
Hiyola masih bungkam di tempatnya. Dia memilih menyandarkan kepalanya ke sisi jendela mobil. Tidak ada niat untuk bicara. Wajah nya datar, matanya sayu.
"Aku akan mengantar mu pulang," ucap Jeremy, memecahkan keheningan yang begitu mengganggu.
Hiyola tidak menjawab. Dia lebih memilih fokus ke jalanan padat di depan. Sungguh perkataan Roberth masih terngiang di kepala.
"Aku tidak mau pulang. Tolong bawa aku jauh," lirihnya.
Jeremy tidak lagi bertanya. Dia langsung membanting setir setelah memastikan kondisi jalanan aman untuk berbelok.
Di lain tempat.
"Ku kira, kau tidak mau menemui ku lagi." Kimberly tersenyum senang saat pintu rumah terbuka, dan sosok Roberth berdiri di sana. Dia langsung berhamburan memeluk nya.
Roberth tidak menyahut. Dia langsung melenggang masuk, dan melempar bokong nya di atas sofa. Seorang wanita keluar membawa camilan dengan langkah cepat.
"Lama tidak berjumpa, Rob!!!" sambut nya.
Roberth melempar senyum dipaksa. "Apa kabar Aunty Luna." balas nya.
Luna, wanita yang sudah Kimberly anggap ibu setelah ibu kandungnya meninggal, dan sang ayah menikah lagi, mengedipkan sebelah matanya ke arah Kimberly, mengisyaratkan sesuatu.
"Kalian berdua dulu, ya. Aunty mau keluar dulu. Ada acara arisan." ujarnya kemudian berlalu, tidak lama kembali keluar sambil menjinjing tas di tangan.
"Kalian bersenang-senang, lah," teriak Luna yang suda menghilang dari balik pintu.
Kimberly ikutan duduk di samping Roberth. Dia menelisik wajah sang kekasih yang tampak kusut.
'Apakah sesuatu telah terjadi?' batin nya.
Merasa ada kesempatan, Kimberly mulai merapatkan tubuhnya. "Ada apa, Honey? Kau masih marah pada ku?"
Tangan Kimberly mulai bergerilya di sekujur tubuh Roberth. Pria itu segera berbalik, memegang kedua pundak Kimberly dan membaringkannya di sofa. Tubuh nya yang berada di atas Kimberly, menatap tajam netra biru wanita itu.
"Puaskan aku, Kim!" ketus nya.
***
Hampir satu minggu sejak kejadian di hotel terjadi. Selama itu, Hiyola dan Roberth sama sekali tidak bertegur sapa. Mereka sibuk dengan dunia masing-masing hingga lupa dengan yang tengah terjadi pada mereka, bahkan keduanya saling tidak mengacuhkan. Hiyola bahkan hampir tidak pernah berpapasan lagi dengan Roberth, karena pria itu yang selalu pulang larut dan pergi pagi buta.
"Terimakasih untuk hari ini, Jeremy." ucap Hiyola.
Langit sudah menggelap saat dirinya yang di giring Jeremy, masuk dengan motor ke dalam kawasan rumah berlantai dua. Bekerja seharian nyatanya tidak berhasil membuat gadis itu melupakan semua kesedihan nya.
"Masuklah," ucap Jeremy.
Seharian ia menemani Hiyola, mengantarnya ke berbagai tempat untuk bekerja. Saking banyak dan berbeda-beda tempat, Jeremy sampai sedih melihat bagaimana gadis itu bekerja keras hanya untuk beberapa lembar uang.
"Aku akan masuk. Kau hati-hati lah, di jalan." ucap Hiyola terdengar lemah.
Setelah Jeremy menghilang. Hiyola langsung bergegas berjalan menuju pintu depan. Dia mendorong pelan pintu, kemudian terkejut saat dua orang di depan sana tertangkap oleh matanya.
Hiyola berdiri lama di ambang pintu hingga Ami menegur.
"Nyonya, kenapa diam saja? Masuklah."
Hiyola tersenyum kecut. Kimberly meliriknya sekilas dengan senyum culas, sedangkan Roberth, dia bahkan sama sekali tidak berkutik, bahkan merespon.
Hiyola melenggang masuk tanpa memperdulikan dua manusia yang tengah bermesraan itu. Jika Roberth ingin bersikap tidak peduli, maka baiklah, Hiyola pun akan melakukan hal yang sama.
Roberth baru menoleh saat Hiyola sudah naik ke lantai atas tanpa suara.
"Aku harus mengambil minum!" ucap Roberth. Suaranya sedikit ketus membuat Kimberly ikut terkejut, namun sebisa milungkin menyunggingkan senyum.
"Tuan, makan malam nya sudah siap," lapor Ami.
Roberth mengangguk, dia mengajak Kimberly untuk makan, namun matanya tetap fokus ke arah tangga. Menunggu seseorang diatas sana untuk turun.
