
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Hiyola dan Roberth yang sebelum nya tidak pernah makan bersama di rumah, hari ini berakhir duduk berhadapan dengan di temani makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Ami berdiri di ujung meja dengan tidak sabaran. Ia menatap dengan girang, kedua majikan yang duduk berhadapan. Wanita tua yang telah bekerja sejak Roberth masih seorang mahasiswa, tampak sangat bahagia. Ini adalah pertama kali nya Ami memasak untuk Roberth dan sang istri.
Sementara Hiyola, gadis itu sedari tadi hanya duduk melamun. Ia memikirkan sikap kekanakan yang ia lakukan sebelum nya. Dia tidak tahu kenapa ia bersikap seperti itu, padahal kan seharus nya ia tidak peduli. Nyonya Kim atau nyonya Hiyo, pada akhirnya ia akan kembali menjadi Hiyola Anastasya.
"Nyonya dan tuan belum mau makan?" Ami membuka suara karena belum melihat pergerakan para majikan nya.
Hiyola melemparkan senyum canggung. Walau malu, jujur saja karena bekerja seharian, ia merasa lapar. Jadi tnpa menunggu lama, Hiyola langsung mengangkat piring, mengambil nasi sesendok penuh dan mulai menyendok lauk pauk yang ada.
"Ekhem..." Roberth tiba-tiba berdehem.
Hiyola melirik Roberth. Pria itu tengah menatapnya dengan mata melebar. Berusaha memberi kode. Namun, karena tidak peka, Hiyola kembali melanjutkan kegiatan nya.
Roberth yang melihat ketidak pekaan Hiyola lantas menyerahkan piring nya kepada Hiyola.
"Honey? Kau lupa menyendok makanan ku." ucapnya sambil memberi kode lewat gerakan kepala menunjuk Ami.
Hiyola tersedak udara saat Roberth memanggil nya 'Honey'. Sontak saja ia sadar. Kepalanya memutar ke kanan sambil tersenyum canggung melihat bagaimana Ami tengah menatap nya bingung. Seketika senyum itu berubah kecut. Jadi, di depan Ami pun mereka harus bersandiwara menjadi suami istri bahagia?
Oh, yang benar saja. Jadi, aku harus memanggilnya...
Hiyola menggeleng cepat, bahkan di dalam angan pun ia tidak sanggup.
Melihat Hiyola yang diam, Roberth kembali melebarkan mata, dua alis nya terangkat.
Hiyola balas menatap Roberth, mereka berdua seperti tengah beradu pandang.
"Nyonya dan tuan jangan saling menatap begitu, saya jadi malu sendiri." ucap Ami tersenyum malu-malu. Ia mengira Hiyola tengah malu karena Roberth memanggil nya Honey, sehingga memberi tatapan peringatan.
"Nyonya tidak usah malu. Saya akan pura-pura tidak mendengar." imbuh nya masih tersenyum malu.
Hiyola hampir saja menjatuhkan piring nya. Mulutnya bahkan terbuka menganga melihat sikap Ami.
"Ayo, Honey..." Lagi-lagi Roberth menyodor kan piring nya.
Walau ragu, Hiyola akhirnya mengambil piring Roberth.
"Maaf ya, Ha-Ha-" lidah Hiyola tertahan, satu kata itu tidak mau keluar dari mulut nya. Tapi, lagi-lagi saat melihat reaksi Roberth maupun Ami, dengan sangat terpaksa harus melakukan nya.
"Maaf ya, Honey. Aku lupa menyajikan makanan mu dulu!" ucap Hiyola dalam satu tarikan nafas. Saking cepatnya Robert bahkan Ami tidak mengerti apa yang ia ucapkan.
"Apa kata mu, Honey?"
Ingin rasanya Hiyola meraci bibir mulut Roberth. Susah payah ia mengeluarkan satu kalimat memuak kan tersebut, tapi malah minta di ulang. Sepertinya Roberth sengaja mau mengejek nya.
"Makan lah, Honey!" Nada suara Hiyola sedikit meninggi. Ia lalu menyerahkan sepiring penuh makanan.
Semua menu yang berada di meja makan, ia sajikan ke dalam piring Roberth, membuat Roberth tercengang. Perut nya mungkin tidak bisa menampung semua nya.
Melihat kedua majikan makan dengan lahap, Ami memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan nya sebelum pergi tidur.
"Baiklah nyonya dan tuan. Saya ijin ke atas mau merapikan kamar nyonya dan-"
"Jangan...!!!" pekik Hiyola dan Roberth bersamaan.
Bisa kacau kalau Ami tahu Hiyola dan Roberth ternyata tidak tidur sekamar.
