengan arah mata menuju ponsel di saku celana Roberth.
Karena panggilan demi panggilan yang terus berdering, Roberth memutuskan untuk mematikan ponsel nya.
"Dengar! Saya tidak peduli dengan siapa kamu berhubungan. Tapi, satu yang yang harus kamu ingat, kamu itu masih istri saya, jadi pastikan kedekatan kalian tidak membuat mu lupa akan status yang tengah kau sanding!" tutur Roberth panjang lebar. Tanpa menunggu jawaban Hiyola, dia segera melenggang keluar, menuju depan kompleks menyusul Petra yang sudah pergi lebih dulu.
Hiyola hanya bisa memandang kepergian Roberth dengan sendu. Setelah pria itu hilang termakan jarak, Hiyola langsung menghembuskan nafas lega.
Maaf atas sikap ku, Tuan. Tapi aku melakukan nya karena tidak ingin salah paham terhadap setiap sisi baik mu.
***