
Hiyola merasa ada yang salah dengan diri nya. Setiap kali Roberth melakukan hal yang manis, jantungnya selalu berdetak tidak karuan.
Persis seperti barusan saat Roberth memotong jarak antara mereka, Hiyola merasa tubuhnya panas dingin, degdegan lebih ke arah gugup. Yah, walaupun suasana tersebut tidak bertahan lama karena sifat menyebalkan yang Hiyola tebak, merupakan penyakit bawaan Roberth sejak dia lahir.
"Jadi, apa yang kamu inginkan sebagai tebusan atas sikap saya pagi tadi?" Roberth metap wajah Hiyola yang tengan berpaling dari nya.
Perlahan namun pasti, Roberth mulai meniti wajah manis di bawah terang lampu mobil.
Hidung mungil dengan ujung yang lumayan runcing, rambut pendek sebahu, bahkan tahi lalat di ujung mata kanan nya tak luput dari mata keabuan Roberth.
Di mata nya, Hiyola seperti adik kecil yang manis, ketimbang seorang istri. Sehingga mengejeknya menjadi suatu kesenangan bagi Roberth yang merupakan seorang anak tunggal, dari Violeta.
"Hey... Apa yang kamu inginkan? Saya bisa membeli apa pun yang kamu mau." tuntut Roberth, sudah mengeluarkan black card dari dompet.
Hiyola mendengus, dia masih kesal sebab apa yang Roberth lakukan tadi.
"Saya tidak-" Hiyola berbalik, menatap mata keabuan yang membuatnya risih sejak tadi, lalu menoleh melihat black Card di tangan kiri nya.
Seketika mata Hiyola berbinar. Walau bagaimana pun, dia tahu apa kegunaan benda pipih berwarna hitam tersebut.
"Jadi, Tuan akan membelikan saya apa pun?" Hiyola mulai tertarik dengan tawaran bos sekaligus suami setahun nya.
Roberth mengagguk mengiyakan. Kepercayaan tinggi tergambar jelas di wajah nya.
"Apa pun?" ulang Hiyola ingin meyakinkan. Roberth yang dongkol hanya bisa bergumam mengiyakan.
"Hmmm..." gumam nya seraya mengangguk dalam.
"Bagaimana kalau saya minta rumah megah?"
Tidak terkejut, seperti nya Roberth memang sudah menduga, sehingga ia sudah menyiapkan jawaban yang bagus untuk setiap permintaan Hiyola, yang telah diwanti-wanti.
"Jangan mengada-ada kamu tinggal nya kan sama saya. Untuk apa beli rumah? Yang lain!" katus Roberth, menggeleng.
Hiyola terkekeh geli. Tentu saja ia hanya bercanda. Dia bukan orang yang bisa menerima sesuatu begitu saja dari orang lain. Meskipun miskin dan hidup penuh sengsara, Hiyola tidak akan menerima apa pun dalam bentuk rasa kasihan.
"Baiklah, tadi hanya bercanda."
Hiyola memutar tubuhnya, mengahadap Roberth yang berada di kanan. Dia menyelipkan rambut di balik kedua telinga. Entah kapan terakhir kali ia bersenang-senang, selama yang dirinya ingat, kesenangan terakhir yang dirasa adalah saat sang ayah masih hidup, dan itu sudah beberapa tahun lalu.
"Tuan janji akan mengabulkan keinginan saya? Tidak akan menyesalkan?"
Roberth mengangguk, itulah tujuan nya menculik Hiyola tadi. Mengabulkan semua keinginan nya agar penyesalan di hati nya sendiri bisa menghilang.
"Saya janji. Asal jangan yang aneh-aneh seperti tadi!"
Hiyola berpikir sejenak, masih menatap Roberth yang kini sudah membuang muka ke depan.
"Saya mau..."
***
Mobil berhenti di tepi jalan, tepatnya di depan gedung sekolah, yang bertuliskan, SMP BUNGA BANGSA.
Roberth berkali-kali melihat Hiyola bergantian dengan gedung tempat mereka berada, berharap mereka tidak berada di jalur yang salah.
"Kata mu, mau makan bakso. Kenapa ke tempat angker ini?" ucap Roberth, matanya masih menerawang ke sekolah yang nampak gelap dengan suasana jalanan yang sunyi.
Bukan nya menjawab, Hiyola malah menyalakan ponselnya, melihat jam berapa sekarang.
"Jam 19.03, tunggu sedikit lagi tuan." balas Hiyola. Netranya terus menerawang menunggu abang bakso yang biasanya akan lewat setiap pukul 19.10 malam.
"Apa mungkin sudah lewat ya?" Hiyola bergumam sendiri, sambil terus memantau menit yang berganti pada layar ponsel nya.
