
Setelah sesi bersedih-sedih, Hiyola dan Daniel memutuskan untuk melanjutkan tugas mereka.
Tepat di pojok perpustakaan, Hiyola duduk di samping Daniel yang tengah fokus dengan laptop nya. Wajah Hiyola tampak kacau. Mata sembab, hidung merah, dan wajah yang terlihat sangat kusut. Pokok nya tidak sedap di pandang.
"Hei! Hentikan ingus mu itu." bisik Daniel bersikap seolah terganggu dengan suara yang Hiyola buat, padahal sebenarnya dia hanya ingin agar Hiyola melupakan kesedihan nya.
Hiyola berdecak, menatap Daniel sinis. "Ckck, baru beberapa saat lalu kau bersikap seperti sahabat sejati, lihat diri mu sekarang. Hampir saja aku jatuh cinta pada mu tadi!" cerocos Hiyola, jengkel.
Daniel tertawa pelan sebab perpustakaan yang sudah mulai ramai pengunjung.
"Hmm.... Jatuh cinta lah pada ku, lagi pula di dunia ini hanya aku yang bisa kau andalkan." balas Daniel dengan wajah yang terangkat angkuh.
Hiyola menoyor kepala sahabat nya dengan buku yang ia pegang. "Maaf, aku tidak ingin bersaing dengan pria-pria tampan mu." sahut nya bergidik ngeri.
Tawa garing Daniel sontak membuat semua kepala yang menunduk, terangkat melihat ke arah nya.
"Maaf...maaf..." malu Daniel seraya mencubit lengan Hiyola membuat Hiyola meringis.
"Dasar jahanam kau, Daniela...!" omel Hiyola.
Daniel menggeleng dengan jari telunjuk menggoyang di depan Hiyola. "Berhenti memanggil ku Daniela, nama itu jelek."
Hiyola memicing, sepertinya ada sesuatu mengganggu sahabat nya ini. "Kau itu baru putus ya? Apa Anton memanggil mu Daniela? Jadi kau tida suka panggilan pemberian ku?"
Hiyola menekunkan wajah nya cemberut. Ia tahu beberapa hari lalu Daniel sempat cerita mengenai Anton, pria yang ia kencani setelah putus dari Rangg.
Daniel mencubit gemas kedua pipi Hiyola, "Sudah jangan banyak berkomentar! Bantu aku kerjakan tugas, kau itu selalu banyak bicara agar tugas nya aku yang kerjakan." cerocos Daniel.
Hiyola merenggut mengusap pelan pipinya. "Dasar teman perhitungan."
Asik bertengkar, Hiyola tidak sadar sejak tadi ada yang memperhatikan nya.
Tepat di meja yang sama seperti tempo hari, Roberth tengah berbincang dengan beberapa klien nya. Ada sedikit kekesalan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun, hari ini terpancar jelas dari mata keabuan nya. Roberth kesal karena mata semua wanita di dalam ruangan tertuju pada nya, kecuali mata Hiyola. Wanita yang tengah tertawa riang itu berhasil mengganggu konsentrasi seorang Roberth.
Lihat dia! Sejak pagi dia mengacuhkan ku, tapi tertawa riang dengan pria lain.
"Senyum nya terlihat sangat memuakkan ." komentar Roberth, lagi-lagi tanpa sadar.
"sorry, did you say something?"
Roberth terkejeut saat salah satu Klien nya berkomentar.
"No, I'm just talking to myself." Hiyola memang selalu berhasil merusak hari nya.
Sementara itu, sejak tadi Daniel yang merasa seseorang menatap ke arah nya sempat bertemu mata dengan Roberth.
"Hei...! Kau kenal pria tampan di sana?" Daniel menyenggol lengan Hiyola agar gadis itu merespon nya, tapi bukan nya merespon Hiyola malah memukul lengan Daniel.
"Jangan mulai lagi, aku sedang fokus. Kau baru putus dengan Anton kemarin, ingat!" ujar Hiyola dengan mata yang masih fokus membaca buku.
Daniel merampas buku Hiyola lalu meletakkan nya di sisi meja yang tidak bisa dijangkau nya. "Lihat dulu kesana, pria itu sejak tadi melihat mu. Tatapan nya sedikit menyebalkan."
