Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 59 : Tiba di Jerman



Saat merasakan tubuhnya melayang di atas awan, ketika sebuah benda besi yang ia tumpangi membawanya menjauh dari negara asalnya, Hiyola sadar bahwa hidupnya mungkin tidak akan lagi sama. Perasaan yang mulai tumbuh karena kedekatan nya dengan Jeremy terasa begitu nyata. Ia bahkan takut jika Roberth terus mendorong nya pergi, bukan tak mungkin untuk menaruh hati pada seorang pria baik, dan mungkin kaya seperti Jeremy. Pria itu tertidur lelap di sampingnya, seolah semua yang ia inginkan hanyalah bersama dirinya.  


Ya, seperti yang Jeremy katakan, setelah kesepakatan mereka, keberangkatan tersebut sungguh terjadi. Jeremy bahkan mengatur alasan agar Hiyola mendapat ijin selama keberangkatan mereka. Entah alasan apa, yang Jelas Hiyola sama sekali tidak perlu merasa khawatir karena dia pergi dengan membawa seseorang yang merupakan dosen. Yah, walau dari tampang lebih layak di katakan pacar. 


"Apa yang kau pikirkan, Hiyo?" Hiyola terkejut saat jemari Jeremy menyentuh tangan nya yang gemetar, karena ini merupakan penerbangan pertamanya, dan ia bahkan tidak tahu bahwa berada di dalam pesawat bisa sangat menakutkan.  "Oh, apa boleh aku memanggil mu..." 


Jeremy tidak melanjutkan kata-kata nya, namun Hiyola paham. Dia mengangguk sebagai jawaban. 


Terserah kau saja, asal kan ketegangan ku ini bisa berhenti. 


Waktu berlalu begitu cepat. Berbagai penerbangan yang mereka lalui, membawa Hiyola pada pemandangan lapangan hijau subur di bawah sana, yang akan membawanya pada pengalaman pertama seumur hidup, dimana ia menginjakkan kaki nya di negara Hitler, tepatnya di bandara Frankfurt, Jerman. 


Hiyola  tertegun ketika tiga Lamborghini berhenti tepat saat ia dan Jeremy keluar dari pintu bandara. Beberapa pria bertubuh tegap, bersetelan hitam berlari keluar, membungkuk hormat pada mereka. 


"Selamat datang kembali, Tuan muda, Jeremy!" seru seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah Asia yang sedikit canggung mengingat mereka berada di Eropa. "Dan anda pasti, Nona Hiyola," ucap pria itu menunjuk nya.


Hiyola hanya bisa membalas dengan senyuman canggung, seraya menatap penuh tanya ke arah Jeremy. 


"Dia, Abimanyu, atau di sini lebih di kenal dengan, Erik. Asisten pribadi ku," jelas Jeremy.


"Oh, ku kira dosen tidak memiliki asisten pribadi," balas Hiyola mengulurkan tangan nya. "Hiyola Anastasya. Kau tidak perlu memanggilku dengan embel-embel Nona." 


Erik menatap Jeremy, meminta persetujuan, "Ya, sesuai yang anda mau, Nona," sahutnya setelah mendapat persetujuan sang bos untuk membalas uluran tangan Hiyola. 


"Jadi, apakah kita akan langsung menuju kediaman rumah utama, Tuan Muda?" tanya Erik dan Jeremy mengangguk. 


Saat akan masuk ke dalam salah satu Lamborghini di tengah, Hiyola tidak sengaja menangkap sosok seorang wanita yang ia kenal, keluar dari bandara. Ia cukup mengenal wanita itu walau hanya dari balik punggung. Kelihatannya memang sangat mirip, tapi Hiyola kemudian menggeleng dan memutuskan masuk saat tidak mendapati wanita itu berbalik. Dia tampak sangat buru-buru. 


Hampir dua jam untuk sampai di sebuah rumah mewah nan megah, entah berlantai berapa, namun Hiyola pastikan bangunan itu memiliki lebih dari lima lantai. 


"Ini rumah ku, Hiyola. Mari masuk," ajak Jeremy. Tangan nya terulur membentuk segitiga siku-siku, mengundang Hiyola untuk mengaitkan tangan nya, memasuki gedung yang Jeremy sebut rumah, namun seperti istana menurut Hiyola. 


Bagaikan memasuki dunia lain, Hiyola begitu terkejut mendapati beberapa orang dengan pakaian pelayan, berlari mengantri di sepanjang sisi kiri kanan pintu bagaikan pagar hidup untuk menyambut mereka. 


"Oh, selamat datang Tuan Muda Jeremy! Lama tidak berjumpa, dan Tuan semakin tampan," ucap seorang pria bertubuh tegap, mengenakan pakaian yang hampir mirip dengan pelayan lain, main memiliki tingkatan yang mungkin cukup berbeda. 


