
Hari ini, pagi-pagi buta, Hiyola keluar sambil menenteng tas nya. Hatinya terasa sakit karena Roberth. Dia tidak mau hidup selalu di bawah bayang-bayang pria yang bahkan tidak bisa percaya padanya.
Hiyola bahkan sengaja mendorong motornya hingga jauh dari gerbang rumah, hanya agar Roberth tidak menyadari aksinya tersebut. Sudah cukup ia harus selalu menaruh rasa sakit karena pria tidak berperasaan itu.
***
[Halo, Tuan]
"Petra, apa kau yang mengurus kepindahan Hiyola, pagi tadi?"
[Tidak tuan. Ini saja saya baru bangun,] sahut Petra dari ujung telpon.
Lagi-lagi Roberth mendengus. Dia langsung mematikan ponsel tanpa sepatah kata pun. Dan bersiap-siap untuk segera ke kantor.
Setibanya di kantor, Petra yang sudah menunggu di dalam ruangan menyapa.
Roberth tidak menyahut, dia sibuk memainkan jari-jari nya di atas meja. Sebuah perintah langsung keluar saat jarinya berhenti bergerak.
"Petra, cari tahu kemana Hiyola pergi."
Petra mendongak. "Baik, Tuan," sahutnya dan langsung bergegas keluar, walau agak bingung mengenai apa yang terjadi.
Rapat sudah mulai sejak 30 menit lalu, namun Roberth masih tetap fokus dengan pikiran nya sendiri. Bahkan saat tender di menangkan oleh nya, ia sama sekali tidak merespon membiarkan para kolega nya bertepuk tangan. Pikirannya di penuhi oleh keberadaan Hiyola. Sebenarnya bukanlah rasa khawatir, melainkan rasa bersalah yang kini mulai menggerogoti nya.
"Selamat atas kemenangan nya, Tuan." Beberapa karyawan memberikan bunga kepada Roberth. Seperti biasa dia mengambilnya tanpa ekspresi.
Di dalam ruangan, Roberth terus menatap ponselnya, tanpa ingin melakukan apa pun. Dia menunggu dengan tidak sabar-informasi dari petra.
"Ck! Lelet sekali Petra!" geram Roberth yang tidak bisa diam lagi di tempat nya. Dia berusaha mengerjakan hal lain, namun terus teralihkan. Hingga,
Tiiiinggg....
Satu pesan WA masuk. Roberth dengan tidak sabaran membuka pesan pemberitahuan dari Petra.
[Saya menemukan keberadaan nyonya Hiyola, Tuan.]
Hanya sederet kalimat itu, namum berhasil memunculkan binar di mata Roberth. Seolah menemukan Hiyola lebih berarti dari memenangkan tender.
Roberth langsung menghubungi Petra untuk mendapatkan detailnya.
***
Saat ini, Roberth sudah melajukan mobilnya. Dengan cepat ia melesat, menyalip beberapa kendaraan di depan sehingga tak ayal sering mendapat kecaman dari beberapa pengemudi lain.
Di kepalanya, semua rancangan kata-kata kesal telah ia kumpulkan. Dia berencana akan membawa Hiyola pulang ke rumah. Nanti dirinya akan memberikan sedikit alasan masuk akal untuk sanga Mommy. Bahkan belum ada sehari, Hiyola tidak dalam pengawasan nya, ia sudah merasa begitu cemas.
"Awas saja kau! Ku pasti kan kau tidak akan bisa lepas dari pengawasan ku." gumam Roberth.
Bahkan saking khawatirnya, Riberth sampai mengacuhkan Kimberly yang dari tadi terus menghubunginya, bahkan mengirim pesan soal kepindahan nya, namun Roberth sama sekali tidak menggubris. Seluruh jiwanya di penuhi Hiyola yang tiba-tiba menghilang dari rumah.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki sebuah kawasan perumahan. Untungnya jalanan masuk memiliki jalan aspal yang cukup besar sehingga akses untuk masuk menggunakan mobil jadi lebih mudah.
Roberth mengikuti semua petunjuk yang Petra berikan. Agak susah memang, karena terdapat banyak sekali rumah, dan Roberth yang keras kepala hanya mendengar penjelasan Petra sampai di saat pria itu mengatakan bahwa rumah Hiyola berdinding setengah beton dan setengah papan.
