Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 41 : Perkara Nasi Padang



Motor sudah di parkir kan. Tidak lupa, Hiyola menenteng sebuah kantong plastik berukuran sedang. Isi nya, nasi padang spesial, dua bungkus.


Berjalan menuju pintu depan. Hiyola melirik ponselnya. Tadi sebelum pergi, ia sudah bertukar nomor ponsel dengan Mbok Ami. Wanita tua itu mengirim pesan yang amat ganjal.


[Nyonya, cepatlah pulang, saya rasa tuan memiliki hari yang buruk!]


Lagi ia membacanya dalam hati. Hiyola mendapat pesan tersebut sekitar 15 menit lalu saat dalam perjalanan pulang.


Krieeettt....


Tangan nya mendorong pintu perlahan, begitu tiba di depan. Setengah terbuka, ia melongok, mengamati keadaan rumah yang tampak gelap. Semua lampu padam, Hanya lampu di bagian meja makan saja yang masih menyala.


Berjalan pelan, Hiyola masuk, kemudian berbalik lalu menutup pintu.


"Hah!!!"


Jantungnya hampir melompat keluar saat ia berbalik lagi, mendapati Roberth yang sudah berdiri tegap di belakang nya. Wajahnya tampak tidak bersahabat.


Mengusap pelan dadanya! "Tuan mengagetkan saja!!!" gerutu Hiyola, kesal. Hampir saja plastik berisi bungkusan nasi goreng tadi ia layangkan ke kepala Roberth.


"Dari mana?" tanya Roberth, tidak peduli dengan sikap terkejut Hiyola.


"Ketemu klien!" Wajah Hiyola sedikit judes. Ia mengamati ruangan dan menarik nafas lega, saat tidak mendapati sosok Kimberly.


"Sudah makan?" Roberth masih berdiri di depan Hiyola, kedua tangan nya di lipat di depan dada.


"Sudah, tadi." sahut Hiyola acuh tak acuh.


"Masih sakit?" Roberth maju selangkah. Tangan nya menyentuh dahi Hiyola, membuat jantung Hiyola berdegup kencang. "Kenapa bekerja? Kau kan baru sembuh! Mau mati, ya?"


Hiyola menyingkirkan tangan Roberth dari dahinya. "Bagaimana jalan-jalan nya? Menyenangkan?" sindir nya. Wajahnya tampak tidak bersahabat.


"Kau ini! Tidak pernah menyahut dengan benar!!!" Roberth mundur selangkah, memijat pangkal hidung nya.


Tidak memperdulikan reaksi Roberth, Hiyola langsung melenggang pergi, melewati nya. Dia berjalan menuju dapur. Dari dari arah kamar pelayan, Ami keluar dengan isyarat tubuh bergidik.


"Tuan marah-marah, ya, nyonya?" bisik Ami. Dia mengambil kantong plastik yang Hiyola sondorkan.


"Lebih baik dia marah-marah, dari pada bersikap sok peduli seperti itu!" sahut Hiyola sinis. Suara nya lebih pelan lagi saat melihat Roberth berjalan ke arah mereka.


'Ck, padahal tadi saat baru pulang, Tuan marah-marah sama saya karena mengijinkan nyonya keluar, kenapa sikap nya berubah drastis sekarang? Hmm... sangat aneh.' Gumam Ami dalam hati.


Entah mengapa suasana menjadi sangat canggung. Ruangan pun tampak lebih hening dari biasa, hanya sayup-sayup langkah Roberth dan pergerakan Ami yang tengah mengambil perlengkapan makan. Memang Ami dan Hiyola berencana makan bersama setelah pulang, Ami pun tidak memasak untuk Roberth, karena katanya ia sudah makan malam bersama Kimberly.


"Katanya sudah makan!" sinis Roberth. Dia duduk berhadapan, tepat dengan Hiyola.


"Saya masih lapar, Tuan." sahut Hiyola.


Roberth tersenyum miring, "Perut kecilmu memang tidak pernah bisa kenyang."