"Thank's Alberto," balas Jeremy. Dia menatap Hiyola. "Dia kepala pelayan, Alberto Tores," lanjutnya menjelaskan. 


Hiyola hanya semakin mengeratkan genggaman nya pada lengan Jeremy. Dia seolah tidak mengenal Jeremy sebagai seorang dosen yang lumayan beramah tamah dengan para mahasiswa centil, maupun seorang pria yang memiliki cukup banyak lelucon untuk menghiburnya, melainkan seorang pria dengan status yang perlahan mulai ia ragukan hanya seorang dosen biasa. 


Sepertinya aku baru saja memasuki dunia dongeng. 


"Oh ya, kenalkan, dia Nona Hiyola Anastasya! Kekasih sekaligus calon istri Tuan muda Jeremy." 


Hiyola hampir melompat saat suara menggelegar Erik memkik di balik tengkuk nya, di tambah semua tatapan serius yang kini mengarah padanya. 


"Alberto, bagaimana keadaan ayah ku?"


"Tuan besar untungnya baik-baik saja, namun benturan di kepalanya membuat ia mungkin hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa di ijinkan untuk berinteraksi dengan siapa pun," jelas Alberto. Jeremy mengusap rambut nya frustasi, sementara Hiyola hanya bisa menenangkan pria itu. 


"Baiklah, dimana adik ku dan ibunya?" tanya Jeremy lagi. 


"Nyonya sedang di kamarnya, sementara Tuan muda baru berangkat beberapa menit lalu untuk menjemput istrinya yang baru tiba hari ini," Jelas Alberto. 


"Baiklah, sekarang, Hiyo. Aku akan mengantar kau ke kamar mu," ucap Jeremy lalu mendapat anggukan dari Hiyola. Sepeninggal mereka, para pelayan akhirnya kembali ke tugas mereka masing-masing. 


***


"Apa aku bisa bicara sekarang?" tanya Hiyola saat mereka baru tiba di lantai tujuh, tempat dimana kamar para tuan rumah berada. 


Jeremy mengangguk. "Ya, ku rasa akupun bisa bicara sekarang," jawabnya seolah beberapa menit di bawah adalah sebuah moral aktibg belaka, seakan-akan ia telah kembali pada dirinya. 


"Kau merasa seksak dengan apa yang terjadi tadi?" selidik Hiyola. Jeremy lagi-lagi mengangguk, lalu melempar senyum canggung. "Sejujurnya, aku tidk di besarkan di rumah ini. Semua sikap dan peraturan tadi, ku pelajari saat masih sangat muda. Sebelum ayah ku mengenal wanita selingkuhan nya." 


Tampak merasa bersalah, Hiyola menatap iba, wajah Jeremy yang perlahan murung. 


"Di tinggalkan bukan hal yang mudah," ucapnya. 


Jeremy kali ini melempar senyum menawan nya. "Ya, dan akan lebih menyakitkan lagi jika kau tetap menolak ku." 


"Oh, ayolah Jeremy, jangan hal itu lagi. Kita sudah memutuskan untuk menjadikan ini sebagai pertemuan untuk menyenangkan keluarga mu." 


"Ya, ya, aku minta maaf. Aku mungkin harus turun ke bawah untuk menyapa ibu tiri ku. Kau tidak msalah di sini sendirian?" tanya Jeremy, dia sudah berdiri, merapikan setelan jas nya. Wajah tampan dengan mata hazel yang tulus membuat Hiyola sedikit merasa kasihan padanya. 


"Tidak masalah, Jer. Aku mungkin harus menikmati tour  kamar karena ruangan 0 0lcukup besar untuk ku," sahut Hiyola, sedikit menyengir getir.


"Kuy harap kau bisa merasa nyaman. Aku pergi sekarang," ujar Jeremy, kemudian keluar meninggalkan Hiyola dengan kamar besar nya.


Kamar tersebut merupakan kamar terluas sepanjang hidupnya. Walau selalu bermimpi memiliki kamar besar untuk dirinya sendiri, kini Hiyola sadar bahwa memiliki kamar dengan ukuran cukup besar tampaknya sedikit  menyeramkan. 


"Kurasa kamar yang sedabg adalah pilih yang baik," gumamnya pada diri sendiri. 


Beberapa menit setelah melakukan room tour,  Hiyola merasa terganggu dengan suara ribut di luar kamar nya. Dia mulai penasaran dengan dua suara berbeda yang sangat di kenal nya. 


Dengan bekal rasa kepo, Hiyola membuka pelan pintu kamar nya. Suara dari engsel sedikit mengganggu sehingga membuat ia harus membukanya dengan sangat pelan dan lambat. Sungguh lambat hingga dia terlambat memastikan siap gerangan pria dan wanita yang tengah bertengkar karena lift yang baru saja tertutup. 


"Ku harap aku tidak gila, mengharapkan Roberth  berada pada salah satu tempat paling tidak mungkin di Jerman." 


***