"Astaga! Semua rumah di sini setengah beton dan setengah papan," gerutu Roberth.
Matanya terus memicing, sesekali alisnya berkerut saat ada orang yang keluar dari rumah, kemudian mendesah pelan karena sosok itu bukan Hiyola.
"Harusnya ku terima penawaran Petra untuk datang bersama." Lagi-lagi Roberth mengeluh.
Merogoh ponsel, Roberth berencana untuk menghubungi Petra, namun seseorang yang baru saja keluar dari sebuah rumah berwarna Hijau terang, menghentikan pergerakan nya. Dia mengamati benar, motor berwarna Hijau di samping rumah.
"Itu dia!" ucap nya, kegirangan, namun kembali berdehem untuk menetralisir sikap senang yang berlebihan.
Roberth berencana turun dan menghampiri gadis keras kepala di depan sana, tapi di urungkan, melihat Hiyola yang tengah bergerak terburu-buru.
"Mau kemana dia?" batin Roberth.
Motor hijau segera melaju, pergi. Roberth pun turut mengikuti sambil menjaga jarak. Dia penasaran kemana gadis itu pergi dengan terburu-buru. Alis nya mengerut saat melihat motor hijau di depan sana, berbelok memasuki gerbang utama, Universitas Nusantara.
"Apa yang dia lakukan di sini?" lagi-lagi Roberth bergumam sendiri.
Terus mengikuti, Roberth terkejut lagi saat Hiyola memasuki gerbang berikut, yang bertuliskan Fakultas Ekonomi. Motor berhenti di parkiran diikuti mobil Roberth.
Dengan rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun, pria itu segera masuk. Dia terus mengekori Hiyola yang tidak sadar akan kehadiran nya, hingga memasuki sebuah ruang kelas. Bagaimana pun, Roberth tahu seluk beluk fakultas karena keluarga nya sendiri donatur di sana.
Dengan langkah cepat Roberth berjalan ke ruangan Dekan. Pria bertubuh tinggi itu terkejut melihat kedatangan seorang Roberth Kohler, lalu segera mempersilahkan nya untuk duduk.
Walau sedikit berbasa-basi, Roberth tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ia segera bertanya ke inti permasalahan nya.
Sang Dekan mengerutkan dahinya. "Hiyola Anastasya, ya? Sebentar ya, Mr. Kohler. Akan saya tanyakan."
Dekan berjalan ke meja nya, kemudian menghubungi seseorang. Tidak berselang lama, seorang wanita masuk membawa berkas yang di minta. Dekan tersebut lantas menyodorkan nya kepada Roberth. Betapa terkejutnya Roberth saat membaca biodata lengkap milik Hiyola.
"Pembohong!"
Dengan tangan terkepal, Roberth melenggak keluar dari Fakultas. Seumur hidupnya, Roberth selalu menjunjung nilai kejujuran. Dia mungkin bisa menolerir hal lain, tapi tidak dengan sebuah kebohongan.
Roberth sama sekali tidak menyangka bahwa Hiyola yang kala itu menikah dengan nya adalah seorang gadis berusia 23 tahun. Mungkin jika hanya urusan pernikahan kontrak, Roberth tidak akan ambil pusing, tapi ini, ini mengenai perusahan. Bagaimana bisa dia mendaftar sebagai pekerja di perusahan Meet Me, di saat peraturan jelasnya mengatakan hanya wanita berusia 25 hingga ke atas yang berhak menjadi karyawan di sana?
"Berani nya dia membodohi kami!" geram Roberth.
Walaupun ia sendiri masih merasa aneh dengan perasaan nya, kesalahan Hiyola ini tidak bisa di tolerir. Selama memimpin perusahan, Roberth selalu menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya. Dia tidak akan menolerir masalah sebesar ini. Hal ini bisa berdampak buruk ke citra perusahan jika tersebar ke luar.
Menginjak kuat pedal gas, Roberth segera meninggalkan halaman kampus. Kemarahan menyelimutinya, mengingat bagaimana bisa gadis yang ia pedulikan melakukan hal sekotor ini.