Hihola hanya bisa mencibir pelan. Ia tidak ingin bertengkar dengan Roberth. Tubuhnya belum cukup kuat untukeladeni semua sikap aneh nya.


"Kenapa diam?" Roberth merasa Hiyola tidak mengacuhkan nya. Mata yang bahkan tidak sedikit pun melihat ke arah nya, membuat Roberth geram.


"Kau cemburu?" selidiknya dengan seulas senyum menuntut.


Tentu saja mata melebar menjadi balasan nya, "Sudah tidak waras!" cibir Hiyola pelan.


"Apa kata mu?" Suara Roberth sedikit meninggi. Membuat Hiyola menggeleng cepat. Tentu saja kalimat tersebut keluar dari hatinya.


"Tidak ada, Tuan."


"Aku mendengar mu mengatai ku! Berani sekali kau!" Roberth berdiri, dengan sedikit menggebrak meja. Ami tengah mengambil peralatan makan pun sampai tersentak kaget.


Hiyola jadi kalang kabut sendiri, dirinya bahkan tidak menyangka bahwa Roberth akan bereaksi seperti ini.


"Ma--maaf Tuan, saya salah." Dia berdiri, lalu menunduk dalam.


"Kalau begitu, berikan aku satu nasi padang! Aku lapar!"


Sreettt...


Hiyola dan Ami sama-sama menganga, kedua alis mereka mengerut. Kalau bisa, mungkin rahang mereka sudah akan jatuh ke lantai, saking tidak percaya dengan apa yang Roberth lakukan barusan.


Senyum tidak berdosa Roberth suguhkan. Dia kembali duduk tanpa merasa bersalah sama sekali. "Aku hanya becanda..." serunya terkekeh pelan.


"Tidak lucu, Tuan!!!" gerutu Ami dan Hiyola bersamaan. Mereka bahkan tidak bergerak untuk beberapa saat.


"Jadi tidak lucu, ya?" ujar Roberth mendapat anggukan dari Hiyola dan Ami.


"Sudahlah, saya tidak peduli. Intinya, saya ingin satu bungkus nasi padang," titah Roberth tidak ingin di bantah.


"Saya hanya membeli dua, Tuan. Satu untuk saya, dan satu lagi untuk Mbok Ami," jelas Hiyola. Roberth menggeleng dirinya tidak mau tahu.


"Kau kan tahu, di rumah ini ada tiga orang! Kenapa hanya beli dua? Kikir sekali!" tuntut Roberth.


"Loh, makan Tuan kan, bukan tanggung jawab saya!" ketus Hiyola tidak mau kalah. Tubuhnya bahkan disenderkan ke meja makan dengan kedua tangan yang di kepal kuat.


"Kamu kan istri saya!" balas Roberth enteng.


"Tapi Tuan bukan suami saya!" Jawaban Hiyola membuat Roberth melongo, sikap santai yang ia pertahan kan sejak tadi, berubah drastis. Wajah merah padam dengan kedua alis menukik tajam.


"Maksud mu?"


"Tuan kan punya pacar! Siapa namanya?" Hiyola pura-pura lupa. Matanya memandang Roberth sinis.


"Kimberly, nyonya." Ami yang kembali ke meja turut mendukung Hiyola, mulutnya amat gesit saat menyebut nama Kimberly. Sementara alis Roberth terangkat satu.


"Ya! Kimberly! Minta saja pada dia! Apa jalan-jalan tadi kalian hanya makan sepotong sushi dengan hiasan bunga-bunga tidak masuk akal, sampai-sampai Tuan harus menuntut makanan kami juga?"


"Jadi kau cemburu?"


"Iya!!!"


Plak!


Hiyola langsung mematung di tempat. Mulutnya seakan ditimpa besi ber-ton-ton, sampai tidak bisa terbuka. Bahkan Ami pun ikut menganga, sementara Roberth malah menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


"Bukan, Eh, maksudnya, TIDAK!" kilah Hiyola, salah tingkah. Dia berusaha menggeleng agar Ami dan Roberth tidak menganggap serius ucapan nya tadi.


