
Roberth menerawang jauh ke depan dari balik kaca mobil. Dirinya berada tepat di depan rumah minimalis berlantai dua yang telah ia tempati selama hampir sepuluh tahun tersebut. Setelah mengantar Kimberly ke rumah keluarga nya, Roberth memutuskan untuk berdiam diri di dalam mobil. Mata keabuan miliknya bergerak ke atas, berhenti di balkon kamar yang berada tepat di samping kamarnya.
Lampu kamar telah padam, menandakan sang penghuni telah terlelap. Lama memandang kamar tersebut, Roberth menunduk, membiarkan dahinya menyentuh setir mobil.
Kimberly telah kembali kedalam kehidupan nya, wanita yang ia cintai telah kembali ke pelukan nya. Bukankah ia sudah seharusnya bahagia? Lalu kenapa ada keraguan di hati nya? Kenapa saat melihat bagaimana Hiyola pulang dengan mata yang memerah berhasil merebut semua perhatian nya?
Lama berdiam di luar, Roberth memutuskan untuk masuk. Dia berjalan pelan melewati ruang tamu, beranjak ke tangga. Kakinya terhenti saat berada di antara kamar nya, dan juga kamar yang di tempati Hiyola.
Di alam bawah sadar, Roberth menggenggam ganggang pintu kamarnya, namun kenyataan dia malah membuka pintu kamar Hiyola.
Roberth baru sadar saat dirinya mendapati sosok Hiyola yang berada di atas ranjang, memunggunginya dan tertidur. Gadis itu tidur sambil meringkuk, memeluk tubuhnya sendri.
Kamar yang hanya di terangi satu lampu tidur, nampak sangat suram. Empat kantong ayam yang dia bawa berada di atas ranjang, kelihatan belum di sentuh.
Lagi-lagi berencana menjauh, langkah nya malah membawa Roberth mendekati ranjang Hiyola. Matanya memcing saat mendapati tubuh Hiyola yang bergetar.
Membelalak! Roberth bergegas menyalakan lampu kamar. Di membalikkan tubuh Hiyola. Gadis itu memegang dadanya, seluruh tubuh di penuhi keringat, bahkan rambutnya sampai basah karena peluh yang terus bercucuran.
"Hiyola...!" pekik nya.
Roberth memegang tangan Hiyola yang terasa dingin, bibirnya bahkan memucat. Dia mengguncang tubuh Hiyola yang memejamkan mata, sambil menarik nafas sesak.
"Hey! Apa yang terjadi?"
Beberapa kali menepuk pipi Hiyola, Roberth mengangkat kepala gadis itu dan di baringkan di atas pahanya.
"Hiyola jawab! Jangan diam saja." mata keabuan itu bergerak ke sana kemari, tangan nya tidak tinggal diam, meremas jari jemari Hiyola.
"Ami!" panggil Roberth, suaranya amat lantang. Dahinya bahkan berkeringat melihat Hiyola yang terus menarik nafas sesak, tidak kunjung membuka matanya.
"Ami! Arghh...! Sedang apa wanita itu?" Roberth terus mengguncang tubuh Hiyola, berharap gadis itu segera bangun. "Cepat bangun sebelum aku melempar mu dari jendela!"
Perlahan mata lemah Hiyola mulai terbuka, ia tersenyum mendapati sosok Roberth di hadapan nya. Pria itu tampak khawatir.
"Sa-saya bai--ik baik saja, Tuan," jawab Hiyola terbata.
"Hei, kau sudah sadar? Apa yang sakit?" tanya Roberth, tangan nya menyentuh wajah Hiyola lembut.
Hiyola menggeleng, namun tangan nya terus menekan dadanya yang sesak. "Saya baik-baik saja, Tuan..." lirih nya.
"Baik-baik apanya! Katakan dimana yang sakit?"
"Tidak ada yang sakit, Tuan. Kau tidak perlu kha... Argh...!" Belum juga menyelesaikan kalimat nya, Hiyola kembali meringis kesakitan.
"Shiitt! Kau mau aku melempar mu lewat jendela? Argghh..! Kau ini benar-benar keras kepala!"
Brak...!
Ami masuk sambil membanting pintu keras. Dia terkejut saat mendapati suara teriakan majikan nya, namun lebih terkejut lagi saat mendapati keadaan semua majikan.
"Apa yang terjadi, Tuan?" Wanita tua itu segera berjongkok di samping ranjang, tampak raut kekhawatiran mendominasi.
"Dari mana saja kamu! Cepat hubungi dokter!" titah Roberth.
Ami merogoh ponsel dari saku roknya, cepat. Kemudian mulai menghubungi seseorang. Sementara itu, Roberth pun mengambil ponselnya, kemudian menghubungi Petra.
[Halo, Tu--]
"Dalam waktu lima menit, tidak ada dokter yang sampai ke kediaman ku, kau aku pecat!!!"
Hanya satu kalimat itu, dan Roberth langsung mematikan ponselnya, membuat orang di seberang sana hanya bisa membuang nafas kasar, bahkan sapaan nya pun tidak lengkap.
"Hiyola...! Hey, jangan tutup mata mu." Roberth kembali panik saat mendapati Hiyola yang sama sekali tidak sadar kan diri. Dia mengguncang lalu menepuk wajah pucat Hiyola.