Sementara itu, Roberth yang mulai menyesal karena penawarannya sibuk sendiri dengan ponsel, sampai Hiyola memekik kegirangan sampai ponsel di genggaman Roberth jatuh.
Roberth kesal karena ponselnya jatuh, hendak mengambil benda tersebut, namun kalah telak dengan Hiyola yang sudah turun dan berlari menuju pria tua tersebut.
Melihat hal itu, Roberth langsung melupakan ponselnya, dan berjalan keluar. Kepalanya menggeleng tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita yang katanya 25 tahun, tapi bertingkah seperti anak SMP yang mendapat jajanan setelah menunggu tujuh menit.
"Di racuni juga tidak akan curiga pasti." ejek Roberth, melihat tingkah Hiyola yang berbinar melihat tusukan biji bakso.
Saat hendak melahap jajanan nya, makanan tersebut sontak melayang lepas, berpindah ke tangan Roberth.
"Kau itu memang tidak pernah menggunakan otak. Bagaimana kalau makanan nya di racuni?" ketus Roberth penuh curiga sambil menatap pria tua yang kini tersenyum ke arah nya.
Satu pukulan mendarat di lengan Roberth. Dia sontak menatap Hiyola yang kini melotot ke arah nya. Gadis itu langsung merampas tusukan baksonya, dan langsung melahap saat itu juga. Tida menghiraukan tatapan peringatan Roberth.
"Dasar keras kepala!!!" bentak Roberth.
Pria tua penjual bakso spontan terkekeh geli dan mendapat tatapan penuh intimidasi dari Roberth.
"Tenang saja tuan, saya kenal dengan adek ini. Kalau keracunan, tuan bisa langsung ke rumah saya, di situ." Pria tersebut menunjuk sebuah gubuk yang berada tepat di samping pagar sekolah.
Hiyola yang masih menikmati baksonya terkekeh geli melihat reaksi Roberth yang seperti nya merasa bersalah.
Tentu saja Hiyola mengenal pria tersebut. Pria yang selalu ia temui sejak pulang kerja.
Yup, sebenarnya 2 kilo meter dari sini adalah jalan menuju rumah Hiyola. Semenjak di tinggal sang ibu, Hiyola selalu ingin merasakan kembali biji bakso buatan pria tua yang berhasil menghabiskan seluruh uang jajan yang di berikan ayah nya dahulu.
"Tuan tidak mau?" tawar Hiyola menyerahkan biji bakso bekas gigitan yang membuatnya mendapat gelengan mengancam dari Roberth karena pemaksaan nya.
"Ck, dasar pemaksa yang tidak mau di paksa!" gumam Hiyola.
"Apa kata mu?" sahut Roberth yang mendengar.
"Tidak ada tuan." balas Hiyola menghindari tatapan berang sang suami, sambil terus menikmati makanan nya.
Hiyola menghabiskan 50.000.00 intuk bakso yang ia makan, sekaligus yang di bungkus.
Mereka pergi setelah memastikan pria tersebut masuk ke dalam rumah nya dengan aman.
"Lihatlah perut kurusmu mulai membengkak." sindir Roberth menyalakan mobil. Dia tidak menyangka seorang wanita bisa menghabiskan begitu banyak makanan dalam sekali lahap.
Bahkan Kimberly tidak pernah menghabiskan satu Norimaki yang ia pesan.
"Oh, akhirnya keinginan ku terwujud." ucap Hiyola sengaja tidak mengacuhkan kalimat sindiran Roberth barusan.
Pria ini tidak pernah tahu bagaimana rasanya mendapatkan hal yang paling kau inginkan selama bertahun-tahun hanya karena parno kehilangan uang.
Roberth menoleh sebentar sebelum melaju, matanya menangkap ekspresi bahagia dan puas di wajah bulat Hiyola. Tanpa sada dirinya kembali tersenyum.
"Bahkan dia tersenyum hanya karena hal bodoh." gumam Roberth pelan. Tentu saja Hiyola tidak mendengar nya.
"Setelah ini, mau ke mana?" tanya Roberth kembali bersikap dingin. Mobil kembali membelah jalan raya.
"Ayo makan Ice Cream." sahut Hiyola kegirangan. Sontak mendapat pelototan tajam Roberth.
"Tubuh kecil mu ini bisa menampung semua sekaligus?" ketus Roberth menebak seberapa besar lambung gadis bertubuh kecil ini.
Hiyola mengangguk, "Tentu saja bisa, Tuan. Jika tidak saya tidak akan meminta nya." Hiyola mengusap lembut perut sambil berusaha menahan napas mencoba meratakan perut nya.
"Masih bisa makan Ice Cream, kan?" Pertanyaan Hoyola pada dirinya sendiri membuat Roberth menggeleng.
"Kini saya tahu kesukaan kamu hanyalah uang dan makanan." ejek Roberth kembali mendapatkan sikap tak acuh Hiyola.
***