Melihat reaksi kedua majikan nya, Ami tersenyum bahkan sampai ke mata. Pikir Ami, mungkin tuan dan nyonya nya malu jika melihat kondisi kamar mereka yang berantakan karena masih pengantin baru.
"Nyonya dan tuan tenang saja, saya pastikan kamar nyonya dan tuan rapi dan nyaman seperti saat malam pertama kalian."
"Uhuk..." Hiyola spontan terbatuk. Malam pertama? Astaga, tiba-tiba ingatan saat Roberth duduk bertelanjang dada di depan TV kembali menghantui nya.
Malam pertama kaki ku?
Hiyola menggeleng, ia menoleh menatap Roberth agar mencegah Ami naik ke kamar mereka. Dalam hati Hiyola mengutuki Roberth yang meminta Ami datang tanpa memperhitungkan hal tersebut.
"Tidak perlu, Ami. Lagi pula, kamu kan baru datang, lebih baik kamu istirahat. Biar kamar, Hiyo yang akan merapikan nya." tutur Roberth di ikuti anggukan Hiyola.
Karena Roberth sudah memerintah. Ami tidak punya pilihan lain selain menurut. Ia kemudian pamit hendak merapikan rumah terlebih dahulu sembari menunggu majikan nya makan.
"Huh..." Hiyola membuang nafas lega. Tadi itu sangat menegangkan. "Untung saja." timpal nya kembali melanjutkan makan, mengikuti Roberth yang tengah berusaha melahap makanan nya.
Suasana kembali canggung. Sek sekali Hiyola melirik, memastikan apakah Roberth juga merasakan ketegangan yang sama, tapi seperti nya pria itu tenang-tenang saja.
"Ck, suasana canggung apa ini?" keluh Hiyola dalam hati.
Terakhir kali mereka makan bersama di pinggir jalan suasana nya sangat jauh berbeda dengan saat ini.
Waktu itu, Hiyola bisa merasakan kenyamanan seolah ia mendapatkan perlindungan nya kembali. Tapi malam ini, entah apa penyebab nya sejak tadi jantungnya tidak berhenti berpacu kencang.
"Bernapas lah dengan benar. Saya bahkan tidak bisa makan karena suara napas mu." tegur Roberth yang dari tadi juga ikut memperhatikan gerak gerik Hiyola.
"Besok, Petra akan datang memindahkan barang-barang kamu ke kamar saya, saat mbok Ami ke pasar." Timpal Roberth berhasil membuat Hiyola tersedak.
"Uhuk..." Hiyola segera mengambil minum yang Ami telah sediakan di kanan nya. Dalam sekali teguk, air putih di gelas panjang itu langsung tandas.
"Maksud tuan, 'memindahkan barang saya'?" tanya Hiyola dengan mulut menganga.
Roberth meletakkan sendok dan garpunya menutup tanda selesai, walau masih ada makanan penuh di piring.
"Tentu saja kamu akan tidur di kamar saya-"
Hiyola kembali terbatuk.Kali ini tanpa pikir panjang, ia meraih gelas yang satu lagi, kepunyaan Roberth.
"Hei!" cegah Roberth, namun terlambat.
Sama seperti yang sebelum nya, Hiyola meneguk air putih dalam sekali teguk hingga tandas tak bersisa.
"Tidur di kamar tuan? Jangan bercanda!"
Roberth mengernyit. "Memang nya di wajah saya ada tampang bercanda?" Roberth menunjuk wajah nya.
Glek...
Lagi-lagi Hiyola meneguk saliva nya berat. Habis sudah nasib nya. Wajah Roberth menunjukkan keseriusan yang tiada tara.
Astaga! Membayangkan akan tidur sekamar dengan Roberth, seketika adegan-adegan drama korea yang Hiyola tonton bermunculan di kepala nya. Adegan di mana sang pria tidak sengaja memeluk wanita saat mereka tertidur membuat Hiyola menggeleng.
"Kau ini memang sangat suka menghayal." baru beberapa hari bersama, Roberth sangat tahu arti dari wajah bengong dungu yang disertai gelengan keras Hiyola. Gadis itu pasti tengah membayangkan hal-hal aneh.
"Jangan membayangkan hal yang aneh-aneh! Besok kamu akan tetap tidur di kamar saya. Ami bisa curiga kalau kau tidur di kamar sebelah. Kau tahu, meskipun tua, Ami punya intuisi yang kuat." jelas Roberth yang sudah mengenal Ami hampir di sebagian umur nya.
Wajah Hiyola menekuk,
'Habislah aku...!' batin nya.
***
Hari semakin larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.07 Roberth segera mematikan TV kemudian beranjak naik ke lantai atas kembali ke kamar, sedangkan Hiyola sudah sejak tadi berada di kamar nya. Rencana nya besok Hiyola baru akan tidur di kamar Roberth.