Ami hendak menyendok nasi untuk Roberth, namun Kimberly mencegah nya.
"Biar saya saja," ucapnya mengambil alih centong nasi.
Ami menatap wanita tidak tahu malu tersebut dengan pandangan tidak suka. Sikap semena-mena nya membuat Ami muak.
Ruangan di penuhi dengan bunyi-bunyi sendok menyentuh piring, saat Hiyola baru saja turun. Celana selutut dengan baju kaos oblong menjadi andalan nya. Dia menatap Roberth yang tengah melahap makanan nya.
Tidak seorang pun yang menghiraukan Hiyola. Hanya Ami yang tersenyum iba ke arahnya-menawarkan beberapa lauk. Mereka makan dalam suasana canggung, hanya suara Kimberly yang sesekali berkicau.
"Kau ingin ayam, Honey?" ucap Kimberly dan Roberth mengangguk.
Sesekali pria itu melirik Hiyola, tangan nya mencengkram garpu dan sendok kuat, karena gadis itu tampak bersikap biasa dan tidak mengacuhkan nya. Bahkan sampai Hiyola membawa piring ke wastafel, gadis itu sama sekali tidak bicara. Dia mencuci tangan nya, kemudian naik ke kamar.
"Ini sudah sangat larut, Kim. Kau pulanglah." ucap Roberth. Walau agak berat, Kimberly mengangguk setuju. Hari ini sangat berarti baginya, jadi ia tidak akan membuat hal aneh sehingga mengganggu mood kekasih nya.
Sepulang mengantar Kimberly, Roberth langsung menuju kamarnya. Dia berhenti sebentar menatap pintu kamar di samping yang lampunya belum padam. Dengan segala emosi yang kembali menyeruak, Roberth membuka kamar tersebut. Hiyola tengah mengerjakan tugas dari kampus, sontak menutup bukunya dengan beberapa pakaian yang baru ia lipat dan masih di letakkan di atas meja. Dia memang meminta Ami untuk tidak perlu mencuci bajunya.
Mereka tidak saling bicara. Netra Hiyola memantau, mengikuti arah gerak Roberth yang saat ini sudah duduk di atas ranjang nya.
Apa yang pria ini perbuat?
Demi Tuhan saat ini saja Hiyola tidak ingin meladeni Roberth. Sudah cukup ia menahan jengkel saat harus menghabiskan makanan bersama mereka di meja tadi, hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak peduli.
"Apa kau bahkan tidak ingin menjelaskan kejadian di hotel waktu itu?" ucap Roberth akhirnya.
Hiyola berdecak. "Sungguh? Tuan ingin membahas hal itu sekarang? Saya lelah, Tuan." lirih nya memejamkan mata kuat, mencoba menahan emosi yang sudah di ubun-ubun. Dirinya sudah berusaha kuat melupakan kejadian tersebut.
Mendengar nya, Roberth tidak lagi bersuara. Seharusnya ia tidak peduli apa pun yang Hiyola lakukan di belakangnya, karena nyatanya mereka hanyalah suami istri kontrak.
Roberth bersedekap, "Baiklah jika diam keputusan mu!" ia berdiri, berjalan ke arah pintu. "Besok, kau sementara akan tinggal di apartemen. Petra yang akan mengantar mu ke sana." ucap Roberth menarik tutup pintu kamar Hiuola.
Sang pemilik kamar hanya bisa tertegun, semuanya terlalu cepat hingga ia tidak bisa mencerna dengan jelas kalimat tersebut.
Sedangkan di kamar sebelah, Roberth yang berfikir akan merasa lega karena mengatakan hal tersebut, nyatanya tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya terus meliuk hingga matahari menyapa dari balik gorden kamar.
Sudah pagi hari.
Roberth melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat dirinya mengendap endap ke kamar sebelah.
Roberth membuka perlahan pintu kamar Hiyola, niat hati ingin melihatnya untuk terakhir kali, malah dikejutkan dengan kondisi kamar yang telah kosong seolah tidak ada manusia yang menghuninya.
Roberth dengan cepat membuka lemari. Di dalam sana sam sekali tidak ada satu benda pun yang menggambarkan keberadaan Hiyola.
"Ami...!" teriak Roberth mulai menuruni tangga. Dia berusaha bersikap biasa.
"Astaga!!!" pekik Ami terlonjak kaget. "Tuan tidak tidur ya?" tanya Ami yang melihat kantung hitam di bawah mata majikan nya.
Roberth tidak peduli lagi dengan respon pembantunya. "Kau lihat, Hiyola?" tanya Roberth.
Ami menggeleng. "Tidak Tuan, mungkin di kamar." jawab Ami.
"Arghh..." Roberth menggusar rambutnya. "Kemana kau, gadis keras kepala?" gerutunya sambil menaiki tangga cepat, mengacuhkan Ami yang bertanya bingung.
***