Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 32 : Mengobati luka



"Dasar ceroboh! Kau pasti menggigit kuku mu, kan?" Mata Roberth menelisik ujung kuku Hiyola yang bergerigi, tanda bekas gigitan.


Hiyola mengangguk lambat, "Karena itu, tidak perlu di obati, tuan." Dia menarik lembut tangan nya, senyum canggung ia suguhkan.


Dengan cepat Roberth kembali menarik tangan Hiyola, "Bergerak lagi, saya gunting tangan kamu!" acam Roberth, penuh penekanan. Ia mengangkat gunting yang tadi di gunakan untuk memotong plester.


Hiyola mengangguk sambil terkekeh pelan, "Memangnya aku anak kecil? Mana percaya sama ancaman model itu!!!" Ejek nya dalam hati.


Roberth memgangkat wajah, menatap Hiyola. "Saya sungguh akan melakukan nya!" Dia bisa membaca isi pikiran Hiyola hanya dari bagaimana respon dan raut wajah nya. "Kau terlalu mudah di tebak!" lanjutnya saat melihat alis Hiyola mengerut.


Hiyola sontak mengerucutkan bibir, merasa kesal karena lagi-lagi Roberth dapat membaca pikiran nya.


"Dasar menyebalkan!"


Roberth yang tadinya sedang mengusap obat merah, menghentikan kegiatan nya. "Dalam hati sekalipun, jangan berani kau mengumpat saya!!!"


Seperti kata Roberth, wajah Hiyola memang sangat mudah di tebak.


Memalingkan wajah ke sembarang arah, Hiyola mulai mendumel tidak jelas, membuat Roberth menekan kuat lukanya.


"Tidak sakit!" sewot Hiyola.


Keadaan kembali hening. Hiyola sibuk dengan pikiran nya sendiri, sementara Roberth sibuk melilitkan plester di jari telunjuk Hiyola.


Plester berwarna pink dengan gambar strawberry tersebut nampak sangat lucu, membuat Hiyola tiba-tiba terkekeh geli.


Sadar penyebab Hiyola tertawa, Roberth langsung menyanggah agar gadis itu tidak berpikir yang macam-macam.


"Ini plester cucu Ami. Waktu itu main ke sini!" Roberth mulai merapikan benda-benda yang di gunakan setelah selesai melilitkan plester.


Hiyola manggut-manggut. "Oh, saya kira..." Menahan kalimatnya sebentar, tersenyum, membayangkan pria setampan dan sekekar Roberth menggunakan plester imut itu.


Satu toyoran segera melayang di kepala Hiyola sebelum ia melanjutkan kalimat nya.


"Tuan!" protes Hiyola.


Roberth langsung berdiri, meletakkan kotak P3K, kembali ke tempat semula. Dia tidak menghiraukan omelan Hiyola, dan terus beranja. Namun, dibalik itu, ia mengulum senyum yang sejak tadi di tahan.


"Dasar manusia aneh!" gerutu Hiyola saat Roberth berjalan ke arah dapur, meletakkan kotak P3K di salah satu laci.


Padahal kemarin malam, Roberth seperti orang lain, dia begitu menyeramkan. Tapi, lihat dia sekarang, malah bersikap manis seolah tidak ada yang terjadi.


"Saya tahu, kamu pasti memikirkan kejadian semalam." Roberth berjalan kembali dari dapur, netranya menangkap raut bingung di wajah Hiyola.


"Kemarin karena kematian Jiehan, ibu Daniel, wajah mu masuk di TV. Itu berita yang sangat kontroversial, jadi sangat berpengaruh pada saham. Dan itu karena sikap sok peduli mu!"


Kedua alis Hiyola saling bertaut. Dia tidak tahu bahwa dirinya masuk TV. Dia juga tidak tahu hal tersebut berpengaruh pada perusahan.


"Ya, saya mengerti, kamu juga tidak tahu mengenai hal tersebut. Namun, tidak menutup kenyataan bahwa karena dirimu, saham perusahan anjlok, semua investor berencana menarik diri."


Roberth duduk di samping Hiyola. Gadis itu menunduk, merasa bersalah. Dia tidak tahu jika pengaruhnya akan sangat besar bagi perusahan. Bagaimana pun juga, PT. Meet Me sudah menjadi investor paling besar dalam perjuangan nya mengumpulkan pundi-pundi rupiah.


"Maafkan saya..." lirih Hiyola, dia tidak berani menganggkat wajah nya.


Sudut bibir Roberth terangkat, hanya seulas senyum singkat. "Maaf saja tidak cukup." tegur nya, membuat Hiyola mendongak.


"Maksud tuan?"


Roberth mengangkat wajah nya tinggi, ia harus mengambil kesempatan baik ini. "Kamu harus memenuhi permintaan saya."


