Money Or Honey

Money Or Honey
Episode 47 : The First Kiss



Brak...!


Hiyola terkejut saat pintu di belakangnya kembali terbuka dengan dentuman yang amat keras, dan lebih terkejut lagi ketika berbalik dan mendapati Roberth yang berjalan cepat ke arah nya. 


"Tuan..." gumam Hiyola. 


Pria itu tampak sempoyongan, cara berjalannya membuat Hiyola takut terjadi sesuatu padanya, tapi ternyata, ia salah, yang harus nya di khawatirkan adalah nasib nya sendiri, sebab yang berikutnya terjadi, berada di luar kendali nya.


Cup !


Mata Hiyola membulat sempurna, ketika dengan cepat Roberth menarik tengkuk nya, lalu mendaratkan ciuman paling menuntut yang pernah Hiyola rasakan sebab ini merupakan ciuman pertama seumur hidup nya, dan Roberth lah yang mendapatkan cuma pertamanya tersebut.


Jantung Hiyola berdegup amat kencang, bahkan mengalahkan genderang perang. Sayup-sayup ia merasakan bibir Roberth menempel di atas bibirnya, hanya mendarat tanpa ada pergerakan sama sekali. Ingin rasanya ia menampar pria jahat itu, tapi tangan nya! tangan nya sama sekali tidak dapat digerakkan, seolah itulah yang hatinya ingin kan. 


"Apa kata mu?" Perlahan Roberth melepaskan ciuman nya, senyumnya begitu sinis.


 "Orang asing? Kau itu istri ku, Hiyola Anastasya!" geram Roberth. Kalimat tersebut seketika membuat hati Hiyola bergemuruh. Tidak dapat ia pungkiri, bahwa dirinya bahagia mendengar hal itu dari mulut Roberth. Pria itu mengatakan nya dengan amat tegas, dan dengan yakin, membuat mata Hiyola turut berkaca saat Roberth kembali mendaratkan ciuman keduanya.Untuk kedua kalinya, ia kembali menarik tengkuk Hiyola dengan kedua tangan, dan kembali mendaratkan bibirnya, lebih dan lebih menuntut. 


Menghindar, tampar, pukul dia! 


Seharusnya itu yang Hiyola lakukan, namun kenyataan nya, ia hanya bisa merutuki akal sehat yang terus berdiri diam tanpa perlawanan, saat Roberth  kembali mendaratkan ciuman keduanya, bahkan mulai memejamkan mata dan menikmati nya. 


Apakah mungkin semua ini benar? Apakah aku berhak atas rasa ini?


Untuk ke dua kalinya Roberth melepaskan ciuman nya, ia kembali menatap wajah Hiyola, mata keabuan nya hampir tidak bisa terbuka lagi. Hiyola baru tersadar saat aroma menyengat, menyeruak yang keluar dari mulut pria didepan nya.


"Kau mabuk, ya?" selidik Hiyola.


 Namun, Roberth yang berada di bawah pengaruh alkohol tidak menyahutinya. Pria itu malah tersenyum sinis, sambil meracau tidak jelas. "Lihat! Kau hanya berpura-pura! Kau-Kau hanya berpura menolak ku, kan? Kau bahkan tidak bisa--"


Bugh...


Kalimat Roberth terhenti saat kepalanya yang terasa berat terjatuh di pundak Hiyola. Mereka berdiri cukup lama dalam posisi tersebut. 


"Apa kau cemburu melihat kami berciuman, tadi?" tanya Roberth di sela-sela kesadaran yang hampir hilang. 


Mendengar kalimat Roberth, Hiyola kembali teringat kejadian saat di restoran. Dengan perasaan campur aduk, ia melempar tubuh kekar itu hingga terpental di lantai. 


Matanya memerah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya sama sekali tidak menolak, bahkan nyaris percaya dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut Roberth. 


"Dasar brengsek!"  Hiyola memegang bibirnya, hatinya begitu sakit, saat seluruh akal sehatnya nya telah terkumpul.


 "Berani sekali kau mencium ku!!!" maki nya, dengan suara bergetar. 


Penyesalan tiba-tiba menyeruak keluar. Seharus nya ia tidak membiarkan Roberth melakukan hal tersebut. Seharusnya dia menolak pria itu, tapi kenapa? Seharusnya...


