
Besoknya, pagi-pagi sekali Jeremy mengantar Hiyola kembali ke kediaman nya. Gadis keras kepala itu tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia selalu merasa jenuh jika berada di gedung serba putih itu.
"Ingat, jangan lupa makan. Makan terlambat pun tidak boleh."
Jeremy mewanti-wanti seraya menurunkan barang-barang bawaan mereka, sedangkan Hiyola yang merasa masih lemas, memilih masuk lebih dulu sembari merapikan berbagai bungkus makanan yang tersebar di seisi ruangan mulai dari teras sampai kamar tidurnya. Ya, selama beberapa saat kembali ke rumah, ia lebih sering menyantap jajanan maupun makanan siap saji.
"Ingat Hiyola, kau tidak bisa menganggap remeh penyakit lambung mu," ujar Jeremy saat sudah selesai dengan kesibukan nya.
Sebenarnya dia sudah tahu penyakit yang Hiyola derita bukanlah hal sepele, namun melihat Hiyola yang berusaha menyembunyikan penyakit nya, Jeremy merasa ia belum bisa mengutarakan maksud hati nya yang ingin mengobati gadis itu.
"Oh, iya, untuk dua hari kedepan, kau tidak perlu ke kampus. Aku sendiri yang akan melapor," tutur Jeremy.
Hiyola mengangguk. "Baik pak dosen...," sahut Hiyola sedikit mengejek membuat Jeremy mengusap lembut puncak kepalanya.
Hiyola mundur selangkah, dengan sungkan ia berkata, "Maaf," sela Hiyola dengan wajah sendu. Sejujurnya dia tidak terbiasa dengan sikap lembut seperti itu.
Jeremy hanya bisa menunduk paham. Ia akan pelan-pelan mendekatinya.
"Baiklah, aku pamit dulu. Ingat, untuk dua hari ke depan, kau di larang bekerja paru waktu. Aku akan menyuruh mata-mata mengawasi mu," ucap Jeremy.
Hiyola berpikir kalimat tadi mungkin hanya candaan semata.
"Oh, iya, sebentar lagi akan ada orang yang membawa motor mu kembali, jadi kau tidak perlu memikirkan perihal motor," jelas Jeremy lagi, dan Hiyola mulai merasa seperti betul-betul di perhatikan.
"Baiklah, sebaiknya kau pergi. Aku takut para tetangga akan memikirkan hal buruk tentang kita," jelas Hiyola sembari mengantar Jeremy keluar.
Sepeninggal nya Jeremy, Hiyola langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Seluruh otot-otot nya terasa lelah dan pegal. Mungkin ia memang harus mengikuti saran Jeremy untuk beristirahat dua hari ke depan.
"Hah, mengantuk sekali rasanya...," ucap Hiyola ingin berbaring, Namun ketukan di pintu depan, membuat nya geram setengah mati.
Siapa gerangan manusia tidak tahu malu yang bertamu begini pagi?
Dengan hati dongkol, Hiyola berjalan menuju pintu depan. Rumah sederhana tersebut sama sekali tidak membuatnya kesulitan.
"Iya sebentar...," sahut Hiyola dengan nada sedikit ketus karena, tamu di luar sama sekali tidak berhenti mengetok pintu.
"Saya bilang seben--"
"Hay, Honey! Aku pulang...!"
Brukk...!
Hiyola yang terkejut sontak menghindar saat tubuh kekar di depan sana ambruk menimpa lantai rumah nya. Roberth dengan mata panda dan pipi merah nya mengeluarkan bau minuman keras yang amat menyengat, adalah orang yang sedari tadi menggedor pintu tanpa ampun. Pria yang kini terbaring tidak sadarkan diri di dalam rumah Hiyola, tampak tidak bisa mengontrol kadar alkohol yang masuk ke tubuhnya.
"Hei! Tuan! Kau ini kenapa?"
Hiyola menggerakkan lengan Roberth dengan kakinya, namun lelaki yang masih mengenakan pakaian tadi malam itu, nampak begitu nyaman, tertidur di lantai ruang tamu nya.
Perlahan, Hiyola mulai menunduk. Dia menepuk pelan wajah Roberth berniat membangunkan nya, tapi tidak berhasil.
Setelah mengatai ku, entah bencana apa lagi yang ingin dia ukir di jalan cerita hidupku!
Hiyola yang masih kesal pada perkataan Roberth semalam, memilih duduk di kursi sambil menatap wajah penuh damai sang pengacau.
"Lihatlah wajah menjengkelkan itu! Bagaimana dia bisa datang ke rumah orang yang ia usir dengan begitu kasar nya? Apa urat malu nya sudah putus?"
Hiyola mendumel sendiri sambil terus memikirkan hal apa yang sebaiknya di lakukan kepada pria kaku ini.