Dalam kamar bernuansa putih, Hiyola tidak henti-hentinya memutar badan ke kiri dan ke kamar. Di atas ranjang, seprai berwarna biru langit itu jadi semakin kusut di buat nya.
Membayangkan akan tidur sekamar dengan Roberth membuat jantung nya berdebar. Otak nya terus menolak debaran aneh di dadanya. Entah mengapa setiap berurusan dengan Roberth hati dan otak Hiyola tidak pernah sejalan.
"Astaga...! Aku ini kenapa?" gerutu Hiyola, dengan tubuh tertelungkup dan kaki yang tidak hentinya menendang kasur.
Sementara kesal dengan perasaan sendiri, Hiyola mendengar ketukan disertai suara Ami dari luar, tepatnya dari pintu sebelah.
Turun dari ranjang, Hiyola mendekatkan kuping nya di pintu, berusaha mencuri dengar.
Tok... Tok... Tok...
"Tuan Roberth..?"
Roberth menghentikan kegiatan membaca nya. "Ada apa, Ami?" sahut Roberth mengernyit.
Ami kembali menyahut. "Ini, saya bawa obat, tuan."
Roberth mengernyit sebentar, kemudian melirik arloji di tangan.
Dia baru menyadari bahwa ini adalah waktu minum obat sakit kepalanya. Obat yang sudah dua hari tak pernah ia sentuh sama sekali, entah mengapa sakit kepalanya tidak pernah muncul lagi, padahal sebelum ini kepala nya selalu sakit dan Ami yang selalu mengingat kan nya untuk minum obat.
Roberth akhirnya turun dari ranjang menuju pintu. Saat tangan nya akan memegang tangan pintu, dia teringat akan Hiyola yang berada di kamar sebelah. Obat-obatan nya biasa Ami simpan di kamar sebelah, karena Roberth memiliki penciuman yang tajam sehingga sering kali merasa terganggu dengan bau nya.
"Astaga!"
Roberth meremas rambut nya frustasi. Dia berpikir beberapa saat, kemudian membuka pintu hanya setengah seraya menjulurkan kepalanya. Saat melakukan hal itu, Roberth teringat akan Hiyola. Astaga, dia sudah bersikap seperti Hiyola.
Wanita itu memang membawa dampak aneh pada ku.
Di depan pintu, Ami nampak tersenyum seraya berusaha melihat ke dalam.
"Saya ganggu ya, tuan?" tanya Ami penuh arti.
Roberth menggeleng. "Tidak, Mi."
Namun, maid Ami tetap saja tersenyum. "Ya, sudah, tuan. Biar saya ambil obat di kamar sebe-"
"Ambilkan air dulu, mbok!" potong Roberth cepat. Namun tetap tenang.
Ami sedikit mengernyit melihat tingkah aneh majikan nya.
"Air yang di dalam sudah habis tuan?" tanya Ami, karena biasanya Roberth selalu menyiapkan air di dalam ceret yang berada di dalam kamar.
"Iya, air nya habis." jawab Roberth cepat.
"Oh, baik kalau begitu saya akan ambil kan."
Ami berbalik tanpa merasa curiga, dirinya bahkan memberikan sebuah senyuman penuh arti sebelum ia benar-benar turun.
Roberth segera berlari ke kamar Hiyola, setelah memastikan Ami sudah berada di pertengahan tangga. Tanpa mengetuk pria itu membuka pintu dan langsung masuk membuat Hiyola yang tengah menempel di belakang pintu terhempas jauh.
Brrakkk!!!!
"Aduh!!!" ringis Hiyola. Bokong nya baru saja mendarat di lantai.
Tanpa menunggu rasa sakit Hiyola mereda, Roberth langsung meraih tangan nya, dan membawa Hiyola ke kamar sebelah.
Hiyola kebingungan, "Apa yang tuan lakukan?" gerutu nya dengan suara pelan.
Tadi saat menguping ia sudah mendengar semuanya. Dirinya bahkan hampir lari bersembunyi di dalam toilet kalau saja Roberth tidak mencegah Amitadi.
Roberth masih tetap mendorong tubuh Hiyola, menggiring nya ke kamar.
"Kau akan tidur mulai malam ini." ucap Roberth. Dirinya terus memastikan posisi Ami.
Hiyola mau berkomentar, tapi Roberth tiba-tiba menutup pintu karena melihat Ami yang tengah menaiki tangga.
"Ini air nya tuan. Dan ini obat nya." ucap Ami menyerahkan obat dan segelas air putih sesudah mengambilnya tadi.
Sekali lagi, Ami berusaha melihat ke dalam. Kali ini Roberth membuka pintu nya besar, memperlihatkan Hiyola yang tengah bebaring di ranjang.