"Argah! Brengsek kau, Roberth!!!" maki Hiyola lagi.


Ia beranjk, kemudian menghampiri tubuh kekar yang terkapar di lantai, tepat di kaki ranjang nya. Ia melayangkan pukulan demi pukulan di dada bidang Roberth. Pukulnya semakin membabi-buta, saat Roberth sama sekali tidak bergerak, meresponya. Ia bahkan tidak peduli seandainya sang empunya akan kesakitan nanti.


Di detik berikut Hiyola sontak tersentak saat tangan Roberth tiba-tiba mencekal lengan nya. Netra pria itu sedikit terbuka, dengan sudut bibir yang terangkat, membuat Hiyola gelagapan. Ia ingin pergi dari sana, namun Roberth mencekal nya dengan kuat. 


"Aku tidak akan membiarkan mu lagi, Rober--" 


"Sudah ku katakan, bukan? Tidak ada wanita yang mampu menolak pesonaku..." lirihnya lalu kembali terkapar, membuat Hiyola melebarkan matanya kehabisan kata-kata. 


Kalimat tadi benar-benar membuat Hiyola naik darah. Seharusnya ia menendang pria itu saat baru masuk tadi. 


"Arggghhh...! Dasar brengsek! Sialan kau Roberth!" maki Hiyola untuk ke sekian kalinya. 


"Dasar manusia narsis! Sialan!"


***


Pagi nya mata Roberth yang terpejam perlahan terbuka, suasana di luar masih sedikit gelap. Setelah seluruh nyawanya terkumpul, netra Roberth mulai menyapu seisi ruangan. Dia kaget bukan main, ketika mendapati kondisinya sendiri, bahkan keberadaan nya saat ini. Ia tertidur di lantai, bahkan dengan kondisi mengenaskan, tanpa selimut maupun bantal, dan parahnya di kaar Hiyola. 


"Astaga! Seluruh tubuhku pegal." Tangan nya menyentuh dada. "Kenapa rasanya sakit?" gumam nya dengan dahi mengerut. 


Roberth berdiri dari pembaringan nya. Dia menyentuh kepalanya yang terasa berat dan pusing. Sama sekali tidak mengingat apa pun, bahkan bagaimana dirinya bisa berakhir di kamar ini. 


What The---?


Terakhir yang dirinya ingat hanya rasa kecewa saat kalimat Hiyola yang mengatakan bahwa mereka hanya orang asing, sehingga membuatnya berakhir dengan minuman-minuman sialan yang sudah lama tidak ia sentuh. Entah apa alasan nya, ia sendiri tidak ingin mengakuinya. 


"****!" maki Roberth merasa sakit di kepalanya. 


Di lihat nya, Hiyola yang masih terlelap di atas ranjang. Emosinya meluap mengingat bagaiman gadis itu menyangkal hubungan mereka.


"Baiklah jika menurut mu kita hanya orang asing, maka itulah yang akan terjadi!" lirih nya. Dengan kepala yang masih pusing, Roberth berjalan keluar dari kamar Hiyola, dan kembali ke kamar nya. 


Sepuluh menit kira-kira, Hiyola bangun. Entah mengapa rasanya amat sangat segar pagi ini. 


"Hoam..."


"Dia sudah bangun?" gumamnya pelan.


Perlahan ia menyentuh lembut bibirnya. Kenangan semalam kembali terulang di ingatan, bagaikan sebuah  monogram yang di putar ulang. Walaupun kesal, ia tidak bisa menepis senyum yang menyungging begitu saja.


Di detik berikut, Hiyola menoyor sendiri kepalanya. "Kau ini kenapa Hiyola? Jangan bilang kau menyukainya!" 


Secepat mungkin Hiyola menggeleng. Dia kemudian beranjak dari ranjang sambil membuang jauh-jauh hal gila yang mulai memenuhi pikiran nya. 


"Jangan bodoh, Hiyola!" serunya kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi. Hari ini ada tes harian dari pak Aldo, dan ia tidak boleh terlambat. 


***


Sambil menikmati nasi goreng buatan Ami, Hiyola sesekali menoleh ke arah tangga. Sejak tadi ia tidak melihat Roberth, bahkan suaranya pun sama sekali tidak terdengar. Ami yang yang sedang membersihkan dapur sesekali mencuri pandang ke arah majikan nya. P


"Nyonya mencari Tuan?" tanya Ami.


