
"Karena Clodio telah melewati masa kritis, kalian sudah boleh kembali ke rutinitas sehari-hari."
Esmeralda duduk di sofa kebesaran milik sang putra, Clodio. Di samping kiri dan kanan nya, Jeremy bersama Hiyola, Roberth dan Kimberly, entah dari mana pria bermata keabuan itu sampai sudah hampir dua hari ia sama sekali tidak terlihat.
"Baiklah, aku dan Hiyo akan kembali hari ini." Jeremy bersuara, Hiyola menatapnya dengan alis berkerut.
Keluarga ini memiliki hubungan yang menegangkan.
Pertemuan yang di tujukan untuk menjenguk keadaan sang ayah, sejujurnya hanya sebuah kedok. Semua orang memiliki tujuan mereka sendiri. Tidak ada yang benar-benar datang karena peduli. Bahkan Jeremy yang awalnya sempat menangis mendengar kabar sang ayah, nyatanya hanya ingin menunjukkan Hiyola sebagai kartu terbaik nya.
Di lain sisi, Violeta saat ini tengah duduk di samping ranjang sang suami. Matanya tertuju pada pria beruban yang terbaring dengan mata terpejam. Tangan nya meremas erat jemari sang suami, berharap pria itu segera sadar. Bahkan dirinya pun tidak sungguh-sungguh merasa sedih atas kecelakaan yang menimpa Clodio. Dia hanya takut jika pria tua itu mati, seluruh kekayaan akan di klaim oleh Jeremy yang merupakan putra sulung.
'Oh, sungguh? Hanya aku yang benar-benar ingin bertemu dan melihat wujud CEO dari perusahan yang selama ini menjadi landasan hidup.' keluh Hiyola dalam hati.
Saat berpaling, tidak sengaja matanya bertemu pandang dengan Roberth. Netranya tampak sayu, menatap Hiyola dengan intens namun kemudian segera memutuskan kontak, membuat Hiyola sedikit memiringkan kepala merasa aneh.
Selesai dengan semua informasi yang di berikan Esmeralda. Semua orang kembali ke kamar mereka masing-masing. Tidak ada suara maupun sahutan.
Rencana nya siang ini, baik Jeremy, Hiyola maupun Roberth Kimberly sama-sama ingin kembali ke Indonesia. Walau hanya dosen terbang, Jeremy tetap ingin menjalankan kewajiban nya.
"Aku akan meminta Erik untuk mengantarmu lebih dulu ke bandara. Ada beberapa hal yang harus ku urus." Jeremy berbicara seraya mengusap lembut puncak kepala Hiyola. Agaknya ingin menghindar, Hiyola memutuskan untuk membiarkan ketika Roberth melewati mereka yang berada di depan kamar Hiyola. Pria itu tampak lebih diam, dia hanya menoleh sebentar, mendapati perlakuan manis Jeremy, tangan nya hanya bisa mengepal dengan rahang yang diam-diam mengeras.
"Baiklah, tidak masalah. Aku akan menunggu mu," sahut Hiyola. Ia tersenyum sesaat, seraya mengatur kembali rambut nya. Ia belum terbiasa dengan perlakuan manis dari pria.
***
Perjalanan menuju bandara tidak memakan waktu yang cukup lama. Erik mengendarai mobil nya dengan lambat membuat mata Hiyola di manjakan oleh pemandangan kota Frankfurt, yang amat ramai siang ini.
"Oh, ya, Tuan Erik. Sudah berapa lama kau bekerja dengan Jeremy?"
Erik yang tengah fokus, menoleh sebentar ke samping kemudian kembali pada aktifitasnya. Hiyola kini mulai memantapkan hati untuk melabuh pada Jeremy, dengan mengetahui beberapa hal tentang pria itu yang sebelumnya tidak terpikirkan. Ia rasa keputusan ini tidak terlalu buruk, lagi pula Jeremy tidak buruk bahkan lebih dari sempurna.
"Panggil saja Erik, nona. Akan sangat canggung jika nona memanggilku Tuan sementara Tuan Jeremy, hanya nama."
Hiyola berdehem, 'Ah, benar juga.' batinnya.
Erik kembali menoleh. Kali ini pria itu tampak banyak berpikir. Alisnya bertumpu di tengah, memikirkan beberapa hal yang membuat Hiyola pun ikut melakukan hal yang sama, mengerutkan alis nya.
"Tuan Jeremy itu pria yang misterius nona. Anda mungkin akan mulai melihat sisi nya yang lain jika anda sudah memutuskan untuk menerimanya." Jawaban Erik terdengar membingungkan. Pria tampan berkharisma itu sedikit membuang nafas gusar begitu selesai berbicara dan Hiyola melihat nya. Sungguh ada hal yang tidak beres dengan setiap orang di dalam keluarga Kohler.
Yang nampak baik belum tentu baik, dan yang nampak buruk sudah pasti buruk. Itulah kesan yang bisa Hiyola dapat kan selama berorientasi di dekat mereka.
Setelah diam beberapa waktu, akhirnya mobil menepi tepat di depan bandara. Hiyola sedikit menarik nafas saat turun, melihat itu, Erik segera menyerahkan kunci pada satpam kemudian menunjuk jalan di mana Hiyola akan menunggu kedatangan Jeremy. Semua tiket sudah di atur agar Hiyola tidak lagi repot.
"Saya akan pergi sekarang, Nona." Erik tersenyum seraya menyerahkan boarding paspor serta semua hal yang Hiyola butuhkan.
Erik mengangguk agak menyesali keputusan mendadak yang di buat sang bos. "Maaf, Nona, saya pastikan Tuan Jeremy akan segera datang."
Tidak menjawab, Hiyola hanya mengangguk sekenanya.
Ah, hari ini akan melelahkan.
Setelah kepergian Erik, Hiyola menunggu dengan tidak sabar. Dia duduk sambil sesekali membalas pesan dari Daniel. Sungguh pria cerewet itu pasti akan menghampiri nya ke Jerman jika hari ini ia tidak akan kembali, di tambah besok ada ujian salah satu matkul, jadi Hiyola harus kembali.
***
Setelah menunggu cukup lama, Hiyola menarik nafas lesu saat panggilan telpon berakhir.
Jeremy punya sesuatu yang harus di urus, dan mereka tidak akan bisa pulang bersama.
"Ya, tidak apa, Jer."
"...."
"Ya, jangan khawatir, aku bisa sendiri."
"...."
"Hm, selesaikan saja urusan mu, jangan cemaskan aku."
Itulah percakapan nya. Hiyola merasa sudah cukup terbantu dengan semua yang dilakukan Erik, jadi tidak masalah jika Jeremy tidak bisa menemani nya. Tapi, kini yang menjadi masalah nya seseorang yang duduk di samping nya.
"Kenapa Tuan duduk di sini?" pekik Hiya saat sosok Roberth duduk di sisi nya. Oh, mau kesal bagaimana pun, Hiyola tidak bisa menyangkal ketampanan pria itu.
"Pesawat ini bukan punya mu, 'kan?" jawab Roberth dengan ekspresi khas nya.
"Lagi-lagi dia bersikap menyebalkan," gerutu Hiyola pelan. Rupanya ia lupa bahwa Roberth memiliki pendengaran terbaik.
"Saya menyebalkan?" ulang Roberth. Hiyola spontan memukul bibirnya sendiri.
"Tidak kucing terbang tadi, menyebalkan," jawab Hiyola salah sebut. "Maksudnya kupu-kupu."
"Bodoh!" ejek Roberth dengan senyum khas nya yang mendapat tatapan tajam Hiyola.
"Manusia labil!"
***