"Hai Mbok..." ujar Hiyola berusaha menetralisir keadaan.
Ami tersenyum malu-malu, membalas sapaan Hiyola.
Sesudah menyerahkan semua keperluan Roberth, Ami langsung pamit untuk kembali ke kamarnya.
"Baiklah tuan, saya akan kembali ke kamar saya."
Setelah memastikan kepergian Ami, Hiyola hendak beranjak keluar dari kamar, tapi Roberth mencegahnya, dengan mencengkram lengan Hiyola.
"Mau ke mana kau?"
"Tentu saja kembali ke kamar saya, tuan." jawab Hiyola nyolot. Tentu saja mau ke kamar, ya kali mau ikut Ami.
"Mmm..." Roberth tampak berpikir, tidak mengacuhkan reaksi Hiyola tadi.
"Saya rasa kamu di sini dulu. Takutnya Ami mungkin akan kembali."
Hiyola langsung menyilang kedua tangan nya di depan dada.
"Apa maksud tuan?"
Sekali lagi Roberth tak mengacuhkan Hiyola. Dia menyingkirkan Hiyola dari depan pintu, menguncinya kemudian memasukkan kunci ke dalam saku celana.
Hiyola menatap tidak percaya, ia bahkan kehabisan kata-kata karena apa yang Roberth lakukan.
"Kenapa di kunci tuan, saya mau keluar! Saya tidak mau tidur seranjang dengan tuan!!!" teriak Hiyola mulai panik.
Tidak mengubris, Roberth berjalan seraya menggeleng. Hiyola memang suka berpikir semau nya. Roberth kemudian berhenti di depan lemari, membuka nya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Semntara Hiyola terus mengawasi setiap pergerakan Roberth. Jika pria itu macam-macam Hiyola akan langsung meneriaki Ami. Untung saja di rumah sudah bukan haya mereka berdua jadi Hiyola masih bisa sedikit merasa tenang.
Tapi tidak sesuai dugaan, Roberth tidak melakukan hal aneh, ia malah mengeluarkan sebuah bedcover berwarna putih. Kini Hiyola paham apa yang coba di lakukan Roberth. Untuk kesekian kali nya Hiyola salah paham. Ternyata Roberth mengambil dan membuka bedcover di lantai supaya mereka tak perlu tidur seranjang.
Merasa terpukau, di detik berikut Hiyola sadar ekspetasi nya terlalu tinggi.
"Kau bisa tidur di sini." ucap Roberth serah naik ke atas ranjang. Ternyata, bukan intuk nya, bedcover itu di tujukan untuk Hiyola.
Netra Hiyola melebar melihat bedcover yang lumayan tebal namun tidak layak di gunakan untuk tidur, memanggilnya.
"Kenapa saya tidur di bawah?" Hiyola berjalan mendekati ranjang sambil menekuk wajah nya.
Roberth mengedik kan bahu. "Tentu saja karena saya bos nya." balas nya , mulai merebahkan tubuh kekar nya di atas ranjang.
"Kalau mau, kamu boleh tidur bersama saya di atas ranjang ini." tawar Roberth seraya memukul ranjang tepat di samping nya.
Melihat kelakuan Roberth, Hiyola langsung melemparkan diri nya di atas bedcover, dan mulai menghilangkan wajah di balik satu bantal kepala yang Roberth berikan.
Belum ikut menuju alam mimpi, Roberth memandangi Hiyola yang jauh di bawah ranjang nya. Wanita itu tengah tidur meringkuk memeluk tubuh nya sendiri.
Menatap tubuh kecil yang memunggunginya, sedikit namun pasti, kedua ujung bibir Roberth mulai terangkat. Tanpa dia sadari sikap aneh Hiyola berhasil mempengaruhi hidup nya.
Ini merupakan pertama kali Roberth harus mengundang paksa seorang wanita untuk masuk ke kamar nya.
Padahal biasanya, wanitalah yang memaksa masuk ke dalam bilik nya, bahkan memaksa berada di atas ranjang nya.
Sedangkan Hiyola, gadis ini lebih memilih tidur di atas bedcover yang tipis, ketimbang menerima tawaran untuk naik ke ranjang nya.
"Dasar wanita aneh..." komentar Roberth mulai menyusul ke alam mimpi.
***
Tengah malam Hiyola di kejutkan dengan suara jeritan di dalam kamar. Tepat nya dari atas ranjang besar milik sang bos. Ia menjulurkan kepalanya melihat untuk melihat apa yang terjadi, betapa terkejutnya saat netra Hiyola menangkap sosok Roberth yang tengah gelisah sambil berbicara tidak jelas.
"Tuan, kau kenapa?"
***