Mendengar hal konyol tersebut, Hiyola menelan saliva berat. Mengingat bagaimana Roberth memenuhi permintaan-permintaan nya kala itu, Hiyola jadi kepikiran. Bagaimana caranya dia bisa memenuhi keinginan manusia kaku ini?


"Bagaimana? Setuju?"


Hiyola masih belum menjawab. Dia menatap wajah Roberth tajam. "Maksud tuan, memenuhi keinginan seperti yang tuan lakukan untuk saya?"


"Tapi saya tidak punya uang sebanyak yang tuan miliki." Wajah Hiyola sudah memelas, namun Roberth malah mengedik kan bahu.


"Saya tidak peduli. Bagaimana pun juga, kamu harus memenuhi keinginan saya."


Mendapati respon Roberth yang tampak tidak peduli, Hiyola jadi kesal sendiri.


Seharusnya tidak perlu minta maaf tadi!


"Memangnya apa yang tuan inginkan?"


Roberth kembali mengedikkan bahu nya. "Saya akan mengatakan nya saat kita sudah mengatur waktu."


Hiyola mendengus kesal. "Saya harus merangkum semua nya sekarang, Tuan! Jika tidak, bagaimana saya bisa memastikan bahwa uang nya akan cukup???" gerutunya.


Namun, bukan nya menjawab, lagi-lagi Roberth malah mengedik kan bahunya. Dia berdiri, lau mengankat panggilan telfon dari Petra.


"Pokok nya, saya tidak mau tahu!" ujarnya, setelah selesai dengan panggilan telpon.


Hiyola akhirnya pasrah. Ya, sudah jika Roberth tidak mau mendengarnya. Nanti juga dia sendiri yang akan menanggung akibat nya.


Hiyola mengambil tas selempang coklat nya, keudian beranjak dari posisi duduk. "Baiklah, terserah Tuan saja." Merapikan penampilan nya, Hiyola kembali melanjutkan. "Saya harus pergi sekarang."


"Mau kemana, kamu?" tanya Roberth saat melihat Hiyola beranjak menuju pintu.


Hiyola menoleh sebentar. Wajahnya kelihatan sangat kesal. "Saya harus menghadiri pemakaman ibu Daniel." jawabnya dengan intonasi yang sedikit tinggi.


"Pastikan wajahmu tidak terpampang di berita!" Roberth pun ikut berjalan ke luar. Hari ini dia dan Petra akan mengurus beberapa hal dengan tim media, atas apa yang terjadi kemarin.


Hiyola menghentikan lagkah nya, membuat Roberth yang mengekori juga ikut berhenti. " Itu tidak akan terjadi lagi." ucap nya, kemudian mulai menunggangi Hope, kemudian melenggang pergi.


Roberth hanya bisa melihat kepergian Hiyola. Dia jadi semakin bingung dengan perasaan nya sendiri.


***


Waktu menunjukkan pukul 19.00


Pemakaman ibu Daniel sudah selesai sejak pukul lima sore, dua jam yang lalu.


Hiyola dan Daniel masih betah duduk di sebuah kedai Kopi, tempat mereka sering menghabiskan waktu, menunggu jam kerja Hiyola.


Hiyola sejak tadi hanya diam. Dia tidak akan bicara sebelum Daniel bersuara, jika berbicara sebelum itu, Daniel pasti akan mengacuhkan nya dan tidak peduli terhadap apa yang ia jelaskan.


Namun, sudah dua jam, dan Daniel sejak tadi hanya duduk diam sambil menyesap kopi yang sudah mereka pesan sebanyak empat gelas, membuat Hiyola semakin gugup. Gadis itu bahkan tidak bisa diam di tempat.


"Berhenti bergerak! Kau seperti cacing kepanasan." Daniel akhirnya berbicara, setelah seharian mendiami Hiyola.


Poni Hiyola bergoyang, selaras dengan gerak tubuhnya yang memekik senang. Dia bahkan berteriak saking senang nya, membuat beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.


"Akhirnya, kau bicara juga."girang Hiyola, mengecilkan Volume suara. "Aku akan menceritakan segalanya, tanpa menyembunyikan apapun."


Daniel tidak merespon sama sekali. Dia malah menatap Hiyola dengan intens. Seulas senyum nya membuat Hiyola mengernyit.


"Katakan segalanya, tanpa menyembunyikan apa pun." Kali ini ekspresi Daniel berubah serius. Oh, ya, hari ini Daniel tidak lagi menggunakan kaca mata nya.


"Kau janji tidak akan marah, kan?"


Daniel mengangguk. "Aku akan mendengar mu, dan akan percaya segala nya." lagi-lagi sikap tenang Daniel, membuat Hiyola bergidik.


Dia tidak sedang kerasukan, kan?


***