[Halo, Honey?] Violeta menjawab dari seberang telpon.
Rahang Roberth mengeras, dia tidak akan memaafkan sang Mommy, jika wanita itu turut andil dalam kebohongan Hiyola.
"Apa kau tahu Hiyola Anastasya telah memalsukan surat lamaran nya?" tanya Roberth berusaha menahan agar suaranya tidak meninggi.
Violeta tidak menjawab. Dia seberang sana, ia tampak khawatir sebab tahu tabiat Roberth yang sangat benci di bohongi.
"Mommy! Jangan bilang ka--"
[Memalsukan surat lamaran?] Jawaban Violeta membuat Roberth menggeram. [Apa maksud mu, Honey? Mommy tidak mengerti,] dusta Violeta yang ingin menyelamatkan diri.
Tuuuuttt...
Roberth tidak lagi menyahut, kini ia sudah tahu jawaban nya. Dengan buku jari memutih, Roberth langsung melaju cepat. Berikutnya bagian administrasi yang akan mendapatkan ganjaran nya.
***
Hiyola dan Daniel berjalan keluar beriringan. Sahabat nya itu kini di gandrungi banyak wanita.
"Aku mungkin akan berubah pikiran, jika semua wanita selalu bersikap menyeramkan seperti itu." gerutu Daniel yang sudah duduk di dalam mobil. Kali ini dia tidak lagi menggunakan supir, sehingga kharisma nya lebih keluar.
Hiyola hanya bisa mengedikan bahunya. Walau sulit menerima perubahan Daniel, ia cukup bersyukur atas usahanya.
"Aku duluan, ya, Dan! Ada job." teriak Hiyola saat mulai melaju.
Sejak kembalinya Daniel. Mereka sama sekali tidak membicarakan perihal pernikahan Hiyola. Tampak nya pria itu ingin mejauhi topik tersebut, sehingga Hiyola yang berpikiran sama, cukup senang.
Hari ini di lalu dengan dirinya bekerja di beberapa tempat langganan nya. Mencuci piring di rumah makan milik pasangan tua, mengganti sift kak Rita, menjemput putra ibu Ayu, dan beberapa pekerjaan sederhana seperti membuang sampah dan membersihkan toilet keluarga kaya.
Hiyola melakukan segalanya dengan beban hati yang sudah sedikit lebih ringan, karena tidak harus melihat sosok Roberth, untuk sementara waktu.
Sebenarnya sebelum Roberth meminta Hiyola untuk pindah, Kimberly sudah lebih dulu mengatakan alasan nya. Namun, Hiyola memang menunggu hal tersebut keluar dari mulut Roberth karena ialah sang tuan rumah. Tapi, pria itu malah mengatakan nya, seolah ia adalah orang yang membawa beban untuk nya, sehingga harus segera keluar dari rumah.
Yah, setidak nya itulah yang Hiyola tangkap dari sikap Roberth padanya akhir-akhir ini.
Brak...!!!
"Ah! Selesai!"
Langit sudah menggelap saat Hiyola melemparkan sebongkah sampah terakhirnya.
Baru saja ingin menaiki Hope, ponsel di saku nya berdering. Hiyola merogoh ponsel tersebut. Saat menunduk, ia bisa mencium tubuhnya yang sudah berbau sampah.
Ia bergumam, "kurasa pulang dan mandi air hangat akan sangat menyegarkan," pikirnya.
Setelah berhasil meraih ponsel, Hiyola segera membuka sebuah pesan WA. Di sana tertulis Administrasi Perusahan. Itu adalah Nomor petugas admistrasi yang sudah Hiyola simpan sebelum nya.
Dengan tidak sabar Hiyola membuka pesan tersebut. Biasanya jika pihak Administrasi menghubungi pasti ada hal penting.
Namun sayang, sejurus kemudian ponsel terlepas jatuh dari tangan nya.
[Anda di pecat dari perusahan Meet Me, karena pemalsuan identitas. Sebagai konsekuensi, anda di minta untuk mengembalikan 30 persen keuntungan dari setiap janji temu. Kami akan mengirim perincian nya, sehingga bisa segera di lunasi.
Salam -Meet Me- ]
***