Setelah cukup lama berpikir, Hiyola memutuskan untuk menarik tubuh Roberth yang masih setengah menjorok di teras rumah. Karena, tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Roberth, Hiyola harus mengerahkan seluruh tenaga dalam nya.
"Huh, benar-benar menyusahkan!" maki Hiyola, sambil memukul pelan lengan Roberth.
Saat telah berhasil menyeret seluruh tubuh Roberth, Hiyola masuk ke dalam kamarnya. Dia merogoh bedcover yang lumayan tebal dari dalam lemari baju nya, lalu meraih satu bantal kepala dan satu bantal guling.
***
Hampir sepuluh menit saat Hiyola menyerahkan guling, dan dalam keadaan tidak sadar, Roberth langsung memeluknya.
"Dasar aneh!" maki Hiyola kembali duduk di tempat nya.
Selanjutnya yang harus ia lakukan adalah menghubungi Petra. Untuk saat ini, Hiyola sama sekali tidak ingin berurusan dengan Roberth. Pria itu terlanjur menoreh luka yang dalam di hati Hiyola.
[Halo, dengan siapa, ya?]
Hiyola menarik nafas lega saat suara Petra terdengar dari seberang panggilan. Dia tadi merogoh ponsel Roberth dan langsung mencari kontak 'Petra'.
"Halo, Petra. Ini aku, Hiyola,"
[Oh. nyonya, Hiyola. Ada keperluan apa?] sambut Petra, sedikit terkejut.
Hiyola langsung menjawab cepat, "Kemari dan bawa pulang Tuan mu! Ku rasa dia sudah mulai kehilangan akal," ujar Hiyola, seraya matanya tidak lepas dari pria di depan nya ini.
***
Lima menit kemudian, setelah tiba, Petra sontak memekik saat melihat tubuh Tuan nya yang terbaring nyaman di lantai.
"Maaf telah merepotkan, nyonya. Saya akan membawanya pulang." tutur Petra.
Hiyola hanya bisa mengangguk. Dari tadi usaha untuk membangunkan Roberth tampak tidak berhasil. Semoga saja Petra memiliki cara lain.
Ketika hendak menarik tubuh Roberth, tiba-tiba punggung pria itu di pukul kuat oleh Roberth. Nampaknya pria yang berada di bawah pengaruh alkohol itu, sama sekali tidak ingin beranjak dari sana.
"Ha! Kau lihat? Itu yang dari tadi ia lakukan," kesal Hiyola.
Dia yang dari tadi membangunkan Roberth malah mendapat cengkraman kuat di lengan nya.
"Saya akan coba sekali lagi, nyonya," balas Petra.
Setelah usaha ke lima nya, Petra akhirnya menyerah. Dia menyandarkan punggungnya yang kelelahan pada dinding setengah beton tersebut.
"Sebenarnya, apa yang terjadi hingga Tuan Roberth berakhir seperti ini?"
Hiyola yang merasa penasaran mulai menginterogasi. Petra yang binggung pun hanya menceritakan apa saja yang ia ketahui.
"Jadi semalam, tuan tiba-tiba menghubungi saya. Ia meminta saya mencari keberadaan nyonya yang belum pulang ke rumah," ujar Petra mulai bercerita. Hiyola tampak mengernyit setelah tahu bahwa setengah kejadian melibatkan dirinya.
Untuk apa dia mencari ku?
"Beberapa saat berlalu saya kembali mendapat panggilan dari tuan. Suaranya terdengar sangat kesal dan marah. Saat itu, ia meminta saya untuk mencari hotel, katanya, tidak ingin pulang kerumah, dan pagi ini, ternyata malah menerima panggilan dari nyonya," jelas Petra panjang lebar.
Saat masih bercerita, tiba-tiba Petra dan Hiyola sama-sama menoleh ke akar permasalahan yang kini malah bergerak tak nyaman, sembari mengigau tidak jelas.
"Ke-kenapa kau malah tertawa di depan pria lain, Hiyola? Kau pikir siapa yang memberi mu ijin untuk dekat dengan seorang pria?" igau Roberth, kembali mengatup mulut nya. Petra dan Hiyola hanya bisa bereaksi berbeda, mendengar hal tersebut.
"Manusia plinplan! Memangnya kau pikir kau itu siapa, sampai berhak mengatur dengan siapa aku boleh tersenyum?" omel Hiyola, seraya bersedekap dada. Tapi, dia kembali terpikir oleh kata-kata Petra tadi.
"Jika semalam dia pergi ke rumah sakit, apa mungkin dia melihat kami? Lalu kenapa jika dia melihat! Toh, hal itu tidak bisa di jadikan alasan untuk menyusahkan orang lain, bukan?" gerutu Hiyola terus bercakap-cakap pada diri sendiri.
Sementara itu, Petra yang ada di sana hanya bisa menatap Hiyola dan Roberth bergantian.
"Dua manusia bodoh ini, apakah tidak tahu jika mereka sedang jatuh cinta?" gerutunya dalam hati.
***