Hiyola menoleh. Walau agak canggung, dia mengangguk. 


"Iya, Mbok? Tuan Roberth belum bangun?" balas Hiyola.


Ami menggeleng, "Tuan sudah berangkat sejak pagi-pagi sekali, nyonya. Tuan bahkan tidak menyantap sarapan nya." sahut Ami, lirih. 


Hiyola menatap piring dan garpu yang menelungkup di depan mejanya. Bodoh! Apa yang ku harap kan? 


Seketika seluruh nafsu makan nya hilang. Hiyola tidak ingin menghabiskan lagi makanan nya, namun nasehat sang ayah tentang tidak boleh menyia-nyiakan makanan kembali terngiang di benaknya. 


"Mbok,  nasinya boleh saya bawa, buat bekal?" seru Hiyola.


Ami segera membersihkan tangan nya, sembari mengangguk. 


 "Boleh! Tentu saja boleh nyonya," ucap Ami. Mengusap tangan nya pada celemek. "Biar saya siapkan nyonya." 


"Eh! Biar saya saja Mbok," tolak Hiyola, namun Ami bersikeras. 


Tidak butuh waktu lama sekotak nasi goreng telah siap. Ami segera menyerahkan nya kepada Hiyola. 


"Ini nyonya." 


Buru-buru Hiyola mengambilnya, lalu berkata, "Terimakasih ya, Mbok." Seraya berlari keluar, setelah mendapatkan anggukan dari Ami.  Hiyola hanya punya waktu  30 menit untuk bisa sampai ke kampus. 


Setibanya di kampus, Hiyola yang tengah memarkirkan motornya di kejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menutup matanya dari belakang. 


"Tebak siapa?" ucap orang itu. 


Suara ini. Astaga, Hiyola langsung memekik kegirangan saat mendengar suara yang sudah hampir seminggu ini dia rindukan. 


"Daniel...!" pekik nya. Hiyola spontan berdiri saat Daniel melepaskan tangan nya. Dia berbalik, namun sontak terdiam saat melihat penampilan sahabatnya. 


Daniel, pria itu tampak berbeda. Tidak ada lagi kaca mata putih tanpa lensa, tidak ada lagi baju bunga daysi maupun celana kain berwarna tabrakan yang sering ia kenakan. Pria itu terlihat sangat berbeda, jauh berbeda, penampilan nya benar-benar ... 


Seperti pria!


Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia jadi salah tingkah melihat respon Hiyola. Gadis itu bahkan tidak bisa menutup mulutnya. 


"Apa penampilan ku seaneh itu?" bisik Daniel, gugup, seraya melihat ke kanan dan ke kiri dengan gugup. 


Hiyola buru-buru menggeleng. "Ya, Tuhan! Kau sungguh Daniel?" pekik Hiyola akhirnya. Dia sangat tidak percaya dengan perubahan sahabatnya. Bahkan sikapnya sama sekali tidak lagi mendayu seperti biasanya. 


Daniel mengangguk canggung. Tangannya bahkan tidak berhenti memijat tengkuk nya sendiri. 


"Jika seaneh itu, aku akan meru--" 


Kalimat Daniel terhenti saat Hiyola meletakkan telunjuknya di bibir pria itu.


"Ya, ampun! Aku baru sadar jika kau setampan ini, Daniela! Oh, atau mungkin tidak lagi? Dan selamanya hanya Daniel?" seru Hiyola bermonolog.


Dia tida bisa menghentikan rasa terkejutnya. 


Daniel menyingkirkan tangan Hiyola dari bibirnya. "Berhentilah Hiyola! Kau membuat ku malu." ujar nya. 


Namun, Hiyola tidak bisa menghentikan rasa kagumnya. Sungguh pria itu sudah berubah 180° bahkan ketampanan nya, sangat di luar nalar hingga gadis-gadis yang dahulu menghinanya, kini menatapnya dengan tatapan mendamba, seolah Daniel adalah barang baru yang sedang tren. 


Sementara itu, tepat di depan pintu fakultas, Jeremy berdiri dengan tangan terkepal. Rahang nya mengeras, melihat kedekatan Hiyola dan Daniel. 


Ya, Jeremy mengenal Daniel. Entah bagaimana, tapi dia mengenalnya.


"Daniel! Kau mencurigakan!" gumam Jeremy.


***