"Jadi memang kau cemburu..." ucap Roberth. Ami tersenyum, menyerahkan piring kepada Roberth, dan Hiyola.


"Itu penjebakan!" sungut Hiyola. Roberth tidak menyahut, raut wajah tersenyum nya membuat Hiyola jengkel.


"Ini untuk Tuan, dan ini untuk nyonya." Ami menyerahkan bungkus nasi padang. Hiyola berkomentar judes.


"Tidak." Hiyola mendorong piring nya, untuk Ami. "Untuk Mbok, saja. Aku sudah makan tadi," tolak Hiyola, menjeling ke arah Roberth.


Melihat hal tersebut Roberth tersenyum, dia berdiri, berjalan cepat. Menarik keluar kursi makan yang berada tepat di samping Hiyola. Di tangan nya, ia menenteng piring dan nasi padang yang sudah ia buka tadi.


"Baiklah, kalau begitu, kita makan bersama." Roberth langsung mendaratkan bokong nya. Hiyola dan Ami memandang Roberth heran. Pria itu benar-benar aneh malam ini.


"Maksud Tuan, Nyonya dan Tuan akan makan sepiring?" tebak Ami, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia nya.


Roberth mengangguk. "Ya," jawabnya menatap Hoyola, menunggu persetujuan gadis itu.


Masih dalam kondisi kesal, Hiyola berencana berdiri, dan memutuskan untuk tidak jadi makan, tapi Roberth mencegah lebih dulu.


"Duduk, Hiyola!" perintah Roberth. Ia menahan tangan Hiyola, dan menariknya untuk kembali duduk.


Hiyola menatap Roberth tajam. Dia tidak ingin salah sangka. "Kenapa Tuan seperti ini?" ucap Hiyola begitu mereka duduk berdampingan.


Roberth tidak menyahut. Bagaimana dirinya bisa menjawab, sementara ia sendiri tidak tahu apa yang tengah dirinya rasakan saat ini?


Di satu sisi ia bahagia karena Kimberly telah kembali. Dirinya bahkan menikmati perjalanan mereka tadi, meskipun sesuatu di rongga dadanya terasa kosong dan hambar. Bahkan sepanjang perjalanan mereka, Roberth merasa aneh saat hatinya ingin makan bakso, menghabiskan waktu di pantai. Dan yang lebih tidak masuk akan lagi, ia menyarankan untuk pergi ke wahana permainan. Untung nya Kimberly menolak, jika tidak, Roberth mungkin akan kehilangan jati dirinya.


"Tuan?" panggil Hiyola lagi. Ami pun ikut penasaran dengan jawaban majikan nya.


"Ya, sudah jika kau tidak mau!" Roberth langsung melahap nasi padang nya. Hiyola dan Ami mendengus kesal.


"Saya lapar!" Hiyola langsung mencomot daun singkong dengan tangan nya.


"Kenapa pakai tangan?" protes Roberth, napsu makan nya jadi hilang.


"Makan nasi padang harus pakai tangan, Tuan! Jika tidak rasanya tidak akan enak!" jelas Hiyola dengan mulut penuh.


"Kau ini memang tidak ada anggun-anggun nya!" cerca Roberth. Dia memilih bersandar, dan melihat Hiyola melahap nasi padang dengan begitu nikmat.


"Ami, kau juga, makanlah."


"Baik Tuan." jawab Ami. Dia hendak berjalan ke arah dapur, namun Roberth mencegahnya. "Di sini saja."


"Tapi, Tuan--" Anggukan Roberth Yang mengijinkan, membuat tidak lagi membantah. Dia duduk kemudian mulai melahap makanan nya.


Sesaat berlalu. Ami dan Hiyola yang tengah makan, terkejut dengan titah yang keluar dari mulut Bos mereka.


"Untuk sementara, kau akan tetap tidur di kamar saya, sampai kondisi mu membaik!"


Glek!