Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 29: Bingung



Plak...!


Satu tamparan mendarat di pipi Hiyola. Baik Roberth dan Ami sama-sama membulatkan mata.


Setelah sampai di rumah, dengan kesal, Hiyola masuk tanpa tahu akan ada yang menunggu nya.


Violeta yang sudah tidak sabar, lang mendaratkan sebuah tamparan keras begitu Hiyola masuk.


Roberth masih berdiri di ambang pintu sontak berhenti, begitu juga Ami, langsung membekap mulut sendiri.


"Dasar jal*ng tidak tahu berterima kasih! Aku peringatkan kau! Jangan pernah menghancurkan apa yang ku perjuangkan dengan susah payah, atau kau akan menerima ganjaran nya!!!" hardik Violeta geram.


Sore tadi begitu mendapatkan kabar tentang kekacauan yang Hiyola sebabkan, Violeta langsung bergegas terbang dari jerman ke Indonesia, hanya sekedar untuk melampiaskan kejengkelan nya.


Hiyola menyentuh pipi nya yang panas. Netranya menatap penuh tanya, tidak paham apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang di bicarakan Violeta. Mulutnya sampai menganga tidak percaya karena mendapat tamparan yang sangat tiba-tiba.


"Saya tidak paham apa yang nyonya bicarakan."


Ami tercengang saat Hiyola menyebut Violeta dengan sebutan 'nyonya'


Roberth yang di ambang pintu juga tidak melakukan apa pun. Dirinya bimbang antara melerai atau membiarkan. Lalu diputuskan, Hiyola harus menanggung akibat dari pergaulan nya dengan Daniel. Semua masalah terjadi karena kedekatan mereka.


Violeta memijat pelipis. Menyesali kesalahan, karena memberikan ide yang cerboh kala itu. Jika saja dia tidak memaksa Roberth untuk menikahi wanita bodoh ini, semuanya tidak akan terjadi.


"Roberth..." Violeta tidak menghiraukan Hiyola yang masih melemparkan pandangan penuh tanya. Dia berjalan melewati nya begitu saja, menuju sang putra.


Dia tidak mungkin menimbulkan masalah dengan membiarkan orang lain-tentu saja Ami- mengetahui masalah sebenarnya.


"Kau selesaikan semua masalah yang di mulai istri mu! Kalau perlu, jangan biarkan dia keluar dari rumah!!!" ucapnya frustasi. Violeta menengok, melihat Hiyola sebentar dengan wajah tidak suka, kemudian beranjak pergi. Menaiki mobil, dan menghilang di balik gelapnya malam.


Sementara itu, Hiyola masih belum mengerti, dia terus berdiri membatu di tempat, memegang pipi, seraya melihat kepergian Violeta dengan wajah bingung, sedikit kesal.


Ami yang menyaksikan perlakuan nyonya Violeta juga tidak bisa membantu Hiyola. Dia hanya seorang pembantu yang tidak berhak atas apa pun.


Tapi, satu hal yang membuat Ami tidak habis pikir, majikan nya -tuan Roberth- hanya berdiri di ambang pintu, menyaksikan perlakuan ibu terhadap istrinya tanpa niat membantu.


Ami mungkin tidak tahu apa yang menjadi titik permasalahan, namun membiarkan istrinya di pukul begitu saja juga tidak benar.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Ami.


Roberth berjalan mendekat, kemudian melewati Ami dan Hiyola yang masih berdiri mematung. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia kasihan, namun juga marah karena keteledoran Hiyola.


"Kalian istirahat, lah." ucap Roberth, akhirnya melanjutkan langkah.


Ami ingin mendekati Hiyola, namun diurungkan. Dia mengerti sang majikan pasti butuh waktu sendiri.


Mungkin Tuan dan nyonya nya sedang punya masalah, itu sebabnya mereka tidak saling bertatap seperti hari-hari sebelum nya.


Walaupun Ami jarang melihat kedua majikan saling bicara, dia sering melihat mereka melempar pandang. Mungkin masalah yang sama, sampai-sampai terdapat dua tempat tidur di kamar, meskipun kata Roberth kasur yang satu adalah tempatnya untuk membaca buku, Ami tahu mereka pasti pisah ranjang.


Ami membuang nafas kasar, tangan nya yang keriput, berniat mengusap pelan punggung Hiyola, naun urung. Dia sadar posisi.


"Saya masuk, ya, nyonya." Putus Ami, hanya bisa pergi lebih dulu.


Setelah mendapat anggukan dari Hiyola, Ami pergi masih sedikit merasa enggan.


Entah apa kesalahan yang telah dirinya lakukan sampai harus diperlakukan seperti ini. Bahkan Roberth sama sekali tidak melakukan apa-apa, dan hanya berdiri menyaksikan.