Hiyola memutar mata jengah. Dengan malas ia berbalik, mengikuti arahan Daniel. Mata nya langsung membelalak saat melihat beberapa pria berjas yang salah satu nya sangat ia kenal, yang saat ini juga tengah menatap nya.
Hiyola berbalik gugup, satu tangan ia gunakan untuk menghalangi wajah nya.
"Bersihkan meja, kita pergi sekarang." bisik Hiyola.
Daniel masih menatap ke arah Roberth. "Berhenti melihat nya, Daniela!!!" cicit Hiyola geram. Ingin rasanya ia menabok kepala sahabat nya.
"Kau itu punya masalah apa? Sejak kemarin kau bermasalah dengan pria-pria berjas. Kau tidak jual diri kan?"
"Tangan mu itu suatu hari akan kupatah kan." balas Daniel mulai merapikan barang-barang nya.
"Akan ku jelaskan nanti saat Miona dan bibi Alya sudah kembali! Oke?"
Daniel mengangguk patuh. "Baiklah. selama kau tidak menjual diri, aku akan menunggu."
Hiyola menggeleng, "Pikiran mu memang hanya segitu! Dasar!"
Setelah merapikan barang dan mengembalikan semua buku ke tempat nya, Hiyola langsung menyeret Daniel untuk keluar bersama nya. Layak nya pencuri, Hiyola berjalan mengendap-endap di balik meja-meja, mengacuhkan beberapa mata yang melihat mereka tidak suka.
Tiba di luar, Hiyola langsung menancap motornya keluar dari area perpustakaan.
"Huh, untung saja."
Lewat kaca spion Daniel melihat ekspresi Hiyola yang tampak sangat lega. Dia sangat penasaran sekaligus curiga namun, tidak ingin memaksa Hiyola untuk menjelaskan.
"Kita persis seperti pencuri." ucap Daniel mencoba mencairkan suasana tegang yang masih nampak jelas di wajah Hiyola.
"Hush... kita menghindar, bukan mencuri."
"Memangnya siapa pria itu? Tidak mungkin pacar mu kan?" Tanya Daniel penuh selidik.
Hiyola tampak gelisah. Tangan nya yang memegang setir mulai berkeringat. Dia selalu takut untuk menjelaskan apa yang terjadi. Ia takut menghancurkan orang-orang terdekat nya.
"Dia bos ku."
Sekaligus suami setahun ku.
Sambung Hiyola dalam hati. Mungkin Daniel akan langsung mencekik nya jika ia berkata demikian.
"Bos? Kau punya banyak bos, Hiyola." gedek Daniel yang tahu berapa banyak pekerjaan sahabat nya.
Hiyola menunjukkan cengiran andalan nya lewat kaca spion. "Aku tidak tahu jabatan nya, intinya dia putra CEO Meet Me."
Daniel sontak meremas pundak Hiyola, "Anak CEO?" Dari suara nya, Hiyola tahu Daniel shock.
"Karena itu aku lari. Kalau sampai ia tahu aku seorang mahasiswa..."
Sleett....
Hiyola melepaskan tangan kiri, kemudian berakting seolah leher nya akan di sayat.
"Mati aku." timpal nya.
Daniel memukul lengan Hiyola, bukan ngeri karena gerakan nya, tapi karena tangan yang terlepas dari setir motor.
"Aku tahu kau ingin mati, tapi jangan mengajak ku." sewot nya.
Hiyola hanya bisa tertawa garing, sejak dulu Daniel selalu berhasil membuat hari nya kembali ceria. Tidak seperti Roberth yang selalu membuat nya sial. Hiyola jadi berpikir kembali. Sepertinya akhir-akhir ini ia selalu sial jika berdekatan dengan Roberth. Lihat saja, gara-gara Roberth, Hiyola sampai harus memotong rambut nya sendiri.
"Ya, ku rasa, aku harus menghindar dari nya." gumam Hiyola.
"Menghindar dari apa?" teriak Daniel yang ternyata mendengar nya.
"Menghindar dari kucing! Tadi ada kucing besar lewat." sahut Hiyola berbohong. Hiyola lupa kalau Daniel punya pendengaran yang tajam. Persis seperti Roberth.
Aduh, pria itu lagi!
***