
Hiyola berjalan menenteng High heels di tangan kanan nya, sementara Roberth mengekori dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana. Tidak ada yang membuka suara kedua nya sama-sama diam.
Setelah puas menangis, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke arah jalan yang benar. Dalam diam dan gelap nya malam, kedua insan memilih untuk membungkam mulut mereka.
Sepanjang jalan Hiyola merutuki kebodohan kerena menangis di depan Roberth, satu-satu nya manusia yang sama sekali tidak ingin ia tunjukan sisi lemah nya.
Berkali-kali Hiyola menjitak sendiri kepalanya. Entah harus merasa jengkel atau malu.
“Sudah baikan?”
Walau amat pelan, berkat suasana yang amat sangat sunyi Hiyola bisa mendengar nya.
“Saya baik-baik saja tuan.” Jawab Hiyola cuek. Mereka berdua seperti pasangan yang tengah bertengkar. Pikir Hiyola.
“Menangis seheboh tadi, kau bilang baik-baik saja?” cibir Roberth, sama sekali tidak peka.
Ingin rasanya Hiyola kembali menerjang kepala Roberth dengan sepatu nya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal memalukan itu secara gamblang! Dasar kolot!
“Saya baik-baik saja tuan! Lagi pula apa yang nyonya Violeta katakan memang benar. Saya saja yang terlalu terbawa perasaan.”
“Di hina seperti tadi kau bilang terbawa perasaan?” Roberth menggeleng tidak habis pikir.
Hiyola mengangguk, “Itu bukan apa-apa, jadi tuan santai saja.”
“Lalu kenapa kau menangis?”
“Kaki saya sakit.”
“Omong kosong.”
Hiyola menghentikan langkah nya tiba-tiba, lalu berbalik dengan ekspresi kesal seraya menatap Roberth.
Roberth mundur selangkah.
“Apa?” Tanya Roberth dengan mata melebar dan alis terangkat.
Baru dua hari mereka tinggal bersama, dari sikap nya, Roberth tahu jika ada yang Hiyola ingin kan.
Hiyola tidak suka suasana canggung ini, sebab itu ia mencoba mengalihkan.
Ekspresi Hiyola yang awalnya cemberut perlahan berubah men jadi cengiran kikuk,
“Saya lapar…”
Roberth hampir terbatuk di buatnya, ia kira Hiyola mungkin akan menanyakan sesuatu mengenai kejadian tadi.
“Asataga, jantung saya hampir copot!” ketus Roberth menyentuh dadanya, sembari berjalan lebih dulu.
Hiyola mengejar dengan sedikit tertatih, sakit di kakinya baru saja terasa.
"Tunggu tuan, kaki saya sakit...!" Hiyola mempercepat, mencoba menyamakan langkah dengan Roberth.
“Cepatlah jika kau lapar! Perjalanan ke depan masih satu jam lagi!”
Hiyola sedikit mencibir,
lagi pula kenapa juga dia mengikuti ku sambil jalan kaki?
“Kenapa tuan tidak bawa mobil, sih?” teriak Hiyola mengeluh.
“Masih untung saya menyusul mu!” sahut Roberth tidak kalah kencang.
"Kalau begitu, telfon Petra saja...!" saran Hiyola, mulai merasa lelah.
Roberth sengaja lebih mepercepat langkah nya. "Petra sibuk! Saya sudah menghubungi dia bahkan sebelum ide nya singgah di otak kecil mu!"
Hiyola berdecak, "Ck, dasar sok pintar!" teriak Hiyola kehilangan rasa takut.
"Memang saya pintar." sahut Roberth terdengar biasa namun berhasil membuat Hiyola merasa di ejek di ejek.
"Sombong...!" balas Hiyola pelan.
Meskipun begitu, Hiyola cukup terhibur dengan tingkah konyol yang tengah mereka lakoni saat ini. Dia merasa seolah kerinduan akan keluarga nya terbayar.
"Hey! Cepat!" Roberth berhenti sejenak, berbalik melihat Hiyola yang berdiri cukup jauh dari nya.
“Iya, ini juga gara-gara tuan tak bawa mobil. kenapa tidak pakai mobil sih, tuan?” balas Hiyola mulai mengangkat sedikit gaun nya yang kepanjangan.
“Salah kau sendiri! Sudah jangan banyak bicara! Saya sudah cukup lelah sekarang."
“Iya-iya…”
***
“Kau tidak salah ingin makan nasi goreng di sini?” Tanya Roberth ngos-ngosan. Rupanya mereka tidak kembali ke mansion dan malah berjalan selama hampir sejam penuh.
Abah nasi goreng mulai mengatur kembali gerobak nya. Beliau juga mengeluarkan dua kursi kotak tanpa sandaran, meletakkan nya di atas trotoar secara bersejajar, menghadap ke jalan yang sudah mulai sepi.
“Pak, nasi goreng nya dua. Yang punya saya pedas, yang punya kakak saya biasa.” Seru Hiyola mulai memesan.
Roberth mendelik, “Kakak?” suaranya sedikit meninggi.
Hiyola tersenyum mengejek, jari telunjuk ia letakkan di depan bibir yang sudah tidak ada pewarna merah nya lagi. “Tuan, diam saja. Lagi pula bapak nya pasti tidak akan percaya kalau tuan itu suami saya.”
Roberth melipat kedua tangan di depan dada, entah mengapa dia merasa sedikit tersinggung.
“Maksudnya?” Satu alis nya terangkat.