Tidak terasa, air mata mengalir dari pelupuk mata Hiyola. Namun, sebagai satu-satunya orang yang bisa menolong dirinya, Hiyola mengusap, menghapus kembali air matanya.


Seumur hidup, ayah dan ibu Hiyola bahkan tidak pernah memukul nya dan Miona, apalagi sampai menampar. Orang tuanya tidak pernah sekalipun main tangan, jadi Hiyola sangat terkejut saat mendapat tamparan tersebut, apalagi dirinya tidak tahu apa kesalahan yang telah ia lakukan. Violeta hanya mengatainya tanpa menjelaskan apa pun, dan pergi begitu saja.


Akhirnya dengan langkah gontai, Hiyola memutuskan untuk pergi ke kamar. Bukan kamar Roberth, tapi kamar sebelah yang sebelum nya di hancurkan Violeta.


Hari ini terlalu melelahkan untuk sekedar berdebat dengan Roberth. Tenaganya sudah habis. Menemani Daniel yang terpuruk sudah cukup menguras semua tenaga yang ia punya. Satu hal yang Hiyola harapkan, semoga Daniel bisa menerima segalanya dengan lapang dada.


Sampai di kamat, tangan Hiyola menyentuh sakelar yang berada tepat di samping kosen pintu.


Lampu kamar menyala, menampilkan sebuah ruangan yang sudah hancur. Lampu tidur pecah dan berserakan di mana-mana, goreden beserta semua perngkatnya terlepas di beberapa bagian, bahkan ranjang pun hancur.


Hiyola merebahkan tubuhnya di atas kasur, dalam ruangan seperti kapal pecah tersebut. Dia kembali teringat dengan apa yang terjadi saat di taman. Daniel pasti punya banyak pertanyaan sekarang.


Sahabatnya yang paling anti terhadap cinta-cinta an, di jemput seorang pria yang mengaku sebagai suami nya.


Jika menjadi Daniel, Hiyola pasti akan menghindari orang itu, dan tidak akan bicara untuk beberapa hari ke depan.


Astaga! Hiyola merasa frustasi sekaligus bersalah, karena menambah beban Daniel. Pria itu baru saja kehilangan ibu dan kini harus tahu rahasia besar yang Hiyola tutupkan.


Semua kekacauan ini disebabkan oleh Roberth. Tidak ada yang lebih masuk akal lagi, selain pria menyebalkan yang bernama Roberth. Hiyola bahkan merutuki kebodohan nya sebab hampir menaruh hati pada pria jahat itu.


"Arggghhh..." geram Hiyola terlentang. Berusaha memejamkan mata, menyerahkan kesengsaraan besok, untuk hari esok saja.


***


Malam semakin larut. Waktu sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Hiyola sudah tertidur lelap, tidak menyadari pintu yang terbuka.


Roberth berjalan nyaris tidak menimbulkan suara. Dia berdiri di depan ranjang, melihat Hiyola yang tertidur sambil merengkuh tubuhnya sendiri. Wajah nya juga di tutupi oleh rambut yang acak-acakan.


Netra Roberth mulai melembut. Sesuatu di sudut hatinya terasa berdenyut, melihat Hiyola tidur dalam keadaan kelelahan, di dalam kamar yang acak-acakan.


"Dasar keras kepala!" Gumam nya, mulai mendekat.


Dengan tanggap, Roberth meraih tubuh Hiyola ke dalam rangkulan nya. Dia mengangkat tubuh yang bahkan tidak merasa terganggu sedikit pun.


"Di culik juga tidak akan sadar." ejek Roberth, mengulum senyum sambil menatap wajah cantik Hiyola.


Ingatan saat memperkenalkan diri sebagai suami Hiyola tadi, berhasil menggelitik. Apalagi saat melihat wajah terkejut Daniel, Oh sangat memuaskan.


Yah, walau sebenarnya dia sadar yang dilakukan nya sudah melenceng dari kontrak, namun, tidak mencoreng rasa senang yang membuncah. Toh dia adalah boss nya.


Setelah membuka pintu kamarnya sendiri, Roberth berjalan, mendekati ranjang Hiyola.


"Maaf untuk perlakuan ibu saya." bisik Roberth akhirnya, sesudah membaringkan Hiyola di atas ranjang.


Semua terasa salah, perbuatan ibunya, sikap nya yang acuh tak acuh, termasuk rasa pedulinya. Dia bisa akui bahwa dirinya hanya peduli pada Hiyola, atau merasa kasihan. Dirinya masih sangat mencintai Kimberly, di tambah kemarin wanita itu baru saja menelpon, dan debaran cinta itu masih ada. Jadi, perasaan yang ia miliki kepada Hiyola pasti hanyalah rasa kasihan dan prihatin.


"Huh...!" Roberth mendengus, matanya masih fokus menatap Hiyola di tengah remangnya lampu tidur. "Membuat ku bingung saja!"


***