Tidak lama, Petra muncul dari balik pintu, di sampingnya berdiri seorang dokter yang langsung menghampiri Roberth dan Hiyola.
"Biar saya periksa keadaan nya, Tuan Kohler." ucap sang dokter, di dadanya tertulis marga Wiliam.
Roberth yang panik hanya mengikuti semua arahan dokter. "Tolong pastikan dia baik-baik saja." ujar Roberth yang mendapat anggukan dari sang dokter.
"Kemana dokter Steward? Dari mana kau menemukan dokter itu?" cerca Roberth saat mendapati Petra yang berdiri di depan pintu.
Memang benar selama ini yang selalu menangani seluruh keluarga Kohler hanyalah dokter Steward. Pria itu adalah orang kepercayaan Ayah Roberth. Karena memiliki banyak rival, keluarga Kohler tidak pernah menyerahkan masalah kesehatan mereka terhadap orang lain. Jadi, Roberth sedikit terkejut saat Petra malah datang bersama Dokter lain.
"Aku rasa, kau sudah semakin lambat!" sesal Roberth, memijat pangkal hidung.
Pria bertubuh kekar dengan muka yang sedikit sangar itu hanya bisa mendesah pasrah. Toh, mau secepat apapun, Roberth yang khawatir akan tetap menyalahkan nya. Hal tersebut sudah biasa bagi seorang Petra.
***
Setengah jam kemudian, dokter Wiliam keluar.
"Bagaimana keadaan nya, Dok?"
Roberth langsung menodong begitu melihat sang Dokter keluar.
Sedikit gugup, Dokter itu berusaha menjawab dengan tenang. Dirinya tahu dengan siapa ia berhadapan.
"Pasien baik-baik saja. Itu hanya gejala asam lambung. Jadi, mohon untuk di perhatikan waktu makan nya."
Roberth mengernyit, entah mengapa jawaban dari Dokter Wiliam tersirat keraguan. Namun, karena cemas, Roberth tidak menghiraukan nya. Dia langsung bergegas masuk saat mendapati ijin dari sang dokter.
"Baiklah, Petra akan mengantar anda ke depan." ujar Roberth, sebelum meninggalkan sang Dokter bersama Petra, asisten nya.
Pandangan Roberth begitu sayu saat dirinya melihat Hiyola yang terbaring di atas ranjang. Di sampingnya, botol dan selang infus bertengger.
Dengan pasti, Roberth memutuskan untuk duduk di samping gadis berponi tersebut. Ami masuk sembari menenteng nampan di tangan. Di atas nampan, terdapat segelas air putih dan juga obat-obatan.
"Tuan." Roberth menoleh. "Kata dokter, nyonya harus mengonsumsi obat ini begitu dia sadar." menyerahkan nampan, meletakkan nya di atas nakas di samping ranjang Hiyola.
"Baiklah." sahut Roberth, dia kembali menatap Hiyola.
Ami memastikan sebentar keadaan majikan nya, kemudian pamit pergi.
Roberth baru berani mengelus puncak kepala Hihola saat pintu di belakan nya tertutup. Wajah pucat sebelum nya kini sudah kembali memerah.
Kecemasan Roberth perlahan mereda. Dia melihat empat kantong ayam, kemudian beralih memandang Hiyola.
"Dasar keras kepala!"
***
Flashback on
Hiyola membuka matanya, perlahan dia menangkap sosok pria asing tengah memasang infus di tangan nya.
"Anda siapa?" lirih nya lebih ke bisikan.
Dokter Wiliam menoleh. Dia tersenyum, "Saya Dokter William," balasnya.
Hiyola manggut-manggut. Dia menyentuh dadanya yang sudah tidak terlalu terasa sakit. "Bagaimana keadaan saya, dok?"
Dokter agak ragu saat menjawab. "Apakah sebelum nya kamu sering merasa sakit, seperti ini?"
Hiyola mengangguk. Dirinya memang sering merasa sakit tapi tidak sampai separah ink, sebelumnya.
"Kamu mengidap penyakit, Refluks Gastroesofagus atau yang sering di sebut, GERD. Penyakit ini memiliki kemiripan dengan penyakit maag, yang mana GERD merupakan penyakit gangguan pencernaan kronis. Hal ini terjadi karena pola makan yang tidak baik, seperti sering terlambat makan, mengkonsumsi makanan pedas, dan lain sebagainya. Jika tidak ditangani dengan serius, penyakit GERD ini bisa berkomplikasi menjadi penyakit yang lebih serius."
Hiyola hanya bisa menelan penjelasan dokter dalam hatinya. Dia tidak ingin menyusahkan orang lain.
"Saya minta, semua ini hanya anda dan saya saja yang tahu." Pinta Hiyola memelas.
Awalnya dokter William menolak. Namun karena Hiyola bersikeras, akhirnya Dokter William pun tidak memiliki pilihan lain.
"Baiklah, tapi kamu harus rutin melakukan semua saran yang saya berikan. Walau masih awal, penyakit ini tidak boleh di anggap enteng."
Hiyola mengangguk. "Baiklah, Dok! Saya akan mengikuti semua saran dokter." ujarnya Antusias.
Flashback off
***