“Ck, tuan ini tidak peka.” Hiyola menarik kursi kotak nya sedikit mendekati Roberth. “Tuan lihat wajah saya, apa ada tampang-tampang emak-emak?” tunjuknya pada wajah sendiri.
“Kau-“
Roberth mau berkomentar, tapi lebih duluan si abang nasi goreng, membuat nya menelan kembali kata-kata yang sudah siap keluar.
“Ini mas, dek,” Abang nasi goreng seraya memberikan piring mereka masing-masing. Baik Roberth maupun Hiyola mengambil nasi goreng mereka lalu tak lupa berterima kasih.
“Makasih ya pak…” ucap Hiyola antusias, seraya tersenyum. Sementara Roberth hanya mengucapkan terimakasih dengan ekspresi datar, Hiyola berhasil membuat mood nya hilang.
“Sama-sama.” Jawab sang abang nasi goreng. Beliau masih berdiri di depan mereka dengan canggung.
“Tadi saya kira kalian pasangan, soalnya kelihatan serasi. Ternyata adek kakak… Ya sudah, selamat makan untuk mas dan adek nya.” Ujar si abang kemudiang pergi.
Kebetulan Hiyola yang cemberut melirik Roberth saat itu.
“Oo… Tuan tersenyum?” Walau sekilas, Hiyola yakin melihat Roberth tersenyum.
Roberth menggeleng tak acuh, “Makanlah, jangan banyak mnghayal.”
Salah tingkah, buru-buru Roberth melahap nasi goreng nya. Saking salah tingkah nya, ia bahkan tidak sadar kalau baru saja memasukkan sepotong besar telur dadar ke dalam mulut.
Hiyola membelalak, “Tuan! Kau makan telur dadar?” pekik Hiyola membuat Roberth spontan memuntahkan apa yang baru ia masukkan ke dalam mulut.
“Uhuk …” Roberth terbatuk-batuk. Hiyola tertawa di buat nya.
“Ckck… makanya tuan, kalau makan itu di perhatikan dulu! Jangan asal kunyah.” Cerewet Hiyola menasehati, sambil masih tergelak.
Melihat tawa Hiyola, Roberth merasa sesuatu yang aneh, seolah tawa Hiyola berhasil menghiburnya, walaupun masih dalam kondisi tersedak.
“Bawel kamu! Ambilkan saya minum!”
***
Waktu sudah semakin larus saat Hoyola dan Roberth selesai makan. Setelah itu, Roberth membayar, berpamitan, tidak lupa mereka juga mengucapkan terima kasih kepada abang nasi goreng. Berkat si abang nasi goreng, mereka bisa melanjutkan perjalanan.
“Saya pesan taksi dulu.” Ujar Roberth, mulai berselancar di layar ponsel nya.
Sambil menunggu taksi pesanan, mereka memutuskan untuk berjalan pelan.
Sepanjang perjalanan mereka berdua kembali diam, hingga rasa penasaran mulai menggerogoti hiyola dan membuatnya mulai membuka percakapan.
“Siapa Kimberly, tuan Roberth?” Tanya Hiyola akhirnya. Hiyola ingin semuanya jelas, dia ingin tahu agar ke depannya ia tidak akan mengambil langkah yang salah.
Roberth sempat terkejut sebentar, namun secepat kilat berubah menjadi biasa lagi.
“Perjanjian kontrak, poin ke enam, ‘Tidak boleh penasaran mengenai kehidupan pribadi masing-masing’ jika kau lupa.”
Hiyola mengangguk lesu, kini jelas sudah, wanita yang bernama Kimberly memang adalah kekasih tuan Roberth. Entah mengapa sesuatu di sudut hati Hiyola terasa berdenyut, mengetahui dirinya hanya seorang pengantin palsu, pengantin pengganti, pengantin sewaan, si Kimberly Tiruan, hatinya sedikit tak terima.
Hiyola tersenyum sejenak, menerawang lurus ke depan. “Tolong sampaikan maaf saya kepada nyonya Violeta, karena sudah lancang tadi. Dan tolong sampaikan juga, agar nyonya Violeta tidak perlu khawatir mengenai saya, selama nya saya hanya akan menjadi Kimberly tiruan seperti kata nya, saya juga tahu diri untuk tidak menyukai tuan, apa lagi sampai jatuh cinta pada tuan.” tutur nya tersenyum kecut.
Roberth menatap Hiyola yang berjalan di samping nya. Ia sama sekali tidak mengenal wanita ini, wanita yang baru dua hari tinggal bersama nya, tapi sudah berhasil mengacaukan separuh dari hidupnya, kekacauan yang bahkan Roberth sendiri tak bisa jelaskan.
“Kau yakin tidak akan jatuh cinta pada ku?”
Pertanyaan Roberth terdengar sangat sombong di telinga Hiyola. Ia menoleh dan mendapati pria itu tengah menatapnya dengan eksprsi datar dengan satu alis terangkat, terlihat sangat mengejek.
“Maksud tuan?” Tanya Hiyola agak kesal.
Roberth melangkah lebih dulu. “Tidak ada wanita yang mampu menolak pesona ku. Pesona ku selalu bisamembuat wanita berdebar...”
Hiyola mnghentikan langkah nya. Untuk ketiga kali, perasaan ingin melempar High heels terbesit di benak nya.
Ya Tuhan, sepertinya bukan penyakit mesum, pria itu ternyata mengidap over dosis kepedean.
"Hey...! Asal kau tahu saja... Jantungku hanya akan berdebar karena uang, bukan seorang pria!!!"
“Terserah kau saja! Cepat kemari sebelum saya